Sabtu, 06 Agustus 2016

Ummi Aiman (Barakah) RA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillahi Rabbi al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita akan meneruskan siirah Rasulullah SAW dengan episode Ummi Aiman Radhiya Allahu 'Anhu (RA). Ummi Aiman adalah salah seorang dari "keluarga" Nabi Muhammad SAW. Pada beberapa episode sebelumnya kita telah bahas bahwa Ummi Aiman RA adalah pembantu orang tua Nabi SAW sejak Nabi Muhammad SAW masih kecil. Juga Ummi Aiman yang menemani Nabi Muhammad SAW bersama ibunda Beliau Siti Aminah berkunjung ke Yatrib atau Madinah Al-Munawwarah. Pada episode tentang Zaid bin Haritsah kita juga singgung bahwa Ummi Aiman dinikahkan oleh Nabi SAW dengan Zaid bin Haritsah yaitu anak angkat Beliau SAW. Jadi ummi Aiman RA adalah sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

Nama asli Ummi Aiman RA adalah Barakah (بَرَكَة), putri dari Tha'alaba bin Amr. Ummi Aiman (أمّ أيمن) aslinya dari Abissina atau Ethioipia sekarang. Ummi Aiman adalah budak perempuan dari Abdullah bin Abdul Muththalib, jadi Ummi Aiman adalah budak dari Ayahanda Nabi Muhammad SAW. Ummi Aiman tetap melayani keluarga Nabi SAW sepanjang hidupnya meskipun sudah merdeka – bukan budak lagi. Di dalam buku siirah Rasulullah SAW karangan Ibnu Ishaq disebutkan bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Ummi Aiman kepada Siti Khadijah RA dengan nama aslinya sebagai Barakah dan mengatakan bahwa Barakah yang mengasuh Nabi SAW setelah ibunda Nabi SAW meninggal.

Ummi Aiman atau Barakah RA sebelumnya pernah menikah dengan Ubaid ibn Zaid Dari pernikahan Ummi Aiman dengan Ubaid ibn Zaid ini mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, yaitu Aiman. Dalam tradisi atau budaya Arab yang kemudian dipakai sampai sekarang bahwa orang tua dinisbahkan kepada nama anak pertama mereka, terutama kepada nama anak laki-laki. Jadi Barakah dipanggil sebagai Ummi Aiman (ibu dari Aiman RA) sedangkan Ubaid ibn Zaid dipanggil sebagai Abu Aiman (bapak dari Aiman). Setelah Abu Aiman atau Ubaid ibn Zaid meninggal, Ummi Aiman pindah ke rumah Siti Khadijah RA untuk membantu keluarga Nabi SAW.

Ketika wahyu pertama turun, Ummi Aiman RA adalah salah seorang para sahabat yang pertama-tama menerima Islam. Ummi Aiman RA merupakan salah seorang dari As-Saabiquuna Al-Awwaluuna dan termasuk wanita pertama yang menerima Islam disamping keluarga Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya sudah kita bahas bahwa As-Saabiquuna Al-Awwaluuna adalah para sahabat yang terdahulu dan yang pertama pertama-tama memeluk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sejak hari pertama surat Al-Muddatsir ayat 1 – 7 turun. Jadi Ummi Aiman RA menerima Islam pada waktu atau kurun waktu yang bersamaan dengan para sahabat seperti Abu Bakr RA, Abdurrahman bin Auf RA, Sa'ad bin Abi Waqas RA, Ustman bin Affan RA, Zubair bin Awwam RA, Talhal bin Ubaidillah RA, Zaid bin Haritsah dan lain-lain.

Pada periode dakwah secara pribadi (3 tahun pertama dakwah Islam) di Makkah, para sahabat Radhiya Allahu 'Anhum (RA) berkumpul bersama Nabi Muhammad SAW di rumah Beliau. Ummi Aiman RA datang menyampaikan pesan penting dari Siti Khadijah RA kepada Rasulullah SAW. Ketika Ummi Aiman datang dan telah menyampaikan, Rasulullah SAW tersenyum kepada Ummi Aiman dan mengatakan kepada Ummi Aiman bahwa dia sungguh mulia dan tempatnya di surga kelak. Ketika Ummi Aiman telah pergi, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat siapa yang ingin menikah dengan perempuan ahlul surga maka dia harus menikah dengan Ummi Aiman RA. Semua sahabat terdiam karena Ummi sudah berumur dan juga tidak begitu cantik. Kecuali sahabat Zaid RA, dia minta agar Rasulullah SAW menikahkannya dengan Ummi Aiman RA dan menyebutkan Ummi Aiman lebih baik dari pada wanita cantik manapun.

