Sabtu, 31 Desember 2016

Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, Bagian ke-3

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al’aalamiin.

Insyaa Allah pada hari ini kita kembali melanjutkan sharing tentang siirah Rasulullah SAW dengan episode Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj bagian ke-3. Sebelumnya sudah kita sebutkan bahwa baik kata benda Mi’raaj (مَعْرَاج) = tangga, ladder, stair, elevator atau alat untuk naik ke puncak sesuatu maupun kata kerja ‘araja (عَرَجَ) = naik, ascend or rise, tidak terdapat dalam surat An-Najm ayat 1-18. Penggunaan kata Mi’raaj atau ‘araja adalah berdasarkan beberapa hadits Rasulullah SAW tentang Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj yang telah kita sebutkan sebelumnya.

Di dalam hadits riwayat Shahih Bujhari No. 6963, Musnad Ahmad No. 12861 dan lain-lain, Rasulullah SAW berkata, “Saat Rabbiku 'Azza waJalla menaikkanku dalam peristiwa mi'raj (لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ).” Atau dalam riwayat lain, Anas bin Malik RAU berkata, “Kemudian Jibril membawanya (Nabi Muhammad SAW) naik ke langit dunia (ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا).” Dimana kata ‘araja yang berarti Allah Azza wa-Jalla telah menaikkan Rasulullah SAW ke langit, digunakan untuk menjelaskan peristiwa Mi’raaj atau naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit. Berdasarkan hadits-hadits ini para Ulama menyebutkan bahwa yang mengangkat atau menaikkan atau mi’raaj-nya Nabi Muhammad SAW ke langit adalah atas kehendak (kuasa) Allah Azza waJalla, bukan usaha aktivitas Nabi Muhammad SAW sendiri.


Sebelum kita lanjut, mari kita bahas dulu sedikit tentang samaa-a (سماء = langit), jamaknya samaawaat (سماوات = langit-langit). Kata samaa-a atau samaawaat berasal dari kata kerja samawa (سَمَوَ) = dia laki-laki tunggal telah meninggikan, jadi samaa-a atau samaawaat adalah kata benda ditempat yang tinggi (hanya Allah yang mengetahui tingginya). Allah SWT berfirman dalam surat Nuh ayat 15, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (QS 71:15)” Kata sabha samaawaati thibaakan berarti tujuh lapis atau tingkat langit. Dalam surat Al-Baqarah awal ayat 22, Allah SWT berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap (QS 2:22)” Dalam surat Fussilat ayat 12 pertengahan, Allah SWT berfirman, “Dan Kami hiasi langit yang dekat (samaa-a dunyaa) dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. (QS 41:12)” Jadi tujuh langit adalah langit fisik yang berada di atas kita dan langit ke satu (yang dekat) adalah langit dunia (bumi kita).

Jadi Malaikat Jibril AS membawa Nabi SAW naik ke langit dunia (langit pertama). Kemudian Jibril AS mengetuk pintu langit pertama; Malaikat AS penjaga pintu langit pertama bertanya, “Siapakah kamu?” Jibril AS menjawab, “Jibril.” Malaikat AS bertanya kepadanya, “Siapakah yang bersamamu itu?” Jibril AS menjawab, “Muhammad (SAW).” Ditanyakan lagi kepadanya, “Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?” Jibril AS menjawab, “Dia telah diutus untuk menemui-Nya.” Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami. Malaikat AS berkata, “Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Hadits ini menunjukkan pada kita bahwa langit ada pintunya. Pintu langit dikunci atau tertutup dan dijaga oleh Malaikat AS penjaga pintu langit. Malaikat penjaga pintu langit mencatat/mendata setiap yang keluar masuk langit. Tidak ada kunci atau kode khusus untuk melewati pintu langit. Karena para Malaikat; Jibril AS dan Malaikat AS penjaga pintu langit sudah mengetahui tugas masing-masing (dan tidak mungkin berbohong) maka pintu langit dibuka setelah mengetahui siapa yang melewat pintu langit. Prosedur (percakapan antara Jibril AS dengan Malaikat AS penjaga pintu langit) berlaku untuk langit ke-satu sampai lapisan atau tingkat ke-7.

Maka pintu langit pertama dibuka dan setelah melewatinya Nabi SAW berjumpa dengan seorang laki-laki berdiri menyambut kedatangan Nabi SAW. Nabi SAW menggambarkan bahwa orang itu tinggi dan besar. Jibril AS berkata, “Ini adalah bapakmu, Adam AS. Berilah salam kepadanya.” Maka Nabi SAW memberi salam kepadanya dan Adam AS membalas salam Nabi SAW lalu dia berkata, “Selamat datang anak yang shalih dan Nabi yang shalih.”

Kemudian Jibril AS membawa Nabi SAW naik ke langit yang kedua. Prosedur yang sama kembali terjadi, Jibril AS mengetuk pintu langit. Lalu dialog antara Malaikat penjaga pintu langit dan Jibril AS. Kemudian pintu langit dibukakan dan Nabi SAW menjumpai team menyambut. Setelah pintu langit kedua dibukakan Nabi SAW bertemu dengan dua orang anak bibi Beliau SAW, yaitu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Jibril AS berkata, “Ini adalah Yahya AS dan Isa AS, berilah salam kepada keduanya.” Maka Nabi SAW memberi salam kepada keduanya dan keduanya membalas salam Nabi SAW lalu keduanya berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.”

