Sabtu, 16 Juli 2016

Hadits 73 Golongan Ummat Nabi Muhammad SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini akan kita bahas dan sharing tentang hadits 73 golongan, yaitu dimana Nabi SAW menyebutkan bahwa ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Para ulama hadits menyimpulkan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang memang sah datangnya dari Rasulullah SAW. Dan tidak boleh seorang pun meragukannya, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

Di dalam hadits riwayat sunan Abu Daud No. 3980, sunan Tirmidzi No. 2564 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan." Di dalam hadits riwayat sunan Ibnu Majah No. 3982, musnad Ahmad No. 11763 dan lain-lain bahwa Rasulullah SAW menyebutkan: "Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja." Di dalam hadits yang lain disebutkan "… dan yang selamat hanya satu golongan saja." Ketika para sahabat RA bertanya sipakah golongan (yang selamat atau masuk surga) itu, Rasulullah SAW menjawab: "yaitu Al-Jama'ah." Di dalam hadits yang lain disebutkan: "Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya."

Lebih lanjut para ulama hadits mengatakan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli dibidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ada ummat Islam yang salah dalam memaknai atau memahami hadits-hadits tersebut sehingga timbul perpecahan dan masing-masing mengklaim (mengakui secara sepihak) bahwa golongan merekalah yang benar.

Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya tentang perpecahan ummat, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin. Firman Allah SWT dalam surat Ar-Rum akhir ayat 31 sampai 32. "dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka" (QS 30:31-32).
Sebelumnya kita batasi dulu bahwa perpecahan disini menurut para ulama adalah perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan ushuliyyah (pokok aqidah/tauhid) bukan dalam lingkup ikhtilaf atau berbeda pendapat diantara fuqaha ummat Islam (furu'iyyah atau cabang) atau perbedaan fiqih. Secara definisi pokok aqidah Islam adalah aqidah yang diterima/menerima dan dibenarkan/membenarkan Allah SWT, yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan juga (diikuti) para sahabatnya. Di dalam hadits-hadits di atas disebut sebagai Al-Jama'ah (mayoritas), yang mana Nabi SAW dan para sahabat berada di atasnya. Aqidah Islam ini kemudian juga disebut dengan istilah aqidah ahlul sunnah wal jamaah atau kalau di Indonesia disingkat dengan aswaja.

Kalau kita mau sederhanakan, pada intinya seorang Muslim mengikuti aqidah Islam ahul sunnah wal jama'ah bisa diindikasikan dengan masalah kelurusan dalam konsep berkeyakinan kepada rukun iman yang enam perkara itu. Yaitu, cara pandang kita kepada Allah, para malaikat, kitab suci, para nabi, hari akhir dan konsep qadha dan qadar dari Allah SWT harus benar. Dalam arti bukan sekedar mengakuinya, namun memiliki konsep yang lurus dan benar sebagaimana dahulu Rasulullah SAW mengajarkan dan diimani oleh para sahabat Beliau.

Para ulama menyebutkan bahwa diluar definisi aqidah Islam ahlul sunnah wal jama'ah tersebut di atas, adalah yang disebut golongan atau firqah atau millah dari orang-orang yang mempunyai aqidah menyimpang atau berpecah. Seperti aqidah yang mengakui ada Nabi setelah Muhammad SAW, dimana dalam pandangan aqidah ahlul sunnah wal jamaah, Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, tidak ada Nabi sesudah Beliau. Otomatis juga tidak ada lagi wahyu yang turun dari langit setelah Beliau wafat. Contoh lain dari aqidah yang menyimpang adalah aqidah yang mengajarkan bahwa dalam taraf tertentu, manusia bisa mencapai derajat yang tinggi bahkan bisa langsung berhubungan dengan Tuhan, untuk kemudian menyatu dengan Tuhan. Atau aqidah yang berkeyakinan bahwa Tuhan sendiri turun ke dunia. Naudzu billahi min zalik.

