Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiin. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan pengikut Nabi Mihammad SAW – ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua selalu istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa' Allah pada hari ini kita lanjutkan topik Siirah Rasulullah SAW dengan epsiode Nabi Muhammad SAW membangun kembali Ka'bah bersama kaum Quraisy Makkah. Para ulama terdahulu menyebutkan peristiwa ini terjadi ketika Nabi SAW berusia sekitar 35 tahun atau setelah 10 tahun berumah tangga dengan Khadijah RA. Pembangunan Ka'bah ini kembali dilakukan karena telah terjadi dua peristiwa yang menyebabkan bangunan Ka'bah rusak berat atau mungkin runtuh.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa saat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail datang pertama kali ke Makkah atau Bakkah, tidak ada satupun penduduk yang tinggal di lembah Bakkah tersebut (QS 14:37). Karena Allah SWT memberi sumur Zamzam kepada Siti Hajar dan Nabi Ismail AS maka bani Jurhum yaitu salah satu suku bangsa Arab Qahtani kebetulan minta izin tinggal menetap di Makkah kepada Siti Hajar. Setelah Nabi Ismail AS dewasa, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS diperintahkan untuk membangun Ka'bah sebagai tempat ibadah penduduk Makkah saat itu (QS 3:96). Detailnya bisa dilihat didalam Hadits shahih Bukhari No. 3114.
Dari tahun ke tahun, dari zaman ke zaman bangunan Ka'bah ini mengalami kerusakan atau bahkan hancur atau runtuh baik karena alam maupun karena ulah manusia. Kadang cukup dengan diperbaiki saja karena kerusakan kecil, tapi kalau kerusakan berat atau hancur maka perlu dibangun kembali. Tetapi setiap kali diperbaikin atau dibangun, tempat atau lokasinya tetap sama dari sejak dibanguan pertama kali oleh Nabi Ibrahi AS dan Nabi Ismail AS sampai sekarang ini. Tentu tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan kebutuhan atau peruntukan, seperti dizaman Jahiliyah sebelum Nabi Muhammad SAW datang, Ka'bah penuh dengan patung-patung. Begitu juga facilitas atau infrastruktur yang ada juga mengalami perubahan, seperti tempat tawaf saat ini bisa menampung puluhan atau ratusan ribu atau orang, tetapi di zaman Jahiliyah tempat tawaf hanya berupa jarak antara rumah penduduk dengan Ka'bah, yang hanya bisa dilewati belasan atau puluhan jama'ah saja. Jadi Ka'bah dikelilingi rumah penduduk dan jarak antara rumah penduduk dengan Ka'bah inilah tempat tawaf.
Disebutkan bahwa saat seorang ibu-ibu pedagang sedang memasak makanan, api menyambar kain penutup Ka'bah (kiswah) dan membakar Ka'bah. Tetapi kerusakan kebakaran ini tidak membuat Ka'bah runtuh. Kemudian belum sempat Ka'bah diperbaiki, terjadi banjir dan meruntuhkan bangunan Ka'bah. Seperti kita ketahui bahwa kota Makkah terletak di lembah – dataran rendah dibandingkan dengan bukit-bukit disekelilingnya. Bahkan sekarang saja kita sering mendengar Ka'bah kebanjiran kalau hujan besar di Makkah dan ada kerusakan pada system drainase atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Disamping versi di atas oleh Ibnu Ishaq, ada beberapa versi lagi tentang sebab perlunya Ka'bah dibangun kembali pada sa'at itu. Ada yang menyebutkan bahwa kebakarann terjadi dari dalam bangunan Ka'bah karena percikan api dari bokor atau tempat perapian pewangi ruangan seperti bokor menyan. Percikan api ini menyambar dan membakar kayu penyangga Ka'bah sehingga atap Ka'bah runtuh. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa karena Ka'bah tidak beratap, pada saat banjir besar banyak patung-patung atau benda-benda berharga yang terdapat di dalam Ka'bah yang hanyut atau hilang bersama runtuhnya sebagian bangunan Ka'bah. Terlepas mana yang benar, Qadar Allah menentukan bahwa Ka'bah perlu dibangun kembali karena sebagian bangunan Ka'bah runtuh. Hal ini terjadi saat Nabi Muhammad SAW berumur seiktar 35 tahun atau sekitar 5 tahun sebelum Wahyu pertama turun. Jadi kaum Quraisy pada saat itu memutuskan untuk membangun kembali bangunan Ka'bah.
Qadar Allah saat terjadi banjir bandang tersebut, saat sebagian bangunan Ka'bah runtuh, ternyata ada kapal kargo yang berlayar dekat laut merah mengalami kerusakan diterjang badai sehingga harus berlabuh ke pelabuhan terdekat yaitu Juddah (nama Jeddah pada saat itu). Kapal kargo ini membawa atau bermuatan bahan-bahan atau material bangunan terbaik lengkap dengan para tukang dan ahli bangunan terbaik untuk membangun gereja milik kerajaan Romawi di Yaman. Allah SWT mempunyai rencana yang paling baik bagi material bangun yang paling baik, para tukang terbaik dan para ahli bangunan terbaik di dalam kapal kargo tersebut dengan menyelamatkan sampai ke pelabuhan Juddah.
