Rabu, 03 Februari 2016

Ibadah - tunduk, patuh dan ta'at

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.


Ibadah berasal dari kata 'abada (عبد) yang berarti menyembah. Dari sudut bahasa Ibadah adalah taat, patuh, turut serta tunduk pada sesuatu. Ini bisa kita kita lihat dari surat Yasin ayat 60 dimana Allah melarang kita ta'budu (menyembah) pada setan. Di ayat berikutnya (61) Allah menggunakan kata yang sama a'budunii (sembahlah Allah) yang merupakan jalan yang lurus.

Sejak dari Nabi Adam AS perintah ibadah ini sudah ada karena diciptakannya manusia dan makhluk lainnya adalah untuk beribadah pada Khalik.

Pengertiaan ibadah secara bahasa menurut Islam adalah tunduk, patuh, ta'at dalam segala sesuatu baik perkataan maupun perbuatan kepada atau mencari ridha (disenangi) Allah.

Di zaman Nabi Adam AS di dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 27 Allah menceritakan salah satu bentuk ibadah yaitu kurban Habil dan Qabil, yang mana Allah hanya menerima kurban orang2 yang bertakwa.

Di zaman Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS ummat manusia diperintahkan untuk melakukan ibadah Haji, Tawaf dan Talbiah disamping ibadah kurban.

Di Zaman Nabi Daud AS cara puasa dan shalat sangat disenangi oleh Allah Azza wa Jalla. Nabi Muhammad SAW sendiri yang menceritakan kepada kita.

HR Shahih Bukhari No 1063
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 

Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Daud Alaihissalam dan shaum (puasa) yang paling Allah cintai adalah shaumnya Nabi Daud alaihissalam. Nabi Daud Alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud Alaihissalam shaum sehari dan berbuka sehari.

Di awal2 Kerasulan Nabi SAW yaitu saat turunnya surat kedua al Muzammil (setelah Iqra'), Rasulullah dan para sahabat shalat malam untuk mencari Ridha Allah Azza wa Jalla seperti diceritakan dalam hadits berikut:

HR Shahih Muslim No 1233 (app.lidwa.com)

Seorang Tabi'in bernama Sa'ad bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah RU: Beritahukanlah kepadaku tentang shalat malamnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

'Aisyah balik bertanya; Bukankah engkau pernah membaca surat Al Muzammil?

 Sa'ad menjawab; Benar 

Kata Aisyah; Allah Azza wa Jalla pernah mewajibkan qiyamullail (shalat malam) di awal surat ini turun, sehingga Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya mendirikannya selama setahun, dan Allah menahan penutupnya di langit selama dua belas bulan hingga Allah turunkan akhir surat ini sebagai bentuk keringanan, sehingga shalat malam menjadi sunnah setelah diwajibkan.

Di HR Sunan Darimi No 1439,  Aisyah RU mengatakan "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya melaksanakan (shalat malam) hingga kaki mereka bengkak"

Jadi meskipun dari Nabi Adam AS s/d Nabi Muhammad SAW hanya satu risalah tauhid tapi tatacara ibadah, kewajiban dan larangan masing2 ummat ada sedikit (?) perbedaan sesuai dengan kemampuaan ummat masing2 Nabi.

Kalau kita ingat cerita isra' yaitu perjalanan malam Nabi SAW dari Masdjidil Haram ke Masdjidil Aqsha, dimana Nabi SAW menjadi imam shalat yang makmumnya semua Nabi dan Rasul.

Dari peristiwa Nabi SAW menjadi imam shalat para Nabi dan Rasul dapat kita ketahui bahwa ibadah shalat merupakan risalah semua Nabi.

Jadi shalat merupakan salah satu ibadah para Nabi sepanjang zaman, namun pada zaman para Nabi2 tersebut, kemungkinan ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaannya.

Seperti kita ketahui bahwa pada sa'at mi'raj, perintah shalat disyariatkan buat Ummat Nabi Muhammad SAW.

HR Bukhari No 6963

Pada peristiwa mi'raj Nabi SAW, di sidratul muntaha pada awalnya Allah mewajibkan lima puluh kali shalat untuk umatmu (Muhammad SAW) siang-malam. 

Kemudian Nabi SAW turun hingga bertemu Musa AS, Musa AS menahannya dan berkata, 'Hai Muhammad (SAW), apa yang diikrarkan Tuhanmu kepadamu?' 

Nabi SAW menjawab, 'Allah mewajibkan aku untuk mendirikan lima puluh kali shalat sehari semalam.' 

Musa AS berkata, 'Umatmu tak bakalan kuat melakukan sedemikian itu, kembalilah kamu agar Tuhanmu memberi keringanan untukmu dan umatmu.' 

Maka Nabi SAW menoleh ke Jibril seolah-olah meminta saran tentang saran Musa AS, dan Jibril memberi isyarat, 'Silahkan, kalau kau berkenan.' Maka Jibril kembali menaikannya ke Allah Yang Maha Jabbar yang ketika itu masih berada di singgahsana-Nya, Nabi SAW katakan, 'Wahai Rabb, berilah kami keringanan, sebab umatku tak bakalan mampu melakukan shalat lima puluh kali dalam sehari!' 

