Jumat, 01 April 2016
Ikhtilaf umur Khadijah RA
Jumat, 25 Maret 2016
Menikah dengan Khadijah RA
Alhamdulillahi Rabb al’aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni’mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi’in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al’aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita akan lanjutkan topik Siirah Rasulullah dengan episode Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah RA. Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW bekerja sebagai gembala seperti para Nabi sebelum Beliau. Dalam hadits shahih Bhukhari No. 2102 dan Sunan Ibnu Majah No. 2140 bahkan Beliau mengatakan "Aku adalah seorang penggembala kambing bagi penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath." Maksudnya adalah setiap satu kambing dengan upah satu qirath. Jadi Beliau disamping mengembala ternak milik paman Beliau, Nabi SAW juga mengembalakan kepunyaan penduduk Makkah lainnya yang membutuhkan tenaga Beliau. Kebetulan kakak perempuan Khadijah RA memiliki kawanan hewan ternak yang membutuhkan jasa untuk untuk mengurus dan membawa hewan ternak merumput di luar Makkah. Dia mempekerjakan dua orang, yaitu Nabi SAW dan seorang pemuda lain.
Setelah selesai penggembalaan mereka harus kembali ke kota (Makkah) untuk mengambil upah. Pria muda bersama Nabi SAW mengajak Nabi SAW kembali dan meminta upah kepada kakak perempuan Khadijah RA. Tapi Nabi SAW merasa sungkan dan malu berhadapan dengan perempuan dan meminta pemuda itu pergi sendiri atas nama Beliau. Jadi pemuda itu datang sendiri kepada kakak perempuan Khadijah RA yang kebetulan pada saat itu Khadijah RA sedang berada di rumah kakak perempuaanya tersebut. Kakak perempuan Khadijah RA merasa heran ketika melihat pemuda itu sendiriaan karena dia menyewa dua orang, dia bertanya kepada pemuda itu kenapa dia sendirian dan mana Muhammad (SAW)? Pemuda mengatakan bahwa Muhammad (SAW) terlalu malu untuk datang dan meminta upahnya kepadanya. Kakak Khadijah RA mengatakan kepada adiknya bahwa dia belum melihat adanya orang yang lebih pemalu, tulus, suci dan mulia dalam berinteraksi denganya (perempuan) seperti Muhammad (SAW). Disebutkan bahwa ini adalah pertama kalinya Khadijah RA mendengar tentang Nabi Muhammad SAW sedemikian rupa dan sangat berkesan dihatinya.
Khadijah RA adalah seorang pedagang (business women) yang terkenal dan kaya raya. Khadijah RA pernah menikah dua kali dan suaminya yang kedua adalah pedagang besar, sukses yang kaya raya. Khadijah RA memiliki anak dari suami yang pertama tetapi tidak memiliki anak dari suami yang kedua. Qadar Allah, karena suami kedua Khadijah RA tidak memiliki sanak keluarga lain dan juga tidak mempunyai keturunan maka Khadijah RA mewarisi semua kekayaan suami yang kedua ini. Jadi selama ini Khadijah RA terus berinvestasi dengan cara bagi hasil dengan pihak lain. Khadijah RA memesan beberapa barang yang yang dibeli di Yaman atau di Busra – Syam (Syiria sekarang, kemudian menjualnya di Makkah atau mengirim dan menjaualnya di Syam atau Yaman, li-iilaafi Quraisyi (kebiasaan kaum Quraisy). Karena Khadijah RA adalah seorang perempuan maka dia tidak leluasa pergi sendiri sehingga ia harus menyewa seorang pengusaha dengan bagi hasil, misalnya 30% buat orang tersebut dan 70% buat Khadijah RA. Tentu saja karena bukan Khadijah RA sendiri yang pergi ke Syam dan Yaman tetapi dia bergantung pada orang uapahan, maka keuntungan yang dia peroleh tidak seperti yang dia harapkan, tergantung kepada sifat orang upahan tersebut, apakah jujur atau tidak.
Jadi ketika Khadijah RA mendengar kakaknya memuji Nabi Muhammad SAW sedemikian rupa dan sungguh sangat berkesan dihati Khadijah RA, dia berfikir untuk menghired Nabi Muhammad SAW untuk berkongsi dagang. Meskipun Nabi SAW hanya mempunyai pengalaman sebagai seorang gembala dan bukan seorang pengusaha bahkan tidak punya pengalaman berdagang sama sekali, tetapi karena kejujurannya, maka Khadijah RA memutuskan untuk menunjuk Nabi Muhammad SAW sebagai kafilah dagangnya. Khadijah RA menaruh kepercayaan kepada pemuda (pada saat itu Nabi SAW berusia sekitar 24/25 tahun) yang dipuji kakaknya sebagai seorang yang jujur, baik dan bersikap menghargai kepada perempuan.
