Sabtu, 13 Agustus 2016

Musyrikin Quraisy Menentang Dakwah Rasulullah SAW

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode dakwah Rasulullah SAW. Pada series sebelumnya sudah kisahkan phase dakwah secara private atau pribadi selama 3 tahun pertama nubuwah (kenabian Muhammad SAW). Pada phase dakwah pribadi ini Nabi SAW hanya berdakwah kepada keluarga dan kerabat dekat saja, tidak berdakwah kepada yang lain. Namun demikian berita mulai menyebar. Penduduk Makkah banyak bicara tentang Nabi Muhammad SAW dan tentang ajaran-ajaran Beliau sehingga pengunjung Makkah juga mendengarnya, bahkan berita tentang Nabi Muhammad SAW sampai ke Yaman. Sehingga ketika seorang Sahabat Yamani datang kepada Rasulullah SAW, Beliau meminta Sahabat tersebut untuk datang lagi kemudian ketika sudah mendengar Islam sudah berjaya (mengalahkan kaum musryikun Quraisy).

Dari sini dapat kita manarik pelajaran bahwa setiap orang harus bertanggung jawab terahadap keluarganya, kemudian baru kepada lingkungan, kerabat dekat dan umat manusia pada umumnya. Disamping itu kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus fokus terhadap tugas yang diberikan kepada kita, sebagaimana Nabi SAW fokus berdakwah kepada keluarga, kerabat dekat dan para Sahabat Makkah saja selama 3 (tiga) tahun masa dakwah pribadi atau private ini. Beliau SAW tidak terpengaruh kepada kesempatan untuk berdakwah kepada pengunjung Makkah pada saat itu.

Pada phase berikutnya, ketika Nabi SAW mulai melakukan dakwah terbuka kepada seluruh penduduk Makkah, maka mulailah terjadi perlawanan dari kaum musyrikin Quraisy. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mereka mencoba untuk menarik otoritas tertinggi atau kepala suku bani Hashim yaitu Abu Thalib. Seperti kita ketahui bahwa suku Nabi Muhammad SAW adalah bani Hashim. Jadi kaum musyrikin Quraisy mencoba merangkul atau menarik simpati Abu Thalib agar berpihak kepada agama nenek moyang mereka.

Perlu diketahui bahwa dalam budaya atau tradisi Arab, tidak ada satu penguasapun yang berdaulat. Begitu juga di Makkah, tidak ada satu penguasapun yang menguasai seluruh kaum atau suku-suku Quraisy. Mereka terlalu arogan untuk menunjuk satu penguasa. Apa yang mereka lakukan adalah memilih wakil-wakil untuk duduk di Darun Najwa. Darun Najwa adalah sekelompok orang yang lebih senior yang bertanggung jawab tetapi mereka tidak memiliki kendali secara utuh kepada semua masyarakat Makkah. Siapa orang-orang ini? Mereka adalah perwakilan dari masing-masing suku-suku Quraisy di Makkah. Bani Hasyim memiliki seorang kepada suku, Bani Makhzum memiliki kepala suku, Bani Abd Manaf memiliki kepala suku dll. Urusan satu suku hanya berdasarkan atau sesuai dengan apa yang dikatakan oleh setiap kepala suku dan tidak berlaku kepada suku lain.

Jadi, ketika Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah secara terbuka mereka pergi menemui Abu Thalib. Mereka berkata kepada Abu Thalib, "O Abu Thalib ini keponakan anda mengutuk berhala kita, membawa agama baru, tentunya Anda tidak bisa membiarkan ini terjadi?" Abu Thalib tidak ingin terjadi konfrontasi, ia menasehati mereka dengan beberapa patah kata secara sopan dan lembut. Abu Thalib meminta mereka bubar dan mempersilahan mereka pergi. Abu Thalib berharap masalah ini akan selesai dan dilupakan dengan berlalunya waktu.

Tetapi tidak seperti yang diharapkan Abu Thalib. Makin lama semakin banyak orang masuk Islam, semakin banyak pengunjung Makkah mengetahui tentang Nabi Muhammad SAW dan ajaran agama Islam yang Beliau bawa. Mereka kaum musyrikin Quraisy meningkatkan tekanan pada Abu Thalib. Mereka mencoba untuk menekan dan mendesaknya, "Kami tidak bisa lagi menerima ini, keponakan anda telah menghina agama nenek moyang kita. Kami tidak tahan lagi, anda menghentikan dia dari berdakwah atau anda menyerahkannya kepada kami".

Ini konyol, Nabi SAW tidak pernah mengutuk agama nenek moyang mereka. Nabi SAW hanya berdakwah tentang tauhid, tetapi mereka kaum musyrikin Quraisy memutar balikan fakta dengan mengatakan Nabi SAW telah menghina berhala dan agama nenek moyang mereka. Nabi SAW tidak pernah mengutuk berhala-berhala mereka, Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan (QS 6:108)." Tapi mereka kaum musyrikin Quraisy menuduhnya (Nabi SAW) melakukan hal ini (menghina berhala-hala mereka).