Contoh lain dari aqidah yang menyimpang adalah bila seseorang mengatakan bahwa Malaikat Jibril AS salah menurunkan wahyu, seharusnya kepada imam Ali bin Abi Thalib RA bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Atau mengatakan bahwa mushaf yang benar adalah mushaf lain yang disusun oleh Ali bin Abi Thalib RA. Atau mengatakan bahwa akan ada imam Mahdi yang ma'shum tanpa dosa dan menerima wahyu dari Allah SWT layaknya seorang Nabi. Termasuk contoh aqidah yang sesat adalah yang mengatakan bahwa semua agama sama. Semua umat Islam, Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu akan masuk surga, semua kembali kepada niatnya. Aqidah seperti ini selain sesat juga menyesatkan.

Termasuk contoh aqidah sesat adalah keingkaran kepada keberadaan sunnah atau hadits Rasulullah SAW. Lalu akibatnya, kitab suci Al-Qur'an mereka nodai dengan pemelintiran makna ayat dan penyelewangan takwil atau mengalihkan makna ayat secara sesat. Persis seperti kelakuan para Yahudi di masa lalu yang menyelewengkan ayat-ayat Taurat. Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang bisa kita lihat, yang intinya penyimpangan itu membuat orang-orang yang mengikuti ajaran itu menjadi sesat dan mereka semua hancur, punah dan masuk neraka.

Insyaa Allah, fokus pembahasan hari ini adalah kesalah pahaman ummat Islam terhadap makna hadits 73 golongan tersebut. Para ulama menyebutkan ada beberapa kesalah pahaman dalam memaknai hadits-hadits tersebut di atas. Lima (5) diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    Rasulullah SAW betul mengatakan ummatku akan terbagi menjadi 73 kelompok atau golongan, tapi Nabi SAW tidak pernah menyebutkan siapa-siapa saja yang 72 kelompok selain Al-Jama'ah yang disebutkan. Jadi terjadi kesalahan pahaman bahwa angka 73 tersebut adalah secara kuantitatif; di nomor 1 kelompok A, nomor 2 kelompok B dan seterusnya sampai 73. Pernah ada yang mencoba membuat list kelompok atau golongan yang 72 ini, tetapi belum selesai list dibuat jumlah kelompok yang menyimpang ini terus bertambah, berganti dan hilang timbul silih berganti melebihi angka 73 tersebut sejak zaman Rasulullah SAW (khawarij) sampai sekarang ini (SIS), selama kurun 1400 lebih. Belum kalau dihitung sampai hari kiamat nanti.

Jadi pemahaman yang benar adalah angka 73 ini harus dipahami sebagai angka kualitatif, relatif lebih banyak dari perpecahan golongan Nasrani dan Yahudi. Dalam bahasa Arab, penggunaan angka tujuh, tujuh puluh, tujuh ratus dst adalah menunjukkan ekpresi banyak secara kaulitatif. Di dalam surat At-Taubah ayat 80 Allah SWT berfirman: "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik" (QS 9:80).

Para mufasir menerangkan bahwa tidak berarti kalau Nabi SAW memohon ampun 71 kali, Allah akan mengampunkan mereka? Tidak, meskipun Nabi SAW memperbanyak permohonan ampunan untuk mereka, Allah tidak akan memaafkan mereka. Jadi angka tujuh puluh tiga (73) pada hadits-hadits di atas mempunyai makna yang tersirat sama dengan makna angka tujuh puluh (70) dalam surat At-Taubah ayat 80 ini. Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang mempunyai makna tersirat seperti ini. Contoh lain adalah Firman Allah SWT dalam surat Al-Israa' akhir ayat 72: "Dan barang siapa buta di dunia, maka di akhirat akan lebih buta dan jauh dari jalan kebaikan" (QS 17:72). Ayat ini bukan berarti orang buta secara fisik (tidak dapat melihat karena matanya rusak/buta) tetapi mempunyai makna yang tersirat yaitu buta mata hatinya.

