Jumat, 04 Maret 2016

Masa kecil Nabi Muhammad SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Bismi Allaahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi. Alhamdulillaahi rabbil'aalamiin. Insyaa' Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dimana hari Jum'at sebelumnya kita telah membahas atau mengupas tentang hari kiamat, yaitu mataa as-saa'ah (kapan kiamat?).

Sharing kita terakhir tentang siirah Nabi Muhammad SAW sudah sampai kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu pada hari Senin tanggal 12 di Bulan ke-3 (Rabi'ul Awal) di tahun Gajah (53 tahun sebelum Hijrah) atau jatuh pada tanggal 5 May 570M.

Hari ini insyaa' Allah kita lanjutkan, kita sekarang masuk ke periode hidup Nabi SAW yaitu masa kecil Nabi Muhammad SAW. Kita (ummat Islam) hanya memiliki sedikit informasi berkaitan dengan periode awal siirah Beliau SAW sampai umur 30/40 tahun. Sebagian besar informasi yang ada dimulai setelah umur Beliau 40 tahun yaitu ketika ditunjuk menjadi seorang Nabi. Tetapi Allah mentaqdirkan bahwa apa-apa yang perlu kita (ummat Islam) ketahui, Allah SWT telah melestarikannya.

Hal pertama yang kita ketahui setelah kelahiran Beliau adalah Ibu Beliau (Siti Aminah) telah mencarikan seorang ibu asuh  untuk menyusui dan membesarkan Beliau kepada Halimah binti Sa'adiya jauh dari rumah di tengah padang gurun. Hal ini tampaknya aneh bagi kita, tetapi itu adalah kebiasaan elit kaum bangsawan Quraisy saat itu dan merupakan simbol status dengan sejumlah alasan:

1. Mereka ingin anak-anak dibesarkan di lingkungan yang murni dan sehat. Sebagaimana kita ketahui bahwa tingkat kematian bayi sangat tinggi saat itu (bahkan hingga 100 tahun yang lalu). Jadi untuk melindungi dan menjaga kesehatan anak, mereka menjauhkan anak-anak dari khalayak ramai dan peradaban sehingga hanya ada beberapa orang saja yang berinteraksi langsung dengan anak. Hal ini meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup anak-anak.

2. Mereka ingin membangun stamina anak-anak dan membuat mereka terbiasa hidup dengan lingkungan/alam yang keras. Meskipun hidup di Mekah sangat sulit, mereka ingin membesarkan anak mereka dalam lingkungan keras sehingga mereka menjadi terbiasa dan dapat beradaptasi dengan mudah terhadap kesulitan hidup di Mekah. Tentu saja anak-anak beradaptasi jauh lebih mudah dan cepat daripada orang dewasa - Allah telah membuat kita seperti itu. Ini menunjukkan pada kita bahwa kaum Quraisy memiliki perencanaan jangka panjang yang matang. Mereka ingin anak-anak mereka terbiasa hidup berjuang keras di usia muda, sehingga ketika pindah ke Mekkah mereka sudah terbiasa.

3. Tumbuh di gurun akan menghindari kerabat terlalu memanjakan mereka. Seperti kita ketahui bahwa seberapapun ketat orang tua mendidik anak-anak mereka, tapi bibi, paman dan kakek-nenek akan memanjakan dan membantu anak-anak ini sehingga menjadi malas. Jadi ini dilakukan untuk membesarkan anak di lingkungan yang disiplin.

4. Anak yang dibesarkan di padang gurun di antara suku-suku tertentu saja dimana mereka dikenal fasih dalam bahasa Arab dan masih murni. Bahasa di kota dianggap sebagai bahasa yang sudah tidak murni lagi, telah bercampur dengan kosa kata pendatang dan rusak tata bahasanya. Jadi bangsa Arab berpikir jangka panjang - mereka mengirim anak-anak mereka ke daerah-daerah yang masih murni dan kepada suku-suku yang dikenal menggunakan bahasa Arab yang masih murni. Suku yang paling terkenal untuk itu adalah Banu Sa'ad bin Bakr yaitu suku Halimah binti Sa'adiya yang merawat Nabi SAW.

