Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode As-Saabiquun Al-Awwaluun yaitu para sahabat yang pertama kali memeluk Islam. Sebelumnya sudah kita bahas bahwa setelah turun wahyu kedua yaitu surat Al-Muddatsir ayat 1 – 7 maka Nabi SAW mulai menyampaikan dakwah kepada orang-orang per orang secara pribadi. Pada pembahasan sebelumnya sudah kita sebutkan bahwa ada lima tahapan dakwah Rasulullah, yang pertama adalah dakwah secara pribadi, tetapi ada juga yang menyebutnya dakwah secara rahasia atau sembunyi-sembunyi.
Kata As-Saabiquuna (السَّابَقٌوْنَ) adalah kata benda (isim) yang berasal dari kata sabaqa (سَبَقَ) yaitu kata kerja (fi'il) yang berarti mendahului atau melampaui. Jadi As-Sabiqun adalah orang-orang yang terdahulu. Sedangkan kata Al-Awwaluuna (الأَوَّلُوْنَ) adalah kata benda yang berasal dari kata awwal (أَوَّل) yang berarti pertamaatau awal. Jadi kata Al-Awwaluuna adalah orang-orang yang pertama-tama. Secara istilahm as-saabiqqun al-awwaluun adalah para sahabat yang terdahulu dan yang pertama pertama-tama memeluk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sejak hari pertama surat Al-Muddatsir ayat 1 – 7 turun.
Sebutan As-Saabiquuna Al-Awwaluuna ini Allah SWT sendiri yang memberikannya, seperti Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 100: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Jadi siapa saja yang disebut as-saabiquun al-awwaluun ini? Para ulama berbeda pendapat terhadap jumlahnya, ada yang menyebutkan cuman sepuluh atau belasan orang sahabat saja, puluhan orang, tapi ada juga yang menyebutkan sekitar 40 orang atau lebih. Sejak hari pertama surat Al-Muddatsir ayat 1 – 7 tersebut, Nabi SAW langsung berdakwah kepada anggota keluarga dan teman-teman Beliau SAW. Nabi SAW berdakwah secara pribadi kepada orang per orang – bukan secara terbuka dan bukan pula secara sembunyi-sembunyi, tetapi Beliau SAW memang memilih-milih orang-orang yang memperlihatakan tanda-tanda kebaikan atau menerima dakwah Beliau. Jadi meskipun Abu Lahab adalah paman Nabi SAWm tapi karena orangnya temperamental (pemarah) maka Nabi SAW tidak berdakwah kepada Abu Lahab.
Jadi siapa saja mereka yang pertama-tama memeluk Islam di tahap pertama dakwah Islam, bahkan boleh dikatakan di hari-hari pertama dakwah Islam. Karena disebutkan dalam hadits shahih Bukhari No. 3, shahih Muslim No. 231 dan lain-lain, kebanyakan menganggap hanya Khadijah RA dari keluarga Nabi SAW sebagai as-saabiquuna al-awwaluuna. Padahal semua anak-anak Rasulullah SAW juga merupakan as-saabiquuna al-awwaluuna, yaitu Fatimah, Ruqayyah, Ummu Kulsum dan Zainab. Habis itu baru Ali RA dan Zaid bin Haritsah RA yang masih satu rumah sama Nabi SAW. Begitu juga dengan anak-anak Khadijah RA dari suami yang terdahulu seperti Hindun bin Abu Halah, Halah bin Abu Halah dan Hindun binti Atiq. Ketiga anak Khadijah RA dari dua orang suami terdahulu tinggal bersama Nabi SAW yang juga merupakan as-saabiquuna al-awwaluuna.
Karena serumah dan setiap hari mereka menyaksinya bagaimana akhlak Nabi SAW, maka mereka memeluk Islam pada hari pertama surat Al-Muddatsir ayat 1 – 7 ini turun. Mereka semua yang tinggal serumah dengan Nabi SAW ini menerima Islam, percaya kepada Nabi SAW tanpa mempertanyakan atau menerima dakwah Nabi SAW hanya dengan penjelasan pokok Islam saja.
