Assalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina.
Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala
ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam
kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan
kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua
senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin
yaa Rabb al’aalamiin.
Insyaa Allah pada hari ini kita kembali melanjutkan
sharing tentang siirah Rasulullah SAW dengan episode Perjalanan Israa’ dan
Mi’raaj bagian ke-2. Seperti sudah kita sebutkan sebelumnya bahwa tidak ada catatan
kronologis tentang Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini. Meskipun detail
Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini banyak terdapat di dalam hadits (lebih dari
20 hadits), namun tetap tidak ada kronologisnya bahkan saking banyaknya hadits
dan berbeda focus maka ada yang berpendapat bahwa Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj
ini tidak sekali saja. Tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan Firman
Allah Azza waJalla dalam surat Al-Israa’ ayat ke-1 dimana disebutkan perjalanan
tersebut telah terjadi dalam suatu malam (bukan berulang-ulang).
Di dalam hadits syahih Bukhari No. 336, syahih Muslim No.
237 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW berkata, “Saat aku di Makkah atap
rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. …” Kemudian di
dalam hadits syahih Bukhari No. 2968, syahih Muslim No. 238 dan lain-lain bahwa
Rasulullah SAW berkata, “Ketika aku berada di sisi Baitullah - di Al Hathim atau
Beliau SAW menyebutkan di Al Hijir - dalam keadaan berbaring, tiba-tiba
seseorang datang lalu membelah. …” Dari kedua versi hadits ini dapat kita
rekontruksi bahwa Nabi Muhammad SAW sedang berada di Makkah, kemudian Jibril AS
datang kerumah Beliau dan membawanya ke Baitullah. Jibril AS membaringkan dan
membelah dada Nabi SAW di Al-Hathim atau Hijir Ismail. Sebagaimana sudah kita
bahas sebelumnya bahwa Hijir Ismail adalah bagian dari dalam Ka’bah yang
dibiarkan terbuka sejak pembangunan kembali oleh kaum Quraisy ketika masa muda
Nabi SAW.
Sebelumnya kita sudah pernah bahas bahwa pada masa
kanak-kanak Nabi Muhammad SAW juga pernah dibedah dadanya oleh Jibril AS, pada
saat itu Jibril AS mengeluarkan hati/jantung (qalbu) Nabi, mencucinya dengan
air zam-zam dan membuang gumpalan darah hitam (HR Syahih Muslim No. 236, Musnad
Ahmad No. 12048 dan lain-lain). Sedangkan pada saat ini yaitu sebelum
Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, di dalam hadits syahih Bukhari No. 2968, syahih
Muslim No. 238 dan lain-lain bahwa Jibril AS membelah antara tenggorokan Beliau
SAW hingga pangkal lehernya, sampai dadanya dan perutnya. Jibril AS kemudian mencucinya
dengan air zam-zam dengan tangannya hingga sampai pada bagian perut, setelah
itu didatangkanlah bejana besar dari emas yang di dalamnya ada atau berisi
keimanan dan hikmah. Dengannya, Jibril AS mengisi dada dan urat-urat
kerongkongan Nabi SAW lalu merapatkannta atau menjahitnya kembali. Jadi Jibril
AS mempersiapkan atau memperkuat diri (jasad dan ruh) Nabi SAW untuk kerperluan
Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj.
Kemudian Nabi SAW diberi seekor hewan tunggangan putih
yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai bernama Al-Buraq.
Buraq merendahkan tubuhnya sehingga Nabi SAW bisa menungganginya. Buraq itu
setiap langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu Nabi SAW dibawa di atas
punggungnya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Kemudian Nabi SAW mengikatnya
pada tiang di Masjidil Aqsa sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi AS.
Dari sinilah beberapa legenda mulai, yaitu tentang Buraaq yang bersayap tetapi
tidak pernah diriwayatkan di dalam hadits manapun.
Catatan bahwa berdasarkan hadits di atas Al-Buraq adalah
bianatang fisik dari dunia lain dan telah ditunggangi oleh pengendara lain –
para Nabi AS. Hadits ini juga menunjukkan kepada kita bahwa struktur asli Baitul
Maqdis telah diperlihatkan kepada Nabi SAW. Karena sebagaimana kita ketahui
bahwa struktur asli Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Sulaiman AS kemudian
hancur ketika terjadi perang dengan kerajaan Babylonia. Kemudian bangsa Yahudi
kembali membangun ditempat yang diperkirakan sama lokasinya, namun hancur
kembali ketika perang dengan kerajaan Romawi. Jadi Nabi SAW melihat Baitul
Maqdis (Masjidil Aqsa = masjid terjauh) yang asli bukan Masjidil Aqsa seperti
yang kita lihat sekarang.