Jadi Khadijah RA mengirim pembantunya dan menyampaikan pesannya kepada Nabi SAW, meminta Beliau untuk mengurus kafilah dagang Khadijah RA. Nabi SAW sebagai seorang pemuda dewasa tentu saja bisa langsung memutuskan tawaran Khadijah RA, tetapi Beliau pergi menemui dan meminta pendapat paman Beliau, Abu Thalib. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi SAW adalah seorang pemuda yang sangat berbakti dan menghormati paman Beliau. Tentu saja Abu Thalib sangat senang dan mengatakan bahwa Allah memberkati Nabi Muhammad SAW dengan kesempatan langka yang ditawari Khadijah RA - perempuan pengusaha terkaya di Makkah. Abu Thalib mengatakan kepada Nabi SAW untuk tidak menolak atau mengatakan tidak peada tawaran Khadijah RA ini. Nabi SAW menyampikan kesanggupan Beliau melalui pembantu Khadijah RA tersebut. Khadijah RA bahkan setuju untuk memberikan Nabi SAW 50% dari keuntungan sebagai insentif. Khadijah RA juga memberikan salah satu pembantunya untuk membantu Nabi SAW membawa kafilah dagang Khadijah RA.
Jadi Khadijah RA mengirim pelayannya Maisarah dengan Nabi SAW pada kafilah dagang Khadijah RA ke Syam. Selama perjalanan dan berinteraksi dengan Nabi SAW, dia (Maisarah) mendapati betapa sempurnanya pribadi Nabi Muhammad SAW. Ketika mereka kembali ke Makkah, Maisarah mengatakan kepada Khadijah RA bahwa Nabi Muhammad SAW seorang yang baik, sopan, santun, jujur, berwawasan (bisa berfikir), tulus dan orang yang shaleh. Apalagi ketika Khadijah RA memperhatikan bahwa meskipun bagian Khadijah RA sama dengan Nabi SAW yaitu 50%, tetapi dia mendapatkan keuntungan jauh lebih banyak (dua tau tiga kali) dari 70% keuntungan jika berkongsi dengan orang lain. Hal ini tentu saja bisa difahami bahwa disamping Beliau bersikap jujur, Allah SWT berkehendak memberkati Nabi Muhammad SAW sama seperti ketika Nabi SAW masih anak-anak bersama Halimah RA – apapun yang Beliau kerjakan mendapat Baraqah dari Allah SWT.
Catatan pinggir bahwa bisnis atau berdagang adalah salah satu cara dimana Allah SWT menyediakan rezeki bagi ummat manusia, begitu juga bagi Nabi Muhammad SAW terutama sebelum masa kenabian. Dalam Hadits Sunan Tirmidzi No. 1130, Sunan Ibnu Majah No. 2130 dan Sunan Darimi No. 2427 bahwa Nabi Muhammad SAW berkata: "Seorang pengusaha atau pedagang Muslim yang dapat dipercaya dan jujur, maka dia akan dibangkitkan di antara para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqun), dan para syuhada." Dalam pernyataan tegas ini Nabi mengajarkan pada kita bahwa untuk melakukan bisnis dengan cara yang jujur dan dapat dipercaya adalah sesuatu yang sulit, karenanya pedagang Muslim yang bisa melakukannya (jujur dan dapat dipercaya) dibangkitkan diantara para Nabi, shiddiqun dan syuhada.
Keadaan dimana Khadijah RA mulai mengagumi Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepada kita pentingnya karakter yang baik dan karakter ini mempengaruhi pada orang di sekitarnya. Secara khusus kita dapat menarik pelajaran bahwa kepercayaan dan kejujuran adalah dua kualitas yang paling penting dari seorang pengusaha atau pedagang sukses. Karakter ini adalah dua kualitas yang membuat Khadijah RA meminta kepada Nabi SAW untuk melakukan bisnis atas nama dirinya. Sebab kedua karakter ini, jujur dan dapat dipercaya, Allah SWT membuka banyak pintu kebaikan bagi Nabi Muhammad SAW.
