Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.
Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan bagian ke-2 dari episode para sahabat RA hijrah (berimigrasi) ke Abyssinia atau Habasyah (حَبَشَة) atau Ethiopia. Sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa kronoligis berbagai peristiwa dalam siirah Rasulullah SAW ini banyak yang tidak diketahui secara jelas dan tegas kejadiaanya. Satu kejadian bisa saja terjadi secara bersamaan, lebih dulu atau belakangan hanya dengan menghubungkan dengan kejadian-kejadian lain.
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq bahwa ketika Ummu Abdullah binti Abu haitsamah RA sedang bersiap-siap hijrah ke Habasyah sementara suaminya Amir RA sedang tidak bersamanya. Tiba-tiba Umar bin Khattab (yang belum masuk Islam saat itu) bertanya kepadanya, "Kamu jadi ingin meninggalkan tanah airmu, hai Ummu Abdullah?" Ummu Abdullah menjawab. "Ya, demi Allah. Kami akan keluar menuju suatu negeri di bumi Allah ini, karena kalian telah menyiksa dan berlaku kejam kepada kami, sehingga Allah memberikan kami jalan keluar dari segala kesusahan ini."
Dengan demikian kita mengetahui bahwa Hijrah ke Habasyah ini terjadi sebelum Umar masuk Islam. Sementara Umar RA masuk Islam tidak berapa lama setelah Hamzah RA masuk Islam. Hijrah ke Habasyah terjadi sebelum boikot yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy karena tidak lama setelah boikot berakhir, paman Nabi SAW yaitu Abu Thalib meninggal dunia.
Sebelumnya sudah kita sebutkan bahwa kaum musyrikin Quraisy mengirimkan dua (2) delegasi menemui Najasyi (panggilan raja untuk bangsa Habasya) untuk memulangkan seratusan kaum Muslim yang hijrah dan berada di Habasyah. Dialog antara delegasi kaum musyrikin Quraisy dengan Najasyi dan gambaran keadaan kaum Muslim di Habasya terdapat dalam HR musnad Ahmad No. 1649 yang diceritakan oleh Ummu Salamah RA (istri Nabi SAW), sebagai berikut.
Tatkala kaum Muslim (para sahabat RA) berada di negeri Habasyah, para sahabat RA bertetangga dengan tetangga yang sangat baik, yaitu raja Najasyi. Kaum Muslim merasa aman dalam menjalankan agama Islam. Para sahabat RA beribadah kepada Allah dengan tidak diganggu dan tidak mendengar sesuatu yang tidak sukai. Tatkala hal itu sampai kepada orang Quraisy, mereka bersepakat untuk mengirim utusan kepada Raja Najasyi dengan mengirim dua orang laki-laki yang kuat dan memberikan sejumlah hadiah kepada Raja Najasyi berupa barang-barang yang dianggap langka dari Makkah. Di antara barang yang sangat menakjubkan yang diberikankan kepada mereka adalah kulit yang disamak. Mereka banyak mengumpulkan barang tersebut. Mereka tidak meninggalkan satu komandan pasukan pun kecuali memberinya satu hadiah.
Mereka (musyrikin Quraisy) menugaskan Abdullah bin Rabi'ah bin Al-Mughirah dan Al-Makhzumi dan 'Amru bin Al-'Ash bin Wa`il As-Sahmi untuk mengirim barang-barang tersebut dan memerintahkan keduanya menyampaikan misi mereka. Mereka berkata kepada keduanya; Serahkan setiap hadiah kepada masing-masing komandan sebelum kalian berbicara dengan Najasyi. Setelah itu berikan hadiah kepada Raja Najasyi, dan mintalah agar dia menyerahkan kaum Muslim kepada kalian sebelum raja tersebut berbicara dengan kaum Muslim.
