Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini akan kita bahas dan sharing tentang "Bil-waalidaini ihsaanan" yaitu perintah berbuat baik, mematuhi dan/atau menghormati kepada kedua orang Ibu-bapak. Di dalam Al-Qur'an ketika Allah SWT mengingatkan atau memerintahkan ummat Manusia untuk mematuhi-Nya dan memuja-Nya atau melarang menyekutui-Nya, biasanya diikuti dengan petunjuk untuk mematuhi, menghormati atau berbuat baik kepada kedua orang Ibu-Bapak. Dan perintah berbuat baik, mematuhi dan/atau menhormati kepada kedua orang Ibu-Bapak itu kepada seluruh ummat Manusia, kepada ummat para Nabi – bukan kepada ummat Nabi Muhammad SAW saja.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 83 Allah SWT berfirman "Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling" (QS 2:83).
Sebelumnya marilah kita lihat dulu istilah atau kata yang dipakai di dalam Al-Qur'an untuk menyebut kedua orang tua atau Ibu-Bapak, yaitu kata waalidaana (وَالِدَانَ). Kata waalidaana (والدان) ini berasal merupakan jamak dari kata waalid (وَالِد) yang berarti Bapak dan waalidah (وَالِدَة) yang berarti Ibu. Sementara kata waalid (والد) dan waalidah (والدة) ini berasal dari akar kata yang sama yaitu walada (وَلَدَ) yang berarti memberi kelahiran - to give birth (to). Sedangkan anak dalam bahasa Arab disebut walad (وَلَد) dan jamaknya aulaad (أولاد) yang berasal dari akar kata yang sama dengan waaladaana (والدان) yaitu walada (ولد). Jadi kata waalidaana (والدان) bisa berarti kedua orang tua atau Ibu-Bapak - parents.
Perintah Allah SWT untuk menyembahnya atau tidak menyekutukan Allah Azza wa Jalla adalah kewajiban setiap ummat Manusia. Dan Allah Azza wa Jalla menggandengkan perintah tersebut dengan berbuat baik, mematuhi dan/atau menghormati kedua orang tua Ibu-Bapak juga kewajiban setiap ummat Manusia – bukan perintah kepada ummat Islam atau orang beriman saja.
Di dalam surat An Nisa ayat 36 Allah SWT berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS 4:36).
Berbuat baik, mematuahi dan/atau berbakti kepada kedua orang tua Ibu-Bapak juga merupakan amalan shalih(ah) atau paling utama yang paling dicintai oleh Azza wa Jalla. Suatu ketika sahabat Abdullah bin Mas'ud RA bertanya kepada Nabi SAW yang terdapat dalam hadits shahih Bukhari No. 496, shahih Muslim No. 122 dan lain-lain. Abdullah bin Mas'ud RA bertanya "Wahai Rasulullah SAW, amalan apakah yang paling dicintai Allah?" Rasulullah SAW menjawab "Shalat pada waktunya". Abdullah bin Mas'ud RA bertanya lagi "Kemudian apa lagi?" Rasulullah SAW menjawab "Berbakti kepada kedua orang tua". Abdullah bin Mas'ud bertanya lagi "Kemudian apa lagi?" Rasulullah SAW menjawab "Jihad di jalan Allah".
Di dalam hadits lain jelas sekali bahwa berbakti, mematuhi, menghormati dan/atau berbuat baik kepada kedua orang tua Ibu-Bapak lebih tinggi derajatnya dari atau disamakan derajatnya dengan atau dapat menggugurkan perintah jihad di jalan Allah jika kedua orang tua masih hidup. Di dalam hadits shahih Bukhari No. 2782, shahih Muslim No. 4623 dan lain-lain disebutkan bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW minta izin hendak ikut berjihad (berperang). Lalu Nabi SAW bertanya kepadanya "Apakah kedua orang tuamu masih ada?" Laki-laki tersebut menjawab "Masih!" Rasulullah SAW berkata "Berbakti kepada keduanya adalah jihad".
Bahkan ketika kedua orang tua sudah meninggalpun Nabi SAW masih menyuruh kita untuk berbakti kepada kedua almarhum orang tua dengan cara menjaga silaturahmi dengan atau menghormati saudara dan/atau sahabat atau kerabat dekat kedua orang tua. Dalam hadits riwayat shahih Muslim No, 4631, sunan Abu Daud No. 4477 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW berkata "Di antara bakti seseorang yang paling baik kepada orang tuanya adalah menyambung tali silaturahmi (keluarga karib) orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia."
Tetapi sebaliknya durhaka kepada kedua orang tua adalah merupakan dosa-dosa besar, sama dengan dosa syirik (menyekutukan) Allah Azza wa Jalla dan membunuh. Rasulullah SAW bersabda "Dosa-dosa besar itu adalah menyekutukan Allah Azza wa Jalla, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh dan sumpah palsu" (HR shahih Bukhari No. 2459, shahih Muslim No. 127 dan lain-lain).
Jangankan mendurhakai, mengatakatan "ah" atau "cis" saja apalagi membentak (yang dikategorikan sebagai sifat durhaka) kepada kedua orang tua dilarang oleh Allah Azza wa Jalla seperti Firman Allah dalam surat Al-Isra' akhir ayat 23: Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS 17:23).
