Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabbi al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah dengan episode bersyahadatnya Umar RA. Nama lengkapnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail dan julukannya adalah Al-Faruq. Sedangkan ibunya adalah Hantamah binti Hisyam bin Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam. Menurut para ahli sejarah bahwa Umar RA masuk Islam ketika berumur 27 tahun dan bersyahadatnya Umar RA merupakan peristiwa yang menarik. Bahkan diantara Sahabat RA ada yang berkata bahwa setelah Umar RA bersyahadat, ummat Islam selalu merasa optimis dalam setiap pertempuran atau merasa percaya diri.
Kisah Islamnya Umar RA merupakan kombinasi dari banyak cerita yang menarik, diantaranta adalah sebagai berikut:
Seorang Muslimah atau sahabiyah, Laila RA, sedang mempersiapkan barang-barang di rumahnya untuk hijrah ke Habshah atau Ethiopia sekarang. Umar melewati rumahnya dan bertanya "untuk apa semua ini atau mau kemana kamu?, kurang lebih seperti itu. Laila RA menjawab bahwa kami mau pergi karena kamu (kaum musyrikin Quraisy) telah menyiksa kami. Kalian telah membuat hidup kami menjadi sengsara. Mendengar curhat seperti ini, Umar merasa kasihan dan berkata, "Apakah seburuk itu (akibat perlakukan kami kaum musyrikin Quraisy)? Saya berdoa agar Allah memberkati Anda ke manapun Anda pergi." Kemudian Laila RA menjelaskan hal ini kepada suaminya dan berkata, "Saya melihat rasa simpati terpancar dari mata Umar, mudah-mudahan dia dapat Hidayah." Suaminya berkata, "Umar tidak bakal memeluk Islam sebelum keledai kepunyaan ayahnya masuk Islam." Dengan kata lain, tidak mungkin bahwa Umar akan memeluk Islam.
Kisah berikut terjadi di masjid Haram atau Ka'bah atau Baitullah, dimana Umar keluar rumah untuk mencari teman tetapi dia tidak menemui siapapun malam itu sehingga sampai ke Ka'bah. Pada malam itu sesampainya di Haram (Ka'bah), Umar mendengar atau mendapati Nabi SAW sedang membaca Surah Al-Haqqah (69). Umar bersembunyi di balik sudut Ka'bah dan secara bertahap pindah sehingga berada bersebrangan dengan Nabi SAW. Umar sangat terkesan dengan bacaan Al-Qur'an yang dibaca Nabi SAW. Umar berkata berkata pada dirinya sendiri, "ini memang kata-kata penyair." Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:41 yang artinya "dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya."
Kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri, "kalau begitu ini adalah kata dari dukun (atau tukang tenung)."
Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:42 yang artinya "Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya."
Lantas Umar berkata kepada dirinya sendiri, "Lalu perkataan siapa ini?"
Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:43 yang artinya "Ia (Al-Qur'an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam."
Kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri, "Dia (Muhamad SAW) mungkin telah menciptakan atau membuatnya."
Nabi SAW membaca surat Al-Haqqah 69:44-46 yang artinya "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
Para ulama mengatakan bahwa kisah diatas seolah-olah Allah berbicara dengan Umar secara tidak langsung melalui Nabi Muhammad SAW. Sementara Nabi SAW tidak menyadari bahwa sedang terjadi dialog ghaib antara Allah Azza wa Jalla dengan Umar. Dikemudian hari ketika ada orang yang bertanya kepadanya, Umar mengatakan, "Setelah mendengarkan pembacaan Al-Qur'an saat itu (surat Al-Haqqah), untuk pertama kalinya Islam mulai masuk kedalam hati sanubari saya. Namun karena pengaruh penolakan kaum musyirikin Quraisy terhadap Islam, membuat pikiran saya untuk menentang Islam bahkan menjadi lebih kuat lagi.
