Minggu, 25 Desember 2016

Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, Bagian ke-2

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al’aalamiin.

Insyaa Allah pada hari ini kita kembali melanjutkan sharing tentang siirah Rasulullah SAW dengan episode Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj bagian ke-2. Seperti sudah kita sebutkan sebelumnya bahwa tidak ada catatan kronologis tentang Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini. Meskipun detail Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini banyak terdapat di dalam hadits (lebih dari 20 hadits), namun tetap tidak ada kronologisnya bahkan saking banyaknya hadits dan berbeda focus maka ada yang berpendapat bahwa Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini tidak sekali saja. Tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan Firman Allah Azza waJalla dalam surat Al-Israa’ ayat ke-1 dimana disebutkan perjalanan tersebut telah terjadi dalam suatu malam (bukan berulang-ulang).

Di dalam hadits syahih Bukhari No. 336, syahih Muslim No. 237 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW berkata, “Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. …” Kemudian di dalam hadits syahih Bukhari No. 2968, syahih Muslim No. 238 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW berkata, “Ketika aku berada di sisi Baitullah - di Al Hathim atau Beliau SAW menyebutkan di Al Hijir - dalam keadaan berbaring, tiba-tiba seseorang datang lalu membelah. …” Dari kedua versi hadits ini dapat kita rekontruksi bahwa Nabi Muhammad SAW sedang berada di Makkah, kemudian Jibril AS datang kerumah Beliau dan membawanya ke Baitullah. Jibril AS membaringkan dan membelah dada Nabi SAW di Al-Hathim atau Hijir Ismail. Sebagaimana sudah kita bahas sebelumnya bahwa Hijir Ismail adalah bagian dari dalam Ka’bah yang dibiarkan terbuka sejak pembangunan kembali oleh kaum Quraisy ketika masa muda Nabi SAW.

Sebelumnya kita sudah pernah bahas bahwa pada masa kanak-kanak Nabi Muhammad SAW juga pernah dibedah dadanya oleh Jibril AS, pada saat itu Jibril AS mengeluarkan hati/jantung (qalbu) Nabi, mencucinya dengan air zam-zam dan membuang gumpalan darah hitam (HR Syahih Muslim No. 236, Musnad Ahmad No. 12048 dan lain-lain). Sedangkan pada saat ini yaitu sebelum Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, di dalam hadits syahih Bukhari No. 2968, syahih Muslim No. 238 dan lain-lain bahwa Jibril AS membelah antara tenggorokan Beliau SAW hingga pangkal lehernya, sampai dadanya dan perutnya. Jibril AS kemudian mencucinya dengan air zam-zam dengan tangannya hingga sampai pada bagian perut, setelah itu didatangkanlah bejana besar dari emas yang di dalamnya ada atau berisi keimanan dan hikmah. Dengannya, Jibril AS mengisi dada dan urat-urat kerongkongan Nabi SAW lalu merapatkannta atau menjahitnya kembali. Jadi Jibril AS mempersiapkan atau memperkuat diri (jasad dan ruh) Nabi SAW untuk kerperluan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj.

Kemudian Nabi SAW diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai bernama Al-Buraq. Buraq merendahkan tubuhnya sehingga Nabi SAW bisa menungganginya. Buraq itu setiap langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu Nabi SAW dibawa di atas punggungnya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Kemudian Nabi SAW mengikatnya pada tiang di Masjidil Aqsa sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi AS. Dari sinilah beberapa legenda mulai, yaitu tentang Buraaq yang bersayap tetapi tidak pernah diriwayatkan di dalam hadits manapun.

Catatan bahwa berdasarkan hadits di atas Al-Buraq adalah bianatang fisik dari dunia lain dan telah ditunggangi oleh pengendara lain – para Nabi AS. Hadits ini juga menunjukkan kepada kita bahwa struktur asli Baitul Maqdis telah diperlihatkan kepada Nabi SAW. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa struktur asli Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Sulaiman AS kemudian hancur ketika terjadi perang dengan kerajaan Babylonia. Kemudian bangsa Yahudi kembali membangun ditempat yang diperkirakan sama lokasinya, namun hancur kembali ketika perang dengan kerajaan Romawi. Jadi Nabi SAW melihat Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa = masjid terjauh) yang asli bukan Masjidil Aqsa seperti yang kita lihat sekarang.