Setelah briefing dengan para pemuka kaum musyrikin Quraisy, kedua orang delegasi itu itu bergegas keluar (meninggalkan Makkah) untuk menemui Raja Najasyi. Keadaan para sahabat RA pada saat itu berada di rumah yang paling bagus dan tetangga yang paling baik. Ketika delegasi kaum musyrikin Quraisy datang, tidak ada satu orang komandanpun kecuali mereka berdua menyerahkan hadiahnya sebelum berbicara kepada Raja Najasyi.
Mereka berdua berkata kepada setiap komandan bahwa sesungguhnya beberapa anak-anak bangsa kami yang bodoh telah kabur dari kami dan pindah ke negri kerajaan kalian. Kaum Muslim telah meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak akan masuk pada agama kalian. Kaum Muslim membawa agama baru yang kami tidak mengetahuinya dan juga kalian. Para pembesar kaum Quraisy mengutus kami untuk membawa kaum Muslim kembali pulang. Maka Jika kami sedang berbicara kepada Najashi mengenai kaum Muslim, hendaknya kalian memberi masukan kepadanya agar menyerahkan kaum Muslim kepada kami dan tidak perlu berbicara kepada kaum Muslim. Karena kami kaum Quraisy lebih memperhatikan dan mengetahui keadaan dan kekurangan-kekurangan kaum Muslim.
Setiap komandan yang telah mereka lobby dan kasih hadiah mmberikan jawaban yang sama kepada keduanya, yaitu akan membantu ngomong dihadapan Najashi. Setelah itu keduanya menyerahkan hadiah kepada Raja Najasyi, dan raja Najasyi menerimanya, kemudian mereka berdua mengajak bicara Raja. Mereka berkata; Wahai sang Raja, sesungguhnya beberapa anak-anak bangsa kami yang bodoh kabur dari kami dan pindah ke negri kerajaan tuan. Mereka telah meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak akan masuk ke agama tuan. Mereka membawa agama baru yang kami tidak mengetahuinya dan juga tuan. Para pembesar kaum kami yang juga merupakan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka dan keluarga mereka mengutus kami untuk menghadap tuan, agar kiranya tuan mengembalikan mereka kepada kaum kami. Karena kaum kami lebih memperhatikan mereka dan mengetahui kekurangan mereka, tetapi mereka malah mencela kaum sendiri.
Sungguh terlihat bagaimana gigihnya kaum musyrikin Quraisy agar Raja Najashi mau mengembalikan kaum Muslim kepada mereka. Mereka berdua berharap Raja Najasyi mendengar dan mengabulkan permintaan mereka. Kemudian para komandan yang sudah menerima hadiah dari kedua delegasi kaum Quraisy yang hadir atau berada di sekeliling Najashi berkata; Mereka berdua benar wahai Raja. Kaum Quraisy lebih memperhatikan mereka dan mengetahui kekurangan-kekurangan mereka. Serahkanlah mereka kepada kaum Quraisy agar kembali ke negeri dan kaum mereka.
Maka Raja Najasyi menolak dan berkata; Tidak! demi Allah, demi Allah saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kaum Quraisy. Tidak ada seorangpun yang dapat menyuruhku memerangi suatu kaum yang bertetangga denganku, dan mereka tinggal di dalam negeriku, serta mereka memilih berlindung di negriku. Aku akan memanggil dan menanyakan mereka apa yang dikatakan oleh kedua orang ini. Jika benar sebagaimana yang disebutkan, maka saya akan menyerahkan dan mengembalikan mereka kepada kaum Quraisy. Jika tidak benar, maka saya tidak akan menyerahkan mereka dan saya akan tetap melindungi mereka selama mereka memintanya.
Kemudian Najashi memerintahkan untuk memanggil kaum Muslim agar datang ke istana Nasjashi segera. Ketika para sahabat RA mengetahui apa maksud Raja memanggil mereka, lalu para sahabat RA berkumpul dan berkata kepada yang lainnya; Apa yang akan kita katakan kepada sang Raja setelah berada di hadapannya? Para sahabat sepakat; Demi Allah, kita akan mengatakan sebagaimana yang telah diajarkan dan diperintahkan Nabi SAW kepada kita apapun yang terjadi.