Meskipun kedua kisah tersebut di atas, menunjukan sisi baik atau positif dari Umar bin Khattab, tapi belum membuat Umar tergugah untuk bersyahadat. Secara logika, kedua kisah tersebut di atas tentu terjadi sebelum Umar bin Khattab bersyahadat. Seperti biasa dan seperti kejadian-kejadian penting lainnya, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan kisah berikut atau bersyahadatnya Umar bin Khattab RA terjadi. Yang jelas kisah bersyahadatnya Umar berikut terjadi setelah Hamzah RA bersyahadat. Kisah yang membawa Umar RA bersyahadat dihadapan Nabi SAW.
Suatu hari Umar bin Khattab keluar dari rumahnya dengan pedang telanjang di tangannya untuk – na'udzuu billahi (نعزو بالله) - membunuh Nabi SAW. Di tengah jalan Umar berpapasan dengan seorang sahabat, yaitu Na'im bin Abdullah RA yang menyembunyikan ke-Islam-annya. Na'im RA bertanya, "Hendak menuju kemana kamu, wahai Umar?" Umar bin Khattab berkata, "Hendak – na'udzubillah (نعزو بالله) membunuh Nabi SAW." Na'im RA kaget dan kwatir, dia berusaha mengalihkan perhatian Umar dengan mengatakan, "Wahai Umar, kau urus dulu keluarga sendiri, adik dan kakak iparmu telah memeluk Islam." Mendengar hal ini, Umar sangat marah dan lansung bergegas pergi ke rumah adiknya Fatimah binti Khattab RA.
Begitu sampai di depan rumah Fatimah binti Khattab RA, Umar sayup-sayup mendengar suara orang sedang membaca Al-Qur'an. Umar mengetuk pintu dan kemudian bergegas masuk. Umar bertanya kepada adiknya dan iparnya, "Apa yang sedang kalian baca?" Mereka mencoba mengelak dan mengabaikan pertanyaan Umar. Umar mendesak dan berkata, "Saya diberitahu bahwa kalian berdua telah menerima Islam." Setelah mengatakan ini Umar hendak mencoba memukul adik iparnya, yaitu Sa'id bin Zaid RA. Adiknya – Fatimah binti Khattab RA buru-buru menghalangi Umar dan berdiri di antara kedua laki-laki tersebut, sehingga pukulan Umar melukai adiknya dan berdarah.
Fatimah binti Khattab RA menjadi emosi dan malah menantang kakaknya, "Lakukanlah sesuka hatimu, kami tidak akan pernah meninggalkan agama ini." Umar begitu melihat adiknya berdarah dan melihat kesungguhan hati mereka, timbul rasa penyesalan dan kasihan kepada adiknya. Umar berkata dengan lembut kepada adiknya, "Tunjukkan apa yang telah kalian baca." Fatimah binti Khattab RA menjawab, "Kamu tidak diizinkan untuk menyentuhnya kecuali sudah mandi (atau berwudhu')." Kemudian Umar bin Khattab pergi mandi (atau berwudhu') dan cepat kembali untuk membaca tulisan Al-Qur'an:
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ (Bismi Allahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim)
Umar bin Khattab mengatakan, "Ini adalah nama yang sangat sakral." Dia kemudian membacakan empat belas ayat pertama dari Surah Ta-Ha (QS 20:1-14). Umar bin Khattab sangat terpesona dan mengatakan, "Sungguh mulia dan luhur ucapan atau perkataan ini."
Catatan pinggir bahwa meskipun sebagian besar atau rata-rata masyarakat Arab terutama kaum Quraisy tidak bisa baca tulis, namun ada beberapa orang yang bisa membaca. Para ulama menyebutkan bahwa Umar bin Khattab adalah salah seorang yang bisa baca tulis dari kalangan kaum Quraisy. Jadi Umar bin Khattab sangat terpesona membaca empat ayat pertama surat Ta-Ha (QS 20) berikut:
1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
5. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy.
6. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
7. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),
9. Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?
10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu".
