Rabu, 03 Februari 2016

Status agama bangsa Arab sebelum Islam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.


Insyaa Allah kita akan membahas keadaan religius atau tentang status keadaan agama/kepercayaan bangsa Arab dan dunia sebelum kedatangan dari Nabi Muhammad SAW. Tujuan membahas keadaan agama/kelercayaan ini adalah  untuk menunjukan bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW membawa rahmat bagi seluruh alam (QS 21:107) dan Rasulullah SAW diutus kepada seluruh ummat manusia (QS 34:28) bukan cuman bangsa Arab saja. 

Ketika kita memahami pra (sebelum) Islam maka kita akan memahami Islam. Sama dengan seperti ketika kita memahami jahiliyah dan penyembahan berhala maka kita akan menghargai barakah dari diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia.

Kita tahu bahwa tiap-tiap ummat mempunyai Rasul (QS 10:47). Dalam pembahasan kita sebelumnya bahwa jumlah Nabi sekitar 120 ribu lebih dan jumlah Rasul sekitar 3 ratus orang lebih (HR Musnad Ahmad No. 21257). Begitu juga bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW sudah diutus Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS.

Sebagaimana kita ketahui bahwa atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim AS membawa Nabi Ismail AS berserta ibunya Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim AS) ke Bakkah yaitu lembah (yang tidak berpenghuni sama sekali) di Hijaz (Jazirah Arab) yang sekarang kita sebut Makkah. Kemudian semenjak itu, Bakkah atau Makkah, dari lembah yang tidak berpenghuni, datang bangsa Arab Qahtani dari daerah-daerah sekitarnya dan Arab Adnani (keturunan Adnan ibnu Nabi Ismail AS) semakin berkembang karena adanya sumber air zamzam, baitullah (ka'bah) dan perintah haji.

Jadi syariah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS pada bangsa Arab sudah ada ribuan tahun sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW dan tetap berlaku sampai sekarang, diantaranya adalah:

1. Membuat atau menjadikan Baitullah, Ka'bah, atau Masjid Al-Haram menjadi tanah suci dan haram (HR Shahih Bukhari No. 1985, Shahih Muslim No. 2422 dan lain-lain). Disebut haram karena banyak hal-hal yang halal di luar tanah haram, menjadi haram di dalam tanah haram. Misalnya, rerumputannya tidak boleh dicabuti, pepohonannya tidak boleh ditebangi, binatang buruannya tidak boleh diburu dan barang temuannya tidak boleh diambil kecuali bagi yang hendak mengumumkannya (HR Shahih Bukhari No. 1262, 1702, Musnad Ahmad No. 2166 dan lain-lain).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 114 "... Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah) ..." dimana di dalam tafsir fi zhilalil Qur'an disebutkan sbb: "Artinya, mereka tidak pantas ditolak, diusir, dan dijauhkan dari rasa aman, kecuali mereka berlindung ke rumah-rumah Allah (masdjid-masdjid) dengan menghormatinya dan mencari keamanan seperti yang terjadi pada peristiwa Fathu Mekah, ketika penyeru Rasulullah SAW menyerukan 'Barang siapa yang masuk Masdjidil Haram maka dia aman' maka tokoh-tokoh Quraisy datang kepadanya untuk mendapatkan keamanan ..."

Ibnu Abass mengatakan: "seseorang hanya dapat melihat pembunuh ayahnya melakukan thawaf dan dia tidak dapat menyentuh pembunuh tersebut sama sekali meskipun telinganya". Karena di tanah haram  dilarang membunuh.

2. Asy Syuhuur Al Hurum yaitu bulan-bulan (4 bulan) yang disucikan. Asy Syuhuur Al Hurum ini adalah bulan Dzulqa'dah (ke-11), Dzulhijjah (ke-12), Muharram (ke-1) dan Rajab (ke-6). Dalam bulan-bulan ini harus ada perdamaian antara suku-suku. Tidak ada perperangan selama bulan-bulan tersebut (QS 2:217), dengan tidak adanya perperangan tentu saja ini meningkatkan perekonomian. Bulan-bulan ini di istimewakan oleh Allah Ta'ala dengan kesuciannya dan Dia menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan-bulan pilihan di antara bulan yang ada (QS 9:36).

