Sabtu, 01 Oktober 2016

Hamzah RA Bersyahadat

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabbi al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah dengan episode bersyahadatnya salah seorang paman Nabi SAW yaitu Hamzah RA. ٍSebagaimana telah sering kita sebutkan bahwa salah satu kendala dalam mekonstruksi siirah Nabi Muhammad SAW adalah kronologis setiap peristiwa yang terjadi tidak dapat dipastikan dengan akurat atau detail. Tetapi secara garis besar bisa dipisahkan atau dikelompokan berdasarkan kejadian atau peristiwa-peristiwa besar lainnya. Seperti bersyahadatnya Hamzah RA terjadi sebelum Umar bin Khattab bersyahadat, dan Umar RA bersyahadat setelah para sahabat banyak yang hijrah ke Habasyah. Dengan demikian Hamzah RA memeluk Islam saat dimana kaum musyrikin Quraisy melakukan teror fisik kepada ummat Islam di fase ke-2 dakwah Rasulullah SAW.

Peristiwa Hamzah RA memeluk Islam ini terjadi dengan tidak sengaja atau kebetulan karena pengaruh tradisi jahiliyah kaum Quraisy. Tentu saja dalam pandangan agama Islam tidak ada yang tidak sengaja atau kebetulan, semua dalam ketentuan Allah Azza wa Jalla. Setiap sesuatu terjadi atas sepengetahuan dan izin Allah SWT, bahkan "tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya" (QS 6:59). Cerita Hamzah RA memeluk Islam ini sangat unik dan dapat memberikan gambaran kepada kita untuk memahami bagaimana kekerabatan dalam tradisi bangsa Arab sangat berpengaruh besar dalam kehidupan kaum Quraisy pada saat itu.

Mungkin banyak dari kita tidak bisa (dapat) mengerti bagaimana seorang Abu Thalib (paman Nabi SAW) yang sampai akhir hayatnya tidak bersyahadat sangat gigih membela Nabi Muhammad SAW dari ganguan kaum musyrikin Quraisy. Abu Thalib tidak hanya sekali membela Nabi Muhammad SAW bahkan seluruh kaum Banu Hasyim (kecuali Abu Lahab) rela hidup diembargo oleh kaum musyrikin Quraisy. Begitu juga dengan bersyahadatnya Hamzah RA yaitu karena membela Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya mari kita lihat sepintas bagaimana hubungan Nabi Muhammad SAW dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Hamzah adalah paman yang hampir seumuran dengan Nabi Muhammad SAW. Hamzah adalah putra Abdul Muththalib yang lahir tidak berapa lama sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana kebiasaan atau tradisi bangsa Arab bahwa seorang bayi mempunyai ibu sepersusuan selain ibu kandung. Begitu juga dengan Hamzah, mempunyai ibu sepersusuan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW yaitu Tsuwaibah yaitu pembantu dari Abu Lahab (paman Nabi SAW).

Di dalam beberapa hadits disebutkan sesudah Khadijah RA meninggal dan Nabi SAW  masih menduda, beberapa sahabat menawarkan Beliau SAW untuk menikah kembali. Tetapi dari versi lain disebutkan bahwa Ali RA yang menyarankan kepada Nabi SAW setelah meguasai kota Makkah kembali. Jadi beberapa orang sahabat RA menyarankan Nabi SAW menikah dengan putri Hamzah. Nabi SAW berkata, "Sesungguhnya dia (putri Hamzah RA) tidak halal untukku, karena dia adalah putri saudara sesusuanku, dan menjadi mahram (saudara) dari sesusuan sebagaimana mahram (saudara) dari keturunan" (HR syahih Bukhari No. 4710, syahih Muslim No. 2623 dan lain-lain).

