Sabtu, 12 Maret 2016

Hikhmah Nabi Muhammad SAW menjadi Yatim Piatu di usia muda

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.


Alhamdulillah wasyukurillah 'alaa ni'matillah. Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) atas segala nikhmat yang dilimpahkan kepada kita. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia Muhammad SAW, keluarga Beliau, para Sahabat RA, para tabi'in, tabiut tabiahum, kepada kita semua, serta kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman yang menjadikan Nabi SAW sebagai uswatun hasanah, suri tauladan yang baik, aamiin yaa Rabb al-aalamiin.


Insyaa' Allah hari ini kita lanjutkan sharing kita tentang siirah Rasulullah SAW dengan topik cobaan kepada Nabi Muhammad SAW kecil sangat banyak dan beruntun, apa hikmah dibalik semua cobaan tersebut. Namun sebelum kita lanjutkan kita review sedikit sharing sebelumnya bahwa Nabi SAW sudah menjadi yatim, ayahanda Beliau Abdullah meninggal dunia sebelum Beliau SAW lahir kedunia. Pada umur 6 tahunan ibunda Beliau Aminah meninggal dunia sehingga Beliau SAW menjadi yatim-piatu dan diasuh oleh kakek Beliau Abdul Muthalib - kepala suku Quraisy. Kemudian pada umur 8 tahunan, untuk ketiga kalinya Beliau kehilangan kakek yang sangat mengasihi dan menyayangi Beliau, yaitu Abdul Muthalib sehingga Beliau SAW diasuh oleh paman (kakak ayahanda) Beliau Abu Thalib.


Sebelum kita mulai membahas topik hari ini, yaitu hikmah cobaan yang bertubi-tubi kepada Nabi Muhammad SAW, kita bahas sedikit cerita orang kafir tentang masa kecil Nabi. Aada sebuah cerita yang dikarang-dikarang (fabricated) oleh orang kafir untuk menggiring opini bahwa Nabi Muhammad SAW belajar injil kepada pendeta kristen karena orang kafir tidak bisa mengerti kenapa Nabi Muhammad SAW bisa memahami ajaran atau kisah para Nabi sebelumnya  bahkan lebih komplit dan lebih benar dari versi orang kafir sendiri. Jadi dibuatlah sebuah cerita dengan seting pada masa kecil Beliau SAW yaitu berumur sekitar 11-12 tahun. Cerita ini tidak ada dizaman Nabi SAW hidup maupun para Sahabat RA, tetapi cerita ini dibuat setelah Nabi SAW dan pelaku sejarah (para Sahabat RA) tidak ada lagi.


Masalahnya cerita ini dengan versi yang mirip juga ada di HR Sunan Tirmidzi No. 3553 dan satu-satunya Hadits, tidak ditemukan di buku-buku atau kitab-kitab atau pewari Hadits yang lain seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasa'i, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain.


Di dalam cerita ini disebutkan bahwa ketika itu Nabi SAW masih muda dan belum mencapai pubertas (sekitar umur 11-12 tahun). Paman Beliau SAW yaitu Abu Thalib membawa Beliau SAW berdagang ke Syam (Suriah sekarang) bersama kafilah dagang Quraisy dari Makkah. Dalam cerita disebutkan bahwa dalam rombongan ada  Abu Bukr RA dan Bilal RA. Waktu rombongan melewati sebuah monostery arau gereja dimana seorang biksu bernama Buhayra yang biasanya tidak pernah keluar dan tidak mengenal hari dan tanggal senantiasa berkhidmad di dalam gereja, pada hari rombongan lewat sengaja menunggu diluar gereja dan mengundang rombongan Nabi SAW singgah ke dalam gereja mereka. Dalam cerita tersebut disebutkan bahwa ia (rahib) bertanya kepada rombongan Abu Thalib apakah didalam rombongan ada seorang anak yang akan menjadi Nabi, karena ia melihat awan menaungi Beliau, pohon-pohon tunduk membayangi (bayangan pohon menaungi) dan batu-batu bersujud kepada Beliau. Di dalam cerita juga disebutkan bahwa ia (rahib) memberikan perlindungan atau menyembunyikan rombongan Beliau SAW ketika ada patroli tentara Romawi yang sedang mencari Beliau SAW untuk beberapa waktu yang lama. Di dalam cerita juga disebutkan bahwa Abu Thalib dan rombongan disuruh kembali ke Makkah untuk melindungi Nabi SAW.


