Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode dakwah Rasulullah SAW tentang beberapa kisah penderitaan para sahabat Radhiya Allahu Anhum diteror atau dianiaya oleh para pembesar musyrikin Quraisy karena para sahabat RA tidak mau melepaskan aqidah Islam. Hal ini dapat menjadi contoh atau tau;adan bagi ummat Islam yang datang belakangan sampai zaman kita sekarang bahwa para sahabat RA pantas mendapat ridha Allah karena mereka ridha kepada semua ketentuan Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100, "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS 9:100)
Dalam surat Al-Bayyinah ayat 8, Allah SWT berfirman, "Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS 98:8)
Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa selama fase dakwah pribadi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama tiga tahun di Makkah. Tarbiyah selama fase dakwah secara pribadi ini telah mehasilkan para sahabat yang memiliki keimanan kokoh dan menjadi komunitas muslim yang solid. Karena pada fase dakwah secara pribadi ini Nabi SAW juga mengumpulkan para sahabat RA di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam untuk memberikan pengarahan dan pengajaran dienul Islam sampai perintah dakwah secara terbuka turun, yaitu dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 214-216.
Semenjak turunnya ayat 214-216 Surat Asy-Syu'ara ini, Nabi SAW melakukan dakwah secara terbuka kepada seluruh penduduk kota Makkah. Pada fase dakwah terbuka ini, semakin banyak penduduk Makkah yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jumlah ummat Islam terus bertambah dan para sahabat RA siap berkorban fi sabilillah baik dengan harta maupun tenaga. Pada fase dakwah terbuka ini fokus pada penyampaian ajaran Islam, Nabi SAW dan para sahabat RA tidak diperintahkan untuk melakukan perlawanan baik secara fisik maupun system terhadap orang-orang yang menentang dakwah Islam.
Kaum musyrikin Quraisy mulai merasakan ancaman bahaya dari dakwah terbuka Rasulullah SAW ini. Dakwah Islam ini akan menghancurkan apa yang mereka dapati dari nenek moyang mereka yaitu menyembah berhala. Tradisi Arab jahiliyah mulai berubah yaitu tatanan yang sudah mapan antara tuan dan budak. Keluarga terbelah atas dasar iman dan kufur. Kebanggaan nasab dan kedudukan mulai luntur. Kaum musyrikin Quraisy mulai diliputi kewaspadaan dan goncangan, mulai berfikir bagaimana harus menghadapi dakwah terbuka Rasulullah SAW ini.
Seperti sudah kita bahas sebelumnya bahwa berbagai strategi telah dirancang untuk menghambat gerak dakwah Rasulullah SAW. Kaum musyrikin Quraisy tidak saja melakukan perlawanan secara system (tradisi) lewat Abu Thalib baik secara lunak maupun keras yaitu boikot agar tidak melindungi Nabi SAW. Kaum musyrikin Quraisy juga melakukan teror fisik kepada Rasulullah SAW agar menghentikan dakwahnya. Tidak puas dengan teror fisik kepada Rasulullah SAW, kaum musyrikin Quraish juga melakukan teror fisik kepada para sahabat RA agar kembali kepada agama nenek moyang mereka dan mencegah bertambahnya pengikut Nabi SAW.
Diantara teror fisik yang mereka lakukan adalah ancaman dan penyiksaan kepada para sahabat RA dari golongan atau orang-orang lemah, yang tidak memiliki pembela atau pelindung dari suku Quraisy atau suku Arab lainnya. Sasaran kaum musyrikin Quraisy ini tidak lain para sahabat RA yang masih berstatus budak yang ketahuan telah memeluk Islam. Para sahabat RA benar-benar menjadi sasaran pelampiasan amarah dan kedengkian kaum musyrikin Quraisy terhadap Islam dan para pemeluknya. Tentu saja para sahabat RA ini tidak ada yang membela dan melindungi sehingga dapat disiksa dengan berbagai siksaan mengerikan oleh kaum musyrikin Quraisy.
Keluarga Yasir RA bersama istrinya Sumayyah RA dan anak mereka Ammar RA dan Abdullah RA adalah korban strategi kekerasan fisik dari kaum musyrikin Quraisy terhadap ummat Islam. Kecuali Ammar RA, semua anggota keluarga Yasir Radhiya Allahu 'Anhum merupakan korban pertama dalam mempertahankan agama Islam. Yasir bin Amir RA adalah pendatang dari Yaman sedangkan istrinya Sumayyah binti Khayyath RA adalah seorang budak dari bani Makhzum - sukunya Abu Jahal. Dengan demikian keluarga Yasir tidak memiliki pelindung di Makkah sehingga kaum musyrikin Quraisy sangat leluasa menganiaya keluarga Yasir RA.