Secara umum perioda anak asuh ini berlangsung selama dua tahun dan setiap ibu yang menyusui disamping anak sendiri punya satu anak asuh saja. Jadi ibu asuh hanya datang kembali sekali-kali untuk menunjukkan kepada ibu yang sebenarnya sampai 2 tahun. Begitu juga Halimah hanya datang beberapa kali saja. Apalagi selama dua tahun mengasuh Nabi SAW, banyak sekali barakah yang mereka terima sehingga mereka ingin memperpanjang masa asuh Nabi SAW. Halimah mendatangi Siti Aminah setelah dua tahun pertama habis dan mohon untuk memperpanjang masa asuh Nabi SAW dengan berbagai alasan. Pada atau selama fase kedua dari masa asuh inilah terjadi peristiwa yang telah kita ketahui yaitu operasi pembedahan dan pembersihan hati (qalbu) Nabi SAW.

Anas ibn Malik dalam HR Shahih Bukhari No 236, Musnad Ahmad No. 12048 dan 13555 mengatakan bahwa Jibril mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika Beliau sedang bermain dengan anak lainnya. Jibril mengambil dan merebahkan Beliau, membelah dadanya dan dikeluarkanlah hatinya. Lalu Jibril berkata; ini adalah bagian setan dalam tubuhmu, lalu dia mencucinya di bejana dari emas dengan air zamzam. Setelah selesai, Jibril memasang dan mengembalikan ke tempatnya lagi. Lalu datanglah teman-temanku kepada ibunya (Halimah) dan berkata; Muhammad telah terbunuh maka temuilah, dia berkata dalam keadaan pucat dan takut. Anas berkata "saya melihat adanya bekas (jahitan) di dadanya.

Peristiwa ini terjadi satu kali lagi hampir 45 tahun kemudian ketika atau sebelum peristiwa 'Isra' wal-Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Atap rumahku terbuka sementara aku berada di Makkah, Jibril Alaihis Salam lalu turun dan membelah dadaku, kemudian ia mencucinya dengan air zamzam, kemudian ia membawa mangkuk besar dari emas, penuh dengan hikmah dan keimanan, lalu ditumpahkan ke dalam dadaku dan menutupnya kembali (HR Shahih Bukhari No. 336, Shahih Muslim No. 237 dan lain-lain).

Karena peristiwa pembedahan dada Nabi SAW ini, Halima takut terjadi apa-apa dengan Nabi SAW sehingga ia memutuskan untuk mengembalikan Nabi SAW kepada Siti Aminah. Para ulama mencoba mencari mamfaat spiritual dari peristiwa ini dan menyebutkan bahwa Nabi SAW sedang dipersiapkan untuk memulai kehidupan yang paling religius. Sudah merupakan sunnah Allah bahwa karakteristik para Nabi yang sempurna -  ma'sum dari dosa-dosa besar. Para Nabi mungkin saja melakukan dosa-dosa kecil seperti Musa AS dan Yunus AS lakukan, tetapi para Nabi tidak bisa melakukan dosa besar. Jadi peristiwa ini adalah pembersihan spiritual sebagaimana juga disebutkan di dalam Al-Quran. Ketika Allah mengatakan "Bukankah Kami telah membuka/melapangkan dada kamu? (QS 94:1)" Pendapat mayoritas ulama adalah bahwa ayat ini merujuk pada peristiwa pembedahan Nabi SAW. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa ini mengacu pada Islam.

