Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah pada kesempatan kali ini kita akan meneruskan episode siirah Rasulullah Muhammaad shalallahu 'alaihi wassaalam dengan topik sa'at-sa'at wahyu pertama turun. Sebelumnya sudah kita bahas tentang sahabat yang sekaligus anak angkat Rasulullah shalallahi 'alaihi wassaalam yaitu Zaid bin Haritsa radiAllahu 'anhu (RA). Pengangkatan Zaid RA sebagai anak angkat Rasulullah SAW terjadi setelah Nabi Muhammad SAW membangun kembali Ka'bah bersama dengan kaum Quraisy dan sebelum wahyu pertama turun, atau pada saat itu umur Nabi SAW menjelang 40 tahun arau sekitar 37 tahun.
Berikutnya, 3 tahun sebelum turunnya wahyu pertama, disebutkan bahwa Nabi SAW mulai menyendiri (berkhalwat) di gua Hira. Nabi SAW sering atau suka dan menikhmati berkhalwat di gua Hira ini, Di gua Hira' Nabi SAW beribadah sebagaimana yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Tapi berdasarkan pendapat lain menyebutkan bahwa Beliau SAW beribadah di gua Hira mengikuti ilham (pencerahan) dari Allah Subhanallahu wa Ta'ala (SWT).
Setelah umur Beliau mencapai 40 tahun yang dianggap sebagai puncak kesempurnaan jiwa manusia dan dikatakan bahwa para Nabi diangkat menjadi Rasul pada usia ini, mulailah tanda-tanda kenabian tampak dan terlihat jelas bagaikan memancarkan kilaunya cahaya matahari di pagi hari. Tanda tersebut berupa mimpi dan kalau Beliau SAW bermimpi pada malam hari, maka pada keesokan (pagi) harinya menjadi kenyataan. Mimpi sebelum kenabian in berlangsung terus menerus selama enam (6) bulan. Mimpi-mimpi ini mengindikasi sesuatu akan terjadi dan terjadi terus pada Nabi SAW sampai atau sebelum wahyu pertama turun,
Istri Nabi SAW yaitu Aisha RA merupakan sumber utama dari hadits tentang bagaimana wahi (wahyu) dimulai. Hadits tentang wahyu pertama ini sangat panjang dan sangat rinci. Meskipun Aisyah RA sendiri tidak menyaksikan peristiwa tersebut tetapi dalam menceritakan Hadits tentang wahyu pertama ini sangat rinci dengan detail yang sangat jelas. Hal ini menunjukkan Nabi SAW sering atau banyak berbincang-binsang dengan Aisyah RA sebagai seorang suami yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian kepada istri.
Dalam HR Syahih Muslim No 231, Musnad Admad No. 24768 dan lain-lain: Aisyah RA berkata Wahyu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira'. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu (ayat pertama) ketika beliau berada di gua Hira'.
Dalam hadits yang mutawatir yang diriwayatkan Bukhari No. 6472, Syahih Muslim No. 4202 dan lain-lain pewari bahwa mimpi seorang Muslim adalah satu per empat puluh enam bagian dari kenabian. Sebagaimana kita ketahui bahwa masa kenabian Rasulullah SAW adalah 23 tahun atau 46 semester. Sementara Nabi Muhammad SAW mengalami mimpi kenabian selama enam (6) bulan atau satu (1) semester.
Ketika Nabi telah berumur 40 tahun, pada hari Senin di bulan Ramadhan, seperti biasa Nabi SAW berkhalwat di gua Hira, turunlah ayat pertama yaitu surat Al 'Alaq ayat ke-1 sampai dengan ayat ke-5. Bacalah, wahai Muhammad, apa yang telah diwahyukan kepadamu dengan mengawalinya dengan menyebut nama Tuhanmu yang memiliki kemampuan untuk mencipta. Yang telah menciptakan manusia, yang memiliki tubuh dan ilmu yang sempurna, dari segumpal darah yang tidak memperlihatkan sesuatu yang dapat dibanggakan. Teruskanlah membaca, Tuhanmu Yang Maha Pemurah akan memuliakanmu dan tidak menghinakanmu. Yang telah mengajarkan manusia menulis dengan perantaraan pena, padahal sebelumnya ia belum mengetahuinya. Yang mengajarkan manusia sesuatu yang tidak terdetik dalam hatinya (Tafsir QS 96:1-5 oleh Quraisy Shihab).
