Jumat, 06 Mei 2016

Tahapan Dakwah Rasulullah SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah dengan episode tahapan da'wah Rasulullah SAW. Sebelumnya sudah kita bahas bahwa dengan turunynya wahyu pertama surat Al-Alaq surat ke-96 ayat 1-5 merupakan pengangkatan Muhammad SAW sebagai Nabi dan wahyu kedua surat Al-Muddatsir surat ke-74 ayat 1-7 merupakan pengangkatan Muhammad SAW sebagai Rasul. Juga sudah kita jelaskan bahwa definisi Nabi adalah adalah hamba pilihan Allah yang memiliki wahyu dari Allah sedangkan Rasul adalah hamba pilihan Allah yang diutus untuk menyampaikan wahyu Allah kepada ummat setiap Nabi agar menjadi ummat yang hanya menyembah kepada Allah SWT. Jadi setiap Rasulullah adalah juga Nabi yaitu hamba pilihan Allah yang memiliki atau menerima wahyu. Tetapi Nabi atau hamba pilihan Allah yang menerima wahyu tidak semua yang menjadi utusan atau Rasulullah berda'wah menyampaikan ajaran tauhid.

Diantara Rasulullah ada yang disebut Ulul Azmi (hamba pilihan Allah yang memiliki keteguhan hati), yaitu sebuah gelar istimewa yang diberikan kepada para Rasul yang memiliki kedudukan khusus karena ketabahan dan kesabaran yang luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid. Dari 124 ribu orang Nabi hanya 25 Nabi yang wajib diketahui dalam agama Islam dan hanya 5 Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi, yaitu Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad SAW bukan saja diutus kepada kaum Makkah atau Madinah atau Arab bahkan Beliau diutus kepada seluruh ummat manusia. 
  
Firman Allah SWT dalah Al-Qur'an surat Al-Ahqaf (46) awal ayat 35 dari tafsir Quraish Shihab: Sabarlah, wahai Muhammad, terhadap orang-orang kafir seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan, yaitu mereka yang disebut ulul azmi (uuluu al'azmi). Dan Firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab (33) ayat ke-7 dari tafsir Quraih Shihab: Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Kami menerima janji yang kukuh dari para nabi terdahulu untuk mengemban misi kerasulan dan menyeru manusia kepada agama yang lurus. Kami menerima janji itu dari kamu, dari Nûh, Ibrâhîm, Mûsâ dan 'Isâ putra Maryam. Kami menerima janji yang sangat besar maknanya dari mereka.

Jadi setelah turun wahyu kedua yaitu surat Al-Mudatsir ayat 1-7, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW berdakwah: Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu. Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman. Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air. Hindarilah siksaan itu. Waspadailah selalu hal-hal yang dapat menjerumuskanmu ke dalam siksaan. Janganlah kamu memberi sesuatu kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar dari orang tersebut. Untuk mendapatkan rida Tuhanmu, bersabarlah atas segala perintah dan larangan serta segala sesuatu yang berat dan penuh tantangan.

Perlu kita ketahui bahwa Nabi SAW tidak akan (berani) mengatakan apa-apa yang tidak diwahyukan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW hanya menyampaikan atau berdakwah apa-apa wahyu yang disampaikan Allah SWT kepada Beliau. Nabi Muhammad SAW disuruhkan mengatakan bahwa Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku (QS 6:50).