2.    Rasulullah SAW menyebutkan dalam hadits-hadits di atas bahwa ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja atau yang selamat hanya satu golongan saja. Ini bukan berarti yang yang tujuh puluh dua (72) golongan adalah orang-orang kafir atau bukan ummat Nabi SAW atau non-Muslim. Ini bukan antara Muslim dan non-Muslim, tetapi golongan dalam ummat Muslim sendiri. Karena Nabi SAW menyebutkan "ummaku", berarti semuanya (73) baik yang tujuh puluh dua (72) maupun yang satu (1) adalah adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi yang tujuh puluh dua (72) pun adalah kaum Muslim, tetapi mereka sudah melenceng atau tersesat dari aqidah Islam yang lurus - bukan kafir (dan/atau penyembah berhala). Karena kafir (dan/atau penyembah berhala) adalah orang-orang yang menolak aqidah Islam, berarti menolak Allah dan menolak Nabi Muhammad SAW, jadi kafir (dan/atau penyembah berhala) bukan ummat Nabi Muhammad SAW. Dan mereka (72 golongan tersebut) juga bukan Yahudi atau Nasrani, karena Beliau SAW juga menyebutkan perpecahan kaum Yahudi dan perpecahan kaum Nasrani secara terpisah di dalam hadits tersebut.

Jadi 72 golongan yang berpecah atau tersesat tersebut adalah ummat Nabi Muhammad SAW atau kaum Muslim juga. Dalam hal bermu'amalah, sebagai kaum Muslim kita wajib memperlakukan dan mereka berhak mendapat perlakukan sebagai saudara seiman, seperti menjawab salam, menyalatkan jenanzah mereka, amal ma'ruf nahi mungkar (saling menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran), dan lain-lain. Tetapi dalam hal keyakinan kita (ummat Islam yang satu atau ahlul sunnah wa jama'ah) berlepas tangan dari 72 golongan tersebut.

Di dalam siirah Rasulullah SAW sudah pernah kita bahas bagaimana Rasulullah SAW membiarkan Dzul Khuwaishirah at Tamimi al Najdi (cikal bakal khawarij) berlalu (pergi) setelah mencela Rasulullah SAW agar berlaku adil, bahkan Nabi SAW mencegah Umar RA membunuhnya saat itu. Tetapi jika orang-orang khawarij atau 72 golongan yang telah melenceng ini jika menggagu ummat Muhammad SAW yang mayoritas (Al-Jama'ah), maka Nabi SAW menyebut "Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum 'Ad" (HR sahih Bukhari No. 3341, shahih Muslim No. 1765 dan lain-lain). Begitu pulalah yang dilakukan para Sahabat RA sepeninggalan Nabi SAW, seperti kutipan Ali RA berikut: "Kalian (khawarij) memiliki 3 hak di hadapan kami, [1] kami tidak melarang kalian untuk shalat di masjid ini, [2] kami tidak menghalangi kalian untuk mengambil harta rampasan perang, selama kalian ikut berjihad bersama kami, [3] kami tidak akan memerangi kalian, hingga kalian memerangi kami."

3.    Menganggap ummat Nabi SAW yang masuk neraka atau yang sesat adalah mayoritas dan yang masuk surga atau yang lurus adalah minirotas. Karena dalam anggapan sebagian orang bahwa 72 dibagi 73 jauh lebih besar dari 1 dibagi 73. Atau dalam perpesfektif relatif jumlah golongan ummat Nabi Muhammad SAW, katakan X-golongan, maka 1 dibagi X-golongan jauh lebih kecil dibandingan dengan (X-1) golongan dibagi dengan X-golongan. Bahkan pemahaman golongan yang lurus yang minoritas dipakai atau digunakan kelompok-kelompok untuk menyebut atau mengklaim diri golongan merekalah yang benar sesuai hadits-hadits tersebut di atas.

Ini merupakan kesalah pahaman yang jauh lebih fatal dibandingkan dua kesalah pahaman sebelumnya. Karena di dalam Al-Qur'an dan Hadits, menyebutkan sebaliknya. Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 175: "Orang-orang yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad serta berpegang teguh pada agamanya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga di akhirat kelak, dan akan memberi mereka rahmat serta karunia yang luas. Sedang di dunia, mereka akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus" (QS 4:175). Bagaimana mungkin Rahmat Allah serta karunia yang sangat luas hanya menghasil segelintir (minoritas) orang mukmin saja, ummat Nabi Muahammad SAW di jalan yang lurus dan yang kelak masuk surga ini? Yang benar adalah Ummat Nabi Muhammad yang lurus yang masuk surga ini pasti mayoritas – bukan minoritas.

