Jumat, 12 Februari 2016

Mengapa Bangsa Arab

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Insyaa' Allah hari ini kita akan sharing mengenai Mengapa Jazazirah Arabia tempat risalah terakhir yaitu Islam, bukan Syam, bukan Persia, bukan Nicea, bukan China, bukan India dan lain-lain. Toh pada saat itu - sebelum wahyu pertama diturunkan, semua dunia baik Jazirah Arabia maupun bagian Syam, Persia dan lain-lain sama-sama dalam kegelapan jahiliyah kalau dipandang dari agama Islam. 

Jazirah Arab seperti kita bahas sebelumnya telah diliputi kegelapan jahiliyah. Bangsa Arab di Makkah zaman kegelapan tersebut menyembah berhala Hubal (HR Shahih Bukhari No. 1136, Shahih Muslim No. 5096, Musnad Ahmad No. 20297 dll), begitu juga bangsa Arab diluar Makkah seperti penduduk Thaif menyembah berhala Lata, penduduk Qudaid - pantai laut merah sejajar Jeddah, penduduk wadi Nakhlah menyembah berhala Uzza (QS 53:19-20) dan mereka juga menyembah kembali berhala-berhala kuno ummat Nabi Nuh AS yaitu Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'ug dan Nasr (QS 71:23). Bukan itu saja, bahkan bangsa Arab Jahiliyah juga membunuh/mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka (QS 81:8-9).

Begitu juga dengan penduduk diluar Jazirah Arab sama-sama dalam kegelapan jahiliyah. Bangsa Persia, mereka menyembah api dan bangsa Asia Selatan seperti India, mereka menyembah dewa-dewa. Bangsa Romawi dan Eropa menuhankan Nabi Isa AS dan ibundanya Siddiqah Maryam disamping mempersonafikasikan Allah sebagai Bapa yang mempunyai anak Isa AS. Na'udzubillah min dzalik tsumma na'udzubillah. Kegelapan jahiliyah penduduk dunia saat itu sudah sampai pada puncaknya.

Jadi Allah Azza wa Jalla, berkendak untuk mengeluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya terang benderang seperti Firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 1.

Jika bangsa Arab sama buruknya atau sama jahatnya atau sama sesatnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kalau semua bangsa dalam kegelapan jahiliyah yang sama, kenapa bangsa Arab atau jazirah Arabia yang dipilih Allah SWT tempat lahir Nabi Muhammad SAW? Mengapa tidak orang-orang Romawi yang peradabannya lebih perkasa? Atau Persia yang memiliki peradaban kuno? Mengapa memilih orang atau gurun gersang yang tidak memiliki apa-apa - bahkan tidak memiliki persatuan atau pemerintahan. Mengapa masyarakat Arab yang dipilih? 

Kita sebagai ummat Muslim tidak akan mempertanyakan keputusan atau taqdir Allah SWT. Karena Allah tidak akan ditanya apa yang diperbuat, sebaliknya manusialah yang ditanya mengenai apa yang mereka perbuat (QS 21:23). Sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu (QS 9:115) dan kita tidak bakal mengetahuinya kecuali mencoba mengambil hikmat atau pelajaran dari setiap kejadian (QS 2:269).

Berikut beberapa analisa para Ulama siirah tentang Bangsa Arab:

1. Bangsa Arab dan jazirah Arabia berada di antara dua keluasaan adidaya utama pada saat itu yaitu Romawi dan Persia. Lebih tepatnya Bizantium dan Sasania. Jadi jazirah Arabia tepat berada di tengah antara daerah kekuasaan Bizantium dan Sasania. Menurut catatan sejarah bahwa perang telah berlangsung selama 400-san tahun antara Bizantium dan Sasania, tetapi bangsa Arab atau Jazirah Arabia tidak terlibat sama sekali meskipun berada diantara keduanya. Jadi secara geografis bangsa Arab dan Jazirah Arabia bukan bagian dari kedua kekuasaan adidaya utama saat itu namun terhubung kepada kedua kekuasaan adidaya tersebut. Memang bangsa Arab belakangan setelah menjadi bangsa atau menjadi ummat Islam, menaklukkan kedua kekuasaan/negara adidaya tersebut. Jadi dengan terhubungnya jazirah Arabia kepada kedua adidaya tersebut, Allah menghendaki ummat Islam menaklukkan mereka. 