Setelah keluarga dan orang-orang yang tinggal di rumah Nabi SAW menerima Islam semua, barulah Nabi SAW berdakwah kepada teman-teman dekat Beliau SAW. Orang di luar rumah Nabi SAW yang juga merupakan teman Nabi SAW yang pertama menerima Islam adalah Abu Bakr Siddiq RA. Abu Bakr RA adalah teman Nabi SAW dari kecil. Jadi Abu Bakr mengenal Nabi SAW dengan baik dan percaya dengan wahyu yang didakwahkan Nabi SAW tanpa mendustakan atau menolaknya sedikitpun.
Belasan tahun kemudian di Madinah ketika terjadi cekcok antara Umar RA dengan Abu Bakr RA, Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian namun kalian mengatakan pendusta (kadzabta) sedangkan Abu Bakr berkata "Dia (Nabi SAW) orang yang jujur (shadaqta)", dan dia (Abu Bakr RA) orang yang jujur dan dia berjuang mengorbankan dirinya dan hartanya. Apakah kalian meninggalkan kepada sahabatku? Beliau (SAW) ulang dua kali, maka sejak saat itu Abu Bakr RA tidak disakiti lagi (HR Shahih Bukhari No. 3388).
Disamping Abu Bakar RA, orang diluar rumah Nabi SAW yang manerima dakwah Nabi SAW adalah Ummu Aiman yaitu pengasuh Nabi SAW waktu kecil (bukan Halimah Ibu Susu Nabi SAW). Tidak disebutkan apakah Ummu Aiman menerima Islam bersamaan di rumah Nabi SAW dengan suaminya Zaid bin Haritsah RA atau di rumah mereka sendiri? Yang jelas Ummu Aiman adalah termasuk wanita yang pertama-pertama menerima Islam atau as-saabiquun al-awwaluun selain keluarga Nabi SAW.
Ternyata masuk Islam-nya Abu Bakr RA paling banyak membawa mamfa'at terhadap Islam dan kaum Muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukan Abu Bakr RA yang merupakan salah seorang elite (tokoh atau petinggi) dalam suku Quraisy, semangatnya dan kesunguh-sunguhannya dalam berdakwah (memeluk Islam). Dengan masuk Islam-nya Abu Bakr RA, maka tokoh-tokoh besar yang masyhur lainnya seperti Abdurrahman bin Auf RA, Sa'ad bin Abi Waqas RA, Ustaman bin Affan RA, Zubair bin Awwam RA dan Talhal bin Ubaidillah RA, mengikuti Abu Bakr RA memeluk agama Islam. Mereka semua merupakan para sahabat utama Nabi SAW yang juga merupakan as-saabiquun al-awwaluun.
Bisa kita lihat bahwa dakwah Nabi SAW pada tahap pertama ini bukan dakwah sembunyi-sembunyi, karena teman-teman dekat Abu Bakr dan tokoh-tokoh Quraisy mengetahui keislaman Abu Bakr RA dan mereka mengikutinya masuk Islam. Tetapi memang dakwah 3 tahun pertama ibu bukan dakwah terbuka, bukan dakwah dikeramaian. Jadi Nabi SAW tidak mengumpulkan orang-orang Makkah lantas menyampaikan dakwahnya di depan umum, tetapi Nabi SAW menghubungi orang per orang secara pribadi.
Ada kisah yang sudah sering kita dengar yaitu tentang keislaman Sa'ad bin Abi Waqas RA yang merupakan salah seorang dari as-saabiquun al-awwaluun. Sa'ad memeluk Islam pada saat umurnya masih belasan tahun, yaitu sekitar 16-17 tahun. Ibu Sa'ad bin Abi Waqas RA mengancam mogok makan dan minum sampai mati ketika mengetahui anaknya masuk Islam dan tidak mau kembali kepada agama nenek moyang mereka menyembah berhala. Tapi Sa'ad bin Abi Waqas teguh dalam keislamannya dan mengatakan agar ibunya jangan melakukan karena dia tidak akan meninggalkan Islam. Ternyata ibunya Sa'ad bukan cuman mengertak saja, dia tidak makan dan minum seharian sehingga kepayahan. Melihat itu, Sa'ad bin Abi Waqas RA mengatakan pada ibunya bahwa meskipun ibunya punya seribu nyawa dan nyawa tersebut keluar satu persatu, Sa'ad bin Abi Waqas RA tidak akan meninggalkan agama Islam yang baru saja dianutnya.