Cerita ini menjadi kontroversi dikalangan ummat Islam sendiri karena disamping ada di Hadits Tirmidzi juga para ulama ada yang tidak keberatan dengan cerita ini karena tidak menyangkut ibadah, hanya sebagai cerita. Namun, beberapa ulama yang lebih kritis mengatakan cerita ini sesuatu yang salah atau tidak benar secara syariah agama Islam. Kalau Abu Thalib sudah tahu bahwa Beliau SAW adalah calon Nabi kenapa dia tidak mau menjadi Muslim setelah Nabi SAW menerima wahyu dan mengajak Abu Thalib bersyahadat? Secara matematis ada kesalahan besar atau telak pada pengarang cerita ini. Kita tahu bahwa Nabi SAW lebih tua dari Abu Bakar RA dan pada saat Nabi SAW berumur 11-12 tahun, Abu Bakar RA mungkin masih bayi atau kanak-kanak, apalagi Bilal RA belum lahir, mungkin belum saling kenal, karena Abu Bakar RA dan Bilal RA termasuk 10 orang Muslim yang pertama. Abu Bakar RA baru menebus Bilal RA puluhan tahun kemudian yaitu tahun-tahun awal kenabian yaitu sekitar Nabi berumur 40 tahun lebih, kenapa dua orang Sahabat RA ini ada di dalam cerita tersebut atau keberadaan kedua Sahabat RA ini salah (tidak benar) dari sudut waktu atau matematis. Secara logika cerita ini juga salah kaprah, kalau awan sudah menghalangi cahaya matahari (manaungi) bagaimana mungkin pohon-pohon masih punya bayangan untuk menaungi Nabi SAW. Ketidak benaran lainnya dari cerita ini adalah kalau Nabi SAW sudah mendapat cerita dan kisah2 para Nabi sebelumnya dan mengetahui bahwa Beliau akan menjadi Nabi dari rahib tersebut, kenapa waktu Jibril AS datang pada wahyu pertama, Nabi SAW ketakutan dan tidak tahu apa yang terjadi sampai Khadijah RA membawa Beliau SAW kepada Waraqah bin Nufal bin Assad.


Seperti disebutkan diawal bahwa cerita ini dipakai/dibuat oleh orang kafir untuk menjawab keheranan atau menjawab pertanyaan mereka darimana Nabi Muhammad SAW mengetahui semua cerita, kisah-kisah dan berbagai macam ilmu pengetahuan di dalam Al-Qur'an. Bagi mereka, mustahil Nabi Muhammad SAW yang datang dari bangsa yang tidak punya peradaban, perpustakaan, pendidikan dan jauh dari pengaruh peradaban-peradaban  besar saat itu seperti Romawi dan Persia, apalagi India dan China mengetahui semua informasi tersebut. Mereka beranggapan pasti Beliau SAW mendapatkan berbagai macam pengetahuan tersebut dari salah seorang rahib atau pendeta yang menguasai injil dan/atau taurat. Kalau saja mereka (orang kafir) tersebut mau berfikir dengan akal fikiran yang jernih tidak dengan hawa nafsu mereka, bahwa sumber Al-Qur'an dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Injil asli dan Taurat asli) adalah dari sumber yang sama yaitu Allah SWT. Firman Allah SWT bahwa kamu (Muhammad SAW) tidak pernah membaca sebuah kitab suci pun sebelum Al-Qur'an, dan juga tidak pernah menulis dengan tangan kananmu. Seandainya kamu termasuk orang-orang yang membaca dan menulis, niscaya para pengikut kebatilan itu akan ragu bahwa Al-Qur'ân datang dari sisi Allah. (QS 29:48Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9).


