Sabtu, 20 Agustus 2016

Pemboikotan oleh Musyrikin Quraisy

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Alhamdulillahi Rabb al'aalamiina. Sungguh hanya kepada Allah SWT saja kita ucapkan puji dan syukur atas segala ni'mat yang senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kepada tauladan yang mulia, Nabi dan Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (SAW) beserta keluarga, para sahabat RA, tabi'in, tabiut tabiahum dan kepada ummat Islam sepanjang masa dimanapun berada. Semoga kita semua istiqamah menegakkan agama Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Insyaa Allah hari ini kita lanjutkan kembali siirah Rasulullah SAW dengan episode dakwah Rasulullah SAW tentang boycott atau pengucilan yang dilakukan kaum musyrikin Qyraisy kepada suku Nabi Muhammad SAW yaitu Bani Muthalib dan Bani Hasyim. Pada kesempatan sebelumnya sudah kita kisahkan bagaimana pembelaan Abu Thalib kepada Nabi Muhammad SAW dari setiap desakan atau manuver politik kaum musyrikin Quraisy yang bertubi-tubi. Melihat bagaimana gigihnya dan kuatnya tekad Rasulullah SAW mempertahankan atau menyampaikan dakwa Islam kepada manusia, Abu Thalib memberikan proteksi penuh kepada Nabi Muhammad SAW. Abu Thalib mengatakan kepada Nabi SAW untuk tetap melakukan dan melanjutkan dakwah Beliau.

Abu Thalib meminta kepada kaumnya yaitu Bani Muthalib dan Bani Hasyim agar mereka melindungi Nabi Muhammad SAW dari setiap tindakan musyrikin Quraisy. Mereka semua menerima permintaan Abu Thalib ini, kecuali Abu Lahab yang juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Terang-terangan Abu Lahab menyatakan permusuhannya. Abu Lahab menggabungkan diri dengan kaum musyrikin Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah SAW. Faktor utama kesediaan Banu Muthalib dan Banu Hasyim bersedia melindungi Rasulullah SAW sudah tentu karena fanatisme suku atau kabilah, apalagi antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah telah sering terjadi perselisihan semenjak jaman jahiliyah. Tetapi bukan fanatisme itu saja yang mendorong musyrikin Quraisy bersikap bermusuhan dengan Banu Hasyim dan Banu Muthalib. Faktor ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sungguh telah memisahkan atau menampakkan perbedaan antara yang kepercayaan jahiliyah yang sesat dengan agama Islam yang benar,

Pihak musyrikin Quraisy melihat ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan bahaya bagi kelangsungan kepercayaan jahiliyah yang biasa dilakukan oleh leluhur kaum musyrikin Quraisy. Sementara bagi Banu Muthalib, Banu Hasyim dan ummat Islam melihat dengan mata kepada mereka sendiri bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah kehidupan mereka. Pendirian Nabi Muhammad SAW yang teguh serta ajaran agama Islam yang membawa kepada kebaikan dan sangat masuk akal. Meskipun sebagian dari Banu Muthalib dan Banu Hasyim bahkan paman Beliau SAW Abu Thalib belum masuk Islam, tetapi mereka melihat kebenaran supaya orang hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Hal ini dapat membuat Banu Hasyim dan Banu Muthalib membela dan membenarkan sikap Nabi Muhammad SAW.

Kaum musyrikin Quraisy ketika melihat keberpihakan Banu Hasyim dan Banu Muthalib kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat ditawar lagi, mereka melakukan boikot, pengucilan kepada Banu Hasyim dan Bunu Muthalib pada tahun ke 7 Nubuwah. Ada tiga point utama boikot kaum musyrikin Quraisy kepada Banu Muthalib dan Banu Hasyim:
1.    Tidak ada transaksi ekonomi sama sekali antara musyrikin Quraisy dengan Banu Hasyim dan Banu Muthalib.
2.    Tidak ada pernikahan sama sekali antara musyrikin Quraisy dengan Banu Hasyim dan Banu Muthalib.
3.    Tidak boleh ada sama sekali pengiriman bantuan makanan kepada Banu Hasyim dan Banu Muthalib.

