Hadits Bukhari dan Muslim berikut biasa dipakai untuk orang yg menangis/histeris karena kematian:
"Sumpallah mulut-mulut nereka dengan tanah."
Kalau kita tidak membaca cerita atau konteks saat Rasulullah mengucapkan Hadits tsb, bisa salah mengamalkan hadits Rasul.
Waktu perang atau ekspedisi Mu'tah (atau ekspedisi para jendral), Rasulullah mendapat khabar dari Allah (melihat) bahwa 3 orang Jendral/komandan perang yg dikirim Nabi telah menjadi Syuhada.
Rasulullah sangat sedih sekali, apalagi 2 dari syuhada tersebut adalah orang dekat Nabi yaitu Zaid bin Haritsah (anak angkat) dan Ja'far bin Abi Thalib (anak paman yg sebaya Rasul). Yang terakhir adalah Abdullah bin Rawahah.
Berita sedih ini sampai kepada keluarga Ja'far RA.
Aisyah RA mengatakan bahwa Beliau (Rasulullah) duduk dengan nampak kesedihannya sedangkan aku melihat dari lobang pintu.
Lalu datang seorang laki-laki seraya berkata,: Sesungguhnya isteri-isterinya Ja'far, lalu orang itu menceritakan tentang tangisan mereka.
Maka Beliau (Rasulullah) memerintahkan laki-laki itu agar melarang mereka. Orang itu pergi namun kemudian datang untuk kedua kalinya dan belum berhasil melaksanakan perintah Beliau.
Lalu Beliau berkata,: Laranglah mereka?. Orang itu datang untuk ketiga kalinya seraya berkata,: Demi Allah, mereka mengalahkan kami wahai Rasulullah!.
Aisyah radliallahu 'anha mengira Beliau (Rasulullah) menyuruh laki-laki itu pergi dan kemudian berkata,: Sumpallah mulut-mulut nereka dengan tanah.
Aku (Aisyah RA) berkata kepada laki-laki itu: Semoga Allah menyumpal hidungmu karena belum melaksanakan apa yang Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam perintahkan, serta kamu (membiarkan) tidak meninggalkan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dari kondisinya yang lelah dan kesusahan".
Jadi jangan sampai menyumpal mulut keluarga yg kematian dengan tanah/debu karena tangisan/rasa sedih mereka.
Allah dan Rasul melarang kita terlalu bersedih (sampai histeris) dalam kematian keluarga.
Barangsiapa tertimpa musibah lalu dia membaca sesuai yang diperintahkan Allah: 'INNAA LILLAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAHUMMA`JURNII FI MUSHIIBATII WA A'QIBNII KHAIRAN MINHAA', (Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah dengan yang lebih baik darinya).
Allahu a'lamu bishshawab, semoga bermamfa'at.
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.