Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode dakwah Rasulullah SAW pada tahap kedua setelah 3 tahun melakukan dakwah secara pribadi. Sebelumnya Nabi SAW hanya melakukan dakwah dari orang ke orang secara pribadi. Pada dakwah tahap kedua ini, Nabi SAW melakukan dakwah secara terbuka (public - di depan keramaian) kepada kerabat dekat dan semua penduduk penduduk Makkah termasuk pengunjung atau jama'ah Haji secara terbuka.
Dakwah ini berlangsung selama 7 tahun sampai perintah hijrah ke Madinah. Nabi SAW hanya berdakwah kepada seluruh kaum kerabat Beliau SAW secara lisan dan tidak ada aksi militer atau fisik sama sekali. Bahkan jika mereka menyakiti Rasulullah dan ummat Islam pada saat itu, diperintahkan untuk tidak membalas. Bahkan pada tahap ke-2 ini ada beberapa sahabat baik anak-anak maupun dewasa, baik perempuan maupun laki-laki yang terbunuh, diperintahkan untuk tidak membalas atau melakukan Qishash sama sekali.
Seperti kita ketahui bahwa Nabi SAW tidak akan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan syari'ah Islam tanpa perintah atau izin dari Allah SWT. Begitu juga dengan dakwah tahap kedua ini, Nabi SAW melakukan dakwah terbuka karena Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW melakukannya. Para ulama menyebutkan bahwa perintah dakwah tahap kedua ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Asy-Syu'araa (surat ke-26) ayat 214-216: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan".
Para mufasir menyebutkan bahwa dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah (memberi peringatan) kepada kaum kerabat Beliau SAW yang terdekat (Bani Mutalib, Bani Hasyim, Bani Quraisy dll). Nabi SAW diperintahkan bersikap lemah lembut (merendah) terhadap pengikutnya yaitu orang-orang beriman. Karena itulah yang lebih tepat buat Nabi SAW, lebih menarik hati orang-orang beriman, membuat kecintaan mereka pada Nabi SAW, serta lebih mendatangkan pertolongan dan keikhlasan mereka dalam berjuang bersama Nabi SAW. Sebaliknya jika mereka mendurhakai Nabi SAW yaitu kerabat-kerabat terdekat tersebut, maka Nabi SAW diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka; "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan", yaitu tentang penyembahan kaum musyrik Makkah kepada selain Allah SWT.
Begitu menerima perintah pada ayat 214-216 surat Asy-Syu'araa ini – waandzir (وَأَنْذِرْ) = dan peringatkanlah, adalah kata kerja perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwah – maka hal pertama yang dilakukan Nabi SAW adalah berdakwah kepada kaum kerabat Beliau SAW ('asyiirataka). Nabi SAW menyuruh Ali RA untuk menyiapkan hidangan dan mengundang kerabat dekat untuk datang ke rumah Beliau SAW. Nabi SAW mengundang kerabat dekat Beliau dari Bani Hasyim, sekitar 40-45 orang dari kerabat Beliau dari bani Mutalib termasuk Abu Lahab juga datang memenuhi undangan Nabi SAW.
Disebutkan di dalam buku siirah bahwa ketika jamu'an makan selesai dan sebelum Nabi SAW berdakwah secara publik (terbuka), Abu Lahab mendahului Nabi SAW minta izin pulang karena ada keperluan karena dia merasa Nabi SAW akan berdakwah kepada mereka. Karena Abu Lahab adalah salah seorang paman Nabi SAW dan merupakan tetua, begitu Abu Lahab meninggalkan jamuan maka yang lain-lain juga ikut berpamitan sehingga dakwah terbuka belum terjadi.
Beberapa hari kemudian, Nabi SAW kembali menyuruh Ali RA untuk menyiapkan hidangan dan mengundang kerabat dekat Beliau kembali. Tapi kali ini sebelum jamu'an makan selesai Nabi SAW mengubah taktik sehingga akhirnya mendapat untuk menyampaikan pesan (dakwah) Beliau. Nabi SAW berdiri dan menyampaikan dakwah Beliau dan semua orang mendengarkannya untuk pertama kali dengan jelas syari'at Islam yang dibawa Nabi SAW. Selama tiga tahun sebelumnya mereka hanya mengetahui bahwa Nabi SAW berdakwah dari orang per orang, tetapi mereka tidak pernah tahu secara persis apa sebenarnya syari'at Islam yang dibawa Nabi SAW.
Semua kerabat Nabi SAW yang hadir mendengarkan apa yang disampaikan Nabi SAW tapi mereka masih melihat-melihat situasi – tidak menerima dan tidak juga menolak. Kecuali Abu Lahab, begitu Nabi SAW selesai dengan dakwah Beliau, dia (Abu Lahab) menjadi jenkel dan berkata kepada kepada orang-orang di sekitar Nabi SAW yang tidak menerima dan tidak menolak (bukan langsung kepada Rasulullah SAW) bahwa pesan (Nabi SAW) keliatan tidak ada gunanya, kita memiliki cara kita sendiri dari nenek moyang kita, dia (Nabi SAW) kira siapa dia berpikir untuk menentang cara nenek moyang kita. Cuman Abu Lahablah satu-satunya yang memberikan rekasi keras seperti itu. Ali RA berdiri dan berkata dengan suara keras "Saya akan membantu Anda (yaa Rasulullah SAW)". Sejak saat itu, berita menyebar ke seantero Makkah bahwa Nabi Muhammad SAW membawa syari'at Islam.