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Mendengar ucapan ketakjuban Umar bin Khattab, guru Fatimah binti Khattab yaitu Khabbab RA dan suami Fatimah bin Khattab RA yaitu Sa'id RA keluar dari persembunyian mereka. Kabbab RA berkata pada Umar, "Wahai Umar, demi Tuhan, semalam saya mendengar Nabi SAW berdo'a memohon dengan sungguh-sungguh untuk Anda." Do'a Nabi SAW, "Yaa Allah, perkuatlah Islam dengan Abul Hakam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab." Lantas Khabbab RA mengatakan, "Saya berharap bahwa Allah akan memberkati Anda dengan do'a Nabi-Nya."
Umar bin Khattab meminta Khabbab RA untuk mengajaknya menemui Nabi SAW sehingga memungkinkannya bersyahadat dihadapan Nabi SAW. Ketika para sahabat melihat Umar bin Khattab mendatangi rumah tempat Nabi SAW berada dengan pedang terhunus di tangannya. Hamzah RA berkata, "Biarkan dia datang. Jika dia datang dengan niat damai, itu adalah baik buatnya, tetapi jika tidak, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri."
Ketika Umar bin Khattab berada di hadapan Nabi SAW, Beliau SAW memegang dan menarik jubah Umar bin Khattab serta menanyakan apa yang telah membuat atau untuk apa Umar datang kesini? Umar bin Khattab berkata, "Aku datang untuk membuktikan keiman saya kepada Allah dan menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah dan apa yang telah dibawanya (Nabi SAW) adalah dari atau wahyu Allah. "Allahu Akbar!", Nabi SAW bertakbir begitu keras sehingga para sahabat hadir di rumah tersebut mengetahui bahwa Umar bin Khattab RA baru saja bersyahadat, menerima Islam.
Umar RA adalah orang yang sangat berani. Setelah memeluk Islam, Umar RA pergi ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintunya. Abu Jahal menyambut keponakannya tersebut. Tetapi kemudian Umar RA berkata kepadanya, "Saya sekarang seorang Muslim." Mendengar itu Abu Jahal langsung marah dan membanting pintu di hadapan Umar RA.. Abu Jahal berkata kepada Umar RA (na'udzubillah), "Terkutuklah kamu dan terkutuklah apa yang telah kamu percayai."
Kemudian Umar RA pergi mencari Jamil bin Muammar (جميل بن معمر), yang dikenal sebagai tukang dan/atau sumber gosip di masyarakat. Umar RA berkata kepadanya, "Tahu nggak kamu bahwa saya sekarang sudah menjadi seorang Muslim." Mendengar berita besar dan hangat ini Jamil lansung berteriak di jalan-jalan, "Umar telah meninggalkan agama leluhurnya." Dengan demikian seluruh penduduk kota Makkah saat itu mengetahui bahwa Umar RA telah bersyahadat dan merupakan seorang Muslim, musuh kaum musyrikin Quraisy.
Seperti kita ketahui bahwa pada fase kedua yaitu dakwah terbuka Rasulullah SAW, kaum musyrikin Quraisy melakukan penindasan dan teror fisik kepada ummat Muslim. Teror fisik ini tidak saja kepada sahabat RA yang lemah, yaitu maulana atau bekas budak atau pelayan yang sudah dimerdekakan oleh Abu Bakr RA maupun kepada sahabat RA yang telah kehilangan perlindungan dari sukunya. Umar bin Khattab dari suku yang sama dengan Abu Jahal. Jadi Umar RA juga mendapatkan ancaman atau teror fisik, tapi tidak ada yang berani secara terang-terangan atau berhadapan. Kaum musyrikin Quraisy berencana menyerang rumah Umar RA untuk membunuhnya tetapi kemudian Aas bin Wa'il (عاص بن وائل) memberinya perlindungan kepada Umar RA.