Jadi kafilah Khadijah RA yang dipimpin oleh Nabi SAW kembali ke Makkah dengan membawa sukses keuntungan yang besar. Ini dengan sendirinya meningkatkan kepercayaan dan emosi Khadijah RA terhadap Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tidak ada yang salah dengan perasaan Khadijah RA tersebut mengingat Nabi Muhammad SAW adalah seorang pria muda, tampan dan dari keluarga yang terhormat (Bani Quraisy). Waktu pertama kali Khadijah RA mendengar Nabi SAW dipuji oleh kakak perempuannya, sudah membuat Khadijah RA terkesan. Apalagi dengan bukti yang dilihatnya sendiri, semakin menambah keinginan Khadijah RA untuk mengakhiri masa menjadanya. Khadijah RA menyampaikan keinginannya tersebut kepada seorang teman yang lebih berumur darinya yaitu Nafisah bahwa dia ingin Nafisah mencari tahu jika Nabi Muhammad SAW mau menikah kepada perempuan seperti Khadijah RA.
Singkat cerita, Nafisah melakukan tugasnya dengan baik dan mendapat kesempatan berunding langsung dengan Nabi SAW. Nafisah bertanya kepada Nabi SAW mengapa Nabi belum juga menikah? Nabi SAW karena merasa sudah menjadi yatim piatu sejak dari kecil, mengatakan bahwa siapa yang mau menikah dengan yatim piatu seperti Beliau. Nafisah langsung mejalankan misinya dan mengatakan bagaimana kalau ada perempuan yang mau menikah dengan dengan Nabi SAW, serperti Khadijah RA. Nabi SAW tidak menolak tetapi juga tidak menyetujui secara langsung, yaitu dengan mengatakan mengapa Khadijah RA mau dengan Nabi SAW.
Nafisah kembali kepada Khadijah RA dan menyampaikan khabar gembira ini. Nafisah kemudian menghubungi keluarga Nabi SAW yaitu Abu Thalib dan menyampaikan bahwa Nabi SAW dan Khadijah RA adalah pasangan yang cocok dan tidak ada ‘halangan’ jika keduanya menikah. Tentu saja Nabi SAW dan Abu Thalib bergembira dan menyetujui berita dari Nafisah ini. Khadijah RA meskipun sudah pernah menikah dua kali, tetapi merupakan seorang perempuan yang sukses, baik dan dermawan. Khadijah RA disamping pedagang yang suskes dan kaya juga terkenal dengan kedermawanannya. Khadijah RA terkenal dermawan karena sering membantu fakir miskin, janda-janda tua dan anak-anak yatim piatu.
Ibnu Ishaq (pengarang buku Siirah, abad ke-2 Hijrah) mengatakan pernikahan antara Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA terjadi sekitar 3 bulan setelah Beliau kembali dari Syam. Abu Thalib dan Nabi Muhammad SAW datang menemui keluarga Khadijah RA yaitu pamannya, Amr ibn ‘Assad untuk melamar Khadijah RA. Paman Khadijah RA yaitu Amr ibn Assad merupakan wali nikah Khadijah RA karena bapak Khadijah RA sudah meninggal. Abu Thalib dalam pidato nikah Nabi SAW yang tercatat dalam buku-buku siirah menyebutkan bahwa Abu Thalib mulai pidatonya dengan memuji Allah, kemudian berbicara tentang garis keturunan dan kebanggaan (keberhasilan) dari kaum Quraisy, bahwa bani Quraisy adalah penjaga dari tempat suci Ka'bah dan melayani tamu-tamu Allah, yaitu jema’ah Hajji yang datang ke Makkah. Kemudian Abu Thalib mengatakan bahwa "keponakan saya adalah orang yang tidak ada bandingannya dengan pria muda lainnya, Beliau SAW sopan santun, keturunan bangsawan Quraisy dan melamar putri anda yang mulia (Khadijah RA) dengan mahar 12 ookiya. (nugget perak - jumlah yang sederhana yaitu sekitar $ 400)". Dalam versi lain disebutkan Hamzah RA yang melamar Khadijah RA untuk Nabi SAW dengan mahar 20 ekor unta. Terlepas versi mana yang benar, paman Khadijah RA yaitu Amr ibn ‘Assad berdiri dan berkata "kami tidak bisa menolak dan kami menerima lamaran ini".