3. Ibadah Haji, Thawaf, Sai antara Safa dan Marwa, Menyemblih hewan Qurban, dan ritual ibadah Haji lainnya telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, dilanjutkan oleh bangsa Arab (Qahtani dan Adnani) sampai sekarang ini. 

Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 26-28: Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Banyak lagi ritual atau syariah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS yang kemudian dimurnikan kembali oleh Nabi Muhammad SAW karena dalam perjalanannya, karena ribuan tahun tidak ada Nabi yg diutus kepada bangsa Arab maka beberapa ritual telah dilupakan bahkan diganti atau dihapus/dihilangkan atau ditinggalkan oleh orang-orang Arab jahiliyah.

Musuh-musuh Islam malah menuduh ummat Islam (Nabi SAW) mencontoh ritual orang Arab Jahiliyah atau penyembah berhala. Banyak non muslim mengatakan ritual Islam diambil dari budaya orang kafir - tapi ini semua masalah perspective. Untuk non muslim mereka tidak mau melihat fakta bahwa syariah Islam datang dari Ibrahim AS dimana belum ada satu orangpun bangsa Arab di Makkah pafa saat itu. Jadi menurut mereka, mereka mengatakan Nabi SAW mengambil ritual2 Haji, Thawaf, Sa'i dan lain-lain dari paganisme (para penyembah berhala) sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. 

Jadi dari mana datangnya ritual menyembah berhala bangsa Arab Jahiliyah sebelum kedatangan atau diutusnya Nabi Muhammad SAW?

Suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW diperlihatkan Syurga dan Neraka. Di dalam Neraka Nabi SAW diperlihatkan Amr bin Luhai (dalam riwayat lain disebut Luhai bin Amru untuk hadits yang sama) yang sedang menyeret-nyeret ususnya di Neraka. Untuk menjelaskan siapa Amr bin Luhai Al Khuzaa, Nabi SAW menerangkan bahwa wajahnya seperti seorang Sahabat Anshar. Tentu saja Sahabat Anshar tersebut takut dan bertanya kepada Rasulullah SAW kenapa dia disamakan dengan Amr bin Luhai? Nabi SAW menyebutkan bahwa Amr bin Luhai seorang kafir sementara Sahabat Anshar ini seorang Mukmin. Kemudian Rasulullah SAW juga menerangkan bahwa Amr bin Luhai lah orang yang pertama kali memperkenalkan/mengumpulkan orang-orang untuk menyembah berhala (HR Shahih Bukhari No 1136, Shahih Muslim No. 5096, Musnad Ahmad No. 20297 dan lain-lain).

Lantas siapa Amr bin luhai - kapan dia hidup? Kepastian kapan Amr bin Luhai hidup tidak ada yang tahu mengingat bangsa Arab tidak punya/mengenal kalender. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Arab cuman mengingat (menghafal) berdasarkan kejadian, seperti tahun gajah yaitu saat gajah menyerang ka'bah, satu tahun sebelum tahun gajah atau 2 tahun setelah tahun gajah, begitu seterusnya. Bangsa Arab tidak menggunakan kalender Romawi juga tidak menggunakan kalender Parsi, bangsa Arab mengunakan kejadian-kejadian untuk menandakan tahun. Kalender baru dikenal atau dipakai bangsa Arab ketika kalender diperkenalkan oleh Khalifah Umar bin Khatab RA. 

