Sabtu, 10 September 2016

Hijrah ke Habasyah (Ehiopia), Bagian ke-1

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode para sahabat RA mulai hijrah (berimigrasi) ke Abyssinia atau Habasyah (حَبَشَة) atau Ethiopia sekarang karena beratnya siksaan dan teror fisik yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Sebagaimana kita ketahui bahwa para ulama sepakat bahwa hijrah ke Habasyah ini merupakan Hijrah pertama kaum Muslim dan terjadi sebelum Umar bin Khattab memeluk Islam. Sementara Hamzah paman Nabi SAW memeluk Islam lebih dulu dari Umar bin Khattab. Tetapi di dalam buku-buku siirah Nabi Muhammad SAW selalu diceritakan kisah Hijrah ke Habasyah ini sebelum Hamzah memeluk Islam.

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa teror fisik kepada Ummat Islam yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy malah menambah keiman, dan komitmen para sahabat kepada agama Islam. Hal ini membuat kaum musyrikin Quraisy mencari cara lain yaitu dengan mengirim utusan untuk berkompromi atau berdiplomasi. Mewakili kaum musyrikin Quraisy, diutuslah Utbah bin Rabi'ah mendatangi Rasulullah SAW yang sedang shalat di masjidil Haram. Utbah menyampaikan perihal kedatangannya, dengan bahasa yang lembut, mencoba menarik perhatiannya dengan segala cara.

Utbah berkata, "Wahai anak saudaraku, seperti kau ketahui bahwa dari segi keturunan, engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah membawa soal besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai-berai karenanya. Sekarang, dengarkanlah, kami akan menawarkan beberapa masalah, kalau-kalau sebagian dapat kauterima. Kalau dalam hal ini yang kauinginkan adalah harta, kamipun siap mengumpulkan harta kami, sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau kau menghendaki pangkat, kami angkat engkau diatas kami semua; kami takkan memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kedudukan raja yang kauinginkan, kami nobatkan kau sebagai raja kami. Jika engkau dihinggapi penyakit syaraf yang tak dapat kautolak sendiri, akan kami usahakan pengobatannya dengan harta-benda kami sampai kau sembuh."

Setelah Utbah bin Rabi'ah selesai dan Nabi SAW memahami apa maksud kaum Quraisy mengutusnya, maka Rasulullah SAW membacakan surat Al-Fussilat berikut:
Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)". (QS 41:1-5)

Rasulullah SAW terus membaca Al-Qur'an sehingga Utbah memintanya untuk berhenti. Kemudian dia kembali kepada kaum musyrikin Quraisy seperti orang yang kebingungan karena keindahan Kalamullah yang dia dengar, yang dia rasakan bukan syair, bukan sihir, bukan pula jampi-jampi. Jiwanya tergoncang, eksistensinya limbung, dia meminta kaum musyrikin Quraisy agar mengikuti Muhammad SAW. Dia meminta kaum musyrikin Quraisy membiarkannya berdakwah, barangkali bangsa Arab akan (na'udzubillah) membunuhnya sehingga mereka tidak perlu bersusah payah memikirkannya. Kalau Muhammad SAW bisa menang mengalahkan Arab, maka kemenangan ini juga menjadi kemenangan bagi kaum Quraisy.

Ketika tawaran yang diajukan kepada Rasulullah SAW lewat Utbah bin Rabi'ah ditolak, kaum musyrikin Quraisy masih mencoba dengan cara mencari jalan tengah atau win-win solution. Kaum musyrikin Quraisy menawarkan kepada Nabi SAW untuk beribadah bersama; Satu hari kaum musyrikin Quraisy mengikuti ibadah Nabi SAW dan satu hari berikutnya mereka minta ummat Islam menyembah berhala kaum musyrikin Quraisy.

Ketika itu turunlah Firman Allah SWT dalam surat Al-Kafirun ayat 1 – 6 . Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS 109:1-6)

Kaum musyrikin Quraisy telah mengalami kegagalan demi kegagalan yang bertubi-tubi. Mereka semakin kehilangan kepercayaan terhadap diri mereka sendiri tetapi takut atau gengsi mengakui kesesatan mereka. Mereka masih berharap dapat membuat ummat Islam dan Rasulullah SAW memenuhi permintaan mereka. Mereka mulai kehilangan akal sehat bahkan meminta Rasulullah SAW agar mencabut atau mengganti ayat-ayat Al-Qur'an yang mengancam mereka dengan adzab Allah karena mereka mengerti dan menyadari kebathilan mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 15. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)". (QS 10:15)

Kaum musyrikin Quraisy menyadari bahwa usaha mereka untuk membendung dakwah Rasulullah SAW tidak tercapai. Maka mereka kembali melakukan kekerasan fisik kepada ummat Islam dengan siksaan yang semakin berat, melipat gandakan dan menganeka ragamkan macamnya dengan berbagai cara yang di luar batas kemampuan manusia. Gangguan terhadap kaum Muslimin semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya.

