Selasa, 02 Februari 2016

Islam pasti agama yg benar; tidak mungkin salah.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi eabarakatuhu.


Bagaimana pemahaman kita terhadap ajaran Islam, terutama pada masalah yg tidak/belum ada di zaman Rasulullah SAW, bisa saja 'berbeda' dari maksud sebenarnya dari ajaran Islam yg mutlak benar itu.

Pemahaman ajaran Islam pada zaman Rasulullah bisa ditanyakan langsung pada Rasulullah Muhammad SAW.

Pemahaman para sahabat RA merupakan didikan langsung Rasulullah SAW.

Pemahaman para Tabi'in baik yg lahir dan hidup bersama sahabat (tapi tidak pernah ketemu Rasulullah) maupun yg lahir setelah wafatnya Rasulullah SAW, merupakan didikan para Sahabat RA.

Dan seterusnya sampai saat ini, pemahaman akan ajaran Islam setelah wafatnya Rasulullah Muhammad SAW mengacu kepada para Ulama. Ulama mengacu/berguru kepada Ulama terdahulu, dan seterusnya sampai dengan para Tabi'in, Sahabat RA dan Rasulullah SAW.

Para Ulama waratsatul ambiya' rahimah kumullah melakukan ijtihad pemahaman terhadap ajaran agama Islam dalam kontesk kekinian (yg tidak/belum ada di zaman Rasulullah SAW) berdasarkan Al Qur'an, Al Hadits dan sumber2 Ulama terdahulu.

Dalam Islam, ijtihad dinilai dengan 2 pahala jika 'benar' dan 1 pahala jika tidak sesuai dengan kebenaran hakiki ajaran Islam.

Apakah ilmu pengetahuan alam (science & technology) - selain ilmu Al Qur'an, Hadits dan Fiqih - yg juga merupakan ciptaan Allah, bisa/dapat dijadikan sumber rujukan ijtihad atau pemahaman ajaran Islam atau malah merupakan/bagian dari ajaran Islam yg hakiki tsb?

Modern sciense & technology sudah (sangat) maju dan banyak hal yg tidak bisa dipahami oleh ummat dan/atau para Ulama berdasarkan 'pemahaman' (klasik) terhadap ajaran/sumber Islam yang universal. Bukan karena sumbernya (Al Qur'an dan Hadits) tetapi lebih kepada kemampuan manusianya untuk memahami modern sciense & technology sekaligus Al Qur'an dan Hadits.

Teori Evolusi Darwin mengatakan ada makhluk berkaki dua (mirip manusia) yg hidup ratusan ribu atau jutaan tahun yg lalu dan manusia merupakan keturunan evolusi makhluk (mirip manusia) tersebut karena makhluk tsb telah punah dan manusia satu2nya yg mirip makhluk tsb.  Sciense & technology bisa membuktikan keberadaan makhluk mirip manusia tapi tidak/belum bisa membuktikan bahwa manusia modern 'asli' adalah keturunan evolusi makhluk tsb. Namun demikian analisa DNA telah menyebutkan bahwa manusia modern mempunyai beberapa persen kemiripan DNA dengan makhluk terdahulu yang seperti manusia tsb.

Sementara pemahaman (klasik) ajaran Islam menyebutkan bahwa Adam AS 'baru' diciptakan Allah ribuan atau puluhan atau ratusan ribu tahun yg lalu. Ajaran Islam mengakui keberadaan makhluk sebelum penciptaan Adam AS tapi manusia tidak/bukan merupakan keturunan evolusi makhluk sebelumnya. Karena manusia (Adam AS) diciptakan langsung oleh Allah Azza wa Jalla.

Apakah ajaran Islam sudah membahas (secara jelas dan tegas) antara manusia dan makhluk sebelumnya tersebut mempunyai perbedaan atau kemiripan (DNA?) seperti yg tersirat dalam pertanyaan Malaikat saat Allah SWT menciptakan Adam AS?

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Masih ada beberapa hal lain lagi dimana pemahaman kita terhadap ajaran Islam dan ciptaan Allah (sciense & technology)  belum/tidak sejalan atau belum/tidak searah. Ummat Islam butuh Ulama Mujaddid di zaman modern ini yg dapat menegakkan dienul Islam berdasarkan Al Qur'an, Al Hadits dan menguasai Sciense & Technology. 

Semoga kita dapat menyaksikan terwujudnya sabda Rasulullah Muhammad SAW berikut, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

"Sesungguhnya Allah akan menurunkan (orang) setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada Umat yang akan (Tajdid) mengembalikan kegemilangan Agama mereka"

Wallahu a'lamu bishshawab, semoga bermamfa'at.



--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.