Menghadapi situasi seperti ini, Umar bin Khattab RA berkata kepada Nabi SAW, "Apakah kita tidak pada jalan yang benar meskipun jika kita mati atau hidup?" Nabi SAW mebenarkan pernyataan Umar RA tersebut. Kemudian Umar RA berkata, "Lantas mengapa kita bersembunyi dari mereka? Aku bersumpah demi Allah yang telah mengirimkan dengan kebenaran, kita harus pergi keluar dari sini (Darul Arqam)." Kemudian Umar RA mengatakan, "Kami keluar dengan Nabi SAW dalam dua baris, Hamzah RA menjadi pemimpin baris yang satu dan saya yang lain. Kami semua empat puluh orang. Kaum musyrikin Quraisy merasa gentar melihat unjuk kekuatan kaum Muslim ini. Dari sinilah Nabi SAW memberikan gelar kepada saya dengan nama Al-Faruq, yaitu orang yang memisahkan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah)."
Sebelum kita tutup, berikut beberapa pelajaran dari kisah bersyahadatnya Umar RA yang dituliskan oleh para ulama:
1. Ibnu Mas'ud RA mengatakan, "Kami mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan martabat sejak dari hari Umar RA memeluk Islam."
2. Setiap kali seseorang memeluk Islam, kita harus memberikan bimbingan ajaran Islam kepada mu'alaf. Meskipun dalam keadaan penindasan fisik dari kaum musyrikin Quraisy, Nabi SAW tetap mengirimkan Khabbab RA kepada pasangan suami istri Fatimah binti Khattab RA dan Sa'id RA.
3. Dari ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa siapa saja yang memiliki beberapa unsur kebaikan sejati di hatinya dan ingin mencari kebenaran, Allah pasti menuntun orang tersebut menuju jalan kebenaran. Hal ini juga terlihat dari para sahabat lain seperti Logika ini juga berlaku untuk Khalid bin Waleed RA, Abu Sufyan RA, Umer bin Al-Aas RA dan Ikrimah bin Abu Jahal RA. Oleh karena itu, memiliki benih kebaikan di dalam hati adalah nikmat yang besar dan berkah dari Allah SWT.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode lain dari siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabbi al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah dengan episode bersyahadatnya Umar RA. Nama lengkapnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail dan julukannya adalah Al-Faruq. Sedangkan ibunya adalah Hantamah binti Hisyam bin Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam. Menurut para ahli sejarah bahwa Umar RA masuk Islam ketika berumur 27 tahun dan bersyahadatnya Umar RA merupakan peristiwa yang menarik. Bahkan diantara Sahabat RA ada yang berkata bahwa setelah Umar RA bersyahadat, ummat Islam selalu merasa optimis dalam setiap pertempuran atau merasa percaya diri.
Kisah Islamnya Umar RA merupakan kombinasi dari banyak cerita yang menarik, diantaranta adalah sebagai berikut:
Seorang Muslimah atau sahabiyah, Laila RA, sedang mempersiapkan barang-barang di rumahnya untuk hijrah ke Habshah atau Ethiopia sekarang. Umar melewati rumahnya dan bertanya "untuk apa semua ini atau mau kemana kamu?, kurang lebih seperti itu. Laila RA menjawab bahwa kami mau pergi karena kamu (kaum musyrikin Quraisy) telah menyiksa kami. Kalian telah membuat hidup kami menjadi sengsara. Mendengar curhat seperti ini, Umar merasa kasihan dan berkata, "Apakah seburuk itu (akibat perlakukan kami kaum musyrikin Quraisy)? Saya berdoa agar Allah memberkati Anda ke manapun Anda pergi." Kemudian Laila RA menjelaskan hal ini kepada suaminya dan berkata, "Saya melihat rasa simpati terpancar dari mata Umar, mudah-mudahan dia dapat Hidayah." Suaminya berkata, "Umar tidak bakal memeluk Islam sebelum keledai kepunyaan ayahnya masuk Islam." Dengan kata lain, tidak mungkin bahwa Umar akan memeluk Islam.
