Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Teman2, in syaa' Allah hari ko awak akan sharing/diskusi mengenai bangsa Arab sebelum Nabi SAW lahir. Dimana saja bangsa Arab ini hidup dan kapan bahasa Arab mulai digunakan menurut sejarah Islam.
Bangsa Arab yang hidup di zaman modern ini seperti bangsa Mesir, Jordan, Syiria, Palestina, Emarat, Qatar, Yaman, Kuwait, Saudi dll merupakan bangsa Arab karena sebagian dari mereka menggunakan/mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa resmi mereka - bukan betul2 keturunan bangsa Arab sebelum Rasulullah SAW lahir.
Para ahli sejarah Islam dan siirah (biography) Rasulullah SAW memulai pembahasan Bangsa Arab ini dari keturunan Nabi Adam AS - tepatnya keturunan dari Sam ibnu Nuh AS.
Sebagaimana kita fahami bahwa Allah SWT menurunkan Adam AS berserta Hawa ke bumi (Al Baqarah 36-38) untuk menjadi khalifah di bumi dan semua ummat manusia adalah keturunan pasangan Nabi Adam AS dan Hawa.
Kemudian zaman Nabi Nuh AS terjadi banjir yang menenggelamkan seluruh ummat manusia pada saat itu kecuali yan beriman kepada Allah SWT dan ikut naik kapal bersama Nuh AS (Al A'raaf 64).
Dalam surat Ash Shaffaat ayat 77 Allah SWT menjadikan anak cucu Nuh AS sebagai orang2 yang melanjutkan keturunan (ummat manusia). Di dalam hadits Sunan Tirmidzhi no 3154, keturunan Nabi Nuh AS tersebut adalah Ham, Sam dan Yafits. Di dalam hadits2 lain disebutkan bahwa Sam adalah bapak bangsa Arab, Ham bapak bangsa Habasy (Afrika) dan Yafits bapak bangsa Romawi (Eropa). Silahkan lihat Hadits Sunan Tirmidzhi 3155, 3866, Musnad Ahmad 19240, 19241 dan 19255.
Sebelum awak lanjut ado catatan penting tentang istilah bapak dan anak dalam budaya/tradisi bangsa Arab. Menurut budaya/tradisi/bahasa bangsa Arab pengertian Bapak adalah baik bapak biologis langsung maupun bapaknya bapak (kakek), engkong bahkan nenek moyang dari garis/darah Bapak ke atas.
Sedangkan yang disebut anak menurut budaya/tradisi/bahasa bangsa Arab adalah baik Anak keturunan biologis langsung maupun anaknya anak laki-laki atau cucu, buyut maupun cicit2 dari garis/darah keturunan Anak laki2.
Seperti kita sebut di awal bahwa sebagian besar orang Arab saat ini tidak benar-benar bangsa Arab - mereka tidak bisa melacak garis keturunan mereka kembali kepada bangsa Arab saat itu (zaman Nabi SAW).
Jadi siapa sebenarnya bangsa Arab? Para ahli membagi bangsa Arab menjadi dua golongan besar, yaitu:
1. Al 'Arab Al Baai'dah yaitu bangsa Arab yang udah punah (بائدة) adalah bangsa atau suku2 yang kebetulan tinggal/hidup di jazirah Arab yang kita kenal sekarang dan mereka semua sudah punah.
Berdasarkan informasi dari Al Qur'an bahwa bangsa Arab Baaidah ini adalah seperti ummat Nabi Huud AS yaitu bangsa 'Aad (QS 26:123-134), ummat Nabi Shalih AS yaitu bangsa Tsamud (QS 26:141-150) dan lain lain bangsa yang tidak disebutkan tapi Al Qur'an dan Hadits mengindikasikan keberadaan mereka.
Allah menyebutkan dalam Al Qur'an di akhir ayat 38 surat Al Furqan bahwa "dan kurun-kurun (waktu) antara demikian (kaum 'Aad dan Tsamud) sangat banyak (katsir)".