Para ulama berbeda pendapat kapan tepatnya ayat ini turun, tetapi para ulama sepakat bahwa ayat ini turun setelah Nabi Muhammad SAW memasuki umur 40 tahun, cuman apakah berdasarkan tahun Hjiriah atau Masehi. Kemudian mayoritas ulama berpendapat ayat ini turun di bulan 17 Ramadhan meskipun ada juga yang berpendapat malam ke-21 bulan Ramadhan bahkan di bulan Rajab. Ulama sepakat bahwa ayat ini turun di hari Senin seperti disebutkan dalam HR Syahih Muslim No. 1978, Musnad Ahmad No. 21508 dan lain-lain bahwa ketika para sahabat bertanya mengapa Rasulullah SAW puasa pada hari Senin/ Rasulullah SAW berkata "Di hari itulah (Senin) saya dilahirkan dan pada hari itu (Senin) pulalah wahyu diturunkan".
Catatan bahwa kalau kita hitung balik dan kita asumsikan bahwa umur 40 tahun adalah berdasarkan kalender Hijriyah. Maka tanggal 17 Ramadhan 40 tahun (tahun 13 sebelum Hijriah ayau 609M) setelah kelahiran Nabi SAW yaitu pada tanggal 12 Rabi'ul Awal tahun 53 sebelum Hijriah (570M) jatuh atau bertepatan dengan hari Senin. Jadi pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan tahu 13 sebelum Hijriah atau 25 Agus 609M, Nabi SAW sudah berumur 40 tahun lebih 6 bulan 5 hari atau 39 tahun lebih berdasarkan kalender Masehi.
Jadi pada Hadits dari Aisyah RA diatas bahwa wahyu tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril AS dengan berkata, 'Bacalah wahai Muhammad!'
Beliau SAW bersabda: Aku tidak pandai membaca. Rasulullah SAW bersabda: Lalu malaikat memegang dan memelukku erat-erat, ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasku.
Kemudian dia (Jibril AS) berkata, 'Bacalah wahai Muhammad!'
Beliau SAW bersabda: 'Aku lalu menjawab, 'Aku tidak bisa membaca'. Beliau SAW melanjutkan: 'Jibril kemudian memegang dan memelukku erat-erat lagi, hingga ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasnya kembali.
Kemudian ia (Jibril AS) berkata, 'Bacalah wahai Muhammad!'
Beliau SAW bersabda: Aku lalu menjawab: 'Aku tidak pandai membaca.' Beliau SAW melanjutkan: 'Jibril kembali memegang dan memelukku erat-erat, sehingga ketika aku merasakan kepayahan, ia pun melepaskanku.
Kemudian dia (Jibril AS) membaca firman Allah: '(Bacalah wahai Muhammad dengan nama Rabbmu yang menciptakan sekalian makhluk. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah yang mengajar manusia melalui pena. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui) ' (QS Al 'Alaq: 1-5).
Setelah kejadian itu Beliau SAW pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah RA, seraya Beliau SAW berkata: 'Selimutilah aku! Selimutilah aku.'
Lalu Khadijah RA memberi Beliau SAW selimut hingga hilang rasa gementar dari diri Beliau SAW.
Beliau SAW kemudian bersabda kepada Khadijah RA: 'Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku? ' Beliau SAW pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau SAW bersabda lagi: 'Aku benar-benar khawatir pada diriku.'
Khadijah RA terus menghibur Beliau SAW dengan berkata, 'Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.' Khadijah RA beranjak (mengajak Rasulullah SAW) seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah RA. Dia (Waraqah) pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta.
Khadijah berkata kepadanya, 'Paman! (Paman adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua), dengarlah cerita anak saudaramu ini.'
Waraqah bin Naufal berkata, 'Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi? ' maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan semua peristiwa yang Beliau SAW telah alami.
Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, 'Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa AS. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.'
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan: 'Apakah mereka akan mengusirku? '
Waraqah menjawab, Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu'.
Tetapi beberapa hari setelah wahyu pertama ini, untuk sementara waktu yaitu beberapa hari (ada yang bilang beberapa minggu, bahkan ada yang bilang beberapa bulan) tidak ada wahyu yang turun atau turunnya wahyu berhenti sejenak. Pada saat itu Waraqah bin Naufal meninggal dunia, jadi dia tidak sempat menyaksikan penolakan kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW.
Catatan bahwa berdasarkan hadits ini dan perkataan Waraqah bin Naufal "Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu", para ulama berpendapat bahwa Waraqah bin Naufal adalah orang tua pertama masuk Islam disamping Khadijah RA, Ali RA dan Zaid bin Zaid RA. Para ulama menyebutkan orang tua pertama masuk Islam adalah Waraqh bin Naufal, orang dewasa merdeka pertama masuk Islam adalah Abu Bakr RA, budak pertama masuk Islam adalah Zaid RA, anak-anak pertama masuk Islam adalah Ali RA dan istri Nabi SAW yang pertama masuk Islam adalah Khadijah dan keluarga (anak2) Nabi SAW adalah keluarga pertama yang masuk Islam.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode dari Siirah Rasulullah SAW, yaitu tentang wahyu kedua dan malaikat Jibril AS. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
--
Wassalam,
Aba Abdirrahim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.