Baik, mari kita kembali kepada fase ke-2 dakwah Nabi SAW. Telah disebutkan bahwa perintah dakwah tahap kedua ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Asy-Syu'araa (surat ke-26) ayat 214-216: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan". Para mufashir (ulama tafsir) menyebutkan Nabi SAW dan para sahabat tidak/belum diizinkan melakukan perlawan fisik. Sehingga Nabi SAW dan para sahabat RA berusaha menghindari kontra (perlawananan) fisik kepada kaum musyrikin Quraisy.

Pada suatu hari Abu Jahal bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di dekat bukit Safa. Abu Jahal dengan bahasa yang sangat ofensif dan paling vulgar menegur Nabi SAW. Dengan sepuas hatinya, Abu Jahal mengganggu, memaki-maki dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi Nabi Muhammad SAW tidak melayaninya. Nabi SAW tidak mengatakan sepatah kata pun dan diam-diam pulang ke rumah Beliau SAW. Nabi SAW menerima penghinaan Abu Jahal begitu saja tanpa membalas sepatah katapun.

Karena peristiwa ini terjadi di tengah khalayak ramai (bukit Safa) maka tentu banyak yang melihat dan mendengar. Sudah menjadi kebiasaan bahwa penonton lebih panas hatinya mendengar caci maki Abu Lahab. Seorang gadis, budak dari Abdullah bin Jidaan melihat bagaimana perlakukan tidak senonoh Abu Jahal dari atap rumahnya. Berita mengenai perlakukaan Abu Jahal dari banu Makhzum terhadap Nabi Muhammad SAW dari banu Hasyim telah menyebar luas sehingga membuat banu Hasyim - terutama kaum wanita -  tidak dapat menerimanya begitu saja.

Hamzah, paman dan sekaligus saudara sesusuan Nabi SAW, pada saat itu masih berpegang pada kepercayaan jahiliyah Quraisy, adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Dia mempunyai kegemaran berburu. Sudah merupakan kembiasan bila dia kembali dari berburu, terlebih dulu mengelilingi Ka'bah (melakukan tawaf) sebelum langsung pulang ke rumahnya. Hari itulah, ketika para wanita bani Hasyim melihat Hamzah pulang dari berburu, mereka mencelanya karena membiarkan begitu saja bani Makhzum mencaci maki keponakannya (yaitu Nabi Muhammad SAW). Apalagi ditambah dengan 'bumbu-bumbu' sehingga cerita bagaimana Abu Jahal mencela Nabi Muhammad SAW semakin membuat Hamzah sangat murka.

Mengetahui bahwa kemenakannya (Nabi Muhammad SAW) telah mendapat gangguan yang membuat harga diri Hamzah sebagai banu Hasyim juga ikut terhina. Hamzah sangat marah sekali dan langsung mencari Abu Jahal tanpa melakukan tawaf seperti biasanya. Hamzah pergi ke Ka'bah, tanpa memberi salam kepada yang hadir di tempat itu seperti biasanya, dia terus masuk kedalam kawasan masjid menemui Abu Jahal. Setelah dijumpainya, diangkatnya busurnya lalu dipukulkannya keras-keras ke kepala Abu Jahal. Dalam keadaan marah Hamzah menantang Abu Jahal dan mengatakan, "Kenapa kau menghina keponakan saya. Saya juga sudah menjadi pengikutnya (Nabi Muhammad SAW)."

Beberapa orang dari banu Makhzum mencoba mau membela Abu Jahal. Tapi tidak jadi karena mereka kawatir akan timbul bencana besar kalau terjadi perang saudara antara banu Makhzum dan banu Hasyim. Abu Jahal menghentikan mereka dan berkata, "Tinggalkan Abu Umara (Hamzah), demi Allah, saya telah menghina keponakannya dengan sangat keterlaluan." Sementara Hamzah kembali kerumahnya dengan perasaan berkecamuk karena apa yang telah diucapkannya dihadapan orang banyak bahwa dia sudah menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.