Cukup sekian, insyaa Allah minggu depan akan kita bahas kontroversi umur Khadijah RA saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW. Semoga bermamfa'at, kalau ada salah, itu berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah. Tolong dikoreksi kesalahan tersebut dan saya mohon ampun kepada Allah atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
Jumat, 18 Maret 2016
Masa Muda Nabi Muhammad SAW
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kita (ummat Islam) mempunyai informasi tentang masa muda Nabi SAW sangat sedikit. Saat itu belum/tidak ada literatur/buku di Mekah dan jumlah penduduk madih sedikit dan jarang. Kebiasaan orang Arab pada saat itu adalah bercerita turun temurun terhadap silsilah dan peristiwa-peristiwa besar saja, bahkan sampai beberapa puluh tahun kemudian. Bangsa Arab mulai mencatat dan menuliskan sesuatu baru ketika Nabi SAW diutus menjadi Rasulullah. Bangsa-bangsa lain yang kita tahu ada yang masih buta huruf sampai sekarang.
Dalam hadits lain Shahih Bukhari No. 3154, Shahih Muslim No. 3823 dan Musnad Ahmad No. 13973 bahwa Nabi SAW melihat beberapa gembala mengurus domba mereka dan berkata "Saya menyarankan Anda untuk mencari pohon araak (pohon untuk siwak) dan ambil cabang gelap seperti ini akan lebih baik bagi gembalaan kalian". Dan mereka terkejut dan bertanya "bagaimana Anda tahu ini yaa Rasulullah?" Dan Nabi SAW berkata "Aku sudah biasa menjadi seorang gembala dan setiap Nabi Allah adalah gembala".
Ini memang merupakan kenyataan yang jelas, mengapa Allah SAW menjadikan setiap Nabi sebagai gembala. Ini bukan suatu kebetulan bahwa Nabi SAW sangat lembut terhadap hewan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Musnad Ahmad No. 1654 dan Sunan Abu Daud No. 2186 bahwa Pada suatu ketika Beliau masuk ke dalam sebuah kebun milik orang Anshar yang ternyata di di dalamnya ada seekor unta milik orang Anshar tersebut. Tatkala melihat Nabi SAW unta tersebut menangis dan meneteskan air matanya, maka Rasulullah SAW turun mengusap telinganya dan pangkal lehernya, maka unta tersebut menjadi tenang. Lalu Beliau bertanya; Siapa pemilik unta ini? Datanglah seorang pemuda dari Anshar dan menjawab; Saya. Beliau bertanya: Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam mengurus unta ini yang telah Allah kuasakan kepadamu. Dia mengadukanmu kepadaku dan dia menyatakan bahwa kamu membiarkan dia lapar dan lelah. Subhanallah, betapa sayang dan lembutnya Nabi kepada hewan.
Hal ini juga menunjukkan kepada kita bahwa untuk menjadi sukses harus dimulai dari bawah. Nabi SAW memulainya dari pengembala kambing/domba dan Nabi SAW tidak malu untuk memberitahukan kepada orang-orang tentang masa lalu Beliau yang sederhana. Ini adalah realitas dari segala sesuatu - Anda perlu mulai dari bawah sebelum kemudian meraih sukses. Ini adalah kesuksesan sejati dan realitas bisnis seperti itu tidak tiba-tiba berhasil. Lihatlah orang yang paling kaya - mereka semua mulai dari bawah dan mereka adalah orang-orang yang membangun kerajaan bisnis mereka dari bawah sebelum menjadi besar. Hal yang sama juga berlaku untuk Nabi SAW, Beliau mulai dari bawah sebagai pengembala domba. Tentu saja ketika Anda mencapai puncak anda tidak akan melupakan betapa sulit mencapai posisi teratas dan dapat menghargai atau memahaminya.
Firman Allah dalam surat Adh-Dhuha ayat 3-5 bahwa "Bahwa Tuhanmu, wahai Muhammad, tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. Dan bahwa akibat dan akhir keadaanmu adalah lebih baik daripada permulaannya. Dan Aku bersumpah pula bahwa Tuhanmu pasti akan memberikan kebaikan dunia dan akhirat sampai kamu merasa puas."
--
Wassalam,
Sabtu, 12 Maret 2016
Hikhmah Nabi Muhammad SAW menjadi Yatim Piatu di usia muda
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillah wasyukurillah 'alaa ni'matillah. Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) atas segala nikhmat yang dilimpahkan kepada kita. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia Muhammad SAW, keluarga Beliau, para Sahabat RA, para tabi'in, tabiut tabiahum, kepada kita semua, serta kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman yang menjadikan Nabi SAW sebagai uswatun hasanah, suri tauladan yang baik, aamiin yaa Rabb al-aalamiin.