Rasulullah SAW menyaksikan musibah yang dialami para sahabat RA, pukulan yang menakutkan, dan kaum muslimin yang tidak berdaya melawan kekejaman kaum musyrikin Quraisy. Maka Rasulullah SAW mengisyaratkan kepada para sahabat RA untuk menyebar, pergi meninggalkan Makkah, menyelamatkan agama, menjaga eksistensi jamaah kaum Muslim, di antaranya dengan menyuruh hijrah ke Habasyah. Habasyah diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijakasana, disana para Sahabat RA aman menjalankan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Gelombang pertama yang berangkat ke Habasyah terdiri dari enam belas orang, termasuk dua belas pria dan empat wanita. Utsman bin Affan RA bersama dengan istrinya Ruqaiyah RA (putri Nabi SAW) juga bagian dari gelombang pertama ini. Ketika kaum musyrikin Quraisy mengetahui kepergian kaum Muslim, mereka mencoba untuk mengejar. Setibanya di pelabuhan Shu'aibah, ummat Islam telah melihat bahwa kapal sudah siap untuk meninggalkan pelabuhan dan mereka berhasil mendapatkan tumpangan. Kaum musyrikin Quraisy terlambat dan menjadi sangat marah bahwa ummat Islam ini telah berhasil hijrah ke Habsyah. Hal ini membuat mereka kaum musyrikin Quraisy lebih bringas terhadap ummat Islam yang masih di Makkah.

Muhajirin Habasyah hidup dalam jaminan keamanan An-Najasi (panggilan raja atau king untuk orang Habasyah). Seperti kebanyakan orang yang merantau selalu terkenang akan kampung halaman, begitu juga dengan kaum Muslimin muhajirin Habasyah rindu kampung halaman - Makkah. Para sahabat tetap memantau berita-berita tentang Makkah, perkembangan perselisihan antara Islam dan kaum musyrikin Makkah. Begitu mendengar berita tentang kesepakatan perdamaian antara kaum Muslimin dan musyrikin Quraisy, ada diantara sahabat yang kembali ke Makkah.

Di tengah perjalanan dari pelabuhan ke Makkah, para sahabat mengetahui beritanya bohong. Para sahabat mendapati keadaan yang pahit, bahwa kaum musyirikin masih dalam sikap permusuhannya yang sangat berat terhadap Allah, Rasulullah SAW dan kaum Mukminin. Berita tentang tidak ada lagi penyiksaan, dan kaum muslimin bebas menjalankan agama Islam adalah tidak benar. Tapi kampung halaman sudah di depan mata, akhirnya mereka tetap kembali ke Makkah.

Kaum musyrikin Quraisy semakin kejam menyiksa terutama kepada mereka yang pulang dari Habasyah. Suku-suku di Arab semakin memperketat terornya kepada kaum Muslimin. Tidak ada seorangpun kaum Muslimin yang dapat masuk Makkah kecuali dengan jaminan (sponsorship) salah seorang pembesar kaum musyrikin Quraisy. Siksaan semakin menjadi-jadi. Tidak terlepas Utsman bin Affan RA juga harus mencari sponsorship agar bisa masuk kembali ke Makkah dan terhindar dari teror fisik kaum musyrikin Quraisy.

Nabi SAW merasa tidak ada jalan lain bagi ummat Islam kecuali kembali hijrah ke Habasyah, untuk menjaga kaum Muslimin dari siksaan yang merenggut nyawa karena jiwa manusia punya keterbatasan dalam menahan siksaan. Gelombang kedua ini jauh lebih besar yang terdiri dari seratus dua (atau lebih) Muslim. Kaum musyrikin Quraisy sudah mewaspadai para sahabat RA, dan berusaha sekuat tenaga menggagalkan usaha hijrah gelombang kedua ini. Akan tetapi kaum muslimin lebih cepat dari mereka. Sebagaimana Allah telah memudahkan pada gelombang pertama, Allah mudahkan pula keberangkatan gelombang kedua ini hingga selamat sampai Habasyah.

Kaum musyrikin Quraisy kembali kecolongan dan ini membuat mereka semakin dendam kepada Ummat Islam dan Rasulullah SAW. Mereka kemudian mengutus dua orang menemui Najasyi dengan harapan dapat mendeportasi Ummat Islam yang berimigrasi ke Habasyah. Dalam fikirin mereka, karena Najasyi seorang Nasrani tentu tidak mungkin membela Islam dan mau mengembalikan kaum Muslimin ke Makkah. Untuk itu kaum musyrikin Quraisy menyiapkan beberapa hadiah berharga untuk Najasyi dan melobi para mentri Najasyi agar mau membantu mereka menyerahkan kaum Muslimin kepada mereka.

Demikian kita cukupkan sampai disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan tahapan dakwah Rasulullah SAW ini dengan episode hijrah ke Habasyah bagian ke-2. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.