Kalau Allah menyebutkan sangat banyak (tidak terhitung) maka waktu atau jumlah generasi antara kaum 'Aad (ummat Nabi Huud AS) dengan kaum Tsamud (ummat Nabi Shalih AS) sangat panjang waktunya dan sangat banyak generasinya.
Dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW menyebutkan jumlah Nabi seratus duapuluh empat ribu (124 ribu) sementara jumlah Rasul berjumlah tigaratus limabelas (315) - Musnad Ahmad No 21257.
Sangat banyak jumlah Nabi dan Rasul, sementara yang kita kenal cuman 25 orang Nabi dan Rasul.
Jadi Bangsa Arab Baaidah ini meliputi kurun waktu yang panjang/lama sekali.
2. Al 'Arab Al Baaqiyah yaitu bangsa Arab kuno yang tingal (باقية) atau tidak punah.
Para Ahli membagi golongan ini menjadi 2 lagi yaitu:
A. Al 'Arab Al 'Aaribah (العرب العاربة) yaitu bangsa Arab yang berbahasa Arab (pure Arab). Bangsa Arab Aribah ini juga disebut Qahtaani atau Qahtaniyyah atau Qahtanite yaitu bangsa Arab keturunan Qahtan.
Para Ahli menyebutkan Qahtan adalah salah seorang keturunan Sam seperti Nabi Ibrahim AS juga keturunan Sam ibnu Nuh AS. Tapi antara Qahtan dan Nabi Ibrahim AS tidak hidup sezaman dan tidak terdapat pertalian sedarah kecuali sama2 keturunan Sam ibnu Nuh AS.
Salah seorang keturunan Qahtan adalah Ya'rub yang mana para ahli menisbahkan asal muasal bahasa Arab kepadanya (Ya'rub). Karena bahasa yang dipakai keturunan Ya'rub inilah yang menjadi cikal bakal bahasa Arab. Keturunan Ya'rub atau suku Ya'rab yang berbahasa Arab atau Arab Qahtani hidup/tinggal dibagian selatan jazirah Arab yang kita kenal sekarang sebagai Yaman.
Kaum Sabaa adalah bangsa Arab Qahtani yang hidup dan menyebar di Yaman. Kaum atau Bani Jurhum adalah bangsa Arab Qahtani yang hidup dan menyebar di Hijaz (Jazirah Arab bagian Barat) yang hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Bangsa Arab Qahtani ini juga hidup dan menyebar sampai ke Yatsrib. Diantara Arab Qahtahi yang hidup dan menyebar di Yatsrib adalah Bani Aus dan Bani Khazraj dimana mereka hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW.
B. Al 'Arab Al Musta'ribah yaitu Bangsa yang hidup/tinggal di Jazirah Arab yang belajar dan mengunakan bahasa Arab (المستعربة) atau pendatang yang menjadi Bangsa Arab. Bangsa Arab Musta'ribah ini disebut Adnani atau Adnaniyyah atau Adnanite yaitu bangsa Arab keturunan Adnan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim AS menikah lagi dengan Siti Hajar yaitu keturunan raja Mesir pada saat itu. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk pergi ke Bakkah yaitu lembah (yang tidak berpenghuni) di Hijaz (Jazirah Arab) dimana Baitullah didirikan (QS 14:37). Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS (yang masih kecil) disana. Hal ini dapat kita baca lebih detail di dalam Hadits Shahih Bukhari No 3114 berikut.
Ketika Ibrahim AS keluar berkelana bersama Ismail AS dan ibu Ismail (Hajar), mereka membawa geriba (kantung empat air) yang berisi air. Hajar minum dari persediaan air dalam geriba tersebut sehingga dia dapat menyusui bayinya.
Ketika tiba di Makkah, Ibrahim AS menempatkan keduanya di bawah sebuah gubuk. Tatkala Ibrahim AS hendak kembali kepada keluarganya, Hajar mengikutinya di belakang. Ketika sampai di dataran yang agak tinggi/gundukan, Hajar memanggilnya dari belakang; "Wahai Ibrahim AS, kepada siapa engkau meninggalkan kami?". Ibrahim AS menjawab; "Kepada Allah". Hajar berkata; "Kalau begitu, Aku telah ridla kepada Allah".
