Sabtu, 19 November 2016

Kunjungan Nabi SAW ke Tha'if

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua senantiasa istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah pada hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode tahun kesedihan. Dimana pada tahun itu, paman Nabi SAW, Abu Thalib dan istri Nabi SAW, (Siti) Khadijah Radhiya Allahu 'Anha (RA) meninggal dunia. Masih di tahun yang sama Nabi SAW mencoba mencari sponsorship atau khafalah dari Bani Tsaqif atau Ats-Tsaqafi di Thaif karena Abu Lahab sebagai kepada suku Bani Hasyim menolak memberi proteksi sebagaimana Abu Thalib membela Nabi SAW dari kekejaman kaum musyrikin Quraisy.

Thaif terletak di sebelah Tenggara dari dan berjarak sekitar 80 kilometer dari Tanah Suci Makkah. Di Thaif Nabi SAW masih mempunyai kerabat dari keturunan Mudhar bin Nizaar bin Ma'ad bin Adnan yaitu bani Tsaqif. Disamping itu bani Tsaqif juga mempunyai aliansi atau perserikatan dengan suku Quraisy, bahkan salah seorang dari tetua bani Tsaqif menikah dengan seorang perempuan dari keturunan suku Quraisy. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah dari suku Quraisy keturunan generasi ke-21 dari Adnan memalui Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Catatan pinggir bahwa setelah Abu Thalib dan Khadijah RA wafat kemudian Abu Lahab menggantikan Abu Thalib sebagai pemimpin bani Hasyim. Abu Lahab juga mencabut proteksi yang selama ini diberikan oleh Abu Thalib. Proteksi ini sebenarnya adalah tradisi bangsa Arab yang diberikan kepada setiap orang Quraisy. Dengan dicabutnya proteksi tersebut, maka tidak ada lagi kaum Quraisy yang membela Nabi SAW. Kalau dianalogikan ke zaman sekarang, ketika proteksi atau sponshorship atau khafalah dicabut maka Rasulullah SAW menjadi visitor – tidak mempunyai hak seperti warga negara lagi.

Dalam keadaan seperti itu, tidak ada lagi proteksi dari pemimpin suku Quraisy maka gangguan kaum musyrikin Quraisy kepada Nabi SAW semakin menjadi-jadi dibandingkan dengan sebelum Abu Thalib meniggal. Kaum musyrikin Quraisy sama sekali tidak peduli dengan kesedihan Rasulullah SAW karena Abu Thalib dan Khadijah RA meninggal. Hingga Rasulullah SAW pergi ke Thaif dengan harapan penduduk Thaif mau menerima Beliau. Rasulullah SAW menemui para pemimpin bani Tsaqif yaitu Kinanah atau Abdu Jaffi, Mas'ud atau Abdu Kulal, dan Habib.

Rasulullah SAW menyampaikan kepada mereka maksud kedatangan Beliau agar beriman kepada Allah SWT dan meminta mereka agar mau membantu Islam bersama-sama dengan kaum Muslim menghadapi orang-orang yang menentang Islam. Seorang dari mereka berkata jika Allah telah memilih kamu maka saya harus merobek kain penutup Ka'bah (kiswah). Maksudnya sangat tidak mungkin seseorang menyobek kain kiswah - sama dengan tidak mungkin seseorang seperti Nabi SAW dipilih sebagai Rasul. Orang kedua berkata (na'udzubillah) apakah Allah tidak bisa menemukan orang lebih baik dari Nabi Muhammad SAW? Sedangkan yang ketiga mengatakan dia tidak ingin ngomong jika Nabi SAW betul-betul seorang Rasul Allah, karena dia takut menolak seorang Nabi. Maksudnya, seorang pemimpin seperti dia tidak pantas ngomong kepada seorang (na'udzubillah) pembohong.  

Jadi permintaan Rasulullah SAW mereka tolak dengan kata-kata yang menyakitkan. Sebelum Rasulullah SAW meninggalkan mereka, Beliau berkata kepada mereka agar kedatangan Beliau ini jangan sampai di dengar kaum  musyrikin Quraisy. Menurut Ibnu Ishaq, Nabi SAW masih berada di kota Tha'if untuk beberapa hari untuk berdakwah kepada penduduk Tha'if. Melihat antusias penduduk Tha'if, maka pemimpin bani Tsaqif menyuruh orang-orang mereka mengusir dan melempar Nabi SAW dengan batu. Zaid bin Haritsah RA berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Nabi SAW. Namun Nabi terluka parah dan darah mengucur dari luka-luka Beliau begitu juga dengan dengan Zaid RA.

Tragedi atau kisah sedih di Thaif ini dikemudian hari diceritakan oleh Nabi SAW seperti terdapat di dalam hadits shahih Bukhari No. 2992 dan shahih Muslim No. 3352. Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, "Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?" Beliau SAW menjawab, "Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa Al-'Aqabah, saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu 'Abdi Yalil bin 'Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa'aalib (Qarnu al-Manazil)".

Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, "Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu". Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, "Wahai Muhammad SAW". Maka dia berkata, "Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini". Maka Nabi SAW bersabda, "Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun".

Nabi SAW dalam keadaan terluka kemudian menyelamatkan diri dari kejaran bani Tsaqif dengan masuk ke kebun milik 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah. Setelah mengetahui bahwa bani Tsaqif sudah tidak mengejar lagi, Beliau SAW berteduh dan beristirahat di bawah naungan kebun anggur. Setelah duduk beberapa saat dan merasa tenang, Nabi SAW memanjatkan doa yang sangat menyentuh, yang menggambarkan perasaan atau duka lara hati Nabi SAW, karena kerasnya siksaan yang Beliau terima, juga didorong oleh rasa kegagalan dalam berdakwah mengajak penduduk Thaif beriman kepada Allah.

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Mahapenyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah Pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Apakah kepada orang yang jauh di sana yang akan menjumpaiku dengan wajah geram penuh kebencian atau kepada musuh, Engkau menyerahkan urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tidak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu."

Sementara itu, pemilik kebun datang dan mereka merasa kasihan kepada Nabi SAW. Mereka menyuruh pembantu mereka Addas, yaitu seorang budak beragama Kristen untuk menyuguhi Nabi SAW beberapa buah anggur. Ketika Nabi SAW membaca "Bismi Allahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim (بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ), dengan nama Allah, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Addas berkata kepada Nabi SAW, "Penduduk negeri ini tidak membaca do'a ini." Nabi SAW bertanya, "Dari mana Anda berasal dan apa agamamu?" Addas berkata, "Saya seorang Kristen dan saya datang dari kota yang disebut Nainwa (sebuah negeri di Iraq tempat Nabi Yunus AS berasal)."

Nabi SAW berkata, "Kamu berasal dari kota Yunus bin Mata (yaitu nama Nabi Yunus AS)." Addas berkata, "Bagaimana Anda tahu Yunus bin Mata?" Nabi SAW berkata, "Dia adalah saudara saya. Saya seorang Nabi dan Yunus juga seorang Nabi." Mendengar ini, Addas lansung mencium tangan Nabi SAW dan masuk Islam. Ketika Addas kembali kepada tuannya mereka bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?" Addas berkata, "Dia mengatakan kepada saya sesuatu yang hanya seorang Nabi yang mengetahui."

Begitulah sambutan penduduk Thaif. Penolakan mereka saat itu sangat mempengaruhi jiwa Nabi Muhammad SAW, sehingga Beliau bersedih. Namun kesedihan ini tidak berlangsung lama. Karena sebelum Beliau SAW kembali ke Makkah, saat melakukan perjalanan pulang dari Thaif, Rasulullah SAW mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla. Pertolongan ini sangat berpengaruh positif pada jiwa Beliau SAW, mengurangi kekecewaan karena penolakan penduduk Thaif, sehingga semakin menguatkan tekad dan semangat Beliau SAW dalam mendakwahkan agama Allah.

Pertolongan pertama datang saat Nabi SAW berada di Qarnuts-Tsa'âlib atau Qarnul-Manazil. Allah Azza wa Jalla mengutus Malaikat Jibril AS bersama malaikat penjaga gunung yang siap melaksanakan perintah Rasulullah SAW atas perlakuan buruk penduduk Thaif. Namun tawaran ini tidak digunakan Rasulullah SAW, Beliau SAW tidak berkeinginan melampiaskan kekecewaaan atas penolakan penduduk Thaif. Justru sebaliknya, Nabi SAW mengharapkan agar dari penduduk Thaif ini terlahir generasi bertauhid yang akan menyebarkan Islam. Seperti HR Bukhari No. 2992 dan Muslim No. 3352 yang sudah disebutkan di atas.

Kemudian pertolongan dan dukungan yang kedua, yaitu saat Nabi SAW berada di lembah Nakhlah, dekat Makkah. Nabi SAW tinggal disana selama beberapa hari. Pada saat itulah Allah Azza wa Jalla mengutus sekelompok jin kepada Nabi SAW. Mereka mendengarkan al-Qur'an dan kemudian mengimaninya. Peristiwa itu disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam dua surat, yaitu Al-Ahqaf dan Al-Jin.

Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 29-31. Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (QS 46:29-31)


Kedua peristiwa di atas meningkatkan optimisme Nabi SAW SAW, sehingga bangkit berdakwah dengan penuh semangat tanpa peduli dengan berbagai penentangan yang akan dihadapinya. Meskipun bani Tsaqif yang dekat menolak ajakan Nabi SAW untuk beriman kepada Allah, namum seseorang yang berasal dari Nainwa yang jauh di Utara Iraq mengimani Nabi SAW. Meskipun bangsa manusia dari bani Tsaqif menolak Nabi SAW, Allah Azza wa-Jalla mengirim bangsa jin untuk beriman kepada Nabi SAW.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.