Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Kajian dengan topik ma'ritullah ini masih nyambung dengan kajian/sharing awak minggu2 sebelumnya.
Sebelumnya kita sudah membicarakan perintah Allah kepada ummat Islam untuk menggunakan akal fikiran untuk memperhatikan ciptaanNya dan memahami ayat2Nya.
Diminggu berikutnya kita juga sudah membicarakan tauhid bahwa hanya Allah lah satu-satunya - tidak ada ilah lain selain Allah yang menciptakan alam semesta ini, yang memberi rezki, yang memberi petunjuk, yang berkuasa atas segala sesuatunya dan asmahul husna Nya Allah.
Kemudian semunggu yg lewat kita sudah membahas bahwa Allah menciptakan manusia (dan semua makhluk) untuk beribadah kepadaNya. Sejak Adam AS diciptakan perintah ibadah (syariah) sudah diturunkan bagi masing-masing ummat. Meskipun syariat dari Nabi Adam AS sampai dengan syariat Nabi Muhammad SAW tidak persis sama (secara waktu, jumlah dan/atau tempat) tetapi semua risalah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul adalah sama yaitu risalah tauhid - menyembah kepada Allah.
Kalau kita perhatikan bahwa Allah memberikan kemerdekaan kepada manusia (muslim dan non muslim) untuk menggunakan akal fikirannya dengan segala cara/metoda atau logika untuk membuktikan apakah ada ilah lain selain Allah dan Muhammad SAW adalah Rusulullah?
Bagi kita ummat Islam - muslim yang sudah menyerah, menerima dan mengakui bahwa memang tidak ada ilah lain selain Allah dan memang Nabi Muhammada SAW adalah Rasulullah, wajib untuk mengenal Allah (ma'rifatullah) seperti yang sudah diterangkan sebelumnya.
Seperti kata pepatah:
"Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta"
Betul bahwa salah satu tujuan dari ma'ritullah adalah mencintai Allah melebih segala sesuatunya. Allah mengingatkan kita jangan mencintai yang lain (makhluk) melebihi cinta kita kepada Allah. Allah mengaitkan/mengibaratkan mencintai sesuatu melebihi cinta kepada Allah ibarat beribadah/menyembah kepada selainNya.
Bagaimana mungkin orang yang menggunakan akal fikirannya (ulul albab, ulul abshar dll) menyembah selain yang paling kita cintai.
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (2:165)
Allah dalam surat Alt Taubah ayat 24 mengatakan bahwa orang2yang melebihi cintanya kepada Allah, Rusulullah dan berjihad sama dengan orang yang berbuat kerusakan (fasik).
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (9:24)
Jadi dengan mengenal Allah yang telah menciptakan kita, menyediakan segala sesuatunya buat kita, secara akal fikiran mencintai Allah melebihi segala sesuatunya adalah suatu yang wajar bahkan merupakan kewajiban bagi Muslim. Orang yang tidak mencintai Allah melebihi cintanya kepada makhluk disebut Allah sebagai orang zalim (menganiaya diri sendiri) dan fasik (membuat kerusakan) - na'udzubillah.
Tujuan berikut dari ma'rifatullah, setelah kita menempatkan cinta kita kepada Allah di atas dan lebih penting dari segala sesuatunya maka tentu kita akan mengikuti apapun yang diperintah Allah Azza wa Jalla.
Orang yang tidak mengikuti Allah sama dengan menuhankan sesuatu tersebut selain Allah. Sama halnya dengan orang tidak mecintai Allah melebihi segala sesuatunya berarti menyembah selain Allah. Allah mengabarkan kepada kita dalam surat Al Furqan ayat 43 bahwa ada orang yang mengikuti atau menjadikan hawa nafsu sebagai tuhanmya.
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, (25:43)
Sementara di dalam surat Thaha ayat 123 Allah menjamin orang2 yang mengikuti Allah, pasti tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (20:123).
Setelah mahbubun (mencintai, asal kata حبب), matbu'un (mengikuti, asal kata تبع) Allah, maka tujuan berikut dari ma'rifatullah (mengenal, عرف) adalah marhabun (takluk: patuh, tunduk, takut, رهب) kepada Allah.
Dalam surat An Nahl ayat 51, Allah menyuruh kita hanyak farhabun (patuh, tunduk, takut) kepadaNya saja.
Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". (16:51)
Kalau kita perhatikan ketiga tujuan ma'rifatullah, yaitu mahbubun (mencintai), matbu'un (mengikuti) dan marhabun (tunduk, patuh, takut) kepada Allah, senantiasa Allah mengaitkan dengan menyembah/beribadah kepadaNya - tidak ada ilah yang pantas disembah selain Allah.
Sementara Allah menyuruh Muslim untuk mengunakan akal fikirannya bahwa tidak ada ilah yang mampu menciptakan makhluk selain Allah, agar kita semakin bertaqwa/beriman.
Dengan demikian diharapkan dengan semakin Muslim mengenal Allah, semakin dia cinta kepada Allah, semakin mengikuti segala perintahNya (juga semakin meninggalkan/menjauhi apa2 yang dilarangNya) dan semakin patuh, tunduk dan takut atas azabNya.
Mudah2an kita semua dapat menjadi hamba2 Allah yang beriman dan semakin bertaqwa kepada, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Sebagai penutup, bahwa orang yang beriman, yang mengenal/mengetahui dan meyakini/percaya bahwa Allah memiliki siksa yang amat pedih kepada siapa/apa saja yang ingkar kepadaNya. Sebagaimana kita ketahui bahwa siksa Allah yang paling ringan di akhirat adalah jika seorang berdiri di atas bara api neraka maka spontan otaknya mendidih. Maka Muslim akan bergetar hatinya jika Nama (asma) Allah disebut sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 2-4 berikut.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (16:2-4).
Semoga bermamfaat, kalau ada khilaf atau salah itu dari saya. Allah maha mengetahui dan maha benar dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lamu bishawwab.
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.