Lalu Hajar kembali ke tempat semula dia, minum dari geriba kunonya dan bisa menyusui bayinya. Ketika air persediaan habis dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang. Maka dia pergi dan naik ke atas bukit Shafaa lalu melihat-lihat apakah ada orang namun dia tidak merasakan ada seorangpun. Ketika sampai di lembah dia lari-lari kecil dan mendatangi Marwa, ia lakukan yang demikian berkali-kali. Kemudian dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihatnya, yang dimaksudnya adalah bayinya. Maka dia pergi mendatangi bayinya yang ternyata keadaannya seperti ketika ditinggalkan seolah-olah menghisap napas-napas kematian sehingga hati Hajar tidak tenang. Dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang. Maka dia pergi untuk mendaki bukit Shafaa lalu melihat-lihat namun tidak ada seorangpun yang ditemuinya hingga ketika dia telah melakukan upaya itu sebanyak tujuh kali (antara bukir Shafaa dan Marwah) dia berkata; Sebaiknya aku pergi dan melihat apa yang terjadi dengan bayiku, ternyata dia mendengar suara, maka dia berkata; "Tolonglah (aku) jika memang kamu baik".
Ternyata (suara itu) adalah suara malaikat Jibril 'AS. Lalu Jibril berbuat dengan tumitnya. Dia mengais-ngais tanah dengan tumitnya. Maka memancarlah air dan Hajar menjadi terperanjat dan segera menampungnya. Maka Hajar minum dari air (zamzam) itu sehingga dapat menyusui bayinya.
Kemudian serombongan orang dari suku Jurhum lewat di dasar lembah dan mereka melihat ada seekor burung, seakan mereka tidak percaya, Mereka berkata: "Tidak akan ada burung melainkan pasti karena ada air". Akhirnya mereka mengutus seorang utusan mereka untuk melihatnya yang ternyata mereka memang berada di kawasan yang ada air. Utusan itu kemudian kembali kepada mereka dan mengabarkan (apa yang dilihatnya). Kemudian mereka menemui Hajar dan berkata; "Wahai Ibu (Hajar), apakah kamu mengizinkan kami untuk tinggal bersama kamu atau kami hidup bertetangga bersama kamu?". Kemudian anaknya (Ismail AS) tumbuh menjadi seorang pemuda lalu menikah dengan seorang wanita dari Bani Jurhum (Arab Qahtani).
Sabalun awak lanjutkan, mungkin perlu diketahui bahwa Bangsa Arab Qahtani, keturunan Nabi Ibrahim AS (Bangsa Yahudi dan Bangsa Arab Adnani) adalah sama2 keturunan Sam ibnu Nuh AS. Keturunan Sam disebut juga Samite atau Semite. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa orang Arab tidak menyukai atau benci bangsa Semite berarti nggak baca sejarah. Orang Arab mungkin benci Orang Yahudi tapi nggak mungkin membenci nenek moyang mereka Sam (Samite atau Semite).
Jadi Nabi Ismail AS dan Ibunya siti Hajar hidup berdampingan dengan Bani Jurhum dari Bangsa Arab Qahtani di lembah Bakkah (Makkah) yang tadinya tidak berpenghuni. Dengan demikian Nabi Ismail AS dan ibunya belajar bahasa Arab dari Bani Jurhum bahkan Nabi Ismail AS menikah dengan wanita-wanita keturunan bani Jurhum ini.
Dalam Hadits Bukhari No 3114 di atas disebutkan bahwa Nabi Ismail AS menikah dua kali dan dua-duanya dari Bani Jurhum (Bangsa Arab Qahtani). Dari kedua pernikahan tersebut Nabi Ismail AS dikarunia dengan belasan anak laki-laki. Salah seorang dari anak laki tersebut adalah Khaidar atau Haidar atau Qedar.
Khaidar atau Qedar adalah anak Nabi Ismail AS yang menetap di Makkah - sementara anak2 yang lain banyak yang meninggah dan mengembara. Dari Khaidar/Qedar inilah lahir anak cucu Nabi Ismail AS yang bernama Adnan bin Udad.