Catatan bahwa semananjung Arab tidak memiliki bahan bangunan yang berkualitas seperti kayu besar, marmer, besi, kunci-kunci dan lain-lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Arab juga tidak mempunyai arsitektur specifik yang merupakan ciri khas bangunan bangsa Arab. Bangsa Arab tidak memiliki ahli bangunan atau sekarang disebut arsitek. Kita tahu bahwa yang membangun Ka'bah adalah Nabi Ibrahim AS yang berasal dari Irak dan kita tahu peradaban Irak jauh lebih maju dalam hal bangunan ini.
Jadi ketika kapal kargo merapat di Juddah dan mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Yaman, mereka memutuskan untuk melelang semua isi kargo yang berupa material bangunan yang berkualitas tinggi dan lengkap. Ketika kaum Quraisy mendengar tentang hal ini, mereka mengumpulkan semua kekayaan mereka dan berangkat ke Juddah untuk membeli bahan bangunan yang dibutuhkan beserta ahli bangunannya sekalian mereka sewa. Disebutkan bahwa saat kaum Quraisy mengumpulkan kekayaan mereka untuk memborong bahan bangunan berkualitas untuk membangun Ka'bah ini mereka dipesanlkan untuk hanya menyumbangkan atau mengumpulkan uang dari hasil kerja atau perdagangan yang halal saja. Mereka tidak mau menggunakan uang haram atau uang hasil kerja yang dilarang kerpercayaan bangsa Arab saat itu seperti uang hasil prostitusi, merampok dan lain-lain untuk membangun Baitullah (Ka'bah). Jadi kaum Quraisy memborong bahan bangunan tersebut dan membawanya ke Makkah lengkap dengan ahli bangunannya.
Bahan bangunan sudah ada, ahli bangunan juga sudah ada, tinggal sekarang meratakan atau meruntuhkan sisa-sisa bangunan Ka'bah yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Disebutkan bahwa sebelum meruntuhkan sisa bangunan Ka'bah, kaum Quraisy saling bertanya sesama mereka bagaimana mereka akan menghancurkan Baitullah (rumah Allah)? Apalagi setiap kali ada yang mendekati mendekati Ka'bah untuk meratakan sisa-sisa reruntuhannya, mereka mendengar desis ular dari sumur zamzam. Timbul perdebatan diantara kaum Quraisy, siapa yang harus melakukan pekerjaan meratakan sisa-sisa runtuhan Ka'bah ini. Masih terbayang pada fikiran sebagian besar kaum Quraisy dan sebagian lagi mendengar ceritanya bagaimana Allah SWT menghancurkan tentara Abrahah termasuk gajah yang hendak meruntuhkan Ka'bah.
Jadi sementara mereka berdebat, Qadar Allah ada burung-burung besar yang datang mengambil/memakan ular-ular dari sumur zamzam sehingga bersih sama sekali. Kaum Quraisy memahami isyarat ini sebagai tanda bagi mereka untuk boleh meratakan sisa-sisa reruntuhan Ka'bah. Tetapi mereka masih merasa ketakutan dan tidak ada yang berani memulainya, sampai akhirnya seorang pemuka masyarakat Makkah yaitu Al Walid bin Al-Mughira mengatakan biar saya akan melakukannya. Penduduk Makkah masih merasa takut, masih menunggu dan ingin melihat nasib apa yang akan terjadi pada Al Walid setelah meratakan sisa-sisa reruntuhkan Ka'bah.
Al Walid bin Al-Mudghira membawa palu dan peralatan yang dia miliki, dia mulai meruntuhkan sisa-sisa salah satu dinding Ka'bah. Tidak ada dari penduduk Makkah yang ikut membantu, mereka berfikir kalau Al Walid masih hidup malam ini, besoknya baru mereka akan ikut bergabung, jika terjadi sesuatu maka keputusan mereka tidak ikut sudah pas/cocok. Ternyata ke-esokan harinya Al Walid masih bangun, penduduk Makkah lainnya baru pada ikut meratakan sisa-sisa reruntuhan Ka'bah. Bahkan mereka berkata "ternyata Allah tidak marah kalau kita mencoba membantu membangun kembali Ka'bah ini".
Jadi penduduk Makkah membagi pembangunan Ka'bah kembali berdasarkan suku-suku besar kaum Quraisy pada saat itu menjadi empat kelompok. Setiap kelompok bertanggung jawab menyelesaikan satu sisi dinding Ka'bah. Bani Abdul Manaf yaitu suku terbesar dari kaum Quraisy dimana Bani Hasyim bagian dari suku ini dan Abdul Mutahlib adalah kepada suku ini, mendapat bagian dinding utama yaitu dari Hajar aswad ke hijir Ismail. Sedangkan Bani Makhzum, sukunya abu Jahal, mendapat dinding sebelum hajar aswad ke rukun Yamani. Sedangkan kedua dinding lainnya menjadi tanggung jawab dua suku yang lain.