Tak lama setelah Nabi SAW kembali ke Makkah, kepada Siti Aminah, kita hanya mengetahui ada satu peristiwa lagi antara Nabi SAW dengan ibunda Beliau Siti Aminah. Aminah memutuskan untuk membawa Nabi SAW ke Yatsrib (Madinah). Ingat bahwa Nabi SAW mempunyai Buyut yang berasal dari Yatsrib. Sekarang tentunya kita dapat melihat betapa teliti dan bijaksananya rencana Allah SWT. Dari semua kota yang ada saat itu, kebetulan ayah Abdul Muthalib (yaitu Hasyim) jatuh cinta dengan seorang gadis dari Yatsrib. Dengan demikian Nabi SAW ada         hubungan dengan Yatsrib. Memang cuman Yatsrib ini adalah satu-satunya kota yang Nabi SAW melakukan perjalanan sebagai seorang anak. Aminah memutuskan untuk membawa Nabi SAW ke Yatsrib bersama seorang hamba bernama Ummi Ayman. Ummi Ayman berumur panjang, beliau menjafi muslimah dan bahkan masih hidup setelah wafat Nabi SAW. Jika seandainya ada seseorang yang bertanya kepada Ummi  Ayman tentang masa kecil Nabi SAW, tentu hari ini kita akan memiliki lebih banyak cerita tentang Beliau, tetapi Allah SWT maha tahu dan mempunyai rencana lain. Jadi Ummi Ayman mengatakan bahwa Aminah melakukan perjalanan ke Yatsrib dengan Nabi SAW dan mereka tinggal beberapa di Yatsrib. Dalam perjalanan kembali ke Makkah, di sebuah desa kecil bernama Abwa, Aminah jatuh sakit dan meninggal saat itu juga disana. Ibunda Rasulullah SAW, Siti Aminah dimakamkan di desa yang sama yaitu Abwa dan makamnya masih ada disana.

Dalam HR Shahih Muslim No. 1623, Abu Dawud No. 2816 dan lain-lain bahwa pada suatu ketika Nabi SAW kembali dari suatu ekspedisi bersama para sahabat, mengambil jalan yang berbeda di tengah padang gurun. Semua Sahabat hanya berjalan mengikuti Beliau bahkan tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan. Memang apapun  yang Nabi SAW lakukan, kami mendengar dan kami taat (sami'naa wa atha'naa). Jadi para Sahabat hanya berjalan mengikuti beliau sampai mereka melihat bahwa Nabi SAW menemukan sebuah kuburan di sana. Beliau SAW duduk dan menangis dimana kami tidak pernah melihat Beliau SAW menangis sebelumnya sampai janggutnya basah oleh air mata, bahkan banyak dari para Sahabat tidak pernah melihat Beliau menangis sebelumnya. Menurut beberapa riwayat bahwa Beliau hanya menangis di depan umum beberapa kali saja. Melihat Nabi SAW menangis para Sahabat tidak mengajukan satu pertanyaanpun, tetapi ketika mereka melihat Nabi SAW menangis malah seluruh rombongan sahabat ikut menangis bersama Beliau. Inilah salsh satu bentuk cinta para Sahabat kepada Rasulullah SAW.

Kemudian Nabi SAW berkata "saya dulu telah melarang kalian untuk mengunjungi kuburan". Pada awal-awal syariah bahwa ziarah kubur dilarang, ummat Islam hanya boleh memasuki area kuburan dengan membawa mayat. Tetapi kemudian Nabi SAW mendapat izin mengunjungi kuburan ibunda Beliau. Nabi SAW tidak mengambil satu langkah/tindakan apapun tanpa izin Allah - bahkan untuk mengunjungi kiburan ibu Beliau. Inilah sebabnya mengapa Rasulullah SAW merupakan panutan karena setiap tindak, langkah, ucapan atau/dan perbuatan Beliau atas izin Allah SWT. Jadi Nabi SAW mengatakan kepada para Sahabat "Saya dulu melarang kalian untuk melakukan ziarah kubur, saya meminta izin dan Allah mengizinkan saya jadi saya sekarang mengizinkan kalian". Jadi dari sini jelas buat kita bahwa izin untuk mengunjungi atau ziarah kuburan diberikan kepada ummat Islam setelah Nabi SAW mendapat izin untuk berziarah kepada kuburan Siti Aminah. Beliau mengatakan kepafa para Sahabat  bahwa ziarah kubur dapat melunakkan hati dan meneteskan air mata serta mengingatkan akhirat maka sekarang berziarah kalian, dan janganlah kalian berkata keji atau kotor.