Insyaa' Allah hari ini kita lanjutkan sharing kita tentang siirah Rasulullah SAW dengan topik cobaan kepada Nabi Muhammad SAW kecil sangat banyak dan beruntun, apa hikmah dibalik semua cobaan tersebut. Namun sebelum kita lanjutkan kita review sedikit sharing sebelumnya bahwa Nabi SAW sudah menjadi yatim, ayahanda Beliau Abdullah meninggal dunia sebelum Beliau SAW lahir kedunia. Pada umur 6 tahunan ibunda Beliau Aminah meninggal dunia sehingga Beliau SAW menjadi yatim-piatu dan diasuh oleh kakek Beliau Abdul Muthalib - kepala suku Quraisy. Kemudian pada umur 8 tahunan, untuk ketiga kalinya Beliau kehilangan kakek yang sangat mengasihi dan menyayangi Beliau, yaitu Abdul Muthalib sehingga Beliau SAW diasuh oleh paman (kakak ayahanda) Beliau Abu Thalib.
Sebelum kita mulai membahas topik hari ini, yaitu hikmah cobaan yang bertubi-tubi kepada Nabi Muhammad SAW, kita bahas sedikit cerita orang kafir tentang masa kecil Nabi. Aada sebuah cerita yang dikarang-dikarang (fabricated) oleh orang kafir untuk menggiring opini bahwa Nabi Muhammad SAW belajar injil kepada pendeta kristen karena orang kafir tidak bisa mengerti kenapa Nabi Muhammad SAW bisa memahami ajaran atau kisah para Nabi sebelumnya bahkan lebih komplit dan lebih benar dari versi orang kafir sendiri. Jadi dibuatlah sebuah cerita dengan seting pada masa kecil Beliau SAW yaitu berumur sekitar 11-12 tahun. Cerita ini tidak ada dizaman Nabi SAW hidup maupun para Sahabat RA, tetapi cerita ini dibuat setelah Nabi SAW dan pelaku sejarah (para Sahabat RA) tidak ada lagi.
Masalahnya cerita ini dengan versi yang mirip juga ada di HR Sunan Tirmidzi No. 3553 dan satu-satunya Hadits, tidak ditemukan di buku-buku atau kitab-kitab atau pewari Hadits yang lain seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa'i, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain.
Di dalam cerita ini disebutkan bahwa ketika itu Nabi SAW masih muda dan belum mencapai pubertas (sekitar umur 11-12 tahun). Paman Beliau SAW yaitu Abu Thalib membawa Beliau SAW berdagang ke Syam (Suriah sekarang) bersama kafilah dagang Quraisy dari Makkah. Dalam cerita disebutkan bahwa dalam rombongan ada Abu Bukr RA dan Bilal RA. Waktu rombongan melewati sebuah monostery arau gereja dimana seorang biksu bernama Buhayra yang biasanya tidak pernah keluar dan tidak mengenal hari dan tanggal senantiasa berkhidmad di dalam gereja, pada hari rombongan lewat sengaja menunggu diluar gereja dan mengundang rombongan Nabi SAW singgah ke dalam gereja mereka. Dalam cerita tersebut disebutkan bahwa ia (rahib) bertanya kepada rombongan Abu Thalib apakah didalam rombongan ada seorang anak yang akan menjadi Nabi, karena ia melihat awan menaungi Beliau, pohon-pohon tunduk membayangi (bayangan pohon menaungi) dan batu-batu bersujud kepada Beliau. Di dalam cerita juga disebutkan bahwa ia (rahib) memberikan perlindungan atau menyembunyikan rombongan Beliau SAW ketika ada patroli tentara Romawi yang sedang mencari Beliau SAW untuk beberapa waktu yang lama. Di dalam cerita juga disebutkan bahwa Abu Thalib dan rombongan disuruh kembali ke Makkah untuk melindungi Nabi SAW.