Sebelumnya kita sudah pernah bahas bahwa Banu Abdul Manaf dan Bani Makhzum selalu saling berlomba. Begitu juga pada saat membangun Ka'bah ini kembali, kedua suku saling berlomba menyelesaikan bagian mereka sampai saat memasang batu hitam (hajar aswad) mereka berebut dan tidak ada yang mau mengalah. Kedua suku saling mengatakan bahwa merekalah yang paling berhak memasang hajar aswad dan suku-suku lain juga ikut mempertanyakan kenapa suku kalian saja yang mendapat kesempatan, mereka juga perlu diberi kesempatan untuk memasang hajar aswad. Sampai-sampai situasi mulai memanas sehingga diputuskan pembangunan Ka'bah dihentikan untuk sementara waktu.
Pembangunan kembali Ka'bah terhenti untuk menentukan siapa yang paling berhak memasang hajar aswad kembali ketempatnya. Disebutkan bahwa pembangunan terhenti sampai lima (5) hari. Masing-masing suku mencoba melobi suku-suku lain untuk memberi dukungan kepada suku mereka saja. Bahkan suku Bani Makhzum melakukan perjanjian darah (cap tangan dengan darah) secara diam-diam dengan suku-suku lain bahwa mereka akan bertempur sampai mati untuk mendapatkan hak menempatkan kembali hajar aswad kepada tempatnya. Untung ada Abu Umair bin Mughirah, orang tertua di Makkah saat itu. Dia mengumpulkan para pemuka masyarakat Quraisy dan mengatakan tidak boleh ada pertumpahan darah sesama kaum Quraisy, dia mengusulkan siapa yang datang pagi-pagi besok paling awal ke Ka'bah maka dialah yang berhak memasang hajar aswad kembali kepada tempatnya. Semua pemuka masyarakat (kepala-kepala suku) setuju dengan usulan Abu Umair bin Mughirah.
Qadar Allah, Nabi Muhammad SAW lah yang datang pagi-pagi sekali ke Ka'bah. Semua suku malah bergembira dan berfikir bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling menyukai suku mereka, pasti suku merekalah yang mendapat kesempatan untuk menempatkan kembali hajar aswad ketempatnya. Bahkan Bani Makhzum yang selalu berlomba dengan Banu Abdul Manaf pun merasa bahwa Nabi Muhammad SAW bakal memilih mereka untuk memasang hajar aswad kembali. Jadi semua suku merasa gembira dan menunggu keputusan dari Nabi SAW. Kita (ummat Islam) mengetahui dengan jelas bahwa kemudian Nabi Muhammad SAW meminta selembar kain dan masing ujung kain dipegang oleh wakil dari suku-suku, dengan kain tersebut bersama-sama mengangkat batu hitam (hajar aswad) ketempatnya.
Pembangunan kembali Ka'bah telah selesai, tetapi ada beberapa perubahan dibandingkan bangunan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Berdasarkan material yang ada, kaum Quraisy disamping membangun Ka'bah menjadi bangunan permanen – tidak menggunakan material yang mudah terbakar, mereka juga merubah struktur Ka'bah. Allah SWT berkehendak perubahan tersebut langgeng sampai sekarang ini atau menjadi perubahan permanent, diantara perubahan tersebut adalah:
1. Bangunan Ka'bah yang dibangun kaum Quraisy ini berbentuk bujur sangkar bukan empat persegi panjang seperti yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Jadi mereka menyisakan bangunan Ka'bah di bagian utara yang kemudian disebut Al-Hijir atau Al-Hathim.
2. Tinggi Ka'bah dua kali lipat dari tinggi sebelumnya.
3. Pintu Ka'bah menjadi satu saja yang tadinya ada dua, masing-masing untuk masuk dan untuk keluar. Kemudian pintu diletakan ditengah dinding dan jauh dari permukaan tanah sehingga butuh tangga khusus untuk masuk melewati pintu tersebut.
4. Menambahkan talang air di bagian atap Ka'bah untuk mencegah bergenangnya air di atas Ka'bah.
Dua puluh tahun kemudian ketika Rasulullah Muhammad SAW menaklukan Makkah berkata kepada Aishah RA seperti disebutkan dalam Hadits riwayat syahih Bukhari No. 1480, syahih Muslim No. 2368 dan lain-lain.
Rasulullah SAW berkata: Tidakkah kamu tahu bahwa kaummu ketika membangun Ka'bah mereka menggesernya dari pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam?. Aku berkata: Wahai Rasulullah, mengapa anda tidak mengembalikannya ke posisi yang dibuat Nabi Ibrahim Aalaihissalam?. Beliau SAW menjawab: Seandainya tidak mempertimbangkan masa-masa kaummu yang masih dekat dengan kekufuran tentu aku sudah melakukannya.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari Siirah Rasulullah SAW. Semoga bermamfa'at, kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah. Tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut dan saya mohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.