Meskipun Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan ummat Manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, tapi Allah Azza wa Jalla melarang kita mengikutinya (kedua orang tua) jika mereka menyuruh bahkan dengan paksaan sekalipun untuk menyektukan Allah Azza wa Jalla. Satu-satunya Firman Allah untuk larangan mengikuti paksaan orang tua untuk syirik ini terdapat dalam surat Al-Ankabut ayat 8. "Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS 29:8).
Jadi kita tidak boleh lupa bahwa mematuhi hak-hak Allah SWT adalah wajib, tetapi hak-hak manusia juga harus diperhatikan. Dari semua manusia, hak-hak Ibu-Bapak adalah yang terpenting. Allah SWT telah memerintahkan dan menekankan manusia untuk memperlakukan kedua Ibu-Bapaknya dengan hormat dan mulia. Dari kedua orang tua Ibu-Bapak, Ibu mendapat hak lebih besar daripada Bapak. Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 sebagai berikut.
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (QS 46:15).
Disamping itu Nabi SAW juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh shahih Bukhar No. 5514, shahih Muslim No. 4621 dan lain-lain bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW "Yaa Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling berhak atas atau dengan kebaktianku?" Rasulullah SAW menjawab "Ibumu!" Laki-laki tersebut bertanya lagi "Kemudian siapa?" Rasulullah SAW menjawab "Ibumu!" Laki-laki tersebut bertanya lagi "Kemudian siapa?" Rasulullah SAW menjawab "Ibumu!" Laki-laki tersebut bertanya lagi "Kemudian siapa?" Rasulullah SAW menjawab "Kemudian Bapakmu!"
Sebelum kita tutup, Qurtubi menyebutkan kejadian menarik yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA. Seseorang menghampiri Nabi Muhammad SAW dan mengeluh bahwa Bapaknya telah mengambil alih seluruh hartanya. Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, "Jemputlah Bapakmu kesini." Sementara itu Malaikat Jibril AS menghampiri Nabi Muhammad SAW dan berkata "Bila Bapaknya telah datang, tanyakan kepadanya tentang kata-kata yang diucapkan dalam hatinya bahkan telinganya sendiripun tidak dapat mendengarnya."
Ketika laki-laki muda itu membawa Bapakya, Nabi Muhammad SAW bertanya, 'Kenapa anakmu mengeluh bahwa kamu telah menguasai seluruh hartanya?" Sang Bapak meminta Nabi SAW "Tanyakanlah kepada anakku untuk apakah aku menggunakan uangnya selain untuk membiayai kebutuhan bibinya dan diriku?" Nabi SAW bersabda, "Cukup, semua sudah jelas bagiku." Nabi SAW bertanya kepada sang Bapak, "Kata-kata apakah yang selalu kau ucapkan di dalam hati yang bahkan telingamupun tak dapat mendengarnya?"
Sang Bapak heran mendengar ini dan menjawab "Sesungguhnya ini adalah mukjizat bahwa engkau mengetahui hal ini. Memang saya selalu mengucapkan satu puisi di dalam hati, sehingga bahkan telingakupun tidak dapat mendengarnya." Nabi SAW kemudian memerintahkannya untuk membacakan puisi itu. Bapak ini kemudian membacakan sebuah puisi dalam bahasa Arab yang indah. Terjemahan puisi itu adalah sebagai berikut:
Aku memberimu makan dimasa kecilmu dan mendukungmu bahkan ketika kau telah mencapai usia remaja. Seluruh biaya hidupmu ditanggung oleh punggungku.
Aku sering terbangun semalaman dan sangat gelisah bila kau sedang sakit. Seolah-olah sakitmu adalah sakitku, dan aku menangis sepanjang malam.
Ketakutan atas kematianmu selalu menghantuiku walaupun aku tahu bahwa maut hanya akan terjadi pada saat yang ditentukan dan tidak bisa dihindari sama sekali.
Ketika kau mencapai usia dewasa, sesuatu yang kudambakan, biasanya kau berlaku keras dan mengucapkan kata kasar kepadaku. Engkau bersikap kepadaku seolah-olah kau telah berbaik hati padaku.
Sayang sekali, seandainya kau tidak mau memberikan hakku sebagai Bapakmu, sedikitnya kau bisa memperlakukanku sebagai tetanggamu.
Aku mengharap engkau paling sedikit bisa menunaikan tugasmu kepadaku bagaikan tetanggamu, dan tidak bertindak kikir dalam membelanjakan uangmu untuk keperluanku.
Setelah mendengarkan puisi yang menggetarkan ini Nabi Muhamamd SAW mencengkram leher laki-laki muda tersebut dan bersabda, "Pergi! Dan seluruh hartamu untuk Bapakmu!"
Semoga Allah SWT menumbuhkan hormat kita yang tulus bagi Ibu-Bapak kita di dalam hati kita dan menunjukkan kasih sayangNya kepada mereka seperti Ibu-Bapak kita menunjukkan kasih sayangnya kepada kita ketika kita masih kecil. Ya Allah SWT, kasihanilah kedua Ibu-Bapak kami sebagaimana mereka mengasihani kami sedari kecil. Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan kedua ibu bapak kami dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). Aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan pembahasan lain. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.