Kemudian Nabi SAW masuk kedalam Masjidil Aqsa dan shalat
dua raka’at. Di dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW shalat dua
raka'at dan ketika Beliau berbalik, Nabi SAW melihat semua Nabi AS berada belakangnya.
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika tiba waktunya untuk Shalat maka
Nabi Muhammad SAW menjadi imam dan semua Nabi AS menjadi makmum. Hal ini
menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah imam dari semua Nabi AS. Sebagaimana
kita ketahui bahwa setiap Nabi AS adalah pemimpin dari umatnya dan Nabi Muhammad
SAW memimpin para Nabi AS. Jadi Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin dari semua
ummat manusia sebagaimana Nabi SAW berkata “Aku adalah penghulu (pemimpin) seluruh
manusia pada hari Kiamat.” (HR Syahih Bukhari No. 3092, Syahih Muslim No. 287
dan lain-lain)
Kemudian Nabi SAW mengatakan setelah Beliau selesai,
Jibril AS menyajikan dua buah gelas kepada Nabi SAW. Salah satunya berisi susu
dan yang lainnya berisi anggur. Perlu kita ingat bahwa pengharaman anggur atau
khamar belum ada pada saat Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini, jadi anggur masih
merupakan minuman yang halal. Jibril AS berkata kepada Nabi SAW, “Pilihlah
salah satu dari minuman ini untuk Anda dan untuk ummat Anda.” Nabi SAW memilih gelas
berisi susu dan Jibril AS berkata, “Anda telah memilih yang alami atau fitrah.
Jika Anda memilih anggur, Ummat Anda akan sesat keluar dari fitrah.”
Para ulama menyebutkan bahwa susu adalah minuman asli
atau murni dari hewan tanpa mengalami proses pembusukan sedangkan anggur adalah
minuman hasil pembusukan atau fermentasi. Allah SWT telah berfirman dalam surat
An-Nahal ayat 66 - 67 bahwa “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu
benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa
yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah,
yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan
anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang
yang memikirkan.” (QS 16:66-67)
Jadi susu merupakan minuman yang bersih dan mudah dicerna
sedangkan anggur merupakan minuman yang memabukkan meskipun merupakan rezqi
yang baik dan belum dilarang atau diharamkan saat itu. Nabi SAW telah memilih
gelas yang berisi susu yang murni yang berasal dari proses yang murni dan yang
membuat Ummat Nabi Muhammad SAW menjadi murni. Ini berlawan dengan minuman
anggur yang rusak, berasal dari yang rusak dan membuat Ummat Nabi Muhammad SAW
menjadi rusak. Nabi SAW mengatakan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fitrah.” (HR Syahih Bukhari No. 1296, Syahih Muslim No. 4803 dan lain-lain)
Sampai sekarang Perjalanan Nabi Muhammad SAW, yaitu
Israa’ Nabi Muhammad SAW adalah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa
(majid atau tempat shalat yang terjauh saat itu) di Baitul Maqdis. Nabi SAW
telah mengikatkan Buraq di salah satu tiang di Masjidil Aqsa ini. Perhatikan bahwa
Al Buraq masih terikat pada tiangnya, hal ini menunjukkan meskipun Allah SWT
bisa saja membuat Buraq tidak lari tetapi Nabi Muhammad SAW tetap berusaha agar
Buraq tidak lepas dari tempatnya ketika diperlukan nanti. Karena perjalanan
selanjutnya adalah Nabi SAW Mi’raaj ke langit dan setelah/sekembalinya dari
langit Nabi SAW akan menggunakan Buraq untuk kembali ke Makkah.
Jadi dari Masjidil Aqsa ini Nabi Muhammad SAW akan Mi’raaj
ke langit. Sebelumnya juga sudah kita sebutkan bahwa Nabi SAW telah melihat
ayat-ayat Allah yang paling besar ketika Mi’raaj ke langit di dalam surat
An-Najam ayat 1-18. Baik kata benda Mi’raaj (مَعْرَاج) = tangga, ladder, stair, elevator atau alat untuk naik ke
puncak sesuatu maupun kata kerja ‘araja (عَرَجَ) naik, ascend or rise,
tidak terdapat dalam surat An-Najm ayat 1-18. Penggunaan kata Mi’raaj atau
‘araja adalah berdasarkan hadits Rasulullah SAW tentang Perjalanan Israa’ dan
Mi’raaj. Insya Allah detail Mi’raaj Nabi SAW ke langit ini terdapat dalam
belasan atau puluhan hadits Rasulullah SAW yang akan kita bahas pada Perjalanan
Israa’ dan Mi’’raaj bagian ke-3.
Demikian kita cukupkan sampaikan
disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan Perjalanan
Israa’ dan Mi’raaj Baggian ke-3 dari episode siirah Rasulullah SAW. Kalau ada
yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari
salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada
Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini.
Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan
segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya
bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat
kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu
bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.