Di dalam Hadits yang sama (HR Shahih Bukhari 3114) juga disebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS diperintahkan untuk membangun Baitullah.
Ibrahim AS berkata: "Wahai Ismail, sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan aku agar membangun rumah". Ismail AS berkata; "Taatilah Rabbmu". Ibrahim AS berkata lagi; "Sesungguhnya Dia telah memerintahkan aku agar kamu membantu aku dalam pembangunan rumah yang dimaksud". Ismail AS berkata; "Kalau begitu aku akan lakukan seperti yang dikatakanNya".
Maka keduanya mulai membangun, Ibrahim AS yang membangun sedangkan Ismail AS membawa bebatuan, keduanya sambil membaca do'a; "Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui". Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca do'a; "Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui".
Ketika bangunan sudah tinggi dan Ibrahim AS sebagai orangtua yang sudah renta agak kepayahan untuk mengangkat batu ke susunan tembok yang lebih tinggi, dia berdiri di atas batu sebagai tempat berdirinya (al-Maqam) sedangkan Ismail AS terus memberinya bebatuan sambil keduanya terus membaca do'a; "Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui" (QS 2:127).
Di ayat selanjutnya (QS 2:128) dan QS Al Hajj ayat 27, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS dan menyeru/memanggil kepada ummat manusia (bukan cuman keluarga/keturunan mereka saja) dimanapun untuk datang ke Baitullah dan mengerjakan ibadah Haji.
Dengan demikian, dengan adanya air Zamzam, Baitullah dan perintah Haji, maka Makkah dari lembah yang tandus tidak berpenghuni menjadi pusat persinggahan, pusat perdagangan, pusat peribadatan (ibadah Haji) dan menjadi tanah haram yang disucikan oleh Anak keturunan Ismail AS dan Bangsa Arab Qahtani dari seluruh penjuru Jazirah Arab.
Karena Makkah menjadi pusat persinggahan suku-suku Bangsa Arab makan generasi berikutnya dari keturunan Nabi Ismail AS semakin bagus bahasa Arabnya dibandingkan dengan suku-suku pendatang. Dengan demikian Bangsa Arab Adnani (keturunan Adnan) lebih lancar dan lengkap bahasa Arabnya dibandingan dengan Bangsa Arab Qahtani sendiri.
Di ayat Al Baqarah 128 tersebut Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS juga berdo'a agar anak cucu mereka dijadikan orang2 Muslim yang beriman pada Allah SWT:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 2:128).
Ribuan tahun kemudian di dalam HR Musnad Ahmad No 21231 bahwa Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh para Sahabat "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu." Rasulullah SAW menjawab "Aku adalah do'a bapakku Ibrahim (AS) dan berita gembira yang disampaikan saudaraku Isa (AS). ...".
Nama-nama keturunan, jumlah generasi dan kurun waktu antara Khaidar dan Adnan lebih banyak menggunakan sumber dari cerita bangsa Arab sendiri. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Arab tidak punya literatur sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Bangsa Arab menceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Dari ibnu Abbas RA. berkata : Rasulullah SAW, Apabila menceritakan nasabnya, tidaklah melebihi dalam menceritakan nasabnya dari Ma'ad bin Adnan bin Udad, kemudian beliau berhenti dan bersabda "Dustalah orang - orang yang membuat - buat nasab" (HR. Ibnu Sa'ad dan Ibnu Asakir).
Para Ahli menyebutkan bahwa Adnan adalah bapak bangsa Arab Musta'ribah yaitu bangsa yang tinggal/hidup di Arab yang mempelajari Bahasa Arab. Keturunan dari Adnan disebut Adnani.
Keturunan Adnani inilah yang merupakan cikal bakal bangsa Quraisy dan orang tua Nabi Muhammad SAW.
Saya rasa cukup sekian, kalau ada yang salah - itu dari saya sebagai hamba yang tidak luput dari salah dan semua yang benar adalah datang dari Allah SWT.
Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishashawab.
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.