Kisah berikut terjadi di masjid Haram atau Ka'bah atau Baitullah, dimana Umar keluar rumah untuk mencari teman tetapi dia tidak menemui siapapun malam itu sehingga sampai ke Ka'bah. Pada malam itu sesampainya di Haram (Ka'bah), Umar mendengar atau mendapati Nabi SAW sedang membaca Surah Al-Haqqah (69). Umar bersembunyi di balik sudut Ka'bah dan secara bertahap pindah sehingga berada bersebrangan dengan Nabi SAW. Umar sangat terkesan dengan bacaan Al-Qur'an yang dibaca Nabi SAW. Umar berkata berkata pada dirinya sendiri, "ini memang kata-kata penyair." Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:41 yang artinya "dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya."
Kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri, "kalau begitu ini adalah kata dari dukun (atau tukang tenung)."
Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:42 yang artinya "Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya."
Lantas Umar berkata kepada dirinya sendiri, "Lalu perkataan siapa ini?"
Nabi SAW membacakan Al-Haqqah 69:43 yang artinya "Ia (Al-Qur'an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam."
Kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri, "Dia (Muhamad SAW) mungkin telah menciptakan atau membuatnya."
Nabi SAW membaca surat Al-Haqqah 69:44-46 yang artinya "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
Para ulama mengatakan bahwa kisah diatas seolah-olah Allah berbicara dengan Umar secara tidak langsung melalui Nabi Muhammad SAW. Sementara Nabi SAW tidak menyadari bahwa sedang terjadi dialog ghaib antara Allah Azza wa Jalla dengan Umar. Dikemudian hari ketika ada orang yang bertanya kepadanya, Umar mengatakan, "Setelah mendengarkan pembacaan Al-Qur'an saat itu (surat Al-Haqqah), untuk pertama kalinya Islam mulai masuk kedalam hati sanubari saya. Namun karena pengaruh penolakan kaum musyirikin Quraisy terhadap Islam, membuat pikiran saya untuk menentang Islam bahkan menjadi lebih kuat lagi.
Meskipun kedua kisah tersebut di atas, menunjukan sisi baik atau positif dari Umar bin Khattab, tapi belum membuat Umar tergugah untuk bersyahadat. Secara logika, kedua kisah tersebut di atas tentu terjadi sebelum Umar bin Khattab bersyahadat. Seperti biasa dan seperti kejadian-kejadian penting lainnya, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan kisah berikut atau bersyahadatnya Umar bin Khattab RA terjadi. Yang jelas kisah bersyahadatnya Umar berikut terjadi setelah Hamzah RA bersyahadat. Kisah yang membawa Umar RA bersyahadat dihadapan Nabi SAW.
Suatu hari Umar bin Khattab keluar dari rumahnya dengan pedang telanjang di tangannya untuk – na'udzuu billahi (نعزو بالله) - membunuh Nabi SAW. Di tengah jalan Umar berpapasan dengan seorang sahabat, yaitu Na'im bin Abdullah RA yang menyembunyikan ke-Islam-annya. Na'im RA bertanya, "Hendak menuju kemana kamu, wahai Umar?" Umar bin Khattab berkata, "Hendak – na'udzubillah (نعزو بالله) membunuh Nabi SAW." Na'im RA kaget dan kwatir, dia berusaha mengalihkan perhatian Umar dengan mengatakan, "Wahai Umar, kau urus dulu keluarga sendiri, adik dan kakak iparmu telah memeluk Islam." Mendengar hal ini, Umar sangat marah dan lansung bergegas pergi ke rumah adiknya Fatimah binti Khattab RA.
Begitu sampai di depan rumah Fatimah binti Khattab RA, Umar sayup-sayup mendengar suara orang sedang membaca Al-Qur'an. Umar mengetuk pintu dan kemudian bergegas masuk. Umar bertanya kepada adiknya dan iparnya, "Apa yang sedang kalian baca?" Mereka mencoba mengelak dan mengabaikan pertanyaan Umar. Umar mendesak dan berkata, "Saya diberitahu bahwa kalian berdua telah menerima Islam." Setelah mengatakan ini Umar hendak mencoba memukul adik iparnya, yaitu Sa'id bin Zaid RA. Adiknya – Fatimah binti Khattab RA buru-buru menghalangi Umar dan berdiri di antara kedua laki-laki tersebut, sehingga pukulan Umar melukai adiknya dan berdarah.
