Sabtu, 17 Desember 2016

Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, Bagian ke-1

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al’aalamiin.

Insyaa Allah pada hari ini kita kembali melanjutkan sharing tentang siirah Rasulullah SAW dengan episode Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj. Seperti biasa bahwa tidak ada yang mencatat dengan pasti/akurat kapan terjadinya Perjalanan Israa’ dan Mi’raj ini. Mayoritas Ulama menyebutkan terjadinya Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini setelah tahun kesedihan. Dimana setelah istri tercinta Nabi SAW yaitu Khadijah RA meninggal, paman Nabi SAW yaitu Abu Thalib meninggal, kemudian tragedi Tha’if yang menyakitkan terjadi pada tahun yang sama, semuanya – secara akumulatif telah membuat Nabi SAW mengadu pada Allah Azza wa Jalla dalam do’a yang sangat menyentuh. Para Ulama menyebutkan bahwa Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj disamping untuk menerima perintah shalat 5-waktu, juga merupakan hadiah kepada Nabi SAW secara pribadi dari Allah Azza wa Jalla setelah semua kesedihan-kesediahan sebelumnya.


Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini terdiri dari dua bagian. Pertama adalah bagian Israa’, yaitu perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram di kota Makkah ke Masjidil Aqsa di kota Jerussalem. Kedua adalah bagian Mi’raaj, yaitu naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit dari kota Jerussalem. Jadi Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini adalah perjalanan malam dari kota Makkah ke Jerussalem kemudian naik ke langit pulang pergi dalam suatu malam. Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj dirujuk dalam dua surat terpisah, yaitu surat Al-Israa’ (17) untuk bagian pertama - Perjalanan Malam Israa’, dan surat An-Najm (53) untuk bagian kedua – Naik ke Langit Mi’raaj.

Sebelum masuk kepada detail perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini, kita lihat dulu definisi masing-masing kata. Secara Bahasa, kata israa’ (إِسْرَاء) = perjalanan malam, adalah kata benda yang berasal dari kata kerja asraa (أَسْرَى) = Dia (Allah) telah memperjalankan. Sedangkan kata Mi’raaj (مِعْرَاج) = tangga, ladder, stair, elevator atau alat untuk naik ke puncak sesuatu. Kata mi’raaj adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ‘araja (عَرَجَ) = naik, ascend or rise. Jadi kata Mi’raaj berarti membawa naik ke puncak sesuatu atau langit. Dari sisi Bahasa ini saja dapat kita fahami bahwa Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj adalah aktifitas Allah Azza wa Jalla memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam. Hal ini cocok atau sesuai dengan perngertian secara agama Islam terhadap Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, yaitu Perjalanan dari Makkah ke Jerussalem kemudian naik ke Langit pulang pergi dalam waktu semalam yang dilakukan, diberikan atau diperuntukan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengenai bagian perjalanan malam Israa, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Israa’ ayat ke-1 sebagai berikut. “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 17:1)

Pada ayat di atas, Allah SWT menggunakan kata kerja aktif asraa (أَسْرَى) yang berarti “Dia (Allah) telah memperjalankan”, yaitu kata kerja bentuk lampau atau fi’il madhi dengan pelaku Allah Azza wa Jalla sendiri. Jadi berdasarkan ayat tersebut di atas bahwa Allah Azza wa Jalla telah memperjalankan seorang hamba-NYA di malam hari, yaitu Allah telah memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram (Baitullah) di kota Makkah ke Masjidil Aqsa (Baitulmaqdis) di kota Jerussalem yang diberkati untuk diperlihatkan ayat-ayat atau tanda-tanda atau kebesaran atau mukzizat Allah.