Sekarang mari kita bahas hikmah dari cobaan yang bertubi-tubi kepada Nabi SAW dimasa kecilnya. Kita bisa membayangkan dari kisah masa kecil Nabi Muhmmad SAW betapa beratnya cobaan Biau SAW untuk ukuran seorang anak kecil berumur 8 tahun. Kesedihan demi kesedihan seolah bertubi-tubi melanda Nabi SAW kecil yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan asuhan kedua orang tua Beliau. Beliau menjadi anak yatim piatu di periode usia yang disebut oleh psikolog dan psikiater sebagai tahun-tahun pembentukan kepribadian anak. Tetapi Allah SWT memiliki rencana atas semua cobaan itu, karena dibalik semua cobaan kepada Nabi SAW ada sejumlah hikmah yang luar biasa. Para ulama menyebutkan ada beberapa alasan atau hikmah dari cobaan-cobaan ini kepada Nabi Muhammad SAW, diantaranya:


1. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah, tapi Beliau juga orang yang paling banyak dan paling berat cobaannya. Para Nabi AS yang lain juga adalah manusia-manusia paling mulia dan paling dikasihi Allah SWT tapi mereka juga adalah yang paling banyak dan berat dicoba oleh Allah SWT. Seperti kisah tentang Nabi Musa AS bahwa Allah telah memelihara Nabi Musa AS melalui keluarga Fir'aun, begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW. Allah mengasuh Nabi SAW secara langsung dengan menjadikan Beliau SAW yatim piatu sedari kecil agar tidak ada orang yang meragukan ataupun berprasangka buruk bahwa dakwah dan risalah Nabi Muhammad SAW bersumber dari didikan ayah dan kakeknya. 


Allah SWT memilih Musa AS sebagai Rasul maka Allah memilih siapa yang pantas mengasuh Musa AS dibawah pengawasan Allah langsung. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW bahkan dalam pandangan manusia jauh lebih berat.


Kepada ibumu, Kami mengilhamkan agar ia meletakkanmu - ketika kamu masih seorang bayi dan menyusu - ke dalam peti dan melemparkannya ke sungai Nil, agar kamu selamat dan tidak dibunuh oleh Fir'aun. Sebab, saat itu, Fir'aun selalu membunuh semua bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Banu Isra'il. Air sungai itu pun Kami tundukkan untuk membawa peti sampai ke tepian. Kemudian, atas kehendak Kami, Fir'aun yang menjadi musuhmu dan musuh-Ku itu mengambil peti tersebut. Aku mencintaimu dengan penuh kasih sayang, supaya kamu dicintai oleh setiap orang yang melihat, dan supaya kamu diasuh secara terhormat di bawah pengawasan-Ku. 

Wahai Musa, ketahuilah pertolongan Kami kepadamu, saat saudara perempuanmu berjalan mengawasi dirimu. Ketika kamu telah berada di istana Fir'aun, dan saudaramu itu mengetahui bahwa mereka mencari orang yang dapat menyusuimu, ia menunjukkan mereka kepada ibumu. Kami mengembalikan kamu kepangkuan ibumu, supaya ia senang melihat kamu hidup dan kembali serta tidak bersedih dan menangis lagi. Ketika kamu menginjak dewasa, dan membunuh seorang laki-laki dari kaum Fir'aun tanpa sengaja, Kami menyelamatkanmu dari kesusahan yang menimpa. Kami menyelamatkanmu dari kejahatan mereka. Kemudian, kamu pergi ke Madyan dan tinggal di sana untuk beberapa tahun lamanya. Setelah itu, kamu kembali dari Madyan pada waktu yang telah Kami tentukan untuk mengangkatmu sebagai rasul. 

Kami telah memilihmu untuk diberi wahyu dan menyampaikan risalah-Ku (QS 20:39-41)


Jadi Nabi Muhammad memiliki kaitan langsung dengan Allah SWT sebagai pencipta karena Allah yang mendidik, melindungi, mengajar dan memberi petunjuk secara langsung. Allah SWT berfirman dalam surat Adh-Dhuhaa ayat 6-7 "Bukankah Allah mendapatimu dalam keadaan yatim dan membutuhkan seseorang untuk memeliharamu, lalu Dia melindungimu dengan menyerahkan dirimu kepada orang yang dapat mengurusmu dengan baik? Bukankah Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, tidak ada satu kepercayaan pun di sekitarmu yang dapat memberimu kepuasan, kemudian Dia memberimu petunjuk kepada jalan kebenaran?" (tafsir Quraisy Shihab).


