Abu Abdirrahim: Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah dengan episode Zaid bin Haritsah RA yaitu anak angkat Rasulullah SAW yang merupakan keturunan Arab Qahtani dari Yaman (al-Yamani). Para sahabat RA hanya mengenal Zaid bin Haritsa RA sebagai Zaid bin Muhammad dan tidak mengenal nama Zaid bin Haritsah Sebelum turun ayat ke-4 surat Al Ahzab bawha "…dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri)… (QS 33:4)" Saat inilah Nabi SAW mengganti nama Zaid bin Muhammad menjadi Zaid bin Haritsah dimana Haritsah adalah nama bapak kandung dari Zaid.
Pada ayat ke-37 surat Al-Ahzab, Allah menyebut nama Zaid (زَيْدٌ) untuk menunjukkan bahwa anak angkat tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Rasulullah SAW, ini berbeda dengan tradisi Arab Jahiliyah pada saat itu. "…Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi (QS 33:37).
Minggu lalu telah kita bahas bagaimana semua suku kaum Quraisy di Makkah pada saat membangun Ka'bah, mereka sangat bergembira dan yakin suku merekalah yang akan dipilih Nabi SAW karena Nabi Muhammad SAW sangat mereka cintai dan mereka dicintai Nabi SAW melebihi suku-suku lainnya. Tetapi semua suku malah bergembira dan berfikir hal yang sama bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling menyukai suku mereka, pasti suku merekalah yang mendapat kesempatan untuk menempatkan kembali hajar aswad ketempatnya. Bahkan Bani Makhzum, yaitu suku Abu Jahal, suku yang selalu berlomba dengan Banu Abdul Manaf pun merasa bahwa Nabi Muhammad SAW bakal memilih mereka untuk memasang hajar aswad kembali. Ini menunjukkan betapa mulianya karakter Nabi Muhammad SAW dan semua suku kaum Quraisy di Makkah saat itu sama-sama mengetahuinya dan tidak mengingkarinya sedikitpun.
Pada episode Zaid bin Haritsah ini kita akan menemukan kembali keutamaan dan kemuliaan karakter Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa suku Zaid bin Haritsah berasal dari salah suku Qahtani dari Yaman. Ibu dan ayah Zaid berasal dari dua suku yang berbeda yang memiliki hubungan cinta tapi benci atau benci tapi cinta. Suatu hari ibu Zaid (Su'a) membawa Zaid kecil ke kampung sukunya sendiri. Tepat pada saat itu, pecah perkelahian atau perperangan kecil antara kedua suku (perang antar kampung) sebagaimana telah sering terjadi sebelumnya diantara kedua suku tersebut. Famili dari keluarga ibu Zaid yaitu paman2 yang satu suku dengan ibu Zaid, marah sekali kepada suku bapak Zaid atas serangan tersebut. Sebagai balasan, mereka malah mengambil atau menculik Zaid dari ibunya yaitu anak saudara atau keponakan mereka sendiri dan menjualnya sebagai budak. Zaid dibawa kabur dan dijual di pasar raya Ukadz di Makkah - pasar terbesar yang ada setelah musim haji. Hakim bin Hizam atas permintaan Khadijah RA untuk mencari seorang budak di pasar Ukadz dan sejak itu Zaid menjadi hamba Khadijah RA. Setelah Khadijah RA menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Zaid diberikan kepada Beliau SAW.
Semenjak itu, bertahun-tahun bapak Zaid berusaha mencari anaknya dan kebingungan mencari keberadaan Zaid. Pada setiap suku yang dia kunjungi ayahbapak Zaid mengatakan sedang mencari "seorang anak hilang dari sukunya dengan ciri-ciri seperti ini dan itu, jika menemukan atau melihatnya tolong kami diberitahu keberadaannya", kurang lebih begitulah berita atau broadcast kehilangan anak yang disebar bapak Zaid. Belasan tahun kemudian, pada saat musim haji seseorang kebetulan melihat seorang seperti ciri-ciri Zaid yang disebutkan bapaknya dan yakin ini adalah anaknya Hairtsah yang sedang dicari-cari. Jadi dia mengatakan kepada Haritsah bahwa dia menemukan anaknya, dia menjadi seorang budak salah satu cucu dari Abdul Muttalib, dan namanya Muhammad SAW.