Tatkala kaum Muslim menemui Najashi, rupanya sang Raja juga memanggil para pemuka agamanya, dan para pendeta tersebut telah menyebarkan lembaran-lembaran (kitab-kitab) mereka di sekitar Raja. Kemudian Najashi bertanya kepada kaum Muslim; Agama apa yang menyebabkan kalian meninggalkan kaum kalian dan kalian juga tidak masuk pada agamaku atau agama umat lainnya?
Ja'far bin Abu Thalib wakil dari kaum Muslim menjawab Najashi; Wahai sang Raja! Kami (dulu) adalah suatu kaum yang bodoh. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai. Melakukan berbagai keburukan dan memutus tali kekerabatan. Berbuat jahat terhadap tetangga dan orang yang kuat di antara kami memangsa yang lemah. Kami masih dalam keadaan seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengetahui nasabnya dan kejujurannya, amanahnya dan kehati-hatiannya dalam menjaga kehormatannya.
Rasul SAW mengajak kami kepada Allah agar kami mengesakanNya dan hanya menyembahNya, meninggalkan apa yang kami dan nenek moyang kami sembah yang berupa batu dan patung. Rasul SAW menyuruh kami agar kami berbuat jujur dalam berbicara, menunaikan amanah dan menyambung sillaturrahim, berbuat baik terhadap tetangga dan menahan dari hal-hal yang haram dan (menumpahkan) darah. Rasul SAW melarang melakukan kekejian-kekejian dan perkataan dusta, memakan harta anak yatim dan menuduh orang yang baik dengan tuduhan berzina. Rasul SAW menyuruh kami agar kami menyembah Allah saja, tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun. Rasul SAW menyuruh kami shalat, zakat dan puasa. Ja'far RA menyebutkan berbagai hal yang berkaitan dengan perkara-perkara dalam Islam.
Kemudian kami membenarkan, beriman dan mengikuti apa yang Beliau SAW bawa. Kami menyembah Allah saja, tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan untuk kami dan kami menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kami. Namun, kaum kami memusuhi kami dan menyiksa kami. Mereka melarang kami untuk menjalankan agama kami. Mereka memaksa kami agar kembali kepada menyembah patung dan menghalalkan berbagai ragam kekejian. Tatkala mereka memaksa, menganiaya dan menghalangi kami dengan agama kami, maka kami hijrah ke negeri tuan. Kami memilih tuan karena kami senang bertetangga dengan tuan. Kami berharap kami tidak di zhalimi di negri tuan.
Kemudian Raja Najasyi bertanya kepada Ja'far; Apakah ada sesuatu yang kau bawa yang datang dari Allah? Ja'far RA menjawab; Ya. Raja Najasy berkata; Bacakan kepadaku! Maka Ja'far RA membacakan surat Maryam mulai dari ayat pertama; KAF HA YA 'AIN SHAD. Raja Najasyi begitu mendengar surat Maryam (yang diterjemahkan oleh penerjemah istana), menangis sampai basah jenggotnya. Begitu juga dengan para tokoh agamanya ikut menangis sampai kitab-kitab mereka basah ketika mendengar apa yang dibacakan di hadapan mereka. Najasyi berkata; Demi Allah, kitab ini dan kitab yang dibawa Musa AS keluar dari satu sumber. Kemudian Najashi berkata kepada kedua delegasi kaum Quraisy; Pergilah kalian, demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya dan saya tidak akan terpedaya dengan tipu daya kalian.
Demikian kita cukupkan sampai disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan tahapan dakwah Rasulullah SAW ini dengan episode hijrah ke Habasyah bagian ke-3. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.
Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.
Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.