Zaid RA sangat dicintai oleh Nabi SAW. Nabi SAW menikahkan Zaid dengan Ummi Aiman yaitu seorang perempuan ahlul surga. Dari pernikahan Zaid dengan Ummi Aiman, mereka berdua memiliki seorang anak yang lahir secara harfiah di dalam rumah Nabi SAW, yaitu Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid merupakan cucu angkat Nabi SAW yang sangat dicintai. Nabi SAW suka bermain dengan Usamah RA bahkan Nabi SAW menyuapi Usamah kecil dengan tangan Beliau sendiri. Jika para sahabat RA menginginkan sesuatu dari Rasulullah SAW, mereka pergi ke Usamah dan mengatakan "mengapa kamu tidak pergi menghadap Nabi SAW dan minta kepada Beliau SAW karena Nabi SAW sangat mencintai kamu dan  tidak akan pernah mengatakan tidak kepada setiap apa yang kamu inginkan".

Catatan pinggir bahwa ada beberapa versi mengenai pernikahan Ummi Aiman RA dengan Zaid bin Haritsah RA. Versi pertama menyebutkan Ummi Aiman menikah dengan Zaid pada periode dakwah Islam di Makkah sedangkan versi lain menyebutkan setelah mereka Hijrah ke Madinah. Kalau dihitung berdasarkan umur Usamah RA ditunjuk oleh Nabi SAW mengantikan almarhum ayahnya Zaid RA menjadi komandan perang sebelum wafatnya Nabi SAW maka sangat masuk akal kalau pernikahan Ummi Aiman dengan Zaid RA menurut versi pertama. Karena kalau Ummi Aiman menikah setelah Hijrah maka kemungkinan umur Usamah belum lagi dewasa, mungkin masih sekitar sepuluh tahun pada saat ditunjuk Nabi SAW menjadi pemimpin perang.

Ummi Aiman tidak saja membantu Nabi SAW di rumah Siti Khadijah RA. Setelah Hijrah ke Madinah, Ummi Aiman sebagaimana para sahabat yang lain juga mengikuti setiap perintah Rasulullah SAW. Meskipun telah berumur, Ummi Aiman tidak kalah dengan sahabat muda lainnya dalam meraih atau mencari pahala dari Allah SWT. Ummi Aiman menjadi sukarelawati dalam berbagai pertempuran yang dipimpin Nabi SAW. Seperti pada perang Uhud, Ummi Aiman ikut mendisribusikan air minum kepada para sahabat yang kehausan dan ikut merawat para sahabat yang terluka.

Ummi Aiman RA juga mengikuti Nabi SAW dalam perang Khaibar yaitu sekitar 150 km diatas atau Utara kota Madinah. Khaibar adalah perkampungan Yahudi banu Nadir, Lokasinya sangat strategis dikelilingi oleh pegunungan seperti juga Madinah. Pertempuran ini disebabkan oleh Yahudi telah bersengkongkol dengan kaum musyrikin Makkah memusuhi ummat Islam. Pada perang Khaibar ini, kaum Yahudi tidak mampu keluar dari kepungan Ummat Islam meskipun mereka mempunyai persediaan makanan yang cukup. Setelah sebulan terkepung, mereka akhirnya menyerah kepada Nabi SAW. Sehingga ummat Islam memperoleh kemenangan yang sangat gemilang dan kaum Yuhudi diwajibkan membayar pajak dari setiap hasil pertanian dari Khaybar.