Bangsa Arab mengetahui dari cerita turun temurun bahwa Amr bin Luhai satu generasi dengan pendiri Quraisy, yaitu Fihr bin Malik. Kalau kita hitung balik bahwa satu generasi sekitar 40/45 tahun maka Amr bin Luhai hidup pada abad pertama Masehi, sementara Rasulullah SAW lahir abad ke-6 Masehi. Jadi sekitar 500 tahun sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, Amr bin Luhai mulai memperkenalkan Hubal, mengganti ritual Qurban, mengganti Talbiah dan lain-lain. 

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana bisa satu orang Amr bin Luhai bisa mengubah seluruh agama tauhid ayah mereka Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS?

Ada dua faktor yang memungkinkan Amr bin Luhai Al Khuza'a dapat mempengaruhi atau mengubah Agama Tauhid Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS,  serta mengajak bangsa Arab menyembah berhala:

1. Inferiority complex syndrome atau sindrom rendah diri. 

Bangsa Arab karena lingkungan yang keras (gurun, panas, badai debu, dll) membuat kehidupan mereka menjadi keras. Untuk mempertahankan jiwa dan properti mereka sering terjadi perperangan antar suku-suku, baik suku-suku kecil maupun suku-suku besar. Seperti kita ketahui dan telah kita bahas sebelumnya bahwa Al Khuza'a bukanlah suku Quraisy. Kalah - menang dalam pertempuran antara suku Al Khuza'a dan Quraisy untuk menguasai Makkah sudah sering terjadi. Pada saat itu Al Khuza'a sedang memimpin Makkah dan untuk mempertahankan kekuasaannya Al Khuza'a memerlukan sesuatu yang tidak dimiliki Quraisy. Karena selama beberapa kali pertempuran dengan suku Quraisy mereka sering kalah, mereka merasa rendah diri dan takut kalau Quraisy memimpin kembali. 

Pada saat itu di syam (Syria sekarang) terkenal suku Amalikah atau Amalik (amalekites) yang selalu memenangi setiap pertempuran. Suku Amalikah memiliki peradaban yang maju, memiliki sejarah, arsitektur, bangunan besar, dikenal sebagai bangsa/suku yang tak pernah terkalahkan. Bahkan di kitab perjanjian lama disebutkan "bangsa yang tidak bisa dihancurkan". 

Jadi Amr bin luhai Al Khuza'a merasa rendah diri karena menurut dia Al Khuza'a adalah bangsa yang besar tapi kok sering kalah dengan Quraisy. Dia harus belajar pada bangsa Amalikah dan mengambil/mencontoh dari mereka agar bisa berkuasa terus. Kemudian Amr mengadakan perjalanan ke Syam. Di Syam dia melihat penduduknya menyembah berhala dan menganggapnya inilah rahasia bangsa Amalikah maju dan selalu menang dalam pertempuran, tentu berhala ini yang membantu bangsa Amalikah. Amr bin Luhai Al Khuza'a kembali ke Makkah dengan membawa satu berhala bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka'bah. Amr bin Luhai Al Khuza'a juga mengajak penduduk Makkah untuk ikut menyembah berhala.

2. Faktor kedua yang memungkinkan Amr ibn luhai Al Khuza'a memperkenalkan/menyuruh bangsa Arab Makkah menyembah berhala Hubal adalah karena dia kepala suku Al Khuza'a. Dia adalah pemimpin Makkah pada saat itu. Sebagai seorang pemimpin (suku pemenang perang - super power) tentu saja dia punya kekuasaan untuk menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakakukan bangsa Arab dibawah kekuasaan dia. Tapi ada juga yang berpendapat lain bahwa Amr bin Luhai Al Khuza'a adalah pemimpin yang baik dan disenangi oleh bangsa Arab sehingga apa saja yang dia perintahkan, bangsa Arab akan melakukannya dengan sukarela. Wallahu a'lam. 