Cerita ini menjadi kontroversi dikalangan ummat Islam sendiri karena disamping ada di Hadits Tirmidzi juga para ulama ada yang tidak keberatan dengan cerita ini karena tidak menyangkut ibadah, hanya sebagai cerita. Namun, beberapa ulama yang lebih kritis mengatakan cerita ini sesuatu yang salah atau tidak benar secara syariah agama Islam. Kalau Abu Thalib sudah tahu bahwa Beliau SAW adalah calon Nabi kenapa dia tidak mau menjadi Muslim setelah Nabi SAW menerima wahyu dan mengajak Abu Thalib bersyahadat? Secara matematis ada kesalahan besar atau telak pada pengarang cerita ini. Kita tahu bahwa Nabi SAW lebih tua dari Abu Bakar RA dan pada saat Nabi SAW berumur 11-12 tahun, Abu Bakar RA mungkin masih bayi atau kanak-kanak, apalagi Bilal RA belum lahir, mungkin belum saling kenal, karena Abu Bakar RA dan Bilal RA termasuk 10 orang Muslim yang pertama. Abu Bakar RA baru menebus Bilal RA puluhan tahun kemudian yaitu tahun-tahun awal kenabian yaitu sekitar Nabi berumur 40 tahun lebih, kenapa dua orang Sahabat RA ini ada di dalam cerita tersebut atau keberadaan kedua Sahabat RA ini salah (tidak benar) dari sudut waktu atau matematis. Secara logika cerita ini juga salah kaprah, kalau awan sudah menghalangi cahaya matahari (manaungi) bagaimana mungkin pohon-pohon masih punya bayangan untuk menaungi Nabi SAW. Ketidak benaran lainnya dari cerita ini adalah kalau Nabi SAW sudah mendapat cerita dan kisah2 para Nabi sebelumnya dan mengetahui bahwa Beliau akan menjadi Nabi dari rahib tersebut, kenapa waktu Jibril AS datang pada wahyu pertama, Nabi SAW ketakutan dan tidak tahu apa yang terjadi sampai Khadijah RA membawa Beliau SAW kepada Waraqah bin Nufal bin Assad.
Seperti disebutkan diawal bahwa cerita ini dipakai/dibuat oleh orang kafir untuk menjawab keheranan atau menjawab pertanyaan mereka darimana Nabi Muhammad SAW mengetahui semua cerita, kisah-kisah dan berbagai macam ilmu pengetahuan di dalam Al-Qur'an. Bagi mereka, mustahil Nabi Muhammad SAW yang datang dari bangsa yang tidak punya peradaban, perpustakaan, pendidikan dan jauh dari pengaruh peradaban-peradaban besar saat itu seperti Romawi dan Persia, apalagi India dan China mengetahui semua informasi tersebut. Mereka beranggapan pasti Beliau SAW mendapatkan berbagai macam pengetahuan tersebut dari salah seorang rahib atau pendeta yang menguasai injil dan/atau taurat. Kalau saja mereka (orang kafir) tersebut mau berfikir dengan akal fikiran yang jernih tidak dengan hawa nafsu mereka, bahwa sumber Al-Qur'an dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Injil asli dan Taurat asli) adalah dari sumber yang sama yaitu Allah SWT. Firman Allah SWT bahwa kamu (Muhammad SAW) tidak pernah membaca sebuah kitab suci pun sebelum Al-Qur'an, dan juga tidak pernah menulis dengan tangan kananmu. Seandainya kamu termasuk orang-orang yang membaca dan menulis, niscaya para pengikut kebatilan itu akan ragu bahwa Al-Qur'ân datang dari sisi Allah. (QS 29:48) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9).
Sekarang mari kita bahas hikmah dari cobaan yang bertubi-tubi kepada Nabi SAW dimasa kecilnya. Kita bisa membayangkan dari kisah masa kecil Nabi Muhmmad SAW betapa beratnya cobaan Biau SAW untuk ukuran seorang anak kecil berumur 8 tahun. Kesedihan demi kesedihan seolah bertubi-tubi melanda Nabi SAW kecil yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan asuhan kedua orang tua Beliau. Beliau menjadi anak yatim piatu di periode usia yang disebut oleh psikolog dan psikiater sebagai tahun-tahun pembentukan kepribadian anak. Tetapi Allah SWT memiliki rencana atas semua cobaan itu, karena dibalik semua cobaan kepada Nabi SAW ada sejumlah hikmah yang luar biasa. Para ulama menyebutkan ada beberapa alasan atau hikmah dari cobaan-cobaan ini kepada Nabi Muhammad SAW, diantaranya:
1. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah, tapi Beliau juga orang yang paling banyak dan paling berat cobaannya. Para Nabi AS yang lain juga adalah manusia-manusia paling mulia dan paling dikasihi Allah SWT tapi mereka juga adalah yang paling banyak dan berat dicoba oleh Allah SWT. Seperti kisah tentang Nabi Musa AS bahwa Allah telah memelihara Nabi Musa AS melalui keluarga Fir'aun, begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW. Allah mengasuh Nabi SAW secara langsung dengan menjadikan Beliau SAW yatim piatu sedari kecil agar tidak ada orang yang meragukan ataupun berprasangka buruk bahwa dakwah dan risalah Nabi Muhammad SAW bersumber dari didikan ayah dan kakeknya.
