Jumat, 05 Februari 2016

Status agama dunia sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Insyaa' Allah kita lanjut sharing kita tentang kondisi atau keadaan agama manusia di dunia (diluar bangsa Arab) sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya sudah kita bahas keadaan religius atau tentang status keadaan agama/kepercayaan bangsa Arab sebelum kedatangan dari Nabi Muhammad SAW. Dimana kita sebutkan bahwa tujuan membahas keadaan agama/kepercayaan ini adalah  untuk menunjukan bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW membawa rahmat bagi seluruh alam (QS 21:107) dan Rasulullah SAW diutus kepada seluruh ummat manusia (QS 34:28) bukan cuman bangsa Arab saja. 

Ketika kita memahami pra (sebelum) Islam maka kita akan memahami Islam. Sama dengan seperti ketika kita memahami jahiliyah dan penyembahan berhala maka kita akan menghargai barakah dari diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia.

Bangsa yang ada diluar Arab pada saat itu banyak sekali, tapi pembahasan kita hanya pada bangsa-bangsa yang ada disekitar jazirah Arab terutama bangsa Yahudi, bangsa Parsia dan bangsa Eropa atau Romawi yang mewakili peradapan dunia saat itu. Dalam atau dari sudut pandangan Islam, bangsa Yahudi (Bani Israil) mewakili agama monoteisme sebelum Islam datang, bangsa Parsia mewakili agama pagan - menyembah api atau menyembah selain Allah, bangsa Romawi mewakili agama Kristen versi Trinitas. Jadi dari sudut pandangan Islam, ketiga bangsa tersebut mewakili keadaan/status agama atau kepercayaan dunia sebelum Islam datang.

Sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa banyak sekali Nabi/Rasul diutus Allah SWT kepada bangsa Yahudi (bani Israil). Setelah Nabi Ishaq AS ada Nabi Yaqub AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Musa AS dan lain lain sampai Nabi Isa AS.

Allah SWT menyebutkan dalam Al Qur'an bahwa "Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS2:87)"

Kemudian kita juga tahu bahwa bangsa Yahudi membunuh sesama mereka bahkan mengusir sebagian dari mereka sehingga bangsa Yahudi banyak yang mengungsi ke Jazirah Arab, Parsi, dll. Sementara di kampung halaman mereka sendiri, mereka bantu membantu dalam berbuat dosa, mendustakan agama Allah,  bahkan membunuh para Nabi yang diutus Allah SWT kepada mereka.

Kita tahu dari Al Qur'an tentang bangsa Yahudi (bani Israil) bahwa mereka telah banyak/sering malanggar perjanjian, mereka kafir/mengingkari terhadap wahyu Allah yang dibawa oleh para Nabi, mereka juga berusaha membunuh Nabi Isa AS, tapi Allah menyelamatkan Nabi Isa AS. Hanya sebagian kecil dari mereka yang betul-betul beriman kepada Allah SWT sebelum Islam datang (QS 4:155-158).

Catatan pinggir bahwa para Ulama menyebut orang-orang bani Israil yang kafir terhadap firman Allah yang dibawa oleh para Nabi/Rasul disebut sebagai Yahudi sedangkan yang tetap beriman kepada Allah SWT tetap disebut sebagai bani Israil. Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya'qub AS, dengan demikian Israa'iil adalah nama lain dari Nabi Ya'qub AS sendiri (QS: 3:93).

Menurut Islam berdasarkan Al Qur'an bahwa Nabi Isa AS hanya diutus kepada bani Israil, karena telah banyak Yahudi yang berbuat dosa, syirik (menyekutukan Allah), agar mereka kembali menyembah Allah SWT. Kisah pengangkatan Nabi Isa AS sebagai Rasul kepada bani Israil dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 45-52. 

Jadi bagi kita ummat Islam sudah jelas bahwa agama yang dibawa Nabi Isa AS adalah agama tauhid, beribadah kepada Allah SWT, dan mereka (bani Israil) yang mengikuti agama tauhid juga disebut Muslim (orang-orang yang patuh atau berserah diri). Hal ini juga dapat kita lihat di dalam Al Qur'an surat Al Maidah, akhir ayat 111: Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku". Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)".

Seperti kita sebutkan sebelumnya bahwa bangsa Yahudi berencana membunuh Nabi Isa AS dan Allah mengagalkannya dengan cara mengangkat Isa AS sehingga mereka ragu entah siapa yang telah mereka bunuh/salib. 

Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS 4: 157-158).