Catatan pinggir bahwa kekonyolan (logika konyol) seperti ini dari zaman dahulu sampai sekarang masih dipakai oleh kaum musyrikin atau orang kafir atau non-Muslim. Mereka menentang diberlakukan ajaran Islam atau melarang ummat Islam menjalankan ajaran Islam. Mereka katakan ajaran Islam menghina agama mereka, ajaran Islam tidak menghargai agama mereka, hanya karena ummat Islam menjalankan ajaran Tauhid. Mereka tidak senang ummat Islam mengatakan, "Ttidak ada tuhan selain Allah atau Allah Maha Esa," karena dengan demikian - menurut logika konyol mereka - telah menghina tuhan mereka yang banyak, tidak menghargai agama mereka. Pedoman kita ummat Islam jelas bahwa, "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS 109:6)

Jadi Abu Thalib ditekan dan didesak oleh kaum musyrikin Quraisy menghentikan dakwah atau menyerahkan Nabi Muhammad SAW. Abu Thalib adalah seorang kepala suku besar yang paling berkuasa di Makkah, dia tidak pernah bisa diancam dan didesak oleh kaumnya dengan cara seperti ini. Seorang pemimpin tidak saja kuat secara lahiriah, dia juga harus kuat secara mental tetapi harus lemah lembut kepada masyarakatnya. Karena setiap pemimpin harus menenangkan dan melindungi rakyatnya baik ancaman dari luar maupun dari dalam. Bahkan jika anda seorang tiranipun, anda harus memiliki kelompok inti dari orang yang anda percayai dan lindungi. Setiap pemimpin tergantung kepada rakyat atau kelompok kecil yang anda pimpin agar kekuasaan anda langgeng. Hanya Allah yang benar-benar Raja, yang tidak tergantung kepada yang lainnya.

Dalam budaya atau tradisi Arab, seseorang tidak dapat mengganggu seseorang dari suku Arab kecuali terjadi perperangan atau kepala suku mereka memberikan izin untuk melakukannya. Jika mereka tidak mematuhi apa yang telah diputuskan oleh kepala suku atau Darun Najwa maka mereka akan menghadapi hukuman sosial, merasa malu sendiri karena dikucilkan atau cemoohan. Jadi, ketika kaum Quraisy sendiri menentang dan mendesak Abu Thalib dengan permintaan mereka menyerahkan Nabi SAW atau menyurug Nabi SAW berhenti berdakwah. Abu Thalib tidak bergeming dengan pendiriannya dan tidak menerima tuntutan mereka sehingga mereka bubar dan pergi. Jadi selama Abu Thalib tidak menyerahkan Nabi SAW kepada mereka dan Nabi SAW masih anggota bani Hasyim, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Di dalam buku siirah Rasulullah SAW karangan ibnu Ishaq disebutkan bahkan kaum musyrikin Quraisy menawarkan kepada Abu Thalib untuk menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Sebagai gantinya mereka menyerahkan Umara bin Al-Walid bin Al-Mughira, seorang pemuda yang perkasa dan rupawan, yang merupakan pemuda pilihan sebagai calon pemimpin masa depan kaum Quraisy. Mereka menawarkan Umara sebagai anak angkat Abu Thalib dan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad SAW. Abu Thalib menolak menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada kaum musyrikin Quraisy.

Catatan pinggir bahwa tentu saja logika konyol seperti ini ditolak oleh Abu Thalib. Kaum musyrikin Quraisy menyerahkan Umara bin Al-Walid sebagai anak angkat untuk dipelihara oleh Abu Thalib. Sementara Abu Thalib harus menyerahkan Nabi Muhammad SAW untuk mereka bunuh. Pemimpin mana yang bisa menerima tawaran konyol seperti ini, kecuali seorang diktator atau tiran yang gila kekuasaan.

Sementara itu Nabi Muhammad SAW terus juga berdakwah, dan semakin banyak penduduk Makkah masuk Islam dan para pendatang kota Makkah banyak yang tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Hal ini membuat kaum musyrikin Quraisy semakin panas dan kehilangan akal sehat. Untuk ketiga kalinya mereka mendatangi lagi Abu Thalib. Mereka mengatakan, "Abu Thalib, anda sebagai orang yang terhormat, terpandang di kalangan kami. Kami telah minta supaya menghentikan kemenakanmu itu, tapi tidak juga kaulakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek-moyang kita, tidak menghargai agama nenek moyan kita dan mencela berhala-berhala kita - sebelum kausuruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia, kami tidak berhenti hingga salah satu pihak nanti binasa."

Berat sekali bagi Abu Thalib akan berpisah atau bermusuhan dengan masyarakatnya. Juga tak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya itu kecewa. Gerangan apa yang harus dilakukannya? Dimintanya Nabi Muhammad SAW datang dan diceritakannya maksud permintaan kaum musyrikin Quraisy. Lalu katanya: "Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul."

Nabi Muhammad SAW menekur sejenak, sedih sekali hatinya melihat paman Beliau ditekan dan didesak oleh masyarakatnya karena dakwah yang Beliau SAW lakukan. Pamannya ini, Abu Thalib sudah merupakan figur atau pengganti orang tua bagi Nabi Muhammad SAW. Tapi Abu Thalib seolah sudah tak berdaya lagi membela dan memeliharanya. Abu Thalib sudah mau meninggalkan dan melepaskannya. Sedang kaum Muslimin masih lemah, mereka tak berdaya akan berperang, tidak dapat mereka melawan Quraisy yang punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan dan jumlah rmanusia. Sebaliknya Nabi Muhammad SAW tidak punya apa-apa selain kebenaran yang diperintahkan Allah kepadanya untuk disampaikan.

Nabi Muhammad SAW, dengan jiwa yang penuh kekuatan dan kemauan, di dalam buku Ibnu Ishaq berkata kepada Abu Thalib, "Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya." Seketika lamanya Abu Talib masih dalam keadaan terpesona menyaksikan keagungan dan keteguhan Nabi Muhammad SAW. Ia masih dalam kebingungan antara tekanan masyarakatnya dengan kesungguh-sungguhan sikap kemenakannya itu. Tetapi kemudian dia berkata, "Anakku, katakanlah dan lakukanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!"

Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode boycott kaum musyrik Quraisy kepada Bani Hasyim karena keberpihakan Abu Thalib kepada dakwah Rasulullah SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.