Lantas Allah mengurangi sepuluh kali, dan Nabi SAW kembali bertemu Musa AS dan Musa AS menahannya, Musa AS terus-menerus membujuknya agar Nabi SAW menegoisasi ulang kepada Rabbnya, sehingga Allah hanya mewajibkan lima kali shalat sehari-semalam. 

Musa AS kemudian menahannya ketika kewajiban shalat tinggal lima, Musa AS mengatakan, 'Hai Muhammad SAW, pernah aku membujuk Bani Israil, kaumku, untuk suatu yang lebih rendah daripada ini namun mereka meninggalkannya, padahal umatmu lebih lemah fisiknya, badannya, hatinya, pandangan dan pendengarannya, maka temuilah kembali Rabbmu agar Dia memberi keringanan.' 

Dan atas semua instruksi itu, Nabi SAW menoleh kepada Jibril untuk memberi saran, namun Jibril tidak membenci atas itu semua. Lantas Jibril kembali membawanya naik untuk kali kelima, lalu Nabi berkata, 'Ya Rabb, umatku adalah orang-orang lemah fisiknya, hatinya, pendengarannya, pandangannya, dan badannya, maka berilah kami keringanan.' 

Allah Yang Maha Jabbar menjawab, 'Hai Muhammad!' 

Nabi SAW menjawab, 'Aku penuhi panggilan-Mu.' 

Allah meneruskan firman-Nya, 'Sesungguhnya tidak ada lagi pergantian titah-Ku sebagaimana Aku wajibkan atasmu dalam ummul kitab.' 

Allah meneruskan titah-Nya, setiap satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya, maka lima kali shalat itu tercatat lima puluh kali dalam ummul kitab, sekalipun hanya dilaksanakan lima kali olehmu.' 

Maka Nabi SAW kembali menemui Musa AS dan Musa AS bertanya, 'Apa yang telah kamu lakukan?' 

Nabi SAW menjawab, 'Allah betul-betul telah memberi kami keringanan, karena setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.' 

Musa AS berkata, 'Demi Allah, aku pernah membujuk bani israil untuk yang lebih remeh daripada itu namun mereka meninggalkannya, maka kembalilah kau temui Tuhanmu agar Dia memberi keringanan terhadapmu.' 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Hai Musa AS, demi Allah, aku telah malu kepada Tuhanku terhadap protes yang kulakukan terhadap-Nya.' 

Musa pun berkata, 'Baik kalau begitu, silahkan engkau turun dengan nama Allah.'

Dalam HR Shahih Bukhari No 3998 Rasulullah menyebutkan "Hendaklah kalian mempermudah, jangan mempersulit, berilah kabar gembira jangan kalian jadikan manusia lari (alergi terhadap agama), dan bersatu padulah."

Terakhir, sebagaimana kita tahu para ulama sepakat (Tapi para ulama berbeda pendapat apakah niat itu harus diucapkan atau cukup di dalam hati) sesungguhnya amal (ibadah) itu bergantung dengan niat dan pengharapan, dan setiap mukmin akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.

HR Shahih Bukhari No 52

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.

Nabi SAW pernah marah besar pada cucu angkat beliau yaitu Usamah bin Zaid bin Harits. Sebagaimana kita tahu bahwa Usamah bin Zaid dibesarkan dirumah Nabi SAW dan sangat dicintai oleh beliau. Meskipun begitu, Nabi SAW sangat marah pada saat Usamah bersalah telah menghukum mati seorang Yahudi yang karena takutnya mengucapkan kalimat tauhid tapi tetap dihukum mati oleh Usamah. 

HR Shahih Muslim No 140

Terakhir, sebagaimana kita tahu para ulama sepakat bahwa sesungguhnya amal (ibadah) itu bergantung dengan niat dan pengharapan, dan setiap mukmin akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Tapi para ulama berbeda pendapat apakah niat itu harus diucapkan atau cukup di dalam hati.

HR Shahih Bukhari No 52

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.

Niat yang di dalam hati tiada yang tahu kecuali yang bersangkutan dan Allah Azza wa Jalla. Kisah berikut menunjukan pada kita bahwa orang lain tidak tahu niat dihati:

 HR Shahih Muslim No 140

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutuskan Usamah bin Zaid RA dalam suatu pasukan. 

Suatu pagi pasukan sampai di al-Huruqat, yakni suatu tempat di daerah Juhainah. Kemudian Usamah RA berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut lalu mengucapkan LAA ILAAHA ILLAALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), namun Usamah tetap menikamnya. Lalu Usamah RA merasa ada ganjalan dalam dirinya karena hal tersebut, sehingga kejadian tersebut dia ceritakan kepada Rasulullah. 

Rasulullah lalu bertanya: 'Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu?' 

Usamah RA menjawab, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang. 

Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? 

Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadanya hingga menyebabkan Usamah RA berandai-andai bahwa dia baru masuk Islam saat itu. 


Allahu a'lamu bishshawab, Semoga bermamfa'at.


--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.