Pada ayat di atas, Allah Azza wa Jalla menggunakan kata abdiNya atau hambaNya (عَبْدِهِ) yang berasal dari kata ‘abd (عَبْد) yang berarti ‘abid atau hamba yang paling taat pada Allah. Diantara semua nama panggilan, nama ‘abid adalah nama yang paling terhormat. Dengan memanggil Nabi Muhammad SAW sebagai ‘abid, hal ini merupakan kehormatan tertinggi seseorang dihadapan Allah Azza wa Jalla. Perlu dicatat bahwa seseorang dapat dipanggil 'abid (عبد) hanya jika dengan tubuh dan jiwanya – jasad dan ruhnya. Hanya tubuh atau ruh saja tidak dapat disebut 'abid (عبد). Dengan demikian ayat di atas jelas membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj baik dengan tubuh dan jiwanya. Dari sisi keimanan, meskipun Nabi Muhammad SAW berada sangat dekat dengan Allah Azza wa Jalla, Nabi SAW tetap seorang hamba atau ‘abid – bukan (na’udzubillah) bagian dari Allah.  Jadi dari ayat di atas juga menjelaskan atau menjawab pertanyaan apakah Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Nabi Muihammad SAW terjadi dengan jasad dan ruh atau ruh saja atau terjadi di dalam mimpi.

Secara garis besar, ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah (i) Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj sendiri yaitu perjalan yang sangat jauh dan mustahil ditempuh dalam waktu yang sangat singkat (dimensionless dan timeless), (ii) pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya, (iii) Nabi Muhammad SAW dapat berkomunikasi secara face to face (langsung) dengan beberapa orang Nabi dan Rasul tersebut, (iv) Nabi Muhammad SAW diangkat ke langit dan menyaksikan ayat-ayat atau tanda-tanda yang luar biasa dari Allah dimana tidak ada satu makhlukpun yang pernah mengunjungi, (v) bermunajat atau beraudiensi langsung dengan Allah Azza wa Jalla. Di dalam bagian Mi’raaj yaitu pada surat An-Najam ayat ke 1-18, Allah Azza wa Jalla menyebutkan kembali bahwa Nabi Muhammad SAW telah melihat ayat-ayat Allah yang paling besar.

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS 53:1-18)

Pada surat An-Najam ini kembali Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW (jasad dan ruh) melihat dengan mata kepala sendiri ayat-ayat Allah seperti Malaikat dalam bentuk aslinya. Bagaimana Nabi Muhammad SAW berada semakin dekat dengan Allah untuk beraudiensi menerima wahyu Allah. Melihat surga Allah. Berada di Sidratul Muntaha dimana tidak ada makhluk yang pernah berkunjung, yaitu suatu tempat yang tidak diketahui oleh selain Allah. Nabi Muhammad SAW (jasad dan ruh) benar-benar telah melihat banyak sekali ayat-ayat Allah dan keajaiban-keajaiban yang begitu besar.

Jadi di dalam ayat kedua surat tersebut yaitu Al-Israa’ dan An-Najam, Allah Azza wa Jalla menggunakan frase atau kalimat yang sama - yang mempunyai makna kurang lebih, “sehingga Allah telah menunjukkan kepadanya (Nabi Muhammad SAW) ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat menjakjubkan”. Berdasarkan kedua surat ini, para ulama mengambil kesimpulan bahwa alasan atau tujuan utama perjalanan Israa’ dan Mi'raaj ini adalah untuk Nabi Muhammad SAW seorang saja. Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj adalah hadiah dari Allah Azza wa Jalla secara pribadi kepada Nabi Muhammad SAW sendiri. Ini merupakan berkah kepada Nabi SAW setelah melewati ujian di tahun kesedihan. Allah tidaklah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, artinya sekadar kesanggupannya. Ia mendapat dari apa yang diusahakannya berupa kebaikan, artinya pahalanya (Tafsir Jalalain dari awal ayat 286 surat Al-Baqarah).

Seperti kisah-kisah lainnya, bahwa Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini disamping tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya, juga tidak ada yang mencatat secara rinci dan berurutan atau kronologis. Setelah zaman Sahabat yaitu zaman tabi’in dan setelahnya banyak sekali versi Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj ini, karena mereka (tabi’in dan tabiut tabiahum) hanya mendegar cerita dan menuliskan berdasarkan yang mereka dengar. Apalagi, sudah menjadi kebiasan umum bahwa setiap cerita semakin panjang rantainya semakin banyak distorsinya baik berupa penambahan maupun pengurangan. Tetapi alhamdulillah, detail dari pokok Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj terdapat dalam beberapa buku hadits Rasulullah SAW. Detail Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Nabi Muhammad SAW ini akan kita bahas pada bagian ke-2.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Baggian ke-2 dari episode siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.