Melihat kesungguhan Sa'ad bin Abi Waqas RA dengan agama barunya (Islam), ibunya Sa'ad membatalkan mogok makan dan minumnya. Dari peristiwa ini Allah SWT berfirman dalam surat Al-Luqman ayat 15: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Jadi Nabi SAW berdakwah secara pribadi dari orang ke orang selama tiga tahun. Berita menyebar bahwa Nabi SAW membawa agama Islam, tapi Nabi SAW tidak melakukan dakwah secara terbuka di depan publik. Nabi SAW juga tidak berdakwah kepada orang-orang Makkah yang kemungkinan menolak ajaran Islam. Jadi Abu Jahal, Abu Lahab, dan tokoh-tokoh musyrik Quraisy lainnya tidak pernah didatangi Nabi SAW selama dakwah secara pribadi ini. Nabi SAW juga tidak berdakwah kepada tamu atau jama'ah haji yang datang dari luar Makkah. Sehingga tidak ada alasan bagi orang musyrik Quraisy Makkah untuk memusuhi atau melarangnya.
Dalam kurun waktu 3 tahun dakwah Nabi SAW puluhan orang sudah memeluk agama Islam, diantaranya Bilal bin Rabbah al-Habasyi, Abu 'Ubaidah, 'Amir bin al-Jarrah, Abu Salamah bin 'Abdul Asad, al-Arqam bin Abil Arqam, 'Utsman bin Mazh'un dan kedua saudaranya Qudamah dan 'Abdullah, 'Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bin 'Abdul Manaf, Sa'id bin Zaid al-'Adawy dan isterinya, Fathimah binti al-Khaththab al-'Adawiyyah – saudara perempuan dari 'Umar bin al-Khaththab, Khabbab bin al-Arts, 'Abdullah bin Mas'ud al-Hazal serta banyak lagi selain mereka. Mereka itulah yang dinamakan as-Saabiquun al-Awwaluun.
Dari dakwah pribadi Rasulullah SAW selama tiga tahun ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dakwah secara pribadi dibolehkan terutama bagi ummat Islam yang hidup atau tinggal di negara-negara yang mayoritas penduduk tidak beragama Islam. Menyampaikan ajaran Islam dan kesempatan meningkatkan iman dan ketaqwaan ummat kepada Allah SWT lebih utama dan lebih penting bagi ummat Islam di negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam tersebut. Jika sikap politik negara tersebut tidak membolehkan berdakwah didepan publik atau keselamatan ummat terancam seperti di China sekarang ini, maka dakwah secara pribadi lebih bermamfaat memperkokoh keimanan.
Sangat menarik untuk dicermati bahwa as-saabiquun al-awwaluun ini merupakan perwakilan dari tiap golongan sosial dalam masyarakat Quraisy Makkah saat itu. Dari orang kaya hingga pembesar, dari budak hingga ibu rumah tangga. Tetapi kebanyakan adalah kelas bawah dan anak muda. Belasan tahun kemudian, dalam hadits shaih Bukhari No. 6, shahih Muslim No. 3322 dan lain-lain, diriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW mengirim surat kepada Kaisar Heruclius untuk memeluk Islam, Kaisar bertanya kepada Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy yang saat itu sedang berada di Basra, Damaskus, Syam, untuk mencari infomarsi tentang Nabi Muhammad SAW dan agama Islam. Salah satu pertanyaan Heraclius adalah "Apakah yang mengikuti dia (Nabi SAW) orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah (kelas bawah)?" Abu Sufyan menjawab "Bahkan kebanyakan yang mengikutinya (Nabi SAW) orang-orang kelas rendah". Heraclius menjawab "Memang mereka itulah (kelas bawah) yang menjadi pengikut para Rasul (sebelumnya).
Jadi tahap awal dakwah tidak ada penganiayaan, itu adalah tahap untuk memungkinkan untuk membangun iman, memungkinkan persaudaraan bentuk dan dengan demikian tidak ada konflik. Juga, pada tahap ini shalat dan berdzikir sudah dilakukan meskipun belum diwajibkan, karena kewajiban shalat baru turun setelah Nabi SAW pulang dari Isra' wal mi'raj. Tetapi Jibril AS sudah mengajarkan kepada Nabi SAW bagaimana, berwudhu' dan bagaimana melakukan shalat. Shalat sebelum diwajibkan dilakukan pagi dan malam – bukan lima waktu setelah diwajibkan, dan itupun semua shalat dilakukan 2 (dua) raka'at.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari Siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.