Kemudian Nabi SAW masuk kedalam Masjidil Aqsa dan shalat dua raka’at. Di dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW shalat dua raka'at dan ketika Beliau berbalik, Nabi SAW melihat semua Nabi AS berada belakangnya. Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika tiba waktunya untuk Shalat maka Nabi Muhammad SAW menjadi imam dan semua Nabi AS menjadi makmum. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah imam dari semua Nabi AS. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap Nabi AS adalah pemimpin dari umatnya dan Nabi Muhammad SAW memimpin para Nabi AS. Jadi Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin dari semua ummat manusia sebagaimana Nabi SAW berkata “Aku adalah penghulu (pemimpin) seluruh manusia pada hari Kiamat.” (HR Syahih Bukhari No. 3092, Syahih Muslim No. 287 dan lain-lain)

Kemudian Nabi SAW mengatakan setelah Beliau selesai, Jibril AS menyajikan dua buah gelas kepada Nabi SAW. Salah satunya berisi susu dan yang lainnya berisi anggur. Perlu kita ingat bahwa pengharaman anggur atau khamar belum ada pada saat Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini, jadi anggur masih merupakan minuman yang halal. Jibril AS berkata kepada Nabi SAW, “Pilihlah salah satu dari minuman ini untuk Anda dan untuk ummat Anda.” Nabi SAW memilih gelas berisi susu dan Jibril AS berkata, “Anda telah memilih yang alami atau fitrah. Jika Anda memilih anggur, Ummat Anda akan sesat keluar dari fitrah.”

Para ulama menyebutkan bahwa susu adalah minuman asli atau murni dari hewan tanpa mengalami proses pembusukan sedangkan anggur adalah minuman hasil pembusukan atau fermentasi. Allah SWT telah berfirman dalam surat An-Nahal ayat 66 - 67 bahwa “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS 16:66-67)

Jadi susu merupakan minuman yang bersih dan mudah dicerna sedangkan anggur merupakan minuman yang memabukkan meskipun merupakan rezqi yang baik dan belum dilarang atau diharamkan saat itu. Nabi SAW telah memilih gelas yang berisi susu yang murni yang berasal dari proses yang murni dan yang membuat Ummat Nabi Muhammad SAW menjadi murni. Ini berlawan dengan minuman anggur yang rusak, berasal dari yang rusak dan membuat Ummat Nabi Muhammad SAW menjadi rusak. Nabi SAW mengatakan, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (HR Syahih Bukhari No. 1296, Syahih Muslim No. 4803 dan lain-lain)

Sampai sekarang Perjalanan Nabi Muhammad SAW, yaitu Israa’ Nabi Muhammad SAW adalah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa (majid atau tempat shalat yang terjauh saat itu) di Baitul Maqdis. Nabi SAW telah mengikatkan Buraq di salah satu tiang di Masjidil Aqsa ini. Perhatikan bahwa Al Buraq masih terikat pada tiangnya, hal ini menunjukkan meskipun Allah SWT bisa saja membuat Buraq tidak lari tetapi Nabi Muhammad SAW tetap berusaha agar Buraq tidak lepas dari tempatnya ketika diperlukan nanti. Karena perjalanan selanjutnya adalah Nabi SAW Mi’raaj ke langit dan setelah/sekembalinya dari langit Nabi SAW akan menggunakan Buraq untuk kembali ke Makkah.

Jadi dari Masjidil Aqsa ini Nabi Muhammad SAW akan Mi’raaj ke langit. Sebelumnya juga sudah kita sebutkan bahwa Nabi SAW telah melihat ayat-ayat Allah yang paling besar ketika Mi’raaj ke langit di dalam surat An-Najam ayat 1-18. Baik kata benda Mi’raaj (مَعْرَاج) = tangga, ladder, stair, elevator atau alat untuk naik ke puncak sesuatu maupun kata kerja ‘araja (عَرَجَ) naik, ascend or rise, tidak terdapat dalam surat An-Najm ayat 1-18. Penggunaan kata Mi’raaj atau ‘araja adalah berdasarkan hadits Rasulullah SAW tentang Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj. Insya Allah detail Mi’raaj Nabi SAW ke langit ini terdapat dalam belasan atau puluhan hadits Rasulullah SAW yang akan kita bahas pada Perjalanan Israa’ dan Mi’’raaj bagian ke-3.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Baggian ke-3 dari episode siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.