Hamzah telah menyatakan penerimaannya terhadap Islam di depan umum ketika dia dalam keadaan sangat marah kepada Abu Jahal karena telah menghina Nabi Muhammad SAW. Ketika dia sudah sampai di rumah, dia mulai berpikir tentang hal itu, dia mencoba mencari jalan keluar apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Sebagai seorang Quraisy, tidak mungkin baginya untuk membatalkan apa yang telah dia ucapkan di depan orang banyak, tapi dia juga tidak benar-benar bermaksud menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Akhirnya dia membuat permohonan kepada Allah, "Ya Allah! Jika Islam itu baik bagi saya mudahkan atau tunjukkanlah jalan bagi saya untuk mengikutinya dengan tulus atau cabutlah nyawa saya sekarang juga."

Pagi hari berikutnya Hamzah pergi menemui Nabi Muhammad SAW dan menjelaskan apa yang telah terjadi antara dia dengan Abu Jahal. Nabi SAW mendengarkan penjelasan Hamzah yang tidak bermaksud menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW dan juga tentang doa'nya. Setelah Hamzah selesai bercerita, Nabi SAW menjelaskan kepadanya tentang apa itu agama atau ajaran Islam. Setelah mendengar dakwah Nabi SAW tentang Islam, Allah membuka hati Hamzah kepada Islam sehingga Hamzah RA memeluk Islam dengan tulus.

Bersyahadatnya Hamzah RA membuat kaum musyrikin Quraisy semakin kawatir karena kaum Muslim menjadi lebih kuat. Dengan adanya Hamzah RA dipihak Nabi Muhammad SAW, ummat Islam telah mendapatkan tambahan pelindung disamping Abu Thalib. Oleh karena itu kaum musyrikin Quraisy tidak berani lagi dan meninggalkan beberapa cara mereka melecehkan Nabi SAW. Kaum musyrikin Quraisy semakin frustasi ketika mengetahui bahwa Hamzah RA juga tidak mau menerima tawaran mereka untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Sejak memeluk Islam, Hamzah RA telah membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Rasulullah SAW menjulukinya dengan sebutan "Asadullah" yang berarti singa Allah. Dikemudian hari, Hamzah RA ikut hijrah ke Madinah dan Nabi Muhammad SAW mempersaudarakan (dalam Islam) Hamzah RA dengan Zaid bin Haritsah RA. Di dalam perang Badr, Hamzah RA membunuh Utbah bin Rabiah dalam pertempuran tunggal dan kemudian membantu Ali RA untuk membunuh Syaiba saudaranya Utbah.

Dalam perang Uhud, Hamzah RA berhasil membunuh puluhan kaum musyrikin Quraisy, sampai pada suatu saat dia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan baju besinya terlepas. Pada saat itulah, Washi (orang upahan Hindun) yang sudah membuntuti kemanapun Hamzah RA pergi, langsung menombak dan membunuh Hamzah RA. Hindun binti Utbah merobek perut Hamzah dan mengeluarkan hatinya.  Hindun sangat membenci Hamzah RA karena bapaknya (Utbah) mati dalam perang tanding dengan Hamzah RA di perang Uhud. Kemudian Hindun mengunyah hati Hamzah RA tetapi dia tidak bisa menelannya sehingga dimuntahkannya kembali.

Ketika Rasulullah SAW melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat sedih dan marah. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahal ayat 126, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar" (QS 16:126). Nabi SAW memelih bersabar dan Nabi SAW menyembut Hamzah RA sebagai Sayidus Syuhada (Pemimpin Para Syuhada).

Ketika Rasulullah SAW dan kaum muslimin mensalatkan jenazah Hamzah RA dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama jenazah Hamzah RA disalatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad Hamzah RA tetap dibiarkannya disitu. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Hamzah RA tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Hamzah RA. Lalu Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya mensalatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah SAW mensalatkan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung maka Rasulullah SAW dan para sahabat telah mensalatkan Hamzah RA (sayidus syuhada) sebanyak tujuh puluh kali.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode bagaimana perjalanan hidup Umar RA memeluk Islam. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.


Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.