Beberapa hari atau minggu kemudian, segera setelah dakwah di rumah Nabi SAW yang dihadiri kerabat dekat Beliau SAW, Nabi Muhammad SAW pergi ke atas bukit shafa dan mulai berdakwah kepada seluruh penduduk dan pengunjung kota Makkah saat ini. Cerita ini sangat terkenal dan terdapat dalam hadits shahih Bukhari No. 4397, shahih Muslim No. 307 dan lain-lain disebutkan bahwa untuk menjalankan perintah Allah SWT dalam surat Asy-Syu'araa ayat 214-216 ini maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) keluar rumah dan menaiki bukit Shafa lalu berteriak seolah-olah memanggil: 'Wahai sekalian manusia. Sebagian penduduk Makkah bertanya-tanya siapakah yang berteriak. Sebagian dari mereka yang mengenal Nabi SAW menjawab, 'Muhammad'.
Maka mereka pun mulai berkumpul ke arah Beliau SAW. Lalu Beliau pun memanggil penduduk Makkah (orang Quraisy) berdasarkan suku-sukunya, seperti Bani Abdul Manaf, Bani Abdul Muththalib, Bani Fihir, Bani Lu'ai dan lain-lain. Maka mereka semua pun menghampiri Beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: Apakah pendapat kamu seandainya aku kabarkan kepada kamu bahwa satu pasukan tentera berkuda akan keluar melalui kaki bukit ini untuk menyerang kamu. Apakah kamu akan mempercayaiku? Mereka menjawab, 'Kami tidak pernah mendapati kamu berdusta'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda lagi: 'Sesungguhnya aku membawa berita ancaman kepadamu tentang azab yang pedih'.
Di dalam hadits shahih Bukhari No. 2548, shahih Muslim No. 305 dan lain-lain, Rasulullah SAW memulai dakwah dengan memberi pesan kepada suku terjauh kekerabatannya dengan Beliau sebelum sampai kepada kerabat terdekat Beliau SAW. Nabi berkata: "Wahai Kaum Quraisy, peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat membela kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Bani 'Abdi Manaf, aku tidak dapat membela kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai 'Abbas bin 'Abdul Muthallib aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyah (bibi Rasulullah), aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Fathimah (putri Muhammad SAW), mintalah kepadaku apa yang kamu mau dari hartaku, sungguh aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah".
Ketika Nabi SAW selesai memberikan pesan yang sangat emosional ini, paman Beliau SAW yang juga hadir disana yaitu Abu Lahab (nama aslinya Abdul Al-Uzza bin Abdul Muthalib) berdiri, mengambil segenggam pasir dan melemparkanya ke arah Nabi SAW. Ini merupakan tradisi Arab jahiliyah untuk menunjukkan pelecehan seperti mengatakan "apa ini, sedikitpun tidak berarti (seperti pasir yang dia lemparkan)". Ini menunjukkan tanda kesombongan yang sangat besar dan melecehkan pesan yang disampaikan Rasulullah SAW. Abu Lahab kemudian mencela, 'Celaka kamu! Apakah kamu minta kami berkumpul hanya untuk mendengar perkara ini (yaitu memberitahu berita ancaman azab).' Lantas Abu Lahab berlalu pergi. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan surat Al-Masad atau Al-Lahab (surat ke-111): 'Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan celaka (ayat ke-1 dan seterusnya).
Menurut para mufasir bahwa Abu Lahab adalah orang pertama yang secara publik menentang dan mengolok-olok dakwah (wahyu Allah). Ketika di rumah Nabi SAW, dia cuman mengomel saja dan tidak berlaku kasar. Tetapi sekarang ketika di depan umum, karena kesombongan dan kekasaran dia menentang dakwah Nabi SAW dengan vulgar di depan publik. Dengan demikian Allah SWT menurunkan surat Al-Masad atau surat Al-Lahab (surat ke-111) berikut. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.
Dakwah Beliau SAW di bukit Shafa ini terus bergema di atau ke seantero Makkah, hingga turun ayat 94 dalam surat Al-Hijr (surat ke-15). "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." Dan sejak itu, Rasulullah SAW langsung bangkit dan berdakwah secara terang-terangan di depan publik. Nabi SAW mulai berdakwah di mana-mana; baik di tempat-tempat umum maupun di depan Ka'bah. Ketika pengunjung datang ke Mekah - Nabi SAW akan menunggu mereka dan menyampaikan dakwah kepada mereka. Beliau SAW mengunjungi dan berdakwah kepada orang-orang yang datang ke pasar, dan lain-lain.
Selama kurang lebih 7 tahun dakwah secara terang-terangan ini, Rasulullah SAW dan ummat Islam mendapat atau menghadapi banyak rintangan atau perlawanan dari kaum musyrik Makkah, baik secara fisik maupun intimidasi secara verbal. Namun demikian jumlah sahabat bertambah dari tahun ke tahun, meskipun penentangan kaum musyrik Quraisy semakin brutal. Beberapa sahabat, terutama dari kalangan bawah banyak yang dianiaya, bahkan ada yang dianiaya dengan sadis sampai meninggal. Nabi SAW dan ummat Islam belum diperintahkan untuk berjihad atau melakukan pembalasan secara fisik terhadap kaum musyrik Makkah.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode bagaimana penentangan kaum musyrik Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW dan penganiayaan mereka terhadap para sahabat. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.