Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini akan kita bahas dan sharing tentang mayoritas, jama'ah atau ummat Islam. Sebagaimana sudah sering kita sebutkan bahwa ummat Nabi Muhammad SAW adalah ummat yang satu yaitu ummatan wahidah, atau ummatan wasathan yaitu ummat yang berkumpul di tengah atau dominan, atau ummat Islam adalah jama'ah atau mayoritas penghuni surga (al-Jannah) kelak di yaumul akhirat. Baik kata ummat atau ummah maupun kata jama'ah dalam persfektif Islam adalah mengacu kepada atau berarti ummat Nabi Muhammad SAW, ummat Islam (Muslim) yang satu (wahidah), yang dominan (wasathan) dan/atau mayoritas (sawad a'zham).
Marilah kita lihat definisi dari masing-masing kata tersebut, ummat, jama'ah dan mayoritas (sawad a'zham). Kata umat atau ummat merupakan alih bahasa dari kosakata bahasa Arab yaitu dari kata ummah (أُمَّةْ) yang berarti masyarakat atau bangsa. Kata ummah (أمّة) adalah kata benda (isim) yang berasal dari kata kerja amma (أمّ) yang berarti menuju, menumpu atau meneladani. Kata amma (أمّ) juga melahirkan atau merupakan akar kata dari kata umm (أُمْ) = ibu atau induk, dan kata imaaman (أمامًا) = imam atau pemimpin. Sedangkan dari perspektif Islam, para ulama mendefinisikan kata ummah atau ummat sebagai seluruh pengikut agama Islam atau komunitas dari orang-orang yang beriman (ummatul mu'minin) atau ummat Islam (ummatan muslimatan). Dengan demikian, kata ummah atau ummat bermakna seluruh Bangsa atau Dunia Islam – ummatan wahidah (satu ummat).
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 128, Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS mendo'akan agar ummat keturunan Ibrahim AS dari Ismail AS yaitu Ummat Nabi Muhammad SAW menjadi ummatan muslimatan yang hanya menyembah dan patuh kepada Allah Azza wa Jalla. "Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh (ummatan muslimatan) kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" (QS 2:128).
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT menyebutkan bahwa ummat Nabi Muhammad SAW adalah ummatan wahidah atau ummat yang satu. Jadi ungkapan kesatuan umat (ummatan wahidah) dalam Al-Qur'an merujuk kepada seluruh kesatuan Bangsa atau Dunia Islam. Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya, "Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua (ummatan); agama yang satu (wahidah) dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (QS 21:92).
Pada tahun 622M atau tahun pertama Hijrah, Nabi Muhammad SAW sebelum perintah untuk memerangi kaum musyrikin Makkah atau sebelum perang Badar, membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan musyrikin yang menetap di Madinah untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh dari luar. Perjanjian ini kemudian dikenal dengan Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah. Di dalam Piagam Madinah ini Nabi SAW menyebut pengikut Beliau sebagai satu ummah (ummatan wahidah). "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka satu umat (ummatan wahidah = أمة واحدة), lain dari (komuitas) manusia lain …"
Firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-Baqarah awal ayat 143, "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (ummatan wasathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …" (QS 2:143). Kata wasathan (وسطا) asalnya dari kata wasatha (وسط) yang berarti menjadi atau berada di tengah, di puncak, di jantung (pusat). Maksud kata wasathan bukan cuman sekedar di tengah tetapi lebih kepada dominan atau puncak. Kata wasathan mengandung ma'na berusaha untuk menjadi terbaik, ada ikhtiar sungguh-sungguh dengan perencanaan yang matang dan untuk mencapai posisi wasathan (di tengah, terbaik dan dominan) tersebut.
Kata jama'ah juga merupakan alih bahasa Arab dari kosa kata bahasa Arab yaitu kata jamaa'ah (جماعة). Menurut bahasa, kata jama'ah atau jamaa'ah memiliki tiga arti, yaitu ijtama'a (أجتمع) = menyatukan atau mengumpulkan, jama'a (جمع) = berkumpul atau bekerja bersama-sama, ajma'a (أجمع) mufakat atau kebulatan suara. Dimana ketiga kata tersebut; Ijtama'a (أجتمع), jama'a (جمع) dan ajma'a (أجمع) berasal dari akar kata yang sama yaitu jim (ج) mim (م) dan (ع). Jadi secara bahasa, kata jama'ah berarti menyatukan, bermufakat dan/atau berkumpul.
