Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode meninggalnya paman Nabi SAW yaitu Abu Thalib. Di dalam banyak buku siirah Nabi Muhammad SAW bahwa tahun dimana Abu Thalib meninggal dan istri Baginda Rasulullah SAW yang tercinta (Siti) Khadijah RA disebut sebagai tahun kesedihan. Tahun dimana Nabi Muhammad SAW sebagai seorang manusia kehilangan dua orang yang Beliau sangat sayangi dan cintai.
Sebagai mana kisah-kisah sebelumnya, tidak ada yang mencatat dengan pasti kapan meninggalnya Abu Thalib. Tapi, yang jelas bisa kita katakan bahwa Abu Thalib meninggal tidak lama setelah pemboikotan kaum musyrikin Quraisy kepada Ummat Islam, dimana semua Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib; kecuali Abu Lahab, ikut bersama mengungsi keluar dari Makkah. Nabi Muhammad SAW dan beserta ummat Islam ikut tinggal bersama dengan Banu Hasyim dan Banu Muthalib disebuah lembah yang oleh Abu Thalib disebut sebagai Shi'ib Abi Thalib (Pengikut Abi Thalib).
Pemboikotan ini terjadi selama kurang lebih tiga tahun. Selama tiga tahun Ummat Islam, Banu Hasyim dan Banu Abdul Muththalib, terutama anak-anak dan orang tua mengalami gangguan kesehatan karena susahnya bahan makanan. Para pengungsi bahkan terbiasa memakan dedaunan dan kulit binatang (sebangsa kerupuk kulit, rambak atau krecek) karena ketidak tersedianya bahan makanan dan tidak ada pilihan lain. Setelah tiga tahun mengalami kekurangan makanan, minuman, obat-obatan dan setelah pemboikotan dicabut, kaum Muslim, Banu Hasyim dan Banu Abdul Muththalib kembali ke Makkah.
Abu Thalib yang saat itu sudah berumur lanjut, mulai menurun kesehatannya. Abu Thalib mulai sakit-sakitan. Nabi SAW sangat mencintai Abu Thalib, tidak ada siapa pun yang lebih mencintai Abu Thalib melebihi Nabi SAW. Nabi SAW sangat menyayangi Abu Thalib, namum Abu Thalib tidak masuk Islam. Ketika Abu Thalib sudah tidak bisa turun dari tempat tidur lagi, Nabi SAW memohon dan memohon dengan sangat kepada Abu Thalib agar masuk Islam. Bahkan saat Abu Thalib mulai sekarat, Nabi SAW memohon dan mengatakan agar Abu Thalib mengucapkan kalimat syahadat sehingga selamat di akhirat nanti.
Abu Thalib sudah hendak mengucapkan syahadat karena mengetahui apa yang diajarkan Nabi SAW adalah benar. Abu Thalib telah melihat terlalu banyak tanda-tanda dan mukjizat Nabi SAW dengan mata kepalanya sendiri. Abu Thalib mengetahui bahwa Nabi SAW seorang yang selalu berkata benar dan tidak bisa berkata bohong. Tapi ada satu hal yang lebih berharga dari keponakannya, yaitu ayahnya; Abdul Muththalib. Abu Thalib masih berat melepas kebanggaan dengan silsilah dan kemashuran Abdul Muththalib, Abu Thalib adalah putra Abdul Muththalib. Ketika Abu Thalib akan mengabulkan permintaan Nabi SAW untuk bersyahadat, Abu Jahal mencegahnya dengan mengingatkan Abu Thalib, "Apakah kamu akan meninggalkan agama ayahmu Abdul Muththalib?"
Disebutkan dalam hadits riwayat shahih Bukhari No. 1272, shahih Muslim No. 35, dan lain lain bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Rasulullah SAW mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan 'Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Abu Thalib, "Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah." Maka berkata, Abu Jahal dan 'Abdullah bin Abu Umayyah, "Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama 'Abdul Muththalib?" Rasulullah SAW terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Thalib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Thalib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama 'Abdul Muththalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.
Detik itulah, malaikat maut datang dan mengambil jiwa Abu Thalib pergi dari jasadnya. Nabi SAW begitu sedih atas kepergiaan Abu Thalib. Di dalam hadits yang sama Nabi SAW berkata, "Adapun aku akan tetap memintakan ampun buatmu selama aku tidak dilarang." Seperti kita ketahui bahwa Nabi SAW tidak dapat melakukan apa-apa (segala sesuatu) tanpa izin dari Allah Azza wa Jalla. Tapi lantaran kesedihan yang mendalam atas meninggalnya Abu Thalib, Nabi SAW terus meminta pengampunan untuk paman Beliau SAW sampai Allah menurunkan beberapa ayat.
Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 113, "iadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam." (QS 9:113). Di dalam surat Al-Qasas ayat 56, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS 28:56)
Inilah fenomena Abu Thalib. Nabi SAW sangat mencintai Abu Thalib, mencintainya lebih dari orang lain. Abu Thalib bagi Nabi SAW sudah merupakan figure (pengganti) Ayah karena Nabi SAW dibesarkan di rumah Abu Thalib sejak meninggalkan kakek Beliau Abdul Muthathalib. Para sahabat memaklumi kesedihan Beliau SAW. Para sahabat mengetahui bagaimana dekatnya hubungan Nabi SAW dengan Abu Thalib bin Abdul Muththalib.
Di kemudian hari ketika kaum Muslim telah menaklukkan Makkah, Abu Bakr RA datang kepada Rasulullah SAW sambil membawa ayahnya, Abu Qahafa. Ayah Abu Bakr RA, Abu Qahafa pada saat itu adalah salah seorang sesepuh kaum musyrikin Quraisy yang masih hidup dan masih merupakan seorang musyrik. Abu Qahafa, di umur yang telah lanjut sekitar 80 tahun akhirnya menerima Islam. Abu Qahafa bersyahadat ditangan atau dihadapan Rasulullah SAW dan Nabi SAW sendiri yang menuntun Abu Qahafa membacakan kalimat syahadatain.
Abu Bakr RA menangis melihat ini dan berkata kepada Nabi SAW, "Demi Allah, saya akan memberikan tangan ayah saya jika bisa melihat tangan Abu Thalib (menggantikan tangan Abu Qahafa) ditanganmu yaa Rasulullah SAW untuk bersyahadat." Abu Bakr RA mengetahui betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada Abu Thalib. Abu Bakr RA bahkan rela mengorbankan tangan ayahnya sendiri bersyahadat ditangan Nabi SAW. Para sahabat mencintai Nabi SAW melebih cinta kepada keluarga mereka sendiri. Para sahabat bahkan mencintai apa yang dicintai Nabi SAW.
Para ulama mencoba mencari hikmah dibalik semua ini. Mengapa Abu Thalib sampai akhir hayatnya tidak menerima Islam? Para Ulama menyebutkan bahwa dengan status kemusyrikan Abu Thalib, dia masih dihormati oleh kaum musyrikin Quraisy sehingga bisa memberikan perlindungan kepada Nabi SAW sesuai dengan tradisi Arab Jahiliyah. Kalau Abu Thalib menerima Islam lebih awal tentu dia kehilangan kedudukannya dimata kaum musyrikin Quraisy sehingga tidak bisa memberikan perlindungan ala atau sesuai tradisi Arab Jahiliyah. Sebagaimana Hamzah RA kehilangan kedudukannya dimata kaum musyrikin Quraisy begitu juga Umar RA sehingga mereka juga ikut mengungsi keluar Makkah saat pemboikotan terjadi. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik buat hambaNYa.
Sebelum kita akhiri, berikut summary empat orang paman Nabi SAW yang mana ke-empat anak Abdul Muththalib ini hidup saat Islam datang. Ke-empat anak-anak Abdul Muttalib ini, masing-masing menempati tingkat atau posisi yang berbeda.
1. Hamzah RA menempati tempat yang tertinggi dari sudut pandang Islam. Nabi SAW menyembut Hamzah RA sebagai Sayidus Syuhada (Pemimpin Para Syuhada).
2. Abbas RA menempati posisi biasa-biasa saja dibandingkan dengan Hamzah RA. Generasi berikutnya yaitu Abdullah bin Abbas adalah seorang Ulama besar yang diakui sampai sekarang.
3. Abu Thalib menempati posisi tertinggi dari sudut pandang kaum musyrikin Quraisy - non Muslim. Tidak ada non Muslim menempati peringkat yang lebih tinggi daripada dia di zaman itu. Abbas RA meminta Nabi SAW, "Yaa Rasulullah SAW, apakah anda dapat memberikan mamfa'at kepada Abu Thalib?" Nabi SAW berkata, "Ya, Abu Thalib berada pada neraka yang paling atas. Seandainya bukan karena aku, dia tentu sudah berada di dasar neraka."
4. Abu Lahab menempati posisi yang paling rendah diantara ke-empat paman Nabi SAW. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Masad ayat 1-5, "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS 111:1-5).
Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain dari siirah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.