Fatimah binti Khattab RA menjadi emosi dan malah menantang kakaknya, "Lakukanlah sesuka hatimu, kami tidak akan pernah meninggalkan agama ini." Umar begitu melihat adiknya berdarah dan melihat kesungguhan hati mereka, timbul rasa penyesalan dan kasihan kepada adiknya. Umar berkata dengan lembut kepada adiknya, "Tunjukkan apa yang telah kalian baca." Fatimah binti Khattab RA menjawab, "Kamu tidak diizinkan untuk menyentuhnya kecuali sudah mandi (atau berwudhu')." Kemudian Umar bin Khattab pergi mandi (atau berwudhu') dan cepat kembali untuk membaca tulisan Al-Qur'an:
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ (Bismi Allahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim)
Umar bin Khattab mengatakan, "Ini adalah nama yang sangat sakral." Dia kemudian membacakan empat belas ayat pertama dari Surah Ta-Ha (QS 20:1-14). Umar bin Khattab sangat terpesona dan mengatakan, "Sungguh mulia dan luhur ucapan atau perkataan ini."
Catatan pinggir bahwa meskipun sebagian besar atau rata-rata masyarakat Arab terutama kaum Quraisy tidak bisa baca tulis, namun ada beberapa orang yang bisa membaca. Para ulama menyebutkan bahwa Umar bin Khattab adalah salah seorang yang bisa baca tulis dari kalangan kaum Quraisy. Jadi Umar bin Khattab sangat terpesona membaca empat ayat pertama surat Ta-Ha (QS 20) berikut:
1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
5. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy.
6. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
7. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),
9. Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?
10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu".
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Mendengar ucapan ketakjuban Umar bin Khattab, guru Fatimah binti Khattab yaitu Khabbab RA dan suami Fatimah bin Khattab RA yaitu Sa'id RA keluar dari persembunyian mereka. Kabbab RA berkata pada Umar, "Wahai Umar, demi Tuhan, semalam saya mendengar Nabi SAW berdo'a memohon dengan sungguh-sungguh untuk Anda." Do'a Nabi SAW, "Yaa Allah, perkuatlah Islam dengan Abul Hakam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab." Lantas Khabbab RA mengatakan, "Saya berharap bahwa Allah akan memberkati Anda dengan do'a Nabi-Nya."
Umar bin Khattab meminta Khabbab RA untuk mengajaknya menemui Nabi SAW sehingga memungkinkannya bersyahadat dihadapan Nabi SAW. Ketika para sahabat melihat Umar bin Khattab mendatangi rumah tempat Nabi SAW berada dengan pedang terhunus di tangannya. Hamzah RA berkata, "Biarkan dia datang. Jika dia datang dengan niat damai, itu adalah baik buatnya, tetapi jika tidak, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri."
Ketika Umar bin Khattab berada di hadapan Nabi SAW, Beliau SAW memegang dan menarik jubah Umar bin Khattab serta menanyakan apa yang telah membuat atau untuk apa Umar datang kesini? Umar bin Khattab berkata, "Aku datang untuk membuktikan keiman saya kepada Allah dan menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah dan apa yang telah dibawanya (Nabi SAW) adalah dari atau wahyu Allah. "Allahu Akbar!", Nabi SAW bertakbir begitu keras sehingga para sahabat hadir di rumah tersebut mengetahui bahwa Umar bin Khattab RA baru saja bersyahadat, menerima Islam.
Umar RA adalah orang yang sangat berani. Setelah memeluk Islam, Umar RA pergi ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintunya. Abu Jahal menyambut keponakannya tersebut. Tetapi kemudian Umar RA berkata kepadanya, "Saya sekarang seorang Muslim." Mendengar itu Abu Jahal langsung marah dan membanting pintu di hadapan Umar RA.. Abu Jahal berkata kepada Umar RA (na'udzubillah), "Terkutuklah kamu dan terkutuklah apa yang telah kamu percayai."