Semenjak itulah terjadi perpecahan antara pengikut Nabi Isa AS (Nashara, jamak dari kata Nashrani) dan diantara Yahudi maupun antara keduanya. Apalagi tidak begitu lama setelah Nabi Isa AS diangkat, sekitar tahun 70M bangsa Romawi menjajah bangsa Palestina disertai dengan pembunuhan sehingga banyak yang mengungsi ke Syams, Jazirah Arab, Parsi, dan lain-lain.

Dari dalam kalangan Nashrani sendiri ada seorang Yahudi bernama Paulus yang mengaku menjadi salah seorang murid Nabi Isa AS menulis salah satu kitab Injil (tahun 49M) yang mempengaruhi Injil-injil lainnya. Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa AS menjadi paganisme berhaluan Yahudi-Babilonia-Yunani.

Perpecahan di kalangan Nashrani terus terjadi sampai puncaknya ketika Konstantin (Raja Romawi saat itu) mengadakan muktanar di Nicea tahun 325M. Karena bangsa Romawi adalah penganut paganisme (menyembah berhala/dewa-dewa) maka Konstantin lebih cendrung kepada paham Paulus yang berhaluan Yahudi-Babilonia-Yunani. Dia mengumpulkan semua pendukung Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu diadakan revisi-revisi terhadap Injil dan semua Injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan bahkan siapa yang membaca Injil versi lain dsebut sebagai Heretis (berbuat bid'ah) dan dibunuh. Semenjak itulah agama Kristen versi Trinitas menjadi agama resmi, sementara penganut agama Nabi Isa AS yang lain dibunuh dan dikejar untuk di bakar, disalib hidup-hidup, diadu dengan singa lapar. Sampai terkenal saat itu bahwa kota Nicea malam hari terang benderang seperti siang hari karena ribuan ummat Nashrani yang tidak sepaham dengan Konstantin dibakar di atas tiang salib sepanjang jalan kota.

Bagi kita Ummat Islam bahwa penganut Kristen Trinitas baik Katolik, Protestan dan lain-lain bukanlah ummat Nabi Isa AS atau Nabi Isa AS bukan Rasul mereka tapi Rasul Ummat Islam. Orang Kristen cuman mengaku-ngaku saja bahwa mereka pengikut Nabi Isa AS atau Yesus Al Masih. Karena Nabi Isa AS sendiri membantah agama trinitas mereka, seperti firman Allah dalam Al Qur'an surat Al Ma'idah ayat 116 berikut:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".

Hadits Musnad Ahmad No. 22620 yg panjang berikut mengisahkan pada kita percarian Sahabat Salman Al Farisi RA dari seorang penyembah berhala (api), menjadi seorang Nashrani dan kemudian menjadi Muslim dihadapan Nabi Muhammad SAW sendiri. Puluhan tahun pencarian Salman RA menunjukkan pada kita bahwa berita atau nubuwwah Nabi Muhammad SAW telah ada dalam ajaran Nabi Isa AS. Hadits ini juga menunjukkan pada kita bahwa, pembunuhan massal yang dilakukan oleh Konstantin dan pengikut Kristen versi Trinitas saat itu membuat para Rahib dan/atau Pendeta dari semua sekte mengungsi ke berbagai daerah serpti Syams, Persia dan lain-lain.

Salman RA berkata: Aku adalah orang Persia dari Asbahan dari penduduk salah satu perkampungannya yang bernama Jai dan ayahku adalah pemimpin kampungnya, aku adalah orang yang paling ia sayangi, ia tetap mencintaiku hingga ia menahanku dirumahnnya, yaitu terus menjaga perapian layaknya anak perempuan ditahan dirumah, aku lelah menjalankan agama majusi hingga aku menjadi pelayan api yang dinyalakan dan tidak pernah ditinggalkan barang sesaat. 

Ayahku memiliki perkarangan besar dan pada suatu hari ia tidak sempat mengutus bangunannya lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku! Sesungguhnya aku tidak sempat mengurus bangunan hari ini karena aku sibuk dengan perkaranganku, pergi dan lihatlah. Ia memerintahkanku sebagaimana hal yang ia inginkan. Lalu aku pun pergi menuju pekarangan ayahku, aku melewati sebuah gereja nasrani, aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk dan melihat yang mereka lakukan. Saat melihat mereka aku mengagumi shalat mereka dan aku menyukai hal mereka. Aku berkata: Demi Allah ini lebih baik dari agama kami, demi Allah aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam dan aku meninggalkan perkarangan ayahku, aku tidak mendatanginya. Aku berkata kepada mereka: Dari mana agama ini berasal? Mereka menjawab: Dari Syam. 

