Minggu, 08 Januari 2017

Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj, Bagian ke-4

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al’aalamiin.

Insyaa Allah pada hari ini kita kembali melanjutkan sharing tentang siirah Rasulullah SAW dengan episode Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj bagian ke-4. Sebelumnya sudah kita tentang perjalanan Mi’raaj Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis, naik melewati pintu langit k-1 sampai melewati pintu langit ke-7. Di dalam beberapa hadits disebutkan bahwa pada setiap pintu langit Nabi SAW bertemu dengan beberapa orang Nabi saja, yaitu Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Yahya AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS dan Nabi Ibrahim AS. Para Nabi AS ini menyambut kedatangan Nabi SAW dan membalas ucapkan salam dari Nabi SAW.

Setelah melewati pintu langit ke-7 dan bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Nabi SAW dalam hadits riwayat Shahih Bukhari No. 6963, Shahih Muslim No. 234 dan lain-lain mengatakan bahwa kemudian Jibril AS membawaku (atau dalam riwaayat lain disebutkan, kemudian Jibril AS bersamaku) naik ke atas (puncak dari) kesemuanya yang tidak satupun yang tahu selain Allah Azza waJalla hingga tiba di Sidratul Muntaha atau Sidrat Al-Muntahaa (سِدْرَة المُنْتَهَى).” Di dalam hadits riwayat Shahih Bukhari No. 2968, Shahih Musnad Ahmad No. 12861 bahwa Nabi SAW berkata bahwa kemudian diperlihatkan, didatangkan atau dinampakkan kepadaku Sidratul Muntaha. Jibril AS berkata kepada Nabi SAW, “Ini adalah Sidratul Muntaha.”

Catatan pinggir sebelum kita teruskan, kita bahas dulu tentang asal susul kata Sidrat Al-Muntaha secara tata Bahasa Arab. Kata Sidrat Al-Muntahaa (سِدْرَة المُنْتَهَى) merupakan kata majemuk sempurna yang mempunyai makna (jumlah mufidhah) yang terdiri dari dua kata benda yaitu kata Sidrat (سِدْرَة) sebagai mubtada (objek) dan kata Al-Muntahaa (المُنْتَهَى) sebagai khabar (keterangan). Kata Sidrat (سِدْرَة) berarti satu Pohon Sidrat atau Pohon Bidara (hakekatnya berbeda dengan pohon bidara yang kita kenal). Sedangkan kata Al-Muntahaa (المُنْتَهَى) berarti Akhir atau Puncak dari Tujuan atau Tempat Berhenti segala sesuatu. Kata Muntaha berasal dari kata kerja intahaa (إِنْتَهَى) yang berarti dia telah membawa ke akhir/ujung (to bring to an end).

Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan kenapa dinamakan Sidratul Muntaha, karena puncaknya ilmu atau pengetahuan (akses) Malaikat (Jibril AS) hanya sampai disini. Tidak ada yang bisa melewati Sidratul Muntaha, kecuali Rasululllah SAW. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA bahwa dinamakan Sidratul Muntaha Karena semua ketetapan (taqdir, wahyu dan lain-lainya) Allah yang turun, berasal atau bermula dari sini, dan semua yang naik (doa, amal baik dan lain-lainnya), sampainya atau ujungnya ada disini.

Di dalam atau berdasarkan riwatyat dari berbagai hadits para ulama mengambarkan Sidratul Muntaha secara simbolik sebagai berikut:
1.      Sidratul Muntaha diumpamakan seperti pohon, yaitu seperti pohon Bidara (Nabaq atau Lote Tree) dengan hakekat yang berbeda dengan pohon-pohon yang kita ketahui.
2.      Sidaratul Muntaha ini digambarkan akarnya berada di langit ke-6 dan daunnya atau pucuknya berada di atas langit ke-7.
3.      Sidratul Muntaha digambarkan sangat besar atau lebar dan jika penunggang kuda hendak melintasi bayang-bayangnya dibutuhkan waktu 100 ‘tahun’ untuk itu.
4.      Sidratul Muntaha digambarkan mempunyai daun yang sangat lebar seperti lebarnya kuping terhadap gajahnya dan buahnya seperti besarnya kendi atau tempayan kaum atau orang Hajar.
5.      Sidaratul Muntaha digambarkan dikelilingi oleh sebangsa laron, burung atau binatang yang terbuat dari atau bercahaya emas.
6.      Sidaratul Muntaha digambarkan memiliki atau diliputi oleh warna-warna dinamis yang berubah dengan perintah Allah Azza wa Jalla.
7.      Sidratul Muntaha digambarkan sangat indah dan tidak ada manusia yang dapat menggambarkan keindahannya.
8.      Sidaratul Muntaha digambarkan mengalirkan dua sungai di Surga dan mengairi dua sungai di dunia.

Jadi Nabi Muhammad SAW dan Jibril AS melihat Sidratul Muntaha, Nabi SAW melihat Malaikat Jibril AS dalam wujud aslinya. Allah Azza waJalla berfiman dalam surat An-Najam ayat 13-18, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS 53:13-18)

Kemudian di dalam hadits riwayat Shahih Bukhari No. 336, Shahih Muslim No. 234 dan lain-lain bahwa Nabi SAW dimi'rajkan melewati Sidratul Muntaha hingga sampai ke suatu tempat dimana Nabi SAW dapat mendengar suara Qalamullah (قَلَمُ الله). Kemudian Allah Azza waJalla mewajibkan kepada Nabi SAW mendirikan lima puluh (50) kali shalat dalam sehari semalam.