Begitu juga di dalam beberapa hadits yang sudah kita bahas sebelumnya dalam siirah Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam hadits bahwa Allah menunjukkan (Nabi SAW) semua ummat dan beliau melihat sekumpulan manusia yang sangat banyak sejauh mata memandang. Nabi SAW bertanya "mungkin ini adalah ummatku?" Beliau diberitahu bahwa itu bukan ummat Nabi SAW tetapi ummat Musa AS. Kemudian beliau melihat sekumpulan manusia yang lebih besar dari itu, yang memenuhi cakrawala. Nabi SAW diberitahu bahwa inilah Ummat beliau. Dalam hadits lain dikatakan kepada para sahabat "Maukah kalian (ummat Nabi Muhammad SAW) menjadi 1/4 dari penduduk Surga?" Mereka menjawab "Allahu Akbar!" Kemudian beliau berkata "Maukah kalian menjadi 1/3 dari penduduk Surga?" Mereka menjawab "Allahu Akbar!" Nabi SAW kemudian berkata "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNYA, sesungguhnya aku mengharapkan agar kalian menjadi 1/2 dari penghuni Surga" (HR sahih Bukhari No. 3099, shahih Muslim No. 327 dan lain-lain). Di hadits lainnya Nabi SAW menyebutkan bahwa pada hari kiamat jumlah kalian (ummat Nabi Muhammad SAW) adalah sebanyak 2/3 bagian (80 baris per 120 baris) penduduk Surga (HR musnad Ahmad 21862).

Padahal saat Nabi Muhammad SAW berbicara tentang hal ini, dimana saat itu hanya baru ada 1 (satu) kota Madinah yang dihuni oleh Ummat Nabi Muhammad SAW yang lurus. Nabi Muhammad SAW menyampaikan berita gembira (dari Allah SWT) ini dihadapan puluhan sahabat RA dari sekitar 1500 Muslim yang ada saat itu di seluruh jazirah Arab (Madinah dan Makkah). Bandingkan dengan sekitar 2-3 jutaan orang Kristen (penganut Trinitas) dan 100 ribuan orang Yahudi (di semenanjung Arabia) ketika itu. Apakah kita mendustakan perkataan Nabi Muhammad SAW tersebut dengan mengatakan bahwa golongan yang lurus, ahlul sunnah wal jama'ah adalah minoritas? Naudzu billahi min zalik.

Bagaimana mungkin Ummat Islam akan menjadi mayoritas penduduk surga kalau bukan berasal dari ummat Islam yang juga mayoritas di dunia? Tidak mungkin ummat Muslim yang minoritas yang hanya sedikit di dunia akan menjadi mayoritas di surga nanti. Tidak mungkin golongan yang lurus atau ahlul sunnah wa jama'ah atau Al-Jama'ah pada hadits-hadits Nabi SAW tersebut di atas diartikan sebagai minoritas. Tetapi sebaliknya bahwa golongan yang lurus atau ahlul sunnah wa jama'ah atau Al-Jama'ah pada hadits-hadits Nabi SAW tersebut di atas harus diartikan sebagai Mayoritas.

Jadi pemahaman yang benar adalah bahwa jumlah pengikut dari 72 golongan atau X-golongan yang berpecah atau melenceng tersebut hanya segelintir orang saja, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 1 golongan pengikut Nabi Muhammad SAW yang lurus atau ahlul sunnah wa jama'ah atau Al-Jama'ah yang disebutkan pada hadits-hadits Nabi SAW tersebut di atas.