Aiman RA Ibnu Ummi Aiman RA, yaitu anak pertama Ummi Aiman menjadi syuhada pada perang Hunain ditahun berikutnya setelah perang Khaibar. Sementara suami kedua Umm Aiman RA, yaitu Zaid bin Haritsah RA menjadi syuhada pada ekpedisi pertempuran paling sengit di perang Mu'tah melawan pasukan Romawi. Ekpedisi Mu'tah ini juga disebut sebagai ekpedisi tiga jendral karena Nabi SAW mengirim tiga jendral sekaligus dalam satu ekpedisi yang sama. Nabi SAW mengatakan "Jika Zaid bin Haritsah gugur, maka Ja'far yang menggantikan, jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah sebagai penggantinya" (HR Syahih Bukhari No. 3928). 

Catatan pinggir bahwa dalam siirah Rasulullah SAW kalau disebutkan ekpedisi berarti Nabi Muhammad SAW tidak ikut dalam rombongan. Tetapi kalau Nabi SAW ikut maka disebut sebagai perang atau ghazawat. Dalam banyak ekpedisi, Nabi SAW selalu mengirim Zaid RA sebagai komandan ekspedisi. Tetapi dalam ekpedisi Mu'tah ini, karena pertempuran yang bakal terjadi sangat sengit maka Nabi SAW mengirim tiga orang jendral sekaligus. Namun ketiga orang sahabat RA itu syuhada di Mu'tah dan kemudian Khaild Ibn Waleed RA secara aklamasi dipilih oleh para sahabat RA untuk mengambil alih komando. Syuhadanya ketiga orang sahabat RA ini sangat membuat Nabi SAW sedih.

Putra kedua Ummi Aiman RA dengan Zaid RA yaitu Usamah bin Zaid RA, adalah seorang jendral termuda yang pernah diutus Nabi SAW sebelum Rasulullah SAW wafat. Penunjukkan Usamah RA sebagai komandan termuda ini menunjukan kepada kita betapa Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga Ummi Aiman RA dan Zaid RA. Para sahabat tidak saja mengetahui tapi mengakui kecintaan yang mendalam dari Nabi SAW kepada keluarga Ummi Aiman RA dan Zaid RA ini. Pada saat pengiriman Usamah RA ke medan perang, Abu Bakr RA mengatakan kepada Umar RA bagaimana mungkin dia (Abu Bakr) berani membatalkan keputusan atau perintah Nabi SAW?. Abdullah bin Umar RA bahkah pernah mengeluh kepada bapaknya Umar RA yang menjadi kalifah saat itu bahwa kenapa Umar RA memberi gaji Usamah bin Zaid RA lebih besar dari gajinya?. Umar RA mengatakan "karena Usamah RA lebih dicintai oleh Nabi SAW daripada kamu, dan karena bapaknya lebih dicintai Rasulullah SAW daripada bapakmu ini".

Dalam hadits shahih Muslim No. 4492, Sunan Ibnu Majah No. 1625, dan lain lain bahwa Anas RA berkata; Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Abu Bakr RA berkata kepada Umar RA; 'Ikutlah dengan kami menuju ke rumah Ummu Aiman RA untuk mengunjunginya sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengunjunginya. Dan ketika kami telah sampai di tempatnya, Ummu Aiman RA pun menangis. Lalu mereka berdua berkata kepadanya; Kenapa kamu menangisi Beliau SAW, bukankah apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam? Ia menjawab: Bukanlah aku menangis karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi RasulNya, akan tetapi aku menangis karena dengan wafatnya beliau berarti wahyu dari langit telah terputus. Ummu Aiman pun membuat mereka berdua bersedih dan akhirnya mereka berduapun menangis bersamanya.

Ummi Aiman berumur panjang, beliau menjadi muslimah dan bahkan masih hidup setelah wafatnya Nabi SAW. Jika seandainya ada seseorang yang rajin bertanya kepada Ummi  Aiman tentang masa kecil Nabi SAW, tentu hari ini kita akan memiliki lebih banyak cerita tentang masa kecil Beliau, tetapi Allah SWT maha tahu dan mempunyai rencana lain. Jadi Ummi Aiman atau Barakah RA adalah satu-satunya yang begitu dekat dengan Nabi SAW sepanjang hidupnya, dari lahir sampai Beliau SAW wafat. Ummi Aiman RA meninggal lima tahun setelah Nabi SAW wafat (HR Shahih Muslim No. 3318 akhir).

Demikian kita cukupkan sampaikan disini. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut lagi dengan episode lain. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.