Sekitar 40 (empat puluh) pemimpin kaum musyrikin Quraisy sepakat dan menanda tanganin pakta boikot terhadap Banu Hasyim dan Banu Muthalib ini sampai Nabi Muhammad SAW diserahkan kepada mereka (musyrikin Quraisy). Dokumen pakta boikot ini disimpan atau digantung di dalam Kaabah. Semenjak dokumen pakta boikot ini ditanda tangani, kecuali Abu Lahab maka semua pengikut Banu Hasyim, Banu Muthalib dan Ummat Islam keluar dari Makkah. Nabi Muhammad SAW dan beserta ummat Islam ikut tinggal bersama dengan Banu Hasyim dan Banu Muthalib disebuah lembah yang oleh Abu Thalib disebut sebagai Shi'ib Abi Thalib (Pengikut Abi Thalib).

Meskipun dalam masa pengucilan, karena tidak termasuk point yang diboikot, maka Rasulullah SAW bersama para sahabat mendatangi Makkah setiap musim Haji untuk berdakwah kepada para jama'ah Haji. Hal ini memungkinkan dilakukan karena kaum musyrikin Quraisy masih mempercayai kesucian bulan-bulan suci. Dimana pada bulan-bulan suci orang-orang Arab berdatangan ke Makkah menunaikan pangilan Nabi Ibrahim AS untuk berhaji, segala permusuhan dihentikan - tidak ada pembunuhan, tidak ada penganiayaan, tidak ada permusuhan, tidak ada balas dendam.

Pada bulan-bulan suci ini Nabi Muhammad SAW dan para sahabat RA berdakwah, mengajak orang-orang Arab jama'ah Haji kepada agama Allah yang benar. Segala penderitaan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat RA demi dakwah ini justru telah menjadi penolong dari kalangan orang banyak. Mereka yang telah mendengar tentang dakwah Nabi SAW lebih bersimpati kepadanya, lebih suka mereka menerima ajakannya. Boikot yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy kepada Banu Hasyim, Banu Muthalib dan Ummat Islam, telah mendapat simpati hati orang banyak, baik dari kalangan jama'ah Haji maupun kaum musyrikin Quraisy yang sekedar ikut-ikutan karena fanastisme kesukuan jahiliyah.

Catatan pinggir bahwa dalam pandangan tradisi Arab mereka melihat sesuatu berdasarkan kesukuan atau kabilah. Bagi para pengunjung Makkah baik sedang melakukan Hajji maupun sekedar berdagang, perlakukan kaum musyrikin Quraisy terhadap Banu Hasyim dan Banu Muthalib yang juga merupakan suku Quraisy, sungguh membuat mereka berfikir. Ada apa gerangan dengan dengan ajaran leluhur jahiliyah mereka? Bagaimana mungkin kaum musyrikin Quraisy karena alasan ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW membuat mereka berbuat keterlaluan – memboikot saudara Quraisy mereka dari Banu Hasyim dan Banu Muthalib?

Aksi boikot atau pengucilan oleh musyrikin Quraisy ini berjalan selama tiga (3) tahun. Selama masa boikot, Ummat Islam, Banu Hasyim dan Banu Muthalib terbiasa memakan dedaunan dan kulit binatang (sebangsa kerupuk kulit, rambak atau krecek) karena susahnya bahan makanan. Tangisan bayi dan anak-anak karena kelaparan bisa di dengar dari luar lembah Shi'ib Abi Thalib. Kadang-kadang, Muth'im bin Adi dan Hakim bin Hazam dari kaum musyrikin Quraisy yang merasa kasihan mendengar tangisan anak-anak, mereka secara sembunyi-sembunyi mengirimkan bahan makanan ke lembah Shi'ib Abi Thalib.