Kemudian Umar RA pergi mencari Jamil bin Muammar (جميل بن معمر), yang dikenal sebagai tukang dan/atau sumber gosip di masyarakat. Umar RA berkata kepadanya, "Tahu nggak kamu bahwa saya sekarang sudah menjadi seorang Muslim." Mendengar berita besar dan hangat ini Jamil lansung berteriak di jalan-jalan, "Umar telah meninggalkan agama leluhurnya." Dengan demikian seluruh penduduk kota Makkah saat itu mengetahui bahwa Umar RA telah bersyahadat dan merupakan seorang Muslim, musuh kaum musyrikin Quraisy.
Seperti kita ketahui bahwa pada fase kedua yaitu dakwah terbuka Rasulullah SAW, kaum musyrikin Quraisy melakukan penindasan dan teror fisik kepada ummat Muslim. Teror fisik ini tidak saja kepada sahabat RA yang lemah, yaitu maulana atau bekas budak atau pelayan yang sudah dimerdekakan oleh Abu Bakr RA maupun kepada sahabat RA yang telah kehilangan perlindungan dari sukunya. Umar bin Khattab dari suku yang sama dengan Abu Jahal. Jadi Umar RA juga mendapatkan ancaman atau teror fisik, tapi tidak ada yang berani secara terang-terangan atau berhadapan. Kaum musyrikin Quraisy berencana menyerang rumah Umar RA untuk membunuhnya tetapi kemudian Aas bin Wa'il (عاص بن وائل) memberinya perlindungan kepada Umar RA.
Menghadapi situasi seperti ini, Umar bin Khattab RA berkata kepada Nabi SAW, "Apakah kita tidak pada jalan yang benar meskipun jika kita mati atau hidup?" Nabi SAW mebenarkan pernyataan Umar RA tersebut. Kemudian Umar RA berkata, "Lantas mengapa kita bersembunyi dari mereka? Aku bersumpah demi Allah yang telah mengirimkan dengan kebenaran, kita harus pergi keluar dari sini (Darul Arqam)." Kemudian Umar RA mengatakan, "Kami keluar dengan Nabi SAW dalam dua baris, Hamzah RA menjadi pemimpin baris yang satu dan saya yang lain. Kami semua empat puluh orang. Kaum musyrikin Quraisy merasa gentar melihat unjuk kekuatan kaum Muslim ini. Dari sinilah Nabi SAW memberikan gelar kepada saya dengan nama Al-Faruq, yaitu orang yang memisahkan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah)."
Sebelum kita tutup, berikut beberapa pelajaran dari kisah bersyahadatnya Umar RA yang dituliskan oleh para ulama:
1. Ibnu Mas'ud RA mengatakan, "Kami mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan martabat sejak dari hari Umar RA memeluk Islam."
2. Setiap kali seseorang memeluk Islam, kita harus memberikan bimbingan ajaran Islam kepada mu'alaf. Meskipun dalam keadaan penindasan fisik dari kaum musyrikin Quraisy, Nabi SAW tetap mengirimkan Khabbab RA kepada pasangan suami istri Fatimah binti Khattab RA dan Sa'id RA.
3. Dari ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa siapa saja yang memiliki beberapa unsur kebaikan sejati di hatinya dan ingin mencari kebenaran, Allah pasti menuntun orang tersebut menuju jalan kebenaran. Hal ini juga terlihat dari para sahabat lain seperti Logika ini juga berlaku untuk Khalid bin Waleed RA, Abu Sufyan RA, Umer bin Al-Aas RA dan Ikrimah bin Abu Jahal RA. Oleh karena itu, memiliki benih kebaikan di dalam hati adalah nikmat yang besar dan berkah dari Allah SWT.
Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode lain dari siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.