Yang jelas Amr bin Luhai Al Khuza'a mengajak penduduk Makkah untuk menyembah berhala Hubal. Pada saat musim Haji tindakan para penduduk Makkah pun diikuti oleh orang-orang Hijaz karena mereka menganggap penduduk Makkah adalah pengawas Ka'bah dan penduduk Tanah Suci.
 Sehingga pada saat pulang Haji mereka membawa ritual memyembah berhala ini di daerah masing2. Kemusyrikan semakin menyebar dan berhala-berhala kecil mulai bermunculan di setiap tempat di Hijaz. Tiga berhala paling besar diberi nama Manat (di tepi Laut Merah di Qudaid), Lata (di Tha'if) dan Uzza (di Wadi Nakhlah). 

Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai Al Khuza'a mendapat wangsit atau ilham bahwa berhala-berhala kaum musyrik setelah zaman Nabi Nuh AS yaitu Wus, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr terpendam di laut Jiddah (Jeddah sekarang). Maka dia datang ke Jiddah dan membawanya pulang. Ketika musim Haji tiba Amr bin Luhai menyerahkan berhala-berhala tersebut kepada beberapa kabilah. Sehingga setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhala dan patung. 

Catatan pinggir bahwa Syaitan bisa saja memberi wangsit atau ilham kepada manusia melalui bisikan atau obsesi yang tidak terkendali. Allah SWT memerintahkan kita untuk berlindung dari was-was syaitan ini di dalam Al Qur'an surat An Nas ayat 1-6: Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

3. Faktor ketiga adalah antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dengan Amr bin Luhai Al Khuza'a sedikitnya ada 2 atau 3 ribu tahunan. Dimana selama kurun waktu itu tidak ada lagi wahyu atau Nabi yang diutus untuk bangsa Arab. Bandingkan dengan bangsa Yahudi (bani Israil), setelah Nabi Ishaq AS ada Nabi Yaqub AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Musa AS dan lain lain sampai Nabi Isa AS. Jadi bangsa Arab selama kurun waktu tersebut tidak ada bimbingan lagi sehingga lama kelamaan mereka tidak ada pegangan lagi. Sehingga ketika Amr bin Luhai mengenalkan Hubal dan menyembah berhala, bangsa Arab tidak punya alasan/pegangan untuk menolaknya. 

Kemudian dari Amr bin Luhai Al Khuza'a ke zaman Nabi Muhammad SAW juga terpaut 5 ratusan tahun. Sehingga ini merupakan waktu yang cukup untuk menyebarkan paham atau ritual menyembah berhala ke seluruh jazirah Arabia dengan Makkah sebagai pusatnya karena faktor Ka'bah, Haji dan Qurban. Ritual penyembahan Berhala yang diciptakan Amr bin Luhai Al Kguza'a ini bisa diterima dan berkembang pada bangsa Arab karena menurut mereka bahwa yang diciptakan Amr adalah sesuatu yang baru dan baik serta tidak menghilangkan secara menyeluruh agama Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS seperti Haji, Thawaf, Qurban dll.

Jadi apa saja perubahan agama Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yg sudah dimanipulasi sejak Amr bin Luhai Al Khuza'a berkuasa di Makkah, diikuti oleh bangsa Arab sampai Nabi Muhammad SAW datang? Diantaranya adalah:

Amr bin Luhai memperkenalkan Hubal dan menyuruh menyembah Hubal seperti yang ditiwayatkan dalam Hadits Shahih Bukhari No. 1136, Shahih Muslim No. 5096, Musnad Ahmad No. 20297 dan lain-lain yang sudah kita bahas sebelumnya.  Disamping itu, dibawah kepemimpinan Amr bin Luhai Al Khuza'a bangsa Arab Jahiliyah juga menyembah Lata, Uzza dan Manat seperti Firman Allah SWT dalam surat An Najm ayat 19-20. Bangsa Arab Jahiliyah juga menghidupkan kembali penyembahan kepada berhala-berhala yang pernah disembah oleh ummat Nabi Nuh AS  setelah wafatnya Beliau AS, yaitu Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'ug dan Nasr (QS 71:23). 

Ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam masuk Makkah, di sekeliling ka'bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala, lalu Nabi memecahkannya dengan tongkat yang berada di tangannya seraya mengucapkan firman Allah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Isra: 81). Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi (HR Shahih Bukhari No. 4351, Shahih Muslim No. 3333 dan lain-lain).

Bahkan ada Sahabat yang menyebutkan "sebelum Islam datang dulu kami menyembah batu. Apabila kami mendapatkan batu yang lebih baik, maka kami melemparkannya dan mengambil batu tersebut. Dan apabila kami tidak menemukan batu, kami mengumpulkan segenggam tanah, lalu kami bawakan seekor kambing kemudian kami peraskan susu untuknya. Lalu kami thawaf dengannya" (HR Shahih Bukhari No. 4027). 

Bahkan Talbiyah harus mereka ganti agar sesuai dengan berhala-berhala mereka. Dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang musyrik mengatakan; LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah SAW bersabda: Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan. Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai). Mereka mengatakan ini sedang mereka berthawaf di Baitullah (HR Shahih Muslim No. 2032).

Para Sahabat ada yang merasa keberatan melakukan Sa'i sebelum turun ayat 185 surat Al Baqarah. Urwah keponakan Aisyah RA pernah menanyakan ini sepertindisebutakan dalam HR Shahih Bukhari No. 2032, Shahih Muslim No. 2239 dan lain-lain. Aisyah RA berkata: Tahukah kamu apa sebabnya? Sebabnya ialah; Di zaman Jahiliyah orang-orang Anshar menyembah dua berhala yang terletak di tepi pantai, yaitu berhala yang disebut Isaf dan Nailah. Sesudah mereka mendatangi kedua berhala tersebut, mereka sa'i antara Shafa dan Marwa dan sesudah itu, mereka bercukur. Setelah Islam datang, mereka enggan Sa'i antara keduanya, karena mereka tidak ingin mengingat perbuatan mereka semasa jahiliyah. Kemudian Allah menurunkan ayat: 'Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar agama Allah….' (Al Baqarah: 158), Maka sejak itulah mereka sa'i antara keduanya.

Masih banyak lagi kebodohan Jahiliyah bangsa Arab yang mereka perbuat sebelum Nabi Muhammad SAW. Diantaranya mereka juga membunuh anak-anak perempuan mereka karena bagi mereka anak laki-laki lebih berguna dari anak perempuan (QS 81:8-9). Sementara mereka menuhan berhala lata, uzza dan manat yg semuanya adalah perempuan. 

Banyak lagi kebodohan jahiliyah yang telah dilakukan bangsa Arab ini. Apakah tidak ada lagi orang yang masih waras, yang masih punya akal fikiran, yang masih punya hati yang bersih mengikuti agama yang lurus (hanif) risalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS?

Sejarah mencatat ada beberapa orang Quraisy Makkah yang masih mengikuti agama Nabi Ibrahim AS meskipun hampir seluruh Jazirah Arab sudah menyembah berhala, yaitu:

1. Waraqah ibn Naufal bin Assad. Waraqah dan Khadijah RAbadalah sepupu tapi Waraqah jauh lebih tua dari Khafijah RA sekitar 40 tahun.

2. Ubaidillah bin Jahsy. Ia adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW melalui ibunya. Jadi bibi Nabi SAW adalah ibu Ubaidillah bin Jahsy. Bibi  Nabi SAW berarti putri dari Abdul Muthalib.

3. Utsman bin Harits (Al Huwairits) Al Quraisy. 

4. Zayd ibn Amr ibn luhay - sepupu pertama Umar RA (tapi sekali lagi Zaid adalah 40 tahun lebih tua).


Alhamdulillah, mudah-mudahan bermamfaat. Kalau ada salah semua dati saya yang tidak luput dari salah. Dan semua kebenaran hanya milik Allah semata.

Wallahu a'lamu bishshawab.







--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.