Secara terminologi, para ulama berbeda pendapat mengartikan kata jama'ah atau kata jama'ah memiliki penggunaan yang berbeda-beda. Kata Jama'ah memiliki penggunaan yang berbeda-beda dalam syari'at Islam. Sebagian penggunaannya adalah untuk menunjukkan makna sahabat, ahli ilmu pengetahuan, ahli surga dan ummat Islam di bawah kepemimpinan khalifah. Tetapi secara umum mayoritas ulama sepakat bahwa makna jama'ah adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA.
Pada pembahasan sebelumnya sudah kita sebutkan di dalam hadits riwayat sunan Abu Daud No. 3980, sunan Tirmidzi No. 2564 dan lain-lain bahwa Rasullullah SAW mengatakan bahwa Ummatku terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan (millah atau fiqah) dan hanya satu yang selamat atau yang masuk surga (Al-Jannah) yaitu Al-Jamaa'ah. Kemudian di dalam hadits sunan Tirmidzhi No. 2091, musnad Ahmad No. 109 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW menyebutkan Al-Jamaa'ah adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya.
Sebagaimana sudah kita bahas sebelumnya, Nabi Muhammad SAW menyampaikan berita gembira kepada sekitar lima-pulahan sahabat yang hadir bersama Beliau saat itu di Madinah. Sementara jumlah Islam di seluruh Jazirah Arab atau dunia pada saat itu baru sekitar 1500-an sahabat. Bandingkan dengan jumlah penganut agama Yahudi yang ratusan ribu orang di Jazirah Arab atau jutaan orang diseluruh dunia begitu juga dengan penganut agama Nasrani jauh lebih banyak lagi. Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan berita gembira kepada para sahabat RA bahwa ummat Islam merupakan mayoritas penduduk surga (Al-Jannah) di yaumil akhir nanti.
Dalam hadits riwayat shahih Bukhari No. 6047, shahih Muslim No. 324, dan lain-lain Rasulullah SAW berkata, "Maukah kalian (ummat Nabi Muhammad SAW) menjadi 1/4 dari penduduk Surga?" Mereka menjawab "Allahu Akbar!" Kemudian beliau berkata "Maukah kalian menjadi 1/3 dari penduduk Surga?" Mereka menjawab "Allahu Akbar!" Nabi SAW kemudian berkata "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNYA, sesungguhnya aku mengharapkan agar kalian menjadi 1/2 dari penghuni Surga." Di hadits riwayat sunan Tirmidzi No. 2469, musnad Ahmad No. 21862, dan lain-lain bahwa Nabi SAW menyebutkan bahwa pada hari kiamat jumlah kalian (ummat Nabi Muhammad SAW) adalah sebanyak 2/3 bagian (80 baris per 120 baris) penduduk Surga.
Jadi kalau kita lihat makna dari kata ummat dan jama'ah dari seluruh ayat dan hadits tersebut di atas menunjukan kepada kita bahwa kata ummat dan jama'ah mempunyai makna mayoritas (jumlah terbanyak) - yaitu jumlah terbanyak relatif terhadap jumlah keseluruhan/semua. Ummat Nabi Muhammad SAW, yaitu ummat Islam (ummatan muslimatan) adalah ummatan wahidah (satu ummat), ummatan wasathan (yang dominan). Ummat Nabi Muhammad SAW juga disebut Al-Jama'ah yaitu penghuni terbanyak (mayoritas) di surga (ahlul jannah) dan jama'ah yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA, dimana Rasulullah SAW dan para sahabatku berpegang teguh padanya.
Rasululullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT tidak menghimpun umat ini diatas kesesatan selamanya. Dan tangan Allah bersama Al-Jama'ah. Maka hendaklah kalian bersama As-Sawad Al-A'zham (kelompok muslimin terbanyak) dan barangsiapa yang menyimpang, maka ia menyimpang ke neraka" (HR sunan Tirmidzi No. 2093). Di dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di sawadul a'zham (kelompok yang terbanyak; maksudnya yang sesuai dengan sunnah)" (HR sunan Ibnu Majah No. 3940).
Ibnu Umar RA berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan selamanya. Pertolo-ngan Allah selalu atas golongan terbanyak. Ikutilah golongan terbesar, karena orang yang mengucilkan diri (dari golongan terbanyak), berarti mengucilkan dirinya ke neraka." Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Mustadrak (1/115); Abu Nu'aim, Hilyah al-Auliya' (3/37); dan al-Thabarani, al-Mu'jam al-Kabir, (12/447).
Sebelum kita tutup, marilah kita perhatikan satu hadits lagi yang diriwayatkan oleh musnad Ahmad No. 17722 bahwa Rasulullah SAW berkata, "Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. Dan barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusisa, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur. Hidup berja'amah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab."
Dan Firman Allah SWT dalam surat Ali-Imran ayat 103, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan pembahasan lain. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.