Allah SWT memilih Musa AS sebagai Rasul maka Allah memilih siapa yang pantas mengasuh Musa AS dibawah pengawasan Allah langsung. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW bahkan dalam pandangan manusia jauh lebih berat.
Kepada ibumu, Kami mengilhamkan agar ia meletakkanmu - ketika kamu masih seorang bayi dan menyusu - ke dalam peti dan melemparkannya ke sungai Nil, agar kamu selamat dan tidak dibunuh oleh Fir'aun. Sebab, saat itu, Fir'aun selalu membunuh semua bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Banu Isra'il. Air sungai itu pun Kami tundukkan untuk membawa peti sampai ke tepian. Kemudian, atas kehendak Kami, Fir'aun yang menjadi musuhmu dan musuh-Ku itu mengambil peti tersebut. Aku mencintaimu dengan penuh kasih sayang, supaya kamu dicintai oleh setiap orang yang melihat, dan supaya kamu diasuh secara terhormat di bawah pengawasan-Ku.
Wahai Musa, ketahuilah pertolongan Kami kepadamu, saat saudara perempuanmu berjalan mengawasi dirimu. Ketika kamu telah berada di istana Fir'aun, dan saudaramu itu mengetahui bahwa mereka mencari orang yang dapat menyusuimu, ia menunjukkan mereka kepada ibumu. Kami mengembalikan kamu kepangkuan ibumu, supaya ia senang melihat kamu hidup dan kembali serta tidak bersedih dan menangis lagi. Ketika kamu menginjak dewasa, dan membunuh seorang laki-laki dari kaum Fir'aun tanpa sengaja, Kami menyelamatkanmu dari kesusahan yang menimpa. Kami menyelamatkanmu dari kejahatan mereka. Kemudian, kamu pergi ke Madyan dan tinggal di sana untuk beberapa tahun lamanya. Setelah itu, kamu kembali dari Madyan pada waktu yang telah Kami tentukan untuk mengangkatmu sebagai rasul.
Kami telah memilihmu untuk diberi wahyu dan menyampaikan risalah-Ku (QS 20:39-41)
Jadi Nabi Muhammad memiliki kaitan langsung dengan Allah SWT sebagai pencipta karena Allah yang mendidik, melindungi, mengajar dan memberi petunjuk secara langsung. Allah SWT berfirman dalam surat Adh-Dhuhaa ayat 6-7 "Bukankah Allah mendapatimu dalam keadaan yatim dan membutuhkan seseorang untuk memeliharamu, lalu Dia melindungimu dengan menyerahkan dirimu kepada orang yang dapat mengurusmu dengan baik? Bukankah Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, tidak ada satu kepercayaan pun di sekitarmu yang dapat memberimu kepuasan, kemudian Dia memberimu petunjuk kepada jalan kebenaran?" (tafsir Quraisy Shihab).
2. Sudah menjadi pengetahuan dan pendapat umum bahkan tidak ada yang menyangkal atau tidak setuju bahwa hidup sebagai anak yatim-piatu adalah sangat sulit, baik secara mental maupun spiritual, baik secara jasmani maupun rohani, baik secara material maupun inmaterial, meskipun dalam lingkungan asuh yang mewah sekalipun seperti Musa AS yang diasuh di lingkungan Istana Fir'an, apalagi di lingkungan yang keras padang gurun yang gersang dan panas seperti Nabi Muhammad SAW yang diasuh di perkampungan badu'i bani Sa'ad oleh keluarga Halimah bin Sa'ad.
Allah SWT mengetahui bahwa hidup sebagai anak yatim (apalagi plus piatu) adalah sangat berat. Dalam surat Al-Maa'uun ayat 1-2 bahwa Allah menyebut orang yang menghardik anak yatim dengan keras, memaksa dan menyakitinya (anak yatim) dengan sebutan orang yang mendustakan agama, orang mendustakan atau mengingkari atau tidak percaya akan adanya hari pembalasan dan hari perhitungan di akhirat nanti. Dalam surat An-Nisaa' ayat 2, Allah SWT menyebutkan berdosa besar orang yang memakan harta anak yatim, mengambil dan memasukkan atau mengklaim sebagai harta mereka sendiri (bukan harta anak yatim). Banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an maupun Hadits yang melarang untuk tidak mempersulit - menambah beratnya kehidupan anak yatim piatu.
