Sabtu, 05 November 2016

Mukjizat Bulan Terbelah

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode mu'jizat terbelahnya bulan. Sebagaimana dengan kejadian atau kisah-kisah lainnya bahwa tidak ada catatan kapan pastinya tanggal kejadian terbelahnya bulan tersebut. Para ulama siirah Rasulullah SAW menempatkan kisah Mu'jizat terbelahnya bulan ini terjadi sebelum meninggalnya Abu Thalib dan (Siti) Khadijah RA tetapi setelah pemboikotan yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy kepada Banu Hasyim, Banu Muththalib dan Ummat Islam.

Sebelumnya marilah kita lihat dulu asal kata dari mukjizat. Mukjizat adalah alih bahasa dari kata atau bahasa Arab mu'jizat (مُعْجِزَة). Secara etimologi (bahasa) mukjizat diartikan sebagai suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung kebenaran kenabian seorang Nabi dan/atau kerasulan seorang Rasul, sekaligus melemahkan lawan-lawan/musuh-musuh yang meragukan kebenarannya. Kata mu'jizat (مُعْجِزَة) berasal dari akar kata atau kata kerja 'ajaza (عَجَزَ) yang berarti dia (laki2 tunggal telah) melumpuhkan, melemahkan atau membuat tidak berdaya secara serius (dengan akibat yang maksimum).

Menurut aqidah Islam pengertian mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam diri Nabi atau Rasul Allah Subhanahu wa-Ta'ala (SWT). Mukjizat bertujuan untuk membuktikan kenabian atau kerasulan seorang Nabi atau Rasul Allah SWT yang tidak dapat ditiru oleh siapapun, untuk melemahkan segala macam usaha dan alasan orang kafir dalam menentang Islam, dan untuk menyeru kepada umat manusia agar percaya kpeada ketauhidan atau keesaan Allah. Setiap Nabi dan/atau Rasul mempunyai mukjizat masing-masing yang sesuai zaman dan kondisi ummat manusia pada saat itu.

Jadi secara bebas mukjizat bisa diartikan sebagai sesuatu yang terjadi pada seorang Nabi dan/atau Rasul atau yang dilakukan oleh seorang Nabi dan/atau Rasul atas izin Allah SWT. Hakikat mukjizat membuat akal manusia lemah (tidak berdaya), diluar nalar atau akal fikiran dan tidak dapat diulang atau diduplikasi oleh orang lain. Tujuan dari mukjizat adalah untuk menunjukkan atau membuktikan kepada ummat manusia bahwa seorang Nabi dan/atau Rasul tersebut betul-betul utusan Allah Azza wa Jalla. Jika itu terjadi pada atau diperlihatkan oleh selain Nabi dan/atau Rasul, tidak disebut sebagai mukjizat tetapi disebut  sebagai karamah atau supra natural atau miracle.

Para ulama menyebutkan bahwa banyak sekali mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang paling utama adalah Al-Qur'an. Al-Qur'an merupakan mukjizat Nabi SAW yang bisa disaksikan atau dipersaksikan oleh bukan saja Ummat Islam tapi semua ummat manusia sampai akhir zaman nanti. Turunnya Al-Qur'an merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW, karena tidak ada satupun manusia yang bisa membuat satu ayat saja yang serupa dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Makanya di dalam Al-Qur'an, kata mukjizat biasanya disebutkan dengan kata-kata ayat atau burhan (bukan 'ajaza), yang berarti bukti atau keterangan yang jelas.

Allah Subhanahu wa-Ta'ala berfirman dalam surat Ash-Shu'ara ayat ke-4, "Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat (aayatan - ءَايَةً) dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya. (QS 26:4)" Begitu juga dengan Firman Allah SWT dalam surat Al-An'am ayat 109 beriut, "Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat (aayatun - ءَايَةٌ), pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat (al-ayaat - الأَيَاةُ) itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. (QS 6:109)"

Kaum musyrikin Quraisy mengetahui dari orang-orang Yahudi dan/atau Nashrani di Madinah bahwa salah satu ciri Nabi dan/atau Rasul Allah SWT adalah mempunyai mukjizat. Makanya, setelah pemboiktan kepada Banu Hasyim, Banu Muththalib dan Ummat Islam berakhir, kaum musyrikin Quraisy mencari jalan lain untuk menolak atau mengingkari ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam anggapan mereka bahwa Nabi SAW sama seperti mereka yaitu bangsa Arab dan bukan merupakan pemeluk agama Yahudi atau Nashrani, mana mungkin memiliki mukjizat seperti Nabi dan/atau Rasul agama orang-orang Yahudi atau Nashrani.

Orang-orang musyrikin Quraisy mencoba meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendatangkan mukjijzat kalau memang Nabi Muhammad SAW adalah betul seorang Nabi dan/atau Rasul Allah SWT. Hal ini terjadi sekitar tahun 10 atau 11 dari kenabian Rasulullah SAW. Orang-orang musyrikin Quraisy mengatakan, "Jika kami melihat mukjizat, kami akan memeluk Islam." Abdullah bin Mas'ud RA meriwayatkan bahwa atas permintaan dari orang-orang musyrikin Quraisy untuk sebuah mukjizat, Nabi SAW menunjukkan kepada mereka mukjizat bulan terbelah.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh shahih Bukhari No. 3579, shahih Muslim No. 5010 dan lain-lain; Anas bin Malik radliallahu 'anhu, bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar Beliau menunjukkan tanda-tanda (mukjizat). Maka Beliau SAW memperlihatkan kepada mereka dimana bulan terbelah menjadi dua bagian hingga dapat terlihat gua Hira dari celah diantaranya. Hadits tentang mukjizat bulan terbelah ini termasuk kelompok hadits mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang.

Tetapi setelah melihat mukjizat bulan terbelah, kaum musyrikin Quraisy tetap tidak mengimani Rasulullah SAW bahkan mereka menolak Nabi SAW dan menuduh Nabi SAW sebagai tukang sihir. Allah menyebutkan tentang mukjizat bulan terbelah dan penolakan kaum musyrikin Quraisy ini di dalam surat Al-Qamar ayat ke-1 dan 2 berikut. Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (QS 54:1-2)

Kaum musyrikin Quraisy tidak mampu menerima mukjizat ini, mereka berkata, "Nabi Muhammad SAW telah menyihir kita." Kemudian sebagian mereka berkata, "Pun seandainya ia menyihir kita namun ia tidak mampu menyihir seluruh manusia. Kita harus menunggu dan melihat apa berita yang dibawa oleh orang dari luar Makkah." Meskipun mereka melihat (mengetahui) bahwa semua orang dari luar Makkah bersaksi bahwa bulan telah terbelah, namun mereka tetap tidak percaya kepada Nabi SAW.

Untuk itu Allah SWT menghibur Nabi SAW dengan turunnya surat An-An'am ayat ke-111 berikut. "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS 6:111)"

Setelah dengan meminta mukjizat yang dalam anggapan mereka mustahil bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, kaum musyrikin Quraisy tetap tidak bisa 'mengalahkan' Nabi Muhammad SAW. Akhirnya kaum musyrikin Quraisy kembali kepada cara-cara lama yaitu menggunakan tradisi Arab jahiliyah. Setiap orang mempunyai suku atau kabilah dan setiap suku atau kabilah akan memprotek atau melindungi anggotanya. Karena ummat Islam sudah tidak menjadi anggota suku atau kabilah manapun lagi dan tidak ada suku atau kabilah yang melindungi ummat Islam, maka kaum musyrikin Quraisy kembali meneror ummat Islam baik secara fisik maupun mental.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.