Para ulama mencoba mendefinisikan tahapan dak'wah Nabi Muhammad SAW sejak turunnya wahyu kedua sampai akhir hayat Beliau SAW dalam berbagai kategori dan tahapan. Salah satu pembagian tahapan da'wah Rasulullah SAW yang disarikan dari siirah Rasulullah SAW karangan Ibnu Ishaq, dibagi dalam 5 tahap dibawah, dimana salah satu atau sebagian atau semua tahapan bisa dipakai oleh ummat Islam dimanapun dan kapanpun sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Tahapan dak'wah Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Dakwah secara private atau pribadi yang dilakukan Rasulullah SAW selama 3 tahun pertama. Nabi Muhammad SAW menghubungi kerabat atau orang per orang secara pribadi atau private bukan sembunyi-sembunyi. Karena perintahnya jelas tertera dalam Al-Qur'an surat Al-Muddatsir ayat ke-1, qum (قُمْ) = bangun! atau berdiri!, fa-andzir (فَأَنْذِرْ) = kemudian peringatkan! Jadi Nabi Muhammad SAW harus aktif bergerak, berdakwah, memberi peringtan kepada orang per orang yang Beliau SAW kenal. 

Tahap 2: Dakwah terbuka secara lisan kepada kaum kerabat Beliau SAW mulai dari yang terdekat dan semua penduduk Makkah (QS 15:94-95 dan 26:214-216). Dakwah ini berlangsung selama 7 tahun sampai perintah hijrah ke Madinah. Nabi SAW hanya berdakwah kepada seluruh kaum kerabat Beliau SAW secara lisan dan tidak ada aksi militer. Bahkan jika mereka menyakiti Rasulullah dan ummat Islam pada saat itu, diperintahkan untuk tidak membalas. Bahkan pada tahap ke-2 ini ada beberapa sahabat baik anak-anak maupun dewasa, baik perempuan maupun laki-laki yang terbunuh, diperintahkan untuk tidak membalas atau melakukan Qishash sama sekali. 

Tahap 3: Dakwah terbuka secara lisan dan dibolehkan membalas atau melakukan pertempuran fisik kepada kaum musyrikin Quraisy Makkah saja, tidak terhadap kaum atau suku-suku lain (QS 22:39-40). Dakwah ini berlangsung selama kurun waktu 6 tahun dari setelah Hijrah ke Madinah sampai dengan perjanjian Hudaibiyah.

Tahap 4: Dakwah terbuka dan terhormat kepada seluruh ummat Manusia. Hal ini terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah yang dimulai dengan Rasulullah SAW mengutus para sahabat kepada raja-raja dan membawa surat-surat Rasulullah SAW yang isinya menyeru mereka (para raja) untuk masuk ke dalam agama Islam, dimana secara politik dan militer ummat Islam sudah mulai kuat dan menguasai Makkah, Madinah atau Hijaz saat itu. Banyak hadits yang menyebutkan dakwah dengan surat ini, salah satunya adalah surat Rasulullah SAW kepada raja Heraclius (HR Syahih Bukhari No. 6, Syahih Muslim No. 3322, dan lain-lain). 

Tahap 5: Dakwah terbuka dengan bantuan kekuatan militer kepada orang-orang musyrik, ateis, penyembah berhala yang menghalangi dakwah Islam atau yang menolak memeluk Islam setelah dakwah disampaikan kepada mereka. Dakwah terbuka dengan militer ini telah dimulai Nabi SAW sebelum Beliau SAW meninggal dunia. Beliau SAW memerintah Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan yang akan berangkat ke daerah kekuasaan Romawi (HR Syahih Bukhari No. 3451, Syahih Muslim No. 4452, dan lain-lain). Para sahabat melanjutkan dakwah tahap ke-5 ini dengan kerberhasilan yang gilang gemilang menguasai atau mengambil alih hampir seluruh dunia. Para Sahabat menaklukkan Persia, sebagian besar kekaisaran Romawi, Mesir, Afrika Utara. Bani Ummayah terus dan menaklukkan Afghanistan, Pakistan, dan sampai ke Cina. Hingga akhirnya pada tahap pertengahan kekuasaan Bani Abbas, ummat Islam memutuskan untuk kembali kepada dakwah tahap ke-4 sampai saat ini.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan tahapan dakwah Rasulullah SAW ini dengan detailnya atau cerita para sahabat yang terlibat di dalam dakwah tersebut. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam


--

Wassalam,
Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.