Sebaliknya malah Allah SWT menyuruh agar membantu meringankan beban kehidupan anak yatim piatu. Seperti Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 177 bahwa Allah menyebut orang berbuat baik kepada anak yatim sebagai orang-orang yang benar atau beriman dan bertaqwa. Bahkan Allah SWT dalam surat Al-Insaan ayat 5-22 bahwa orang (hamba Allah) yang berbuat banyak kebaikan, salah satunya kepada anak yatim yaitu memberikan makanan yang dia sukai kepada anak yatim karena mencari ridha Allah semata, maka Allah memelihari mereka dari kesusahan, memberikan keceriaan, kegembiraan, bahkan membalas kesabaran mereka dengan syurga dengan berbagai macam kenikhmatan di dalamnya. Banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an maupun Hadits yang menyuruh untuk berbuat baik - meringankan beban hidup anak yatim.
Jadi Allah SWT mengetahui bahwa hidup sebagai anak yatim piatu adalah sangat sulit. Namun pada waktu yang sama menjadi seorang yatim piatu sekaligus memiliki banyak kualitas hidup yang dibutuhkan saat itu maupun dikemudian hari, dibalik setiap kesulitan banyak sekali hikhmah. Dicintai dan dimanjakan tidak akan membuat anak yatim siap untuk menghadapi kehidupan yang sulit. Sebaliknya dilahirkan dalam lingkungan yang keras, tidak memiliki orang tua kandung yang menyayangi - ini secara otomatis membuat anak lebih kuat, independen, lebih matang, cepat dewasa/mandiri dan memberinya kebijaksanaan. Ini adalah sesuatu kenyataan yang bisa kita lihat dan buktikan bahwa setiap anak yatim piatu dan selanjutnya anak yang lahir dalam keadaan sulit jauh lebih matang cepat dewasa dibandingkan dengan anak yang masih punya orang tua (orang tua cendrung memanjakan anak-anaknya - tidak ada manusia yang dapat menggantikan cinta orang tua kepada anaknya) atau anak yang lahir dalam kemewahan. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, sebagai anak yatim piatu yang tidak mempunyai Bapak, tidak punya Ibu, tidak punya Kakek dan hanya punya Paman yang miskin (Abu Thalib) membuat Nabi SAW kebih kuat secara mental, kuat secara fisik, kuat secara rohani, jauh lebih matang, cepat dewasa/mandiri, lebih bijaksana dan siap untuk menghadapi tugas sebagai Nabi dan Rasulullah SAW.
4. Sebelumnya sudah kita sebutkan bahwa anak yang dibesarkan di padang gurun di antara suku-suku tertentu saja dimana mereka dikenal fasih dalam bahasa Arab dan masih murni. Bahasa di kota dianggap sebagai bahasa yang sudah tidak murni lagi, telah bercampur dengan kosa kata pendatang dan rusak tata bahasanya. Jadi bangsa Arab berpikir jangka panjang - mereka mengirim anak-anak mereka ke daerah-daerah yang masih murni dan kepada suku-suku yang dikenal menggunakan bahasa Arab yang masih murni. Suku yang paling terkenal untuk itu adalah Banu Sa'ad bin Bakr yaitu suku Halimah binti Sa'adiya yang merawat Nabi Muhammad SAW.
Jadi Nabi Muhammad SAW dikenal paling fasih berbicara bahasa Arab, dapat mengutarkan, mengemukakan dan menjelaskan dengan kalimat yang singkat namun padat makna, dalam bahasa Arab disebut dengan jami'ul kalim. Bahkan ada haditsnya bahwa Nabi SAW berkata "Saya diutus (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan yang singkat, namun padat makna". (HR Shahih Bukhari No. 2755, Shahih Muslim No. 813 dan lain-lain).
Maka tidaklah mengherankan bila kita (ummat Islam) banyak mejumpai matan Hadits Nabi yang berbentuk Jami' al-kalim. Bahkan dalam sebuah Hadits Nabi SAW bersabda: Wahai sekalian manusia, berbicaralah yang sewajarnya saja, sesungguhya pembicaraan yang berbelit-belit dari setan (HR Musnad Ahmad No. 5429).
Masih banyak lagi hikhmah dibalik cobaan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi yatim piatu pada usia anak-anak. Namun kita cukup sekian dulu, mudah-mudahan kita dapat memgambil mamfaat dari hikhmah-hikhmah yang telah kita sebutkan diatas.
Jika ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Untuk itu saya mohon koreksinya dan kepada Allah Azza wa Jalla saya mohon diampunkan atas segala khilaf dan salah. Semua yang benar adalah milik dan dari Allah SWT. Allhamdulillahi Rabbil'aalamiin. Wallahu a'lamu bishshawab.
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim
Jumat, 04 Maret 2016
Masa kecil Nabi Muhammad SAW
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim