Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiin. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua selalu istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa' Allah hari ini kita lanjutkan topik Siirah Rasulullah SAW mengenai perbedaan pendapat tentang umur Khadijah RA saat menikah dengan Rasulullah Muhammad SAW. Sebelumnya telah kita bahas mengenai pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA. Di dalam salah satu buku siirah disebutkan bahwa Halimah RA yang merawat Beliau sampai umur 4 tahun juga datang pada hari pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA. Ketika Halimah RA hendak pulang, Khadijah RA memberi hadiah yang banyak kepada Halimah RA berupa 40 puluh ekor hewan ternak (domba).
Khadijah RA melahirkan semua anak-anak Rasulullah SAW kecuali Ibrahim dari Maria binti Sama'un. Anak keturunan Nabi SAW dari Khadijah RA semuanya 6 (enam) orang yaitu, Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan 'Abdullah. Khadijah RA dari suminya terdahulu (yang pertama) juga memiliki seorang anak laki-laki yaitu Hala. Hala masuk Islam dan hidup mulia bersama Rasulullah SAW. Semua anak kandung Nabi SAW dari Khadijah RA lahir sebelum wahyu pertama turun. Sedangkan Ibrahim anak kandung Nabi SAW dari Maria binti Sama'un lahir kurang dari 2 tahun sebelum Nabi SAW wafat.
Berapa umur Khadijah RA saat menikah dengan Nabi SAW? Pertanyaan ini bukan baru-baru saja bahkan di zaman tabi'in pun sudah ada. Sebenarnya bagi ummat Islam tidak ada masalah berapapun umur Khadijah SAW saat menikah dengan Rasulullah Muhammad SAW karena para ulama terdahulu juga tidak mempermasalahkan atau dapat menerima perbedaan pendapat mengenai umur ummul mukminin sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA. Pengetahuan ini penting buat kita pelajari untuk tetap menjaga ukhwah (persatuan atau persaudaraan) antar ummat Islam dan untuk membela Nabi SAW dari kritikan negatif dari kaum kafir.
Pendapat yang termasyhur adalah bahwa saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Khadijah RA berumur 40 (empat puluh) tahun dan berumur 65 tahun saat meninggal. Jadi Nabi SAW berumah tangga dengan Khadijah RA selama 25 tahun. Pendapat ini berdasarkan opini dari seorang sejarawan Islam klasik Al-Waaqidi. Pendapat inilah yang umum dikenal oleh kebanyakan ummat Islam. Padahal, secara akademis ada dua poin yang sangat penting bahwa pendapat ini sangat bermasalah:
1. Al Waaqidi bukan ilmuwan yang mempunyai reputasi ilmiah seperti Ibnu Katsir, Baihaqi, Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq dan lain-lain meskipun Al-Waaqidi memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang al-maghazi (ekspedisi perang) Rasulullah SAW.
2. Al-Waaqidi dinilai matruk (riwayatnya ditolak, ditinggalkan) oleh para perawi dan ahli hadits. Matruk sendiri statusnya di bawah derajat dhaif (lemah).
Telah kita sebutkan di atas bahwa para ulama berbeda pendapat tentang umur Khadijah RA saat menikah dengan Rasulullah SAW. Ada yang berpendapat bahwa Khadijah RA berumur 40 tahun, ada yang berpendapat 35 tahun, ada yang berpendapat 28 tahun dan bahkan ada yang berpendapat bahw umur Khadijah RA sama dengan Nabi SAW yaitu 25 tahun. Begitu juga dengan kapan Khadijah meninggal juga terjadi perbedaan pendapat, ada yang bilang pada usia 65 tahun, ada yang berpendapat tidak sampai 60 tahun dan ada yang berpendapat 50 tahunan. Jadi banyak sekali kemungkinan atau ikhtilaf atau perbedaan pendapat para ulama. Tetapi para ulama sepakat tentang beberapa hal berikut:
1. Nabi Muhammad SAW berumur 25 tahun saat menikah dengan Khadijah RA.
2. Nabi Muhammad SAW berumah tangga selama 25 tahun dengan Khadijah RA.
3. Nabi Muhammad SAW mempunyai 6 (enam) orang anak-anak dari Khadijah RA.
Sebelumnya sudah kita bahas bahwa bangsa Arab sama sekali tidak mengenal kalender atau tanggalan sampai zaman Khalifah Umar bin Khatab RA, dimana Kalender Hijriah baru digunakan dan bangsa Arab secara khusus dan ummat Islam umumnya mengenal kalender atau tanggalan. Jadi tidak (belum) ada yang punya ingatan untuk mencatat peristiwa-peristiwa pribadi seperti kelahiran, kematiaan, perkawinan dan lain-lain. Bahkan peristiwa-peristiwa besar yang disaksikan mayoritas (sebagian besar) penduduk digunakan untuk menentukan atau dijadikan reference dari suatu rentang waktu tertentu. Seperti sudah kita ketahui bahwa para Sahabat RA hanya mengetahui Nabi Muhammad SAW lahir di tahun Gajah yaitu tahun dimana pasukan bergajah Abrahah mencoba menyerang Ka'bah. Begitu juga dengan umur Khadijah RA ini, tidak ada yang tahu secara pasti selain mencoba menghitung balik berdasarkan informasi-informasi yang disepakati bersama. Kita (ummat Islam) tidak pernah mendengar/mengetahui ada peristiwa besar saat Khadijah RA lahir, lagi pula siapa yang tahu bahwa Khadijah RA bakal menjadi istri Rasulullah SAW nantinya.
Kita juga tahu bahwa ummat manusia yang hidup di zaman dahalu dan dengan kehidupan yang keras adalah orang-orang yang cepat dewasa dan dapat mengambil tanggung jawab pada usia relatif lebih muda jika dibandingkan dengan orang-orang yang hidup di zaman sekarang dan hidup puritan serba berkecukupan. Sudah merupakan kebiasaan bangsa Arab untuk kawin muda, seperti halnya Abdullah dan Aminah yang menikah pada umur 20/18 tahun. Tetapi Nabi Muhammad SAW menikah telat pada umur 25 tahun. Sampai usia 25 tahun, Beliau SAW hidup suci membujang - bertentangan dengan kebiasaan masyarakat di sekelilingnya. Nabi Muhammad SAW bukannya tinggal atau hidup dalam berkecukupan dan dari masyarakat puritan, tetapi Beliau SAW hidup dalam masyarakat Jahiliyah yang penuh dengan kejahatan dan kebodohan. Masyarakat dimana seseorang bebas untuk memiliki hubungan seksual secara bebas, tanpa nikah dan tanpa beban sosial. Jadi meskipun Khadijah RA sudah menikah 2 (dua) kali – mungkin pada usia relatif muda seperti kebiasaan bangsa Arab pada saat itu - bisa saja umur Khadijah RA tidak berbeda jauh pada saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW.
Al-Baihaqi menyebutkan pendapat yang mengatakan bahwa umur Khadijah RA saat meninggal sekitar 50 tahunan itulah yang lebih kuat. Kemudian Ibnu Katsir dan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa pendapat dari Ibnu Abbas RA, bahwa umur Khadijah RA 28 tahun yang lebih kuat. Namun Al-Hakim mengatakan umur Khadijah RA saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW adalah 25 tahun. Jadi umur Khadijah RA saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW tidak terpaut jauh yaitu berumur antara 25-28 tahun. Pendapat ini tampak lebih valid karena dua alasan berikut:
1. Para ulama seperti Ibnu Ishaq, Al-Baihaqi, Ibnu Katsir dan Al-Hakim mempunyai kualitas keilmuan yang sudah diakui dan mempunyai banyak karya ilmiah yang sudah dipublikasikan. Para ulama ini mempunyai reputasi yang baik dan diterima banyak kalangan.
2. Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA sedikitnya memiliki 6 (enam) orang anak atau mungkin lebih. Secara umum berdasarkan ilmu pengetahuuan bahwa seorang wanita dengan umur 40 tahun tidak mungkin bisa melahirkan anak 6 kali (orang) karena kebanyakan wanita pada umur seperti itu sudah mulai monopause – sudah tidak reproduksi lagi - kecuali kalau mempunyai anak-anak yang lahir kembar. Tetapi kita (ummat Islam) mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA sama sekali tidak mempunyai anak-anak kembar. Kita (ummat Islam) juga tidak pernah mendengar ada pengecualian kepada Khadijah RA bahwa bisa melahirkan pada umur yang secara umum sudah monopause, seperti kisah-kisah istri para Nabi yang terdahulu. Tetapi untuk wanita dengan umur 25-28 tahun, kemungkinan mempunyai atau melahirkan 6 (enam) atau lebih orang anak secara normal sangat besar sekali. Seperti kita ketahui bahwa para ulama sepakat bahwa rumah tangga Nabi SAW dengan Khadijah RA berlangsung selama 25 tahun dimana semua anak-anak Beliau SAW lahir sebelum wahyu pertama turun atau anak bungsu/terakhir Nabi SAW dari Khadijah RA lahir kurang lebih sekitar belasan tahun sebelum Khadijah wafat. Jadi Khadijah RA melahirkan 6 (enam) orang anak-anak Rasulullah SAW dalam kurun waktu 10 tahun atau lebih setelah pernikahan sangat wajar dan dapat diterima.
Terlepas dari kontroversi atau perbedaan pendapat atau ikhtilaf umur Khadijah RA, sudah merupakan taqdir Allah SWT bahwa Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah RA. Khadijah RA adalah istri Nabi SAW yang paling dicintai. Selama menikah dengan Khadijah RA, Nabi SAW tidak pernah menikah lagi (berpoligami) seperti kebiasaan bangsa Arab pada saat itu. Khadijah RA adalah seorang wanita yang luar biasa, terpandang/terkenal, mulia, dan cerdas kata Ibnu Ishaq. Khadijah RA cepat tanggap dan mempunyai pandangan atau karakter positif sehingga Nabi Muhammad SAW dapat bergantung pada dirinya secara emosional, mengandalkan saran dan dukungannya. Seorang istri yang dicari suami dikala susah dan senang, dimana suami merasakan kenyaman didekatnya. Ketika Khadijah RA meninggal, Nabi merasakan kekosongan dan tidak ada wanita yang pernah mampu mengisi tempat Khadijah RA di hati Nabi SAW. Bahkan setelah Khadijah RA wafat dan Nabi SAW mempunyai berberapa orang istri dikemudian hari, Nabi SAW masih saja memuji-muji Khadijah RA sehingga membuat cemburu istri-istri Beliau SAW.
Dalam sebuah hadits riwayat Musnad Ahmad No. 23719 bahwa Aisyah RA berkata; Apabila Nabi SAW mengingat Khadijah RA, Beliau SAW selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada Beliau SAW; 'Alangkah sering Baginda mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah (maksudnya tua), padahal Allah telah menggantikan untuk Baginda yang lebih baik darinya.' Serta merta Rasulullah bersabda: "Allah Azza waJalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah Azza waJalla telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain."
Para ulama mencoba menyebutkan beberapa hikhmah dari Khadijah RA, diantara adalah sebagaoi berikut:
1. Khadijah RA adalah orang pertama beriman kepada Nabi SAW meskipun perintah untuk berdakwah – mengajak kepada Islam belum ada. Khadijah RA sama sekali tidak menolak apalagi mendustakan Rasulullah SAW seperti disebutkan dalam hadits Musnad Amad No, 23719 di atas.
2. Khadijah RA menghibur Nabi SAW pada hari Wahyu pertama datang Nabi SAW pulang ke rumah. Dalam Hadits riwayat syahih Muslim No. 231, musnad Ahmad No. 2 dan lain-lain disebutkan bahwa setelah kejadian itu (turunannya Wahyu pertama) Beliau SAW pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah RA, seraya Beliau SAW berkata: 'Selimutilah aku! Selimutilah aku.' Lalu Khadijah RA memberi Beliau SAW selimut hingga hilang rasa gementar dari diri Beliau SAW. Beliau SAW kemudian bersabda kepada Khadijah RA: 'Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku? ' Beliau SAW pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau SAW bersabda lagi: 'Aku benar-benar khawatir pada diriku.' Khadijah RA terus menghibur Beliau SAW dengan berkata, 'Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.'
3. Khadijah RA cepat tanggap dan mempunyai wawasan yang luas. Khadijah RA mengambil initiatif menanyakan peristiwa wahyu pertama ini kepada Waraqah bin Naufal. Dalam hadits yang sama bahwa setelah menghibur Nabi SAW, Khadijah RA beranjak seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah RA. Dia pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah RA berkata kepadanya, 'Paman! (Paman adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua) Dengarlah cerita anak saudaramu ini.' Waraqah bin Naufal berkata, 'Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi? ' maka Rasulullah SAW menceritakan semua peristiwa yang beliau telah alami. Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, 'Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa AS. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.' Lalu Rasulullah SAW menegaskan: 'Apakah mereka akan mengusirku? ' Waraqah menjawab, Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu'.
4. Khadijah RA lah satu-satu istri Nabi SAW yang mendapat salam dari Allah SWT. Ketika Jibril AS mendatangi Nabi SAW, Khadijah RA datang untuk menyuguhi tetapi Jibril AS mengetahui rencana Khadijah RA tersebut dan memberitahu Nabi SAW. Hal ini terdapat dalam hadits riwayat syahih Bukhari No. 3536, syahih Muslim No. 4460 dan lain lain bahwa Malaikat Jibril AS mendatangi Nabi SAW lalu berkata; Wahai Rasulullah, Ini Khadijah RA, datang membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Bila nanti dia sudah menjumpaimu, sampaikan salam dari Rabb-Nya dan dariku dan berilah kabar gembira kepadanya dengan rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang isinya tidak ada suara hiruk pikuk dan kelelahan.
Masih banyak lagi hikhmah dari Khadijah RA, tetapi kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan peristiwa Nabi Muhammad SAW membangun kembali Ka'bah. Semoga bermamfa'at, kalau ada salah, itu berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah. Tolong dikoreksi kesalahan tersebut dan saya mohon ampun kepada Allah atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.