Lalu aku kembali menemui ayahku dan ia telah mengirim orang untuk mencariku dan aku tidak sempat melakukan pekerjaannya secara keseluruhan. Berkata Salman Al Farisi: Saat aku mendatangi ayahku, ia berkata: Wahai anakku! Kamu dari mana, bukankah kau aku perintahkan sesuatu? Aku berkata: Wahai ayahku, aku melintasi suatu kaum, mereka shalat di geraja milik mereka, agama mereka membuatku kagum, demi Allah aku tetap berada didekat mereka hingga matahari terbenam. Ayahku berkata: Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik darinya. Aku berkata: Tidak, agama itu lebih baik dari agama kita. 

Ayahku mengkhawatirkanku lalu ia mengikat kakiku dan menahanku dirumah. Kaum nasrani mengirim utusan menemuiku, aku berkata kepada mereka: Bila rombongan dagang dari Syam mendatangi kalian, beritahu aku. Lalu kafilah dagang dari Syam dari kalangan nasrani tiba lalu mereka memberitahukan kedatangan mereka kepadaku. Aku berkata kepada mereka: Bila urusan mereka usai dan mereka ingin kembali ke negara mereka, beritahu aku. 

Saat mereka hendak kembali ke negara mereka, mereka memberitahukan hal itu kepadaku lalu aku melemparkan rantai besi dari kakiku lalu aku keluar bersama mereka hingga aku tiba di Syam, saat tiba di Syam, aku bertanya: Siapa pemeluk agama ini yang terbaik? Mereka menjawab: Uskup di geraja. Lalu aku mendatanginya, aku berkata: Aku mulai simpati dengan agama ini dan aku ingin bersamamu, aku akan melayanimu digerejamu, aku belajar darimu dan shalat bersamamu. Uskup itu berkata: Silahkan masuk. Aku masuk bersamanya, ternyata ia adalah orang tidak baik, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan menganjurkannya, bila mereka mengumpulkan banyak uang untuknya, uskup itu menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin hingga ia mengumpulkan tujuh tempayan emas dan perak. 

Aku pun sangat membencinya karena perbuatannya yang aku lihat, kemudian orang itu mati dan orang-orang nasrani mendatanginya untuk menguburnya. Aku berkata kepada mereka: Dia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan kalian bersedekah dan menganjurkannya, bila kalian datang membawa sedekah, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin sama sekali. Mereka bertanya: Bagaimana kau tahu? Aku menjawab: Aku akan menunjukkan harta simpanannya pada kalian. Mereka bertanya: Tunjukkan. Lalu aku memperlihatkan tempatnya lalu mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Saat melihatnya, mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan menguburnya selama-lamanya. Lalu mereka menyalibnya dan merajamnya dengan batu. 

Setelah itu mereka mendatangkan orang lain untuk menggantikan posisinya. Berkata Salman Al Farisi: Tidaklah aku melihat seesorang yang tidak shalat lima waktu melainkan menurutku ia pasti lebih baik dari orang itu, tidak lebih zuhud terhadap dunia, tidak lebih menginginkan akhirat dan tidak lebih membiasakan beribadah pada malam dan siang melebihinya. Aku sangat mencintai orang itu dengan suatu cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku tinggal bersamanya selang berapa lama lalu ia sekarat. Aku berkata padanya: Hai Fulan, aku sudah hidup bersamamu dan aku sangat mencintaimu dengan cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan telah tiba urusan Allah seperti yang telah kau lihat, apa yang kau wasiatkan padaku dan apa gerangan yang kau perintahkan padaku? 

Orang itu berkata: Wahai anakku, demi Allah saat ini aku tidak melihat seorang pun seperti aku dulu, orang-orang sudah tiada, mereka sekarang merubah dan meninggalkan lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan kecuali seseorang yang ada di Mushil, dia adalah si fulan, dia seperti aku, temuilah dia. 

Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Mushil itu. Lalu aku berkata: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku saat sekarat agar aku bertemu denganmu, ia memberitahuku bahwa kau seperti dia. Orang itu berkata: Tinggallah ditempatku. Aku tinggal ditempatnya dan ternyata ia adalah orang terbaik berdasarkan urusan temannya. Tidak lama kemudian orang itu meninggal dunia. Saat sekarat aku berkata kepadanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasait kepadaku agar menememuimu dan kini urusan Allah 'azza wajalla telah tiba mengenaimu seperti yang kau lihat, lantas kepada siapa kau mewasiatkanku dan apa yang kau perintakan padaku? 

Orang itu berkata: Wahai anakku! Aku tidak mengetahui seorang pun seperti itu kecuali seseorang di Nashiyyin, dia adalah si fulan, temuilah dia. Saat ia meninggal dunia dan disemayamkan, aku menemui orang Nashiyyin, aku mendatanginya dan memberitahukan beritanya serta perintah yang diberikan padaku. Orang itu berkata: Tinggallah bersamaku. Aku pun tinggal ditempatnya ternyata ia sama seperti kedua temannya. Aku tinggal bersama orang terbaik, demi Allah tidak lama kemudian kematian datang menjemputnya. Saat sekarat, aku berkata padanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku untuk menemui seseorang, ia berwasiat untuk menemuimu, lantas kepada siapa engkau mewasiatkanku untuk menemuinya dan apa yang kau perintahkan padaku. Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah kami tidak mengetahui seorang pun yang tetap seperti kami yang aku perintahkan padamu agar menemuinya kecuali seseorang di Amuriyah, ia seperti kami, bila kau masih hidup, temuilah dia karena ia sama seperti kami. 

Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Amuriyah dan aku memberitahukan kisahnya pada orang itu. Orang itu berkata: Tinggallah ditempatku. Lalu aku tinggal bersama seseorang sesuai ajaran para sahabat-sahabatnya dan urusan mereka. Berkata Salman Al Farisi: Aku bekerja hingga aku punya banyak sapi dan kambing lalu kematian menjelang orang itu, saat sekarang aku berkata padanya: Hai fulan, dulu aku pernah bersama seseorang, ia berwasiat kepadaku agar memenuhi si fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar memenuhi seseorang, lalu ia berwasiat kepadaku agar mememuimu, kepada siapakah gerangan engkau berwasiat kepadaku untuk aku temui dan apa yang kau perintahkan padaku? 

Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun seperti kami dulu yang aku perintahkan agar kau datangi tapi kau telah dinaungi oleh masa seorang Nabi yang diutus membawa agama Ibrahim, ia muncul ditanah Arab, ia berhijrah kesuatu kawasan diantara dua padang pasir, diantara keduanya ada kebun kurma, didirinya ada tanda-tanda yang tidak samar, ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian, bila kau bisa pergi ke negeri itu lakukanlah. 

Setelah itu ia meninggal lalu aku tinggal selang berapa lama di Amuriyah kemudian sekelompok pedagang dari Bani Kalb melintasiku. Aku berkata kepada mereka: Bawalah aku ke negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini. Mereka berkata: Baik. Aku memberikan semua itu pada mereka hingga mereka membawaku ke Wadil Qura, mereka menzhalimi aku dan menjualku pada seorang Yahudi sebagai seorang budak. Aku tinggal ditempat orang itu dan aku melihat kebun kurma dan aku berharap semoga itulah negeri yang disebutkan oleh temanku. 

Saat aku berada ditempatnya, seorang keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraizhah, ia membeliku dari orang itu dan ia membawaku ke Madinah. Demi Allah tempat itu kini telah aku lihat persis seperti ciri-ciri yang disebutkan temanku. Aku tinggal ditempat itu dan Allah mengutus RasulNya, beliau tinggal di Makkah selama waktu ia tinggal disana. Aku sama sekali tidak mendengar khabar mengenai Beliau karena aku sibuk sebagai seorang budak. Lalu Beliau berhijrah ke Madinah. Demi Allah aku sungguh tengah mengurus pelepah kurma milik tuanku, aku melakukan beberapa pekerjaan ditempat itu sementara tuanku tengah duduk, tiba-tiba seorang keponakannya datang dan berdiri dihadapannya. Ia berkata: Allah membinasakan Bani Qailah, demi Allah mereka sekarang berkumpul di Quba` dengan dipimpin oleh seseorang yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengiranya Nabi. 

Berkata Salman Al Farisi: Saat mendengarnya, aku gemetaran hingga aku kira akan jatuh mengenai tuanku. Aku turun dari pohon kurma lalu aku berkata kepada keponakan tuanku: Apa kau bilang, apa kau bilang? Lalu tuanku marah lalu memukulku dengan kerasnya kemudian berkata: Apa urusanmu dengan hal ini, sana kerja. Aku berkata: Bukan apa-apa, aku hanya ingin mempertegas yang ia katakan. 