2. Bangsa Arab tidak pernah memiliki sejarah perperangan terhadap kedua negara adidaya tersebut karena mereka bangsa Arab sibuk bertempur sesama mereka sendiri, antara suku-suku bangsa Arab. Sementara kedua negara adidaya tersebut juga saling berperang selama kurun ratusan tahun. Mereka sama sekali tidak mengganggap bangsa Arab sebagai ancaman atau bangsa yang ditakuti. Ketika pasukan ummat Islam yang terdiri dari sebagian besar bangsa Arab pertama kali menuju kawasan kekuasaan Romawi atau Persia - negara adidaya tersebut menertawakan dan melecehkan pasukan bangsa Arab ini: "Kalian ingin menantang atau memerangi kami dengan pasukan seperti ini, pulanglah, nanti kami bagi beberapa koin emas buat kalian, sungguh menyedihkan?" Bahkan bangsa Persia atau Sasania memperlakukan pasukan bangsa Arab sebagai anak-anak! Karena mereka tidak percaya kelompok seperti itu yang berasal dari jazirah Arabia akan menyerang mereka. Jadi keberadaan bangsa Arab yang datang dari jazirah Arabia pada pasukan ummat Islam tidak pernah diperhitungkan dan diantisipasi oleh kedua negara adidaya tersebut - ini merupakan kejutan yang mematikan/menghancurkan kepada kedua negara adidaya tersebut.

3. Bangsa Arab tidak memiliki peradaban unik yang khas mereka sendiri. Yang dimaksudkan dengan tidak memiliki peradaban adalah bangsa Arab tidak memiliki pemerintahan bersatu - tidak ada persatuan antara suku-suku bangsa Arab. Dengan demikian bangsa Arab tidak memiliki hukum dan peratuan yang dipatuhi bersama - masing-masing suku mempunyai hukum dan peraturan mereka sendiri. Bangsa Arab tidak memiliki sastra, seni dan arsitektur tersendiri (tapi bangsa Arab memiliki puisi). Sementara  bangsa Romawi dan Persia memiliki semua itu, bahkan peninggalan atsitektur dan bekas istana mereka masih ada sampai saat ini. 

Islam datang dan memberi bangsa Arab izzah (kehormatan) dan membuat mereka menjadi legenda. Allah SWT berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 10:

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

Jadi, sebelumnya bangsa Arab sama sekali tidak memiliki warisan kebudayaan - sebelum Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (dalam bahasa Arab). Memang sekarang Al-Qur'an (seolah-olah) identik dengan bangsa Arab karena diturunkan dalam bahasa Arab. Al Qur'an menjadi warisan bangsa Arab dan orang memandang bangsa Arab karena Al-Qur'an. 

Jadi dengan demikian, karena tidak memiliki peradaban maka ketika Islam datang, akan membuat lebih mudah bagi bangsa Arab untuk mengembangkan budaya baru yang unik dan komprehensif berdasarkan syariah Islam. Jika Islam datang ke bangsa Romawi atau Persia, dapat dibayangkan betapa sulitnya perjuangan Nabi Muhammad SAW harus melawan status quo - yang sudah mapan dan terstruktur pada tempat dan waktu itu. Tapi jazirah Arab adalah seperti sebuah pot yang kosong dan siap untuk diisi. Untuk pertama kalinya, semua suku-suku bangsa Arab bersatu adalah ketika sudah berada di bawah syariah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

4. Bakkah adalah tempat dimana bangunan atau rumah pertama yang dibangun di permukaan bumi oleh Nabi Adam AS untuk menyembah Allah yaitu ka'bah atau baitullah. Setelah banjir Nabi Nuh AS, Ka'bah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Ismail AS, sehingga tempat itulah (Bakkah atau Makkah) yang paling tepat menjadi tempat untuk agama atau syariah Islam yang universal diturunkan. Syariah lain dikirim kepada bangsa-bangsa tertentu seperti syariah Nabi Saleh AS untuk kaum/bangsa Tsamud, syariah Nabi Hud AS untuk bangsa 'Aad dan syariah Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS untuk bangsa atau Bani Isra'il, dll. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 96 bahwa rumah ibadah pertama memang Makkah. Ini adalah masjid pertama yang pernah dibangun di Bumi. Jadi Makkah adalah tempat yang paling cocok menjadi tempat turunnya wahyu syariah Islam yang universal.

5. Bangsa Arab memiliki beberapa sifat yang baik yang membuat mereka layak atau pantas menerima agama Islam dan menerima Nabi Muhammad SAW. Bangsa Arab adalah orang-orang sederhana tidak terpengaruh oleh budaya atau philosophy atau pemikiran lain yang tidak lagi fitrah atau murni. Hal positif dari sifat yang sederhana adalah ketika kebenaran datang mereka akan dapat melihatnya dengan jelas dan dapat menerimanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa para sahabat yang banyak menerima Islam di awal-awal turunnya wahyu adalah dari orang-orang sederhana - bukan dari golongan bangsawan atau kalangan atas. 

Sifat lainnya adalah bahwa bangsa Arab sudah terbiasa hidup dengan alam/lingkungan yang keras sehingga mereka sudah terbiasa dengan kesulitan hidup, seperti kemarau yang panjang, kekurangan air, panas yang membakar kulit, susahnya mencari makanan dll. Jadi mereka tahan banting, bisa hidup dengan kondisi alam yang ekstrim. Dimana hal ini sangat membantu pasukan ummat Islam dikemudian hari berjalan jauh tanpa bekal yang banyak dan berat. Sementara tentara-tentara bangsa Romawi dan Persia mereka harus membawa semua perbekalan dan peralatan yang banyak dan berat karena mereka sudah terbiasa hidup berkecukupan dan senang. Pasukan mereka membutuhkan zeni (pasukan bantuan) peralatan tempur, zeni peralatan akomodasi atau tenda-tenda, zeni makanan, zeni kesehatan dll. Tapi bangsa Arab yang sudah biasa melakukan perjalanan di padang gurun dalam jangka waktu yang lama dengan sedikit perbekalan air dan sedikit makanan. Bangsa dengan stamina seperti ini sangat diperlukan pada awal-awal penaklukan ummat Islam terhadap baik bangsa Romawi atau Persia dan mereka sama sekali tidak bersiap-siap menghadapi penaklukan oleh ummat Islam.

Bangsa Arab juga memiliki beberapa karakteristik yang sangat baik:


a) Keberanian dan kebanggaan - mereka tidak pengecut.



b) Jujur - orang Arab tidak suka berbohong dan bangsa yang sangat jujur. Cerita Abu Sufyan (sebelum masuk Islam) dengan Heraclius menunjukkan hal ini. Abu Sufyan dibawa di depan Heraclius dan Heraclius tahu Abu Sufyan adalah musuh dari Nabi Muhammad SAW. Jadi Heraclius menempatkan orang-orang Arab lainnya di belang Abu Sufyan dan mengatakan kepada mereka jika Abu Sufyan berbohong, kalian angkat tangan / memberi saya isyarat. Pada saat itu bangsa Arab masih banyak yang menyembah berhala - dan Abu Sufyan berkata "kalau bukan karena orang-orang akan menyebut saya sebagai pembohong saya akan berkata bohong terhadap segala hal tentang Nabi SAW". Jadi meskipun dia masih kafir pada saat itu, dia tidak mau disebut sebagai pembohong (HR Shahih Bukhari No. 6, Shahih Muslim No. 3322 dan lain-lain).



c) Bangsa Arab tulus dengan sumpah mereka - jika mereka memberi janji mereka akan menepati. Abdul Muthalib bernadzar atau berjanji kepada Allah mengirbankan seorang anak laki-lakinya jika dia diberi sepuluh orang anak laki-laki untuk mempertahankan penemuan kembali sumur air zam-zam. Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa Abdul Muthalib menepati janjinya, tetapi bangsa Quraisy menyuruh dia mengganti dengan 100 ekor onta. Jadi bangsa Arab adalah orang-orang yang dapat dipercaya dari kata-kata mereka. Mereka menepati kata-kata mereka meskipun tidak ada saksi, dokumen tertulis dan lain-lsinnya.



d) Bangsa Arab adalah penunggang kuda terbaik - ini tidak ada yang dapat mengingkarinya. Kedua kuda Arab adalah kuda yang terbaik juga. Jadi penunggang yang terbaik dengan kuda yang terbaik sangat dibutuhkan diawal-awal penaklukan ummat Islam terhadap bangsa Romawi dan Persia.

e) Bangsa Arab ahli bahasa Semit yaitu Arab. Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kaya dan merupakan alat komunikasi yang ampuh dibandingkan bahasa laten. Satu akar kata bahada Arab bisa memberikan ratusan kata yang mempunyai arti dan makna yang berbeda. 



6. Nabi Ibrahim AS berdo'a saat Beliau sedang membangun Ka'bah seperti tertera dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 129:  "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." 

Ribuan tahun kemudian di dalam HR Musnad Ahmad No 21231 bahwa Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh para Sahabat "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu." Rasulullah SAW menjawab "Aku adalah do'a bapakku Ibrahim (AS) dan berita gembira yang disampaikan saudaraku Isa (AS). ..."

Demikian, kalau ada yang salah itu karena kehilafan saya, mohon koreksinya dan saya mohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. Semua yang benar adalah milik Allah SWT.


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Wassalam,
Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.