2. Sudah menjadi pengetahuan dan pendapat umum bahkan tidak ada yang menyangkal atau tidak setuju bahwa hidup sebagai anak yatim-piatu adalah sangat sulit, baik secara mental maupun spiritual, baik secara jasmani maupun rohani, baik secara material maupun inmaterial, meskipun dalam lingkungan asuh yang mewah sekalipun seperti Musa AS yang diasuh di lingkungan Istana Fir'an, apalagi di lingkungan yang keras padang gurun yang gersang dan panas seperti Nabi Muhammad SAW yang diasuh di perkampungan badu'i bani Sa'ad oleh keluarga Halimah bin Sa'ad. 


Allah SWT mengetahui bahwa hidup sebagai anak yatim (apalagi plus piatu) adalah sangat berat. Dalam surat Al-Maa'uun ayat 1-2 bahwa Allah menyebut orang yang menghardik anak yatim dengan keras, memaksa dan menyakitinya (anak yatim) dengan sebutan orang yang mendustakan agama, orang mendustakan atau mengingkari atau tidak percaya akan adanya hari pembalasan dan hari perhitungan di akhirat nanti. Dalam surat An-Nisaa' ayat 2, Allah SWT menyebutkan berdosa besar orang yang memakan harta anak yatim, mengambil dan memasukkan atau mengklaim sebagai harta mereka sendiri (bukan harta anak yatim). Banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an maupun Hadits yang melarang untuk tidak mempersulit - menambah beratnya kehidupan anak yatim piatu.


Sebaliknya malah Allah SWT menyuruh agar membantu meringankan beban kehidupan anak yatim piatu. Seperti Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 177 bahwa Allah menyebut orang berbuat baik kepada anak yatim sebagai orang-orang yang benar atau beriman dan bertaqwa. Bahkan Allah SWT dalam surat Al-Insaan ayat 5-22 bahwa orang (hamba Allah) yang berbuat banyak kebaikan, salah satunya kepada anak yatim yaitu memberikan makanan yang dia sukai kepada anak yatim karena mencari ridha Allah semata, maka Allah memelihari mereka dari kesusahan, memberikan keceriaan, kegembiraan, bahkan membalas kesabaran mereka dengan syurga dengan berbagai macam kenikhmatan di dalamnya. Banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an maupun Hadits yang menyuruh untuk berbuat baik - meringankan beban hidup anak yatim.


Jadi Allah SWT mengetahui bahwa hidup sebagai anak yatim piatu adalah sangat sulit. Namun pada waktu yang sama menjadi seorang yatim piatu sekaligus memiliki banyak kualitas hidup yang dibutuhkan saat itu maupun dikemudian hari, dibalik setiap kesulitan banyak sekali hikhmah. Dicintai dan dimanjakan tidak akan membuat anak yatim siap untuk menghadapi kehidupan yang sulit. Sebaliknya dilahirkan dalam lingkungan yang keras, tidak memiliki orang tua kandung yang menyayangi - ini secara otomatis membuat anak lebih kuat, independen, lebih matang, cepat dewasa/mandiri dan memberinya kebijaksanaan. Ini adalah sesuatu kenyataan yang bisa kita lihat dan buktikan bahwa setiap anak yatim piatu dan selanjutnya anak yang lahir dalam keadaan sulit jauh lebih matang cepat dewasa dibandingkan dengan anak yang masih punya orang tua (orang tua cendrung memanjakan anak-anaknya - tidak ada manusia yang dapat menggantikan cinta orang tua kepada anaknya) atau anak yang lahir dalam kemewahan. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, sebagai anak yatim piatu yang tidak mempunyai Bapak, tidak punya Ibu, tidak punya Kakek dan hanya punya Paman yang miskin (Abu Thalib) membuat Nabi SAW kebih kuat secara mental, kuat secara fisik, kuat secara rohani, jauh lebih matang, cepat dewasa/mandiri, lebih bijaksana dan siap  untuk menghadapi tugas sebagai Nabi dan Rasulullah SAW. 