Jadi prosedur yang sama berulang kembali. Di pintu langit ketiga juga begitu, prosedur yang sama dengan team penyambutannya adalah Nabi Yusuf AS. Maka pintu dibuka dan setelah Nabi SAW melewatinya, Beliau SAW berjumpa dengan Yusuf AS. Jibril AS berkata, “Ini adalah Yusuf AS. Berilah salam kepadanya.” Maka Nabi SAW memberi salam kepadanya dan Yusuf AS membalas salam Nabi SAW lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.” Di dalam hadits riwayat Musnad Ahmad No. 12047 disebutkan bahwa Nabi SAW berkata, “Ternyata dia (Yusuf AS) diberi separuh ketampanan seluruh manusia.”

Di pintu langit ke-empat juga begitu, prosedur yang sama dengan team penyambutannya adalah Nabi Idris AS. Maka pintu dibuka dan setelah Nabi SAW melewatinya, Beliau SAW berjumpa dengan Idris AS. Jibril AS juga melakukan hal yang sama yaitu memperkenalkan Nabi Idris AS. Jibril AS berkata, “Ini adalah Idris AS. Berilah salam kepadanya.” Maka Nabi SAW memberi salam kepadanya dan Idris AS membalas salam Nabi SAW lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.”

Di pintu langit kelima dan ke-enam Nabi SAW bertemu dengan Harun AS dan Nabi Musa AS berturut-turut. Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS mengucapkan salam yang sama dengan yang diucapkan Nabi Idris, Nabi Yusuf AS, Nabi Isa dan Nabi Yahya yaitu, “Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.” Ketika Nabi SAW meningalkan Nabi Musa AS, dia terus menangis. Lalu dia ditanya, “Apakah yang menyebabkan kamu menangis?” Musa AS menjawab, “Yaa Rabb, Kamu telah mengutus pemuda ini setelahku, tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku.”

Sedangkan di pintu langit ketujuh Nabi SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Jibril AS berkata, “Ini adalah bapakmu, Ibrahim AS. Berilah salam kepadanya.” Maka Nabi SAW memberi salam kepadanya dan Ibrahim AS membalas salam Nabi SAW lalu dia berkata, “Selamat datang anak yang shalih dan Nabi yang shalih.” Di dalam riwayat hadits Shahih Muslim No. 234, Musnad Ahmad No. 12047 dan lain-lain disebutkan bahwa Nabi SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS, dia sedang berada dalam keadaan menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur, pada setiap harinya tujuh puluh ribu Malaikat AS memasukinya, lalu mereka tidak kembali lagi, yakni setiap hari tujuh puluh ribu Malaikat AS yang masuk adalah pendatang baru. Perlu dicatat bahwa lamanya hari di langit ketujuh ini hanya Allah Azza waJalla yang maha mengetahui.

Sebelum kita tutup, para Ulama mencoba mengambil beberapa pelajaran dari Mi’raaj Nabi Muhammad SAW ke langit kesatu sampai ketujuh ini. Kenapa pada setiap pintu langit Allah Azza waJalla mengirim beberapa Nabi AS untuk menyambut Nabi SAW, kenapa hanya para Nabi tersebut dan kenapa urutannya seperti itu?

1.      Adam AS adalah bapak dari semua umat manusia, sehingga sesuai baginya untuk menyambut Nabi SAW di pintu langit pertama. Dengan melihat Adam AS yang diciptakan Allah, tinggal di Jannah, tapi kemudian harus meninggalkan Jannah untuk sementara waktu tetapi akhirnya kembali ke Jannah, adalah untuk mengingatkan kepada Nabi SAW akan meninggalkan tempat suci Makkah untuk sementara waktu tetapi akan kembali ke Makkah.

2.      Isa AS dan Yahya AS adalah Nabi yang paling dekat zamannya dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Yahudi mencoba membunuh Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW bahwa bangsa Arab akan mencoba membunuh Nabi SAW.

3.      Saudara sekandung sendiri mencoba telah menganiaya atau menyakiti Nabi Yusuf AS, tapi akhirnya mereka bertobat dan menerima Nabi Yusuf AS kembali. Nabi Muhammad SAW pada waktu fathu (penaklukan) kota Makkah juga memaafkan para kerabat Beliau dari kaum Quraisy sebagaimana Yusuf AS memaafkan saudara-saudaranya. Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS 12:92)

4.      Allah berfirman tentang Nabi Idris AS dalam surat Maryam ayat 57, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (QS 19:57)” Begitu juga dengan Nabi SAW, Allah SWT berfirman dalam surat Ash-Sharh ayat 4, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS 94:4)

5.      Nabi Harun AS dihina oleh bangsa Yahudi tetapi kemudian mereka menerimanya kembali. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, dihina oleh bangsa Arab tetapi kemudian mereka menerima Nabi SAW kembali.

6.      Nabi Musa AS memiliki ummat terbesar kedua setelah ummat Nabi Muhammad SAW, dan juga mempunyai pengalaman yang mirip dengan pengalaman Nabi SAW. Tetapi Nabi Musa AS memiliki lebih banyak pengalaman karena Nabi Musa berumur lebih panjang dari Nabi SAW.

7.      Nabi Ibrahim AS adalah khalilullah sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga khalilullah. Di dalam hadits riwayat Shahih Muslim No. 827 Nabi SAW berkata, “Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang dari kalian sebagai kekasih (teman dekat), karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim AS sebagai kekasih.”

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Bagian ke-4 dari episode siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza waJalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.