Dikemudian hari pada saat perang Badar selesai, demi mengenang kebaikan Muth'im bin Adi selama masa boikot ini, Nabi Muhammad SAW berkata dihadapan para tawanan perang Badar, "Seandainya Muth'im bin Adi masih hidup dan berbicara kepadaku mengenai pembebasan tawanan ini, sungguh aku akan membebaskan mereka untuknya tanpa tebusan." Hadits ini diriwayatakan oleh shahih Bukhari No. 2906, sunan Abu Daud No. 2314 dan lain-lain.

Setelah tiga tahun, pemboikotan atau pengucilan ini terhenti karena 3 (tiga) alasan berikut:
1.            Do'a Nabi Muhammad SAW, "Yaa Allah, turunkanlah kelaparan kepada mereka sebagaimana kelaparan ummat Nabi Yusuf AS." Sebagai hasil dari do'a Nabi SAW ini, mereka kaum musyrikin Quraisy tertimpa musibah kelaparan yang menimpa segala sesuatunya (semua bahan makanan tidak bisa dimakan) sehingga mereka memakan kulit dan bangkai binatang karena kelaparan. Do'a Nabi Muhammad SAW ini bisa ditemukan di berbagai hadits seperti shahih Bukhari No. 4325, shahih Muslim 5006 dan lain-lain.
2.            Diantara kaum musyrikin Quraisy tidak dipungkiri terdapat juga orang-orang yang berhati lembut. Diantara mereka adalah Hisyam bin Amru, Zuhair bin Abi Umayyah, Zam'ah bin Aswad dan Muth'im bin Adi. Mereka dapat melihat dan ikut merasakan penderitaan yang begitu lama dan begitu banyak yang dialami oleh Banu Hasyim dan Banu Muthalib karena pemboikotan yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka sepakat untuk membatalkan dokumen pakta pemboikotan terhadap Banu Hasyim dan Banu Muthalib. Meskipun Abu Jahal berkeras tetap melakukan boikot, tapi melihat orang-orang mulai berpihak kepada Muth'im bin Adi dan kawan-kawan maka dia tidak dapat berbuat apapun.
3.            Nabi SAW menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Allah telah memberitahukan Beliau SAW perihal dokumen pakta boikot sudah dimakan rayap kecuali kata "Dengan NamaMu Yaa Allah." Setelah mendapat konfirmasi ulang dari Nabi SAW, Abu Thalib bergegas ke Makkah untuk menggunakan informasi ini untuk mengakhiri boikot. Abu Thalib berkata kepada kaum musyrikin Quraisy, "Jika informasi dari Nabi SAW ini tidak benar – bahwa dokumen pakta boikot dimakan rayap kecuali kata 'Dengan NamaMu yaa Allah' – maka saya akan berhenti membantu dan melindungi Nabi Muhammad SAW". Kaum musyrikin Quraisy sepakat dengan kondisi yang diajukan oleh Abu Thalib. Sementara itu Muth'im bin Adi telah mengambil dokumen pakta boikot dan betul sudah dimakan rayap kecuali kata "Dengan NamaMu yaa Allah."

Setelah itu dokumen pakta boikot disobek atau dibatalkan. Dengan demikian berakhir sudah pemboikotan oleh kaum musrikin Quraisy kepada Banu Hasyim, Banu Muthalib dan Ummat Isllam di Makkah saat itu. Semua orang meninggalkan lembah Shi'ib Abi Thalib dan kembali ke Makkah. Kesempatan berjual-beli dan hubungan kekeluargaan dengan Quraisy kembali terbuka atau normal. Meskipun hubungan antara keduanya seperti sediakala, namun semua orang, baik kaum musyrikin Quraisy dan Ummat Islam di Makkah saat itu, masing-masing siap-siaga bila permusuhan itu kelak sewaktu-waktu memuncak kembali.

Demikian kita cukupkan sampaikan disini dulu. Insyaa' Allah minggu depan akan kita lanjut dengan episode kekeran atau teror fisik yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW. Kalau ada yang salah, itu semua berasal dari saya sebagai makhluk yang tidak luput dari salah, tolong dikoreksi semua kesalahan tersebut. Saya memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas semua kesalahan dan kekhilafan dalam tulisan ini. Semua yang benar berasal dan milik Allah yang Maha Mengetahui.

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.