Berkata Salman Al Farisi: Saya memiliki sesuatu yang telah saya kumpulkan, saat sore hari aku mengambilnya lalu aku pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam saat beliau berada di Quba`. Aku masuk menemui beliau, lalu aku berkata kepada beliau: Aku dengar Tuan adalah orang shalih. Tuan bersama para sahabat asing yang memiliki suatu keperluan, ini sedikit punyaku aku berikan sebagai sedekah, menurutku kalian lebih berhak mendapatkannya dari pada yang lain. Lalu aku mendekatkannya lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat beliau: Makanlah sementara beliau menahan tangan dan tidak makan. 

Aku berkata dalam hati: Ini tanda pertama. Lalu aku pergi meninggalkan beliau, aku mengumpulkan sesuatu kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam pindah ke Madinah. Aku mendatangi beliau lalu aku berkata: Aku melihat Tuan tidak memakan barang sedekah, ini hadiah, dengannya aku memuliakan Tuan. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam memakan dan memerintahkan para sahabat beliau untuk makan, mereka pun makan bersama Beliau. 

Aku berkata dalam hati: Ini tanda kedua. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam saat beliau di Baqi' Al Gharqad. Beliau tengah mengiring jenazah salah seorang sahabat Beliau. Beliau mengenakan dua selimut milik Beliau. Beliau duduk ditengah-tengah para sahabat. Aku mengucapkan salam kepada Beliau. Lalu aku berputar untuk melihat punggung beliau, aku melihat tanda seperti yang disebutkan oleh temanku. Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam melihatku mengitari Beliau, Beliau tahu bahwa aku mencari bukti tentang sesuatu yang dijelaskan padaku. Beliau melepas selendang Beliau dari punggung Beliau lalu aku melihat tanda. Aku mengenalinya, lalu aku tertelungkup dihadapan Beliau, aku mencium Beliau dan aku menangis. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: Pindahlah. Aku pun pindah lalu aku mengisahkan ceritaku pada Beliau seperti yang aku kisahkan padamu wahai Ibnu 'Abbas. Para sahabat Beliau mendengar kisahku, hal itu membuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam kagum. Kemudian Salman Al Farisi sibuk dengan pekerjaannya sebagai budak hingga tidak turut serta dalam perang Badar dan Uhud bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: Bebaskan dirimu secara diangsur wahai Salman. Aku pun meminta pembebasan diriku dari tuanku dengan syarat aku harus menaman tiga ratus pohon kurma yang ditanam ditempatnya dan uang sebesar empat puluh uqiyah. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat beliau: Bantulah saudara kalian. Mereka pun membantuku, ada yang membantu tigapuluh anak pohon kurma, ada yang membantuku duapuluh, ada yang membantu limabelas, ada yang membantu sepuluh semampu mereka hingga terkumpullah sejumlah tigaratus anak pohon kurma.

Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: Pergilah wahai Salman lalu buatkan lubang tempat penanamannya, setelah itu datanglah kepadaku, aku akan yang akan menanamkannya dengan tanganku dan para sahabatku akan membantuku. Setelah membuat lubang tempat penanaman pohon kurma, aku mendatangi beliau dan memberitahukannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam pergi bersamaku ke tempat penanaman lalu kami dekatkan anak-anak pohon kurma kepada beliau dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam meletakkannya dengan tangan beliau. Demi Dzat yang jiwa Salman berada ditangannya, tidak ada satu pun anak pohon kurma yang mati. 

Dengan demikian saya telah menunaikan kurmanya dan yang tersisa bagiku adalah pembayaran uang. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam diberi emas seperti telur ayam hasil peperangan lalu beliau bersabda: Bagaimana kondisi Al Farisi yang membayar pembebasan dirinya? Aku pun dipanggil lalu Beliau bersabda: Ambillah dan bayarkan sisa tanggunganmu wahai Salman. Aku berkata: Dimanakah benda ini terletak wahai Rasulullah? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ambillah karena sesungguhnya Allah 'azza wajalla akan membayar untuk (pembebasanmu) dengan benda itu. Lalu aku mengambilnya dan menimbangnya, demi Dzat yang jiwa Salman berada ditanganNya, beratnya mencapai empat puluh uqiyah. Lalu aku melunasi hak mereka dan aku pun dimerdekakan. Lalu aku turut serta perang Khandaq bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam dan aku tidak pernah ketinggalan satu peperangan pun bersama beliau.

Allahu a'lamu bishshawab, semoga bermamfa'at. Kalau ada salah itu semua kesalahan saya dan tolong dikoreksi. Saya mohon Allah SWT memaafkan kekhilafan dan kesalahan saya. Semua yang benar (yang haq) adalah milik Allah SWT.



--

Wassalam,
Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.