4.    Kesalah pahaman yang berikutnya adalah bahwa semua pengikut golongan yang tujuh puluh dua (72) yang berpecah atau menyimpang tersebut pasti masuk neraka sementara semua pengikut golongan yang satu (1) yang lurus ahlul sunah wa jama'ah pasti masuk surga. Meskipun frasa atau kalimat terakhir dari hadits-hadist tentang 73 golongan ummat Nabi Muhammad SAW menyebutkan begitu dan meskipun ada sebagian ulama yang masih meragukan kesahihan frasa terakhir ini. Tetapi makna dari kalimat "semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja" harus dilihat berdasarkan amal ibadah per orang atau individu bukan sebagai golongan atau kelompok. Maksudnya seseorang dari golongan yang lurus bisa saja masuk neraka karena amal perbuatannya yang lain dan seseorang dari 72-golongan bisa saja masuk surga karena amal perbuatannya yang lain. Sesungguhnya Rahmat Allah SWT mendahului murkaNya.

Firman Allah SWT berikut menunjukan bahwa seseorang dihisab berdasarkan amalannya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula (QS 99:7-8). Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan (QS 28:84).

Firman Allah SWT berikut menerangkan gugurnya pahala sedeqah, surat Al-Baqarah awal ayat 264: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS 2:264).

Hadits berikut menjelaskan bahwa Rahmat Allah mendahului atau mengalahkan murkaNya. Nabi Muhammad SAW berkata, "Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas 'Arsy, "Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku" (HR sahih Bukhari No. 2955, shahih Muslim No. 4939 dan lain-lain).

Jadi janganlah kita memvonis seseorang tidak berdasarkan ilmu atau berdasarkan pengetahuan yang sangat sedikit karena Allah maha mengetahui, apa lagi apa-apa yang tidak diketahui makhlukNya. Firman Allah SWT berikut menggambarkan betapa luasnya Rahmat Allah, Allah Azza wa Jalla mengampuni pada hamba-Nya yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah, selama hamba tersebut mau bertaubat. Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 53: "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS 39:53).

5.    Kesalah pahaman yang terakhir adalah bahwa melegalkan perpecahan karena hadits ini menyebutkan ummat Nabi Muhammad akan berpecah menjadi 73 golongan. Atau sedikit-sedikit menganggap orang berbeda pemahaman dengan yang dia pahami adalah bukan dari golongan ahlul sunnah wal jama'ah. Di awal sudah kita sebutkankan bahwa perpecahan terjadi karena perbedaan ushuliyyah atau pokok aqidah bukan pada furu'iyyah atau cabang-cabang aqidah. Sementara berbeda pendapat atau ikhtilaf diantara fuqaha seperti berbedanya pemahaman imam mazhab adalah perbedaan furu'iyyah - tidak mencapai perbedaan ushuliyyah yang menyebabkan perpecahan dari Al-Jama'ah.

Terutama buat kita sebagai ummat Islam (awam) yang tidak memunyai autorisasi untuk mengeluarkan fatwa atau melakukan ijtihad, perbedaan golongan tidak ada artinya selagi kita mengikuti salah satu mazhab, atau berusaha mengikuti aqidah Islam Al-Jama'ah (mayoritas) atau ahlul sunnah wal jama'ah atau minimal kita sama-sama berusaha mengamalkan aqidah Islam sesuai dengan rukun Iman yang enam. Karena beriman kepada Allah Azza wa Jalla, bukan dengan menjadi pengikut dari salah satu firqah, millah, majlis, golongan, organisasi atau kelompok-kelompok pengajian tertentu.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 177: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS 2:177)

Jadi hadits 73 golongan ini sebenarnya mengajak semua ummat Nabi Muhammad SAW untuk bersatu menjadi Al-Jama'ah bergabung dengan mayoritas ummat bukan sebaliknya. Secara terminologi, ummat mempunyai makna jama'ah dan jama'ah mempunyai makna berkumpulnya orang banyak atau mayoritas. Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS 3:103).

Sebelum kita tutup, ingatlah perintah Allah dalam surat Al-An'am ayat 153 bahwa golongan yang selamat hanya satu dan jalan yang selamat menuju Allah juga hanya satu: "dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa" (QS 6:153).

Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yaitu jalan ahlul sunnah wal jama'ah atau jalan mayoritas ummat Islam. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Shahabatnya. Semoga Allah SWT melunakkan hati saudara-saudara kita dan bisa menerima kekurangan sesama saudaranya. Aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan pembahasan lain. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.