Banyak sekali kisah yang telah ditulis oleh para Ulama dan/atau ahli sejarah Islam tentang keluarga Yasir RA. Secara umum menceritakan bahwa bani Makhzum mengetahui bahwa keluarga Yasir RA telah memeluk Islam sejak periode dakwah pribadi. Keluarga Yasir RA merupakan salah satu dari generasi pertama yang memeluk Islam (Assabiqunal Awwalun). Begitu kaum musyrikin Quraisy mulai menjalankan siasat atau strategi teror fisik menghadapi fase dakwah terbuka Rasulullah SAW, maka setiap saat keluarga Yasir RA disiksa dibawah panas terik matahari padang pasir gurun Arab.
Keluarga Yasir RA mengalami berbagai penyiksaan yang sadis dan mengerikan dari kaum musyrikin Quraisy. Sebagai orang dewasa, teror fisik kepada Yasir RA dan Sumayyah RA amat mengerikan serta menakutkan. Begitu juga dengan anak mereka Ammar bin Yasir RA, sebagai seorang anak muda tanggung, tidak luput dari berbagai siksa yang dapat dipikirkan oleh musrikin Quraisy pada saat itu. Tidak cukup sampai disana, Abdullah bin Yasir RA yang masih kecil juga tidak luput dari penyiksaan yang dilakukan oleh kaum musyikin Quraisy.
Keluarga Yasir RA telah menunjukkan sikap dan pendirian yang tangguh kepada Islam. Ini membuktikan kepada kita bahwa dakwah pribadi (orang per orang) Rasulullah SAW selama 3 tahun telah melahirkan manusia-manusia yang paling baik; pada masa yang paling baik dan di tempat yang baik serta menjadi ummat Islam yang paling baik. Namum sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, berbagai siksaan yang diderita keluarga Yasir RA sudah sampai pada puncaknya, badan mereka tidak tahan lagi.
Dalam hadist riwayat musnad Ahmad No. 412 diceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW bersama Ustman RA melihat ibu-bapaknya Ammar RA sedang disiksa, maka Abu Ammar berkata, "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sepanjang masa begini?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Sabarlah!" Kemudian Beliau SAW bedoa, "Ya Allah ampunilah keluarga Yasir, dan aku telah berbuat."
Sumayyah RA adalah orang pertama yang syahid, khusus dari keluarga Yasir RA dan/atau dari ummat Islam. Dari berbagai kisah disebutkan Sumayyah Radhiyallahu anha ditikam jantungnya (dari kisah lain dari bawah perutnya) oleh Abu Jahal dengan menggunakan tombak. Sedangkan sang suaminya, yaitu Yasir RA, juga meninggal karena disiksa. Adapun anak mereka, yaitu Abdullah RA dilempar atau dibanting hingga meninggal juga. Maka tinggallah Ammar, dan mereka pun menyiksa Ammar dengan berbagai siksaan, sampai akhirnya bisa memaksa Ammar mengucapkan kalimat kufur dengan lisannya tanpa dia sadari.
Jumhur (mayoritas) ulama tafsir menyebutkan bahwa asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat ke-106 surat An-Nahal adalah berdasarkan peristiwa Ammar bin Yasir RA ini. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar." (QS 16:106)
Teror fisik yang dilakukan musyrikin Quraisy kepada sahabat Bilal bin Rabah RA tidak kalah kejamnya. Bilah bin Rabah RA Al-Habashy berasal dari negeri Habasyah atau sekarang Ethiopia sekarang. Ibu Bilal RA adalah budak dari Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal RA menjadi budak mereka hingga akhirnya dia mendengar tentang Islam. Lalu, dia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Bilal RA merupakan kalangan sahabat Rasulullah SAW dan merupakan generasi pertama (Assabiqunal Awwalun) yang berasal dari Ajam (non-Arab).
Majikan Bilal mengenatahui bahwa Bilal salah seorang pemeluk agama Islam. Selama tiga tahun pertama fase dakwah pribadi tidak terjadi apa-apa terhadap Bilai RA. Tetapi begitu kaum musyrikin Quraisy mulai menjalankan strategi atau siasat teror fisik kepada ummat Islam, maka kaum musyrikin Quraisy menganiaya Bilal RA. Mereka mengikat, membawa Bilal RA ke gurun pasir dan menjemurnya atau mentelentangkannya di bawah terik matahari yang membakar. Dadanya ditindih dengan batu besar yang terbakar panas matahari gurun pasir, Bilal RA dibiarkan mati kering baik dari panas gurun pasir maupun panas batu di atas dadanya dari terik matahari.
Meskipun menderita dibakar pasir, batu dan terik matahari Bilal RA teguh bertahan dalam Islam! Setiap kali dalam siksaan seperti itu, tiada yang diminta Bilal RA kepada para penyiksanya, kecuali hanya memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, Bilal RA tetap teguh pendirian mempertahankan aqidah Islam. Bilal RA selalu mengucapkan, "Ahad-Ahad." Bilal RA menolak mengucapkan kata-kata kufur (mengingkari Allah).
Ketika Abu Bakr RA melihat Bilal RA dalam kondisi seperti ini, Abu Bakr RA menyampaikan keinginannya untuk membeli Bilal RA dari Umayyah. Kemudian setelah berhasil membeli Bilal RA, Abu Bakr RA pun membebaskannya menjadi orang merdeka. Tidak sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan serupa Bilal RA, oleh Abu Bakr RA dibeli dari majikan mereka kemudian dimerdekakan. Umar bin Khattab RA mengatakan bahwa Abu Bakar RA adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami yaitu Bilal RA.
Sahabat Khabbab bin Al-Arat RA adalah seorang budak yang bekerja sebagai pandai besi. Khabbab RA adalah seorang ahli membuat pedang dan persenjataan. Orang-orang musyrikin Quraisy bersama majikan Khabbab RA bersekongkol menyiksa dan menganiayanya agar Khabbab RA mengingkari Nabi Muhammad SAW atau mengikari Allah Azza wa Jalla. Majikan Khabbab RA adalah seorang wanita jadi dia memerlukan bantuan dari kaum musyrikin Quraisy untuk menyiksa Khabbab RA.
Wanita itu mengambil besi panas yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun Khabbab RA, sementara Khabbab RA menggeliat kesakitan. Tetapi nafasnya ditahan hingga tidak keluar keluhan yang akan menyebabkan algojo-algojo tersebut merasa puas dan gembira. Semua anggota badan Khabbab RA penuh dengan luka bakar akibat berkali-kali siksaan yang dia terima dari kaum musyrikin Quraisy dalam mempertahankan aqidah Islam.
Pada suatu hari Rasulullah SAW lewat di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat karena pilu dan iba hati. Rasulullah SAW kemudian berdoa umtuk keselamatan Khabbab RA. Qadar Allah, selang beberapa hari, majikan Khabbab menerima hukuman qishas yaitu diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Orang-orang mengatakan kepadanya bahwa satu-satu cara mengobatinya adalah dengan cara dibakar dengan api pada bagian yang sakit.
Sebelum kita tutup, beberapa orang Sahabat RA yang merasakan teror fisik dari kaum musyrikin Quraisy mendatangi Rasulullah SAW agar mereka selamat dan terhindar dari siksaan. Dalam hadits riwayat shahih Bukhari No. 3343, musnad Ahmad No. 25959 dan lain-lain bahwa para sahabat RA mengadu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang berbantalkan kain selimut beliau di bawah naungan Ka'bah, "Tidakkah baginda memohon pertolongan buat kami? Tidakkah baginda berdo'a memohon kepada Allah untuk kami?"
Rasulullah SAW berkata, "Ada seorang laki-laki dari ummat sebelum kalian, lantas digalikan lubang untuknya dan ia diletakkan di dalamnya, lalu diambil gergaji, kemudian diletakkan gergaji itu di kepalanya lalu dia dibelah menjadi dua bagian namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Tulang dan urat di bawah dagingnya disisir dengan sisir besi namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (Islam) ini akan sempurna hingga ada seorang yang mengendarai kuda berjalan dari Shana'a menuju Hadlramaut tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah atau (tidak ada) kekhawatiran kepada serigala atas kambingnya. Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa".
Demikian kita cukupkan sampai disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan tahapan dakwah Rasulullah SAW ini dengan episode Hamzah RA, salah seorang paman Nabi SAW memeluk agama Islam. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.