3. Sebagai anak yatim piatu yang sudah biasa melalui masa-masa sulit membuat Nabi SAW memahami bagaimana rasanya hidup miskin, tinggal di lingkungan yang keras dan lain lain, bukan cuman sebagai katanya atau teori tetapi dari tangan pertama - yang mengalami sendiri. Nabi Muhammad SAW memiliki pengalaman sebagai orang miskin dan keyatiman identik dengan kemiskinan. Kita (ummat Islam) tahu bahwa kedua orang tua Beliau SAW tidak memiliki harta warisan karena belum lama membina rumah tangga, hanya hitungan minggu setelah pernikahan, Aminah telah menjanda. Firman Allah dalam surat Adh-Dhuhaa ayat ke-8 "Bukankah Dia mendapatimu dalam keadaan tidak memiliki harta, lalu Dia mencukupimu dengan rezeki yang dikaruniakan-Nya kepadamu?"


Hal ini membuat Nabi SAW lebih peka (sensitif), penyayang dan penuh belas kasihan terhadap anak yatim (dan piatu) secara khusus dan ummat muslim bahkan ummat manusia secara umum. Dengan demikian Beliau juga menjadi orang pertama yang mengasihi kaum fakir miskin pada saat Allah SWT memerintahkan untuk mengasihi kaum fakir miskin.  Ini dapat kita lihat atau buktikan mengapa begitu banyak hadits Rasulullah SAW untuk mengurus, menyantuni, menyayangi dan bersikap lemah lembut kepada anak yatim. Firman Allah dalam surat Adh-Dhuhaa ayat 9-11 "Apabila hal ini yang Allah lakukan terhadapmu, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim, jangan mengusir orang yang meminta-minta dengan kekerasan, dan sebutlah nikmat Tuhanmu sebagai rasa syukur kepada Allah dan juga untuk menunjukkan nikmat-Nya."

Ketika Beliau SAW mengatakan "Aku dan orang yang mengurus anak yatim akan bersama-sama di Jannah" (HR Shahih Bukhari No. 4892, Sunan Tirmidzi No. 1841 dan lain-lain). Ketika Beliau SAW mengatakan "Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin" (HR Musnad Ahmad No. 8657). Artinya, memperlakukan anak yatim dengan cinta - dan pasti Nabi SAW teringat akan masa kecilnya sendiri. 


4. Sebelumnya sudah kita sebutkan bahwa anak yang dibesarkan di padang gurun di antara suku-suku tertentu saja dimana mereka dikenal fasih dalam bahasa Arab dan masih murni. Bahasa di kota dianggap sebagai bahasa yang sudah tidak murni lagi, telah bercampur dengan kosa kata pendatang dan rusak tata bahasanya. Jadi bangsa Arab berpikir jangka panjang - mereka mengirim anak-anak mereka ke daerah-daerah yang masih murni dan kepada suku-suku yang dikenal menggunakan bahasa Arab yang masih murni. Suku yang paling terkenal untuk itu adalah Banu Sa'ad bin Bakr yaitu suku Halimah binti Sa'adiya yang merawat Nabi Muhammad SAW. 

Jadi Nabi Muhammad SAW dikenal paling fasih berbicara bahasa Arab, dapat mengutarkan, mengemukakan dan menjelaskan dengan kalimat yang singkat namun padat makna, dalam bahasa Arab disebut dengan jami'ul kalim. Bahkan ada haditsnya bahwa Nabi SAW berkata "Saya diutus (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan yang singkat, namun padat makna". (HR Shahih Bukhari No. 2755, Shahih Muslim No. 813 dan lain-lain). 


Maka tidaklah mengherankan bila kita (ummat Islam) banyak mejumpai matan Hadits Nabi yang berbentuk Jami' al-kalim. Bahkan dalam sebuah Hadits Nabi SAW bersabda: Wahai sekalian manusia, berbicaralah yang sewajarnya saja, sesungguhya pembicaraan yang berbelit-belit dari setan (HR Musnad Ahmad No. 5429).


Masih banyak lagi hikhmah dibalik cobaan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi yatim piatu pada usia anak-anak. Namun kita cukup sekian dulu, mudah-mudahan kita dapat memgambil mamfaat dari hikhmah-hikhmah yang telah kita sebutkan diatas. 


Jika ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Untuk itu saya mohon koreksinya dan kepada Allah Azza wa Jalla saya mohon diampunkan atas segala khilaf dan salah. Semua yang benar adalah milik dan dari Allah SWT. Allhamdulillahi Rabbil'aalamiin. Wallahu a'lamu bishshawab.



--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.