Bapak Zaid dan saudara-saudaranya yaitu paman-paman Zaid setelah mengumpulkan bekal dan harta benda untuk menebus Zaid, mereka melakukan perjalanan ke Mekkah dan bertanya dimana rumah Nabi Muhammad SAW. Penduduk Makkah mengatakan bahwa Muhammad SAW sedang, Beliau SAW adalah keturunan suku yang paling mulia sehingga dapat dipercaya serta pujian-pujian lainnya. Ketika bapak Zaid bertemu dengan Nabi Muhammad SAW mereka mengatakan bahwa anak mereka bukan dari bangsa budak, mereka ingin mengambil anak mereka kembali yang telah diambil secara tidak syah atau diculik dan dijual sebagai budak. Zaid adalah anak kami dan kami akan bersedia menebusnya dengan harga berapapun tapi tolonglah bermurah hati (maksudnya jangan terlalu mahal-mahal) kepada kami.
Catatan bahwa dizaman Jahiliyah, tidak ada hukum dan peraturan – yang kuat menguasai yang lemah atau kekuasan milik yang kuat. Jadi karena mereka (bapak Zaid dan saudara-saudaranya) jauh dari kampung mereka dan tidak Hukum Jahiliyah yang akan membela mereka di Makkah sini, lagi pula mereka tidak punya kekuatan untuk merebut secara paksa anak mereka kembali, maka mereka bersedia untuk membeli atau menebus anak mereka kembali.
Dalam buku siirah disebutkan bahwa Nabi SAW berkata kepada bapak Zaid apakah anak ini yang anda inginkan? Mereka mengatakan "ya" dan Nabi SAW mengatakan bahwa itu terserah kepadanya (Zaid), jika dia memilih anda maka Zaid bebas pergi bersama anda tanpa uang tebusan, tetapi jika ia memilih saya maka saya tidak bisa menolaknya. Mendengar ini, bapak dan paman-paman Zaid sangat gembira sekali, mereka tidak menyangka akan mendapatkan kembali Zaid dengan tanpa membayar satu sen pun. Mereka mengatakan "Ya Muhammad SAW, apa yang anda lakukan sangat luar biasa sekali dan anda telah melakukan lebih dari yang kami minta".
Saat itu, Zaid sudah dewasa atau umurnya sekitar 20 tahun. Nabi SAW bertanya kepada Zaid apakah dia masih mengenal bapak dan paman-pamanya? Zaid mejawab dengan mengatakan bahwa ini adalah ayah saya dan mereka ini adalah paman-paman saya. Kemudian Nabi SAW mengatakan kepada Zaid bahwa Beliau SAW sudah menyerahkan masalah ini kepada Zaid, terserah Zaid ingin ikut pulang dan pergi bersama mereka atau tetap tinggal bersama Beliau SAW.
SubhanAllah bahkan dalam hal ini, kita menemukan bahwa Nabi SAW telah lama bersama Zaid, tapi Beliau SAW tidak ingin melepaskan Zaid karena kebenaran alasan secara moral yang dikatakan bapak Zaid, yaitu "anak kami bukan budak". Tetapi Beliau SAW ingin menyerahkan keputusan kepada Zaid karena perasaan cinta yang tulus dari seorang ayah kepada anak. Seketika Zaid mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa memilih siapapun melebihi Nabi SAW, Beliau SAW bagi Zaid melebihi gabungan seorang bapak dan paman-pamannya. Sungguh tidak wajar bagi seorang anak untuk mengatakan ini, cinta seorang anak kepada bapaknya adalah murni (fitrah). Ini tidak mungkin kecuali cinta kepada seorang Nabi Allah - cinta kepada Nabi Allah melebihi cinta seseorang kepada ayah, padahal Beliau SAW pada saat itu belum lagi menjadi utusan Allah.
Bapak dan paman-paman Zaid kaget luar biasa, mereka mengatakan "Oi Zaid, kamu sudah gila apa? Kamu lebih rela memilih menjadi seorang budak, dan menolak untuk kembali kepangkuan orang tuamu sendiri yang telah malahirkan kamu?" Lagi pula, sebagai seorang budak kamu tidak memiliki kehormatan, tidak memiliki hak atau yang melindungi, kamu betul-betul gila, begitu kata bapak Zaid. Zaid menjawab bahwa dia mengerti apa yang dia katakan, kemudian dia menambahkan bahwa dia telah melihat banyak hal dari Nabi SAW apa-apa yang tidak ada pada atau melebihi apa-apa yang dilakukan oleh orang lain. Seketika mendengar perkataan Zaid ini, Nabi SAW berdiri dan berkata kepada penduduk Makkah agar menyaksikan bahwa mulai saat itu Zaid telah bebas (bukan budak lagi), Zaid diangkat menjadi anak angkat oleh Nabi SAW, Zaid mewarisi dari Nabi SAW dan sebaliknya. Sejak saat itu Zaid disebut Zaid bin Muhammad.