Para ulama menyebutkan bahwa ketika Nabi SAW Mi’raaj dan ‘beraudiensi’ atau menerima wahyu langsung dari Allah Azza waJalla, Nabi SAW menerima tiga hal atau hadiah berikut:
1.      Hadiah pertama, Allah Azza waJalla menetapkan kewajiban Shalat lima waktu dengan pahala sepuluh kali lipat, yaitu sama dengan Shalat lima puluh kali sehari semalam.
2.      Hadiah kedua, Nabi SAW menerima dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah yaitu ayat 285-286.
3.      Hadiah ketiga, siapa pun dari Ummat Nabi Muhammad SAW yang beriman kepada Allah Azza waJalla tanpa melakukan Syirik, Allah Maha Pengampun dan Penerima Taubat sehingga pada akhirnya Ummat Nabi Muhammad SAW akan masuk surga semuanya.

Di dalam beberapa hadits yang telah disebutkan di atas bahwa Nabi SAW datang kepada Nabi Musa AS dan memberitahukan bahwa Allah Azza waJalla telah memerintahkan untuk mendirikan lima puluh kali Shalat per hari (sehari semalam). Nabi Musa AS menyarankan Nabi SAW untuk kembali dan meminta pengurangan. Hal ini terjadi beberapa kali. Akhirnya, lima Shalat menjadi wajib bagi Nabi SAW dan Ummat Islam. Nabi Musa AS mengatakan, "Ummat saya bahkan tidak mampu melakukan ini. Oleh karena itu Anda kembali dan minta pengurangan lagi.” Nabi SAW berkata, “Aku merasa malu sekarang?” Maka kewajiban mendirikan lima kali Shalat per hari tapi pahala bagi mereka sama dengan lima puluh Shalat kali per hari (insya Allah).

Jadi dari hadits diatas, kita Ummat Islam dapat menarik pelajaran akan pentingnya mendirikan Shalat lima kali sehari semalam. Bandingkan dengan perintah untuk haji, zakat dan puasa yang dikirim kepada Rasulullah SAW di bumi melalui Jibril AS. Sedangkan perintah Shalat, Nabi SAW Mi’raaj (diangkat atau dinaikkan) ke langit tertinggi untuk menerima perintah untuk Shalat langsung dari Allah Azza waJalla.

Pentingnya mendirikan Shalat juga dijelaskan di dalam Al Qur'an. Allah Azza waJalla berfirman kepada Nabi Musa AS dalam surat Ta-Ha (20) ayat 14, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” Allah Azza waJalla memerintahkan Nabi Isa AS untuk mendirikan Shalat seperti Firman Allah dalam surat Maryam (19) ayat 31, “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;”

Begitu juga dengan Nabi-Nabi yang lain diperintahkan untuk mendirikan Shalat. Seperti sabda Rasulullah SAW di dalam hadits riwayat Shahih Bukhari No. 1063, “Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Daud Alaihissalam dan shaum (puasa) yang paling Allah cintai adalah shaumnya Nabi Daud alaihissalam. Nabi Daud Alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud Alaihissalam shaum sehari dan berbuka sehari.”

Mengenai surat Al-Baqarah ayat 285-286, para ahli tafsir mengatakan bahwa dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah ini memiliki kekhususan di dalam Al-Qur’an. Semua ayat Al-Qur’an disampaikan (diturunkan) oleh Jibril AS kepada Nabi SAW, sedangkan kedua ayat terakhir surat Al-Baqarah ini, Nabi SAW Mi’raaj (dinaikkan) dan Allah Azza waJalla langsung yang menyampaikan kepada Nabi SAW. Nabi SAW berkata, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah pada malam hari, niscaya kedua ayat itu akan cukup baginya atau memeliharanya dari bencana atau setan.” (HR Shahih Bukhari No. 4652, Muslim No. 1340 dan lain-lain).

Sedangkan dalil mengenai semua Ummat Islam yang tidak melakukan syirik akan masuk Surga berdasarkan Hadits Nabi SAW. Di dalam hadits riwayat Shahih Bukhari No. 1161, Shahih Muslim No. 134 dan lain-lain bahwa Nabi SAW berkata, “Telah datang kabar kepadaku bahwa barangsiapa yang mati dari Ummatku sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan seuatu apapun (berbuat Syirik) maka dia pasti masuk surga.” Kemudian di dalam surat An-Nisa ayat ke-48, Allah Azza waJalla berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS 4:48)

Sebelum kita tutup, para Ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar telah melihat banyak sekali ayat-ayat Allah dan keajaiban-keajaiban yang begitu besar seperti yang disebutkan pada ayat ke-18 surat An-Najam. Sesungguhnya Nabi SAW telah melihat pada malam itu sebagian tanda-tanda kekuasaan Azza waJalla yang paling besar, yang paling agung. Yang dimaksud dengan sebagian dari tanda-tanda itu adalah Nabi SAW telah melihat sebagian dari keajaiban-keajaiban alam Malaikat, seperti melihat Baitul Makmur, Sidratul Muntaha dan Malaikat Jibril AS dalam bentuk aslinya.
  
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan Perjalanan Israa’ dan Mi’raaj Bagian ke-5 dari episode siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza waJalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.