Jadi ayah Nabi SAW meninggal ketika Beliau belum lahir, dan ketika Beliau berusia 6 tahun kehilangan ibunya, sehingga Beliau yatim piatu. Kemudian Nabi SAW diasuh oleh kakek Beliau, Abdul Muttalib yaitu kepala suku kaum Quraisy. Selama dengan Abdul Muthalib, kita hanya punya sedikit cerita dari Ibnu Ishaq. Suatu ketika hanya Nabi SAW cucu kesayangan Abdul Muthalib yang diperbolehkan duduk di panggung atau tempat duduk kebesaran Abdul Muthalib sebagai kepala suku kaum Quraisy. Panggung ini kalau sekarang sama dengan tahta Raja sehingga tidak ada yang boleh duduk di atasnya, bahkan anak-anaknya atau cucu-cucu lainnya, kecuali Abdul Muthalib dan Nabi SAW. 

Kemudian ada peristiwa kecil lainnya, yaitu bahwa pada saat itu Nabi SAW berumur 7-8 tahun diutus untuk menemukan beberapa unta yang hilang oleh paman-pamannya. Dalam sebuah siirah katangan Ibnu Da'ad disebutkan alasan mengapa pamannya mengirim Nabi SAW, umur 7 atau 8 tahun, karena Beliau tidak pernah melakukan apapun kecuali berhasil dengan gemilang - sukses besar. Jadi karena paman-paman Beliau putus asa, tidak dapat menemukan unta yang hilang, mereka memutuskan untuk mengirim mengutus Nabi SAW keluar sendirian di padang gurun untuk menemukan unta hilang tersebut. Ketika Abdul Muthalib mengetahui ini karena Nabi SAW pulang telat, Abdul Muthalib sangat marah pada paman-pamanya. Abdul Muthalib mengatakan  bahwa mulai saat itu Nabi SAW tidak boleh lepas dari pandangan atau pemantauan Abdul Muthalib. Hal ini menunjukkan betapa besarnya perhatian, kepedulian dan cinta Abdul Muthalib kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada usia 8 tahun, untuk ketiga kalinya Nabi SAW menjadi yatim piatu kembali karena kakek Beliau Abdul Muthalib meninggal. Ibnu Sa'ad menyebutkan dalam bukunya bahwa para Sahabat bertanya kepafa Nabi SAW "Yaa Rasulullah SAW, apakah baginda ingat Abdul Muthalib?". Beliau SAW menjawab "Ya, saya ingat dia dan saya berusia 8 tahun ketika ia meninggal". Salah satu hal atau wasiat Abdul Muthalib lakukan sebelum meninggal adalah untuk mempercayakan Nabi SAW kepada anaknya Abu Thalib. Abdul Muthalib memiliki 5 istri, dengan salah satu dari mereka ia memiliki beberapa anak perempuan dan dua anak laki-laki yaitu Abdullah dan Abu Thalib. Jadi Abu Thalib dan Abdullah adalah saudara penuh, sehingga Abu Thalib adalah paman langsung dari Nabi SAW. Abu Thalib berumur panjang dan is meninggal ketika Nabi SAW berusia lebih dari 50 tahun.

Demikian, semoga bermamfa'at. Kalau ada yang salah itu semua berasal dari kesalahan saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah. Untuk itu saya mohon koreksinya dan saya mohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas segala kesalahan dan kekhilafan.

Wallahu a'lamu bishshawab.


--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.