Nabi SAW melakukan pengakatan Zaid sebagai anak angkat disaksikan oleh penduduk Makkah di depan bapak dan paman-pamannya agar hati mereka lega bahwa anak mereka bukan budak lagi, sudah menjadi orang merdeka, bahkan sekarang menjadi salah satu anggota dari suku kaum Quraisy yang terkenal dan berkuasa di Makkah. Dengan demikian bapak dan paman-paman Zaid merasa sangat lega sekali. Mereka bisa pulang dengan tanpa kehilangan muka karena anak mereka bukan seorang budak bahkan anak mereka Zaid sekarang menjadi anak angkat dari cucu kepala suku Quraisy yang sangat terkenal yaitu Abdul Muthalib. Para sahabat RA yang masih belum lahir atau masih kecil-kecil saat itu, banyak yang tidak mengetahui bahwa Zaid bukan bin Muhammad SAW tapi bin Haritsah karena surat Al-Ahzab ayat ke-4 turun beberapa tahun kemudian.
Zaid sangat dicintai oleh Nabi SAW. Nabi SAW menikahkan Zaid dengan Ummi Ayman yaitu seorang pembantu Aminah yang diwariskan kepada Rasulullah SAW. Dari pernikahan Zaid dengan Ummi Ayman, mereka berdua memiliki seorang anak yang lahir secara harfiah di dalam rumah Nabi SAW, yaitu Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid merupakan cucu angkat Nabi SAW yang sangat dicintai. Jika para sahabat RA menginginkan sesuatu dari Rasulullah SAW, mereka pergi ke Usamah dan mengatakan "mengapa kamu tidak pergi menghadap Nabi SAW dan minta kepada Beliau SAW karena Nabi SAW sangat mencintai kamu dan tidak akan pernah mengatakan tidak kepada setiap apa yang kamu inginkan". Ketika Nabi SAW memerdekakan Zaid dan mengangkat menjadi anak angkat, otomatis Zaid mempunyai hak yang sama seperti kaum Quraisy lainnya. Dengan demikian Nabi SAW menyuruhnya untuk menikah dengan Zaynab binti Jash, sepupu Beliau SAW sendiri, untuk menunjukkan bahwa Zaid betul-betul sudah merdeka dan sama derajatnya dengan anggota kaum Quraisy lainnya.
Ada hal lain lagi yang menunjukkan betapa Zaid bin Haritsah RA adalah seorang sahabat yang sangat dekat sekali dengan Nabi SAW. Setiap saat Nabi SAW mengirim pasukan (tanpa Nabi SAW ikut dalam rombongan), maka selalu Nabi SAW menunjuk Zaid bin Haritsa RA sebagai orang yang bertanggung jawab - komandan. Zaid bin Haritsah meninggal sebagai syuhada dalam pertempuran Mu'tah melawan pasukan Romawi. Ini adalah satu-satunya pertempuran di mana Nabi SAW menempatkan tiga orang jendral sekaligus karena Mu'tah adalah pertempuran yang sangat sengit. Nabi SAW mengatakan "Jika Zaid bin Haritsah gugur, maka Ja'far yang menggantikan , jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah sebagai penggantinya" (HR Syahih Bukhari No. 3928). Namun ketiga orang sahabat RA itu syuhada di Mu'tah dan kemudian Khaild Ibn Waleed RA secara aklamasi dipilih oleh para sahabat RA untuk mengambil alih komando. Pertempuran ini dari Mu'tah, Zayd, Ja'far dan Abdullah semua menjadi syuhada dan ketiganya adalah sahabat yang sangat dicintai Nabi SAW. Syuhadanya ketiga orang sahabat RA ini sangat membuat Nabi SAW sedih.
Kemudian Usamah bin Zaid RA, adalah seorang jendral termuda yang pernah diutus Nabi SAW sebelum Rasulullah SAW wafat. Penunjukkan Usamah RA ini sebagai komandan hampir saja menjadi perselisihan antara Abu Bakr RA dengan Umar RA. Umar RA berkata kepada Abu Bakr RA untuk menarik Usamah RA dari medan perang, tapi Abu Bakr RA tidak setuju dan mengatakan bagaimana mungkin dia berani membatalkan keputusan atau perintah Nabi SAW?. Abdullah bin Umar RA bahkah pernah mengeluh kepada bapaknya Umar RA yang menjadi kalifah saat itu bahwa kenapa Umar RA memberi gaji Usamah bin Zaid RA lebih besar dari gajinya?. Umar RA mengatakan "karena Usamah RA lebih dicintai oleh Nabi SAW daripada kamu, dan karena bapaknya lebih dicintai Rasulullah SAW daripada bapakmu ini".
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari Siirah Rasulullah